Dia Suamiku

Dia Suamiku
Malam Puncak


__ADS_3

Selesai makan mereka berenam berjalan menuju kelas. Selama perjalanan mereka tidak henti-hentinya tertawa melihat kekonyolan Satya dan Romi.


"Guys, kalian duluan aja ya, gue mau ke toilet dulu," kata Putri.


"Aku juga ikut," Bela berjalan sambil menggandeng tangannya.


Saat hendak kembali ke kelas, langkah Putri tiba-tiba terhenti.


"Kenapa Put?" tanya Bela, dia hanya diam terbakar api cemburu. Gimana tidak dia melihat Tristan sedang tertawa bersama tiga orang wanita yang keliatannya mereka juga anak angkatan baru sepertinya.


"Udah ayo!" tarik Bela karena dia menyadari Putri sedang patah hati.


Setelah bel berbunyi semua kelompok melanjutkan tugas mereka, Putri masih memikirkan wajah Tristan yang sedang tertawa asik yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Satya, Romi dan Bela sedang sibuk menghias lampion yang sudah hampir jadi. Bela mengetahui apa yang Putri rasakan menyuruh Satya dan Romi untuk tidak mengajaknya untuk menyelesaikan membuat lampionnya.


**♥️♥️**


Mata Tristan tertuju pada Putri yang dari tadi duduk lemas. Apakah dia sakit? pertanyaan yang muncul pada otaknya.


"Hoy ...." tegur Dewi yang tau bahwa sahabat kecilnya itu terus memandangi Putri.


"Ya ... ada apa?" kata Tristan.


"Nantuin gue isi laporan buat guru." kata Dewi agar Tristan tidak lagi memperhatikan Putri. Jujur ada sedikit rasa sakit pada hatinya saat melihat pandangan Tristan ke Putri yang tidak biasa. Karena sejak SMP dia sudah menyukai lelaki tampan itu, tapi dia berniat untuk menyimpan perasaannya itu.


14.00


"Okee ... waktu sudah habis yaa. Kalian harus mengumpulkan semua karya kalian beres atau tidak harus dikumpulkan" tegas Dewi. Satu persatu kelompok menyerahkan hasil karya mereka.


"Put, nih." kata Bela sambil menyodorkan lampion yang sudah selesai mereka buat


"Kok aku sih?"


"Dari tadi 'kan lo diem aja. Jadi sekarang tugas lo." Bela sengaja menyuruh Putri agar dia bisa langsung menyerahkanya pada Tristan, Satya dan Romi perlahan mengerti dan mengetahui siapa belahan jiwa yang dimaksud Sarah dan Citra saat di kantin tadi.


Dengan wajah yang menunduk Putri melangkah ke depan sambil membawa lampion. Citra dan Sarah melihat Putri yang tidak semangat merasa aneh dan mereka bertanya pada Bela dengan bahasa tubuh. Bela hanya menggelengkan kepalanya.


"Ini, Kak." kata Putri sambil menyodorkan lampionnya pada Tristan. Tristan mengerinyitkan dahinya penasaran pada sikap Putri yang tidak seperti biasanya.


"Put, lo sakit?" pertanyaan itu membuat tubuh Putri menjadi sedikit bersemangat. Dia merasa senang tristan memperhatikannya.


"Ga kok, Kak." katanya sambil tersenyum dan kembali ke tempat duduknya.


Tidak salah aku menyuruhnya ke depan, ucap Bela dalam hati. Karena dia sudah bisa membaca kalau sahabat barunya itu mudah terpengaruh oleh suasana. Bela pun tersenyum melihat sahabatnya itu kembali bersemangat.


"Oke kalian siap-siap ya, kita semua kumpul di lapangan." Dewi dan Tristan meninggalkan kelas di ikuti anak-anak yang lain dan langsung menuju lapangan.


Banyak kegiatan yang mereka lakukan, mulai dari perlombaan perorangan, kelompok dan juga menyanyi bersama. Semua siswa menikmati suasana dikala itu. Jam menujukan pukul lima sore, masing-masing kelas ditugaskan untuk mendirikan tenda sendiri. Keempat gadis yang tidak lain Putri, Bela, Citra, dan Sarah memutuskan untuk tidur bersama dalam satu tenda. Semua siswa diperbolehkan istirahat sebentar setelah lelah dengan kegiatan yang mereka lakukan.


ketiga gadis yang baru saja menjadi sahabat Putri, menagih cerita yang tertunda pagi tadi tentang Tristan. Putri menceritakan semuanya, mereka meyakinkan Putri kalau dia dan Tristan memang sudah ditakdirkan. Itu membuat Putri semakin percaya diri untuk mendapatkan hati Tristan.


Matahari sudah mulai terbenam, semua anak berkumpul untuk menyantap makanan yang sudah di siapkan sekolah.


Sret dret dret (getaran suara ponsel Putri)


**WA Mode On**


Maya : "Non, nyonya menyuruh saya mengantarkan makan untuk Non Putri,"


Putri : "Gue sudah makan kasih bang Jojon aja,"


maya : "Pesan dari nyonya kalau non Putri harus makan makanan yang saya bawa."


**WA Mode Off**


Duuuuh momy ampun deh, masih aja memperlakukanku seperti anak kecil, keluhnya dalam hati.


"Bel, temenin gue keluar yu!" ajak Putri. Bela mengannguk.


Mereka berdua meminta izin keluar dan berjalan pergi menuju parkiran mobil, karena maya menunggu disana bersama bang Jojon. Saat Tristan yang melihat kedua gadis itu pergi dia ingin menyusulnya, tapi langkahnya terhenti saat Dewi dan yang lainnya memanggilnya untuk bergabung bersama mereka.


**♥️♥️**


"Hari ini gue sibuk banget, sampe belum melihat wanita pujaan gue." kata Rangga yang saat itu mereka sedang menyantap makanan bersama. Tristan yang mendengar Rangga menggerutu kesal dalam hati, Dewi menatap Tristan dan dia tau kalau sahabatnya itu cemburu.


"Mulai deh, lebaaaaay." kata Icha.


Semua panitia melanjutkan ngobrol dan bercanda bersama sedangan yang lainnya masih menikmati makanan mereka. Putri dan Bela kembali ke lapangan membawa beberapa misting yang berisikan makanan kesukaan putri bergabung bersama Sarah, Citra, Satya dan Romi entah semenjak kapan mereka berenam menjadi sangat akrab.


"Nih ... kalian makan." kata Putri sambil menyimpan wadah makanan itu di tengah-tengah mereka

__ADS_1


"Ini apa?" tanya Sarah.


"Buka aja, kalian habisin ya gue udah kenyang." Mereka berlima pun membuka dan menyantap semua makanan yang ada, sedangkan Putri sibuk memainkan permainan di ponsel yang dia sukai.


"Put, yakin lo ga mau makan?" tanya Satya yang begitu menikmati lezat nya udang asam manis, Putri hanya menjawabnya dengan anggukan. Selesai makan mereka semua kembali berkumpul. para panitia di bantu beberapa siswa laki-laki mulai menyalakan api unggun. semua orang duduk mengelilingi api unggun sambil bernyanyi bersama.


Acara malam puncak pun di mulai dengan beberapa sambutan selamat datang untuk siswa ajaran baru dari ketua panitia ospek, perwakilan guru dan ketua osis. Semua acara berjalan dengan hikmat dan damai.


"Sekarang kita bakal menggumumkan kreasi yang paling unik dan bagus dari tiap kelompok," ucap Dewi.


"Emmm, ini ada beberapa kelompok yang paling unik dan bagus dan nanti kelompok ini akan mendapatkan hadiah foto bareng sama kita-kita," canda Dewi.


Huhuhuhu teriak seluruh siswa.


"Hahaha ... ya udah gue umumin ya. Yang pertama kelas IPA 2 kelompok tiga, selanjutnya IPA 1 kelompok satu, wahh kayanya ini satu-satunya perwakilan kelas IPS nih. Dari IPS 2 siapa yaaa kira-kira? kelompok empat. Silahkan maju ke depan perwakilan dari setiap kelompok." jelas Dewi. Putri dan yang lainnya tidak menyangka, kalau mereka bisa memenangkannya.


"Waaaaah ... selamat yaaa." ucap Kevin teman sekelas putri pada keempat orang itu


"Put, lo aja," kata Romi.


"Kagak ah, lo aja,"


"Udah lo aja. Kak Tristan lo yang ngasih hadiahnya." ucap Bela menyemangati.


Dengan terpaksa Putri maju ke depan bersama dengan pemenang lainnya. Dia melihat kearah Tristan yang menatapnya dengan tersenyum membuat jantung putri berdebar.


"Bagian Putri, gue yang kasih ya." bisik Rangga


Dewi dengan seketika melihat lagi ke arah Tristan. Dia ingin tahu bagaimana ekspresi laki-laki turunan jepang-indonesia itu dan sesuai dugaannya, Tristan hanya menundukkan mukanya dan sudah bisa dipastikan sahabatnya itu juga benar-benar menyukai Putri.


"Selamat ya ...." kata Rangga memegang tangan Putri lebih lama dari yang lainnya. Tristan yang ada di pinggir lapangan hanya bisa diam menggerutu dalam hatinya. Putri yang tidak nyaman langsung cepat melepaskan tangannya dari genggaman Rangga. Ada rasa bersalah dalam hatinya, entah kenapa dia merasakan itu? dia pun melirik ke arah Tristan. Mata mereka saling memandang dan Putri melemparkan senyumannya, tapi kali ini beda Tristan hanya menatapnya tanpa membalas senyumannya. Putri kembali duduk bergabung dengan teman lainnya.


"Hadiahnya apa Put?" tanya penasaran teman kelas mereka.


"Sini biar gue buka." ambil Bela karena melihat Putri yang kembali tidak bersemangat. Bela perlahan membuka amplop dan mengeluarkan isinya.


VOUCHER MAKAN GRATIS SELAMA 1 MINGGU DIKANTIN SEKOLAH


"Yeay ...." teriak gembira Satya dan Romi, karena memang mereka berdua sangat gemar makan.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, semua berdoa bersama dan menutup acara ospek ini. Semua siswa dibolehkan kembali ke dalam tenda masing-masing.


"Duh anak mommy kenapa sih? jangan cemberut aja donk." ucap Sarah sambil menarik hidungnya.


"Iiiih ... sakit tauuu,"


"Habis ya lo diem aja, kita kan jadi penasaran." katanya.


Putri menceritakan kejadian di lapangan tadi dengan serius, tapi ketiga orang itu malah menertawakannya dan membuat Putri menjadi binggung.


"Sensitive banget sih sayang, mungkin tadi kak Tristan ga sadar kalo lo senyumin, positive thinking aja. Mending sekarang kita tidur yu aku ngantuk nih." kata Citra merebahkan badannya di ikuti Sarah dan Bela.


Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 malam, tapi rasa kantuk ini belum juga datang. Mungkin karena Putri belum terbiasa tidur beralas tikar seperti ini. Dia ingin sekali ke toilet dan dia mencoba membangunkan ketiga temannya tapi sama sekali tidak ada respon. Dia pun memberanikan diri sendiri pergi ke toilet.


Ya Tuhaaaaan ... ini sangat menyeramkan, apa aku coba membangunkan Rani?tapi aku ga enak sama dia, Ucapnya.


"Oh Tuhan, tolong aku." teriak Putri menjatuhkan senter yang ada ditangannya kemudian menutup muka dengan kedua tangannya.


"Heey, Putri ini aku." suara itu? Putri pun perlahan membuka matanya.


"Kak Tristan. huuuft syukurlah aku kiraaaaa ...."


"Lo kira gue hantu ya?" Putri hanya mengangguk tersenyum.


"Mau kemana malam-malam begini?"


"Aku mau ke toilet, Kak,"


"Ya udah, ayo gue anter!" kedua pun berjalan bersama. Sudah beberapa kali Putri bertemu dengan Tristan tapi hatinya selalu saja berdebar.


Apa seindah inikah jatuh cinta? gumamnya dalam hati.


"Ga masuk?" tanya Tristan, Putri menahan diri dan tersenyum.


"Kenapa masih takut juga? mau di anter ke dalem?" godanya. Putri menggelengkan kepala dan langsung bergegas masuk ke dalam saking malunya, karena mukanya merah menyala.


Tristan duduk di bangku taman tidak jauh dari toilet sambil menunggu Putri. Dia sangat senang bisa bertemu dengan nya malam ini. Rasa cemburunya tadi terhadap Rangga hilang entah kemana.


"Kak, aku udah selesai, kita balik yu!" ucap Putri.

__ADS_1


"Emmm ... kamu udah ngantuk?" tanya Tristan, yang sudah menggubah panggilannya lebih formal.


"Belum kak, aku ga bisa tidur."


"Kita duduk sini dulu yu!" Putri mengangguk dan duduk di samping Tristan. Mereka berdua diam satu sama lain dan sesekali saling bertukar pandangan dan tersenyum.


"Bulan nya cantik ya?" kata Putri yang mencoba mencairkan suasana. Memang bulan pada malam itu terlihat sangat indah.


"Iya, kaya kamu."kata Tristan tetapi pandangannya masih menatap ke arah bulan sambil tersenyum. Putri kaget dengan apa yang dikatakan Tristan tunduk tersipu malu, mukanya memerah dan badanya terasa panas.


"Gombal." bisik Putri yang masih menunduk, Tristan yang mendengar apa yg di katakan Putri langsung menoleh padanya


"Ga kok, emang kamu cantik buktinya ...." belum sempat Tristan bicara dia melihat sorotan senter dan entah siapa itu. Lalu dia menarik tangan Putri dan sembunyi dibalik tiang yang ada di dekat taman itu. Tanpa sadar Tristan masih memegang tangan Putri.


"Eh ... maaf." kata Tristan sambil melepaskan genggaman nya, andai tangan itu bisa ku genggam terus, bisiknya dalam hati.


"Ada apa kak?" tanya Putri yang penasaran kenapa mereka harus bersembunyi.


"Sstt ... diem ada yg menuju kesini." kata Tristan.


Memang benar dua orang security sedang patroli menggelilingi sekolah. Mereka berdua masih diposisi yang berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tristan yang memandang Putri cukup lama membuat wanita cantik itu salah tingkah dan mudur perlahan untuk memberi jarak antara keduanya. Tristan yang juga salah tingkah memilih melihat sekitar untuk memastikan keadaan aman.


"Kayanya udah ga ada." katanya sambil keluar dari balik tiang di ikuti Putri.


"Udah malem mending kita balik ke tenda aja ya." ajak Tristan, Putri mengangguk.


Tristan mengantarkan Putri sampai depan tendanya. Mereka berdua masih saling menatap dan tersenyum satu sama lain.


"Emm ... selamat tidur Putri mimpi indah," katanya dengan malu-malu.


"Kakak juga." katanya sambil masuk ke dalam tenda.


Aaaaaaaaaa teriak Putri yang menutup mukanya dengan bantal kesayangannya yang dibawa, agar tidak membangunkan tiga sahabatnya itu. Dia merasa malam ini menjadi malam yang sangat terindah selama hidupnya.


06.00


Ketiga orang sahabatnya itu sedang bersiap-siap mengemasi barang- barang mereka. Dan Putri masih tertidur pulas karena dirinya baru tidur jam empat dini hari.


"Put ... Put bangun!" kata Sarah menggoyangkan badannya.


"Mommy, aku masih ngantuuuk,"


"Ya ampun ni anak, ketauan deh manjanya. Putri sayang cepetan ada Tristan tuh." bisik Bela ditelinga nya yang membuat mereka bertiga tertawa


"Dimana mommy?" jawabnya langsung bangun dan duduk dengan seketika.


"Dasar giliran denger nama Tristan aja, lo bangun," kata Citra yang masih tertawa melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Iiii ... bener ya kalian bertiga ga ada kerjaan, gue masih ngantuk please jangan ganggu." kata Putri merebahkan kembali badannya, tetapi tangannya di tarik oleh ketiga temannya yang membuat dia kembali ke posisi duduk.


"Udah jam enam sayaang, kita di suruh kumpul di lapangan jam 06.15." jelas Sarah.


"Apaaaaa? kok kalian ga bangunin gue dari tadi sih? mana gue belum beresin barang-barang lagi,"


" Udaaaah bereees, tuan putri," kata kompak dari ketiganya.


"Lo dari tadi udah kita bangunin tapi ga bangun-bangun."kata Bela.


"Lalian memang sahabat yang the best pokoknya." katanya sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Udah sana cuci muka dulu," Citra.


"Baiiik." katanya langsung bergegas keluar menuju toilet dan ketiga wanita cantik itu hanya menggelekan kepala.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya ya... 😇😇

__ADS_1


__ADS_2