Dia Suamiku

Dia Suamiku
Kedatangan Raffa


__ADS_3

Sudah satu tahun berlalu semenjak mereka honeymoon ke Korea. Putri harus kehilangan satu asisten pribadinya karena Maya akan melanjutkan sekolahnya ke Yogyakarta. Tristan pun sibuk dengan persiapan untuk menghadapi ujian tiga bulan lagi.


"Put, lo ga makan?" tanya Bela yang membawa semangkok soto Mbayun.


"Nungguin kak Tristan," jawabnya yang terus melihat pintu masuk ke kantin.


"Iya tumben laki lo ga jemput ke kelas," timpal Romi.


"Akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan tugasnya."


Tring ... tring (suara pesan)


*S*uamiku :"Sayang, aku sepertinya tidak bisa makan siang denganmu maafkan aku 😘."


"Kak Tristan?" tanya Sarah dan Putri mengangguk.


"Gue juga dulu gitu kok, kak Rangga jarang punya waktu sama gue. Apalagi sekarang semenjak kuliah, gue hanya bisa bertemu dengannya satu minggu sekali bahkan sebulan sekali. Lo enak tiap malam bisa ketemu nah gue harus nunggu waktu luang dia aja," keluh Sarah.


"Mending gitu Rah, ada sensasi. Nah gue tiap hari ketemu ni bocah bosen tau," canda Bela.


"Oh jadi lo bosen ma gue? Ya udah mending gue cari adik kelas yang cantik," kata Satya mencoba menggoda kekasihnya.


"Coba aja lo berani." Bela mengepalkan lima jarinya di depan muka Satya, semua yg melihatnya pun tertawa.


"Put, ponsel lo bunyi tuh," kata Citra. Putri yang tidak sadar sejak tadi ponselnya berbunyi. Dengan cepat dia mengangkat telponnya.


"Halo."


"Put, apa kabar?" Putri tidak tau siapa yang menelponnya. Terdengar suara laki-laki di sebrang sana.


"Baik, ini siapa ya?"


"Lo lupa sama suara gue? wah parah patah hati gue." Putri mengerenyitkan dahi, dia benar-benar tidak tahu siapa yang sudah menelponnya.


"Maaf gue ga inget, ini siapa?"


"Gue Raffa, jangan bilang lo lupa lagi sama nama gue."


"Raffaaaaa!" teriak Putri langsung berdiri dari duduknya. Semua orang yang ada di kantin menoleh padanya begitupun kelima sabahatnya.


"Serius lo Raffa, lo dimana sekarang?" (gaes gue ke sana dulu ya) bisik Putri pada sahabatnya yang menunjuk ke arah taman.


"Iya seriuslah lo masa ga inget suara gue. Gue lagi di Indonesia ni ketemuan yuk!"


"Asli, suara lo berubah ga cempreng kaya dulu hahahaha."


"Sialan lo, lo dimana? ketemu sekarang yuk."


"Gue masih sekolah."


"Serius lo sekolah? Sekolah di tempat umum?" dia kaget, karena setau dia Putri tidak pernah diizinkan untuk sekolah di tempat umum.


"Iya serius, Fa lo tunggu taman deket rumah kita dulu ya, gue mau izin pulang cepet."


"Oke, gue tunggu ga pake lama!"


"Oke, miss u so much."


"Miss u too Baby ( panggilan kesayangan Raffa sejak dulu)."


Raffa adalah tetangga dan teman terbaik Putri. Dari kecil selain maya dan Rina, Raffa lah yang menemani keseharian Putri sewaktu keduanya sekolah. Dia memutuskan untuk homeschooling bersama Putri, agar Putri tidak kesepian dan kedua orang tuanya menyetujuinya, karena memang kedua orang tua Raffa sudah sangat dekat sekali dengan kedua orang tua Putri. Semenjak usia 12 tahun dia harus pindah keluar negeri, karena tugas papanya yang harus membuat mereka berpisah.


"Gaes, gue izin pulang dulu yaa." terlihat aura bahagia yang membuat sahabatnya penasaran siapa yang menelpon tadi.


"Put, lo mau kemana? Terus ka Tristan kalo nanya gimana?" Putri tidak menjawab pertanyaan Bela dan langsung pergi melambaikan tangannya.


"Anak itu girang banget, siapa sih yang nelpon? Bisa bikin dia berubah seketika. Perasaan 'kan tadi dia lagi bete," ucap Citra.


Putri bergegas ke ruang guru untuk meminta izin pulang, karena ada urusan keluarga mendadak dan sekolahpun mengizinkannya.


"Bang Jon, anterin gue ke taman deket komplek dulu." bang Jojon yang lagi santai mendengarkan musik, kaget melihat Putri yang sudah naik ke dalam mobil.


"Non, kok disini? emang udah pulang sekolah ya?" dia melihat jam tangannya.


"Ga bang Jon, gue izin, cepet anterin gue ke taman deket komplek dulu!"

__ADS_1


"Siap, Non."


Putri :"Fa, gue otw, lo tunggu jangan kemana-mana."


Raffa :"oke. Ni gue udah di tempat."


Setelah 20 menit, Putri sampai ke taman dia melihat sekitar taman tapi tidak ada seorangpun di sana. Apa Raffa mengerjaiku? pikirnya.


"Bang, abang balik aja ke sekolah tungguin Rani pulang."


"Tapi, Non Putri mau kemana? Nanti tuan marah kalo non Putri kenapa-napa, saya akan tetap disini jagain non Putr."


"Ya sudah, terserah bang Jojon aja, gue kesana dulu ya." Putri menunjuk ke taman, dia turun dari mobil dan bergegas masuk ke taman sambil melihat sekitarnya.


"Putri!" lelaki putih tinggi melambaikan tangannya Putri berlari kecil menghampiri lelaki itu.


"Raffaaaaa, seriuuuus lo Raffa?"


"Serius, lo ga mau meluk gue." Raffa membuka lebar kedua tangannya, Putri tersenyum dan langsung menghampiri sahabatnya dan memeluknya.


"Raffa, gueeee kangen banget sama lo, kenapa semenjak lo pindah ke Ausy ga pernah ngabarin ke gue sih?" Putri masih dalam pelukan cowo ganteng itu.


"Maafin gue! Disana gue langsung sibuk dengan sekolah, tapi tiap tahun gue selalu kirim surat ke rumah lo, gue ga tau kalau lo pindah rumah, jadi entah kemana surat yang gue kirimin buat lo." Raffa melepas pelukannya dan menarik tangan Putri duduk di bangku taman.


"Terus, gimana ceritanya lo bisa sekolah? Oia gue lupa gimana siapa sih dua orang yang suka ngintilin lo?"


"Oh Maya sama Rani."


"Iya mereka gimana kabar mereka?"


"Momy sama daddy baik, kalo Maya dia kuliah di Yogyakarta dan Rani dia sekarang satu sekolah sama gue."


"Terus, kok daddy bisa ngizinin lo sekolah sih, gimana ceritanya?"


"Panjang pokoknya nanti gue ceritain, gue pengen tau gimana kabar keluarga lo disana? Terus lo sama siap kesini? Lo berapa lama di Indonesia?"


"Duuh ... baby satu-satu donk nanyanya, keluarga gue baik. Rencananya gue bakal netap disini, karena bokap dipindah tugaskan lagi di Indonesia."


"Serius!" Putri sangat bahagia mendengarnya.


"Serius."


"Nyokap sama bokap nanya ke security komplek kalian pindah kemana? Dan tadi gue dapet dari nyokap nomer lo, mereka sekarang ada di rumah lo."


"Aaaaaa ... gue seneng lo bisa balik ke sini lagi." katanya memeluk kembali Raffa.


"Fa, kok lo sekarang cakepan sih?" Raffa tersenyum.


"Emang dari dulu gue cakep kali, kok lo baru nyadar sekarang sih?" Raffa mencubit kecil hidung Putri. Dan mereka berdua pun saling menceritakan bagaimana kehidupan mereka selama ini.


**♥️♥️**


Seperti biasa Tristan berdiri di depan pintu untuk menunggu sang istri


"Yank, kak Tristan." Bela menunjuk ke arah pintu kelas.


"Loh, emang Putri ga cerita dia balik?" heran Satya.


"Ya udah, kita samperin aja."


"Putri mana?" tanya Tristan yang tidak melihatnya diantara sahabat-sahabatnya.


"Dia tadi udah pulang kak, emang Putri ga ngomong ke kakak?" tanya Sarah.


"Ga ada, kenapa dia sakit?" Tristan cemas.


"Ga kok, tadi habis terima telepon di langsung izin pulang, kita juga tau tuh telpon dari siapa?" jelas Sarah.


"Ya udah makasih ya, gue duluan." Tristan pamit, dia langsung mengambil ponselnya disaku dan mencoba menelpon istrinya, tapi sudah berapa kali tidak ada jawaban. Dia memutuskan untuk segera pulang kerumah. Setelah memakirkan mobil merahnya di depan rumah dia langsung masuk untuk mencari istrinya.


"Aku pulang." rumah tampak sepi dia pun langsung naik kekamar.


"Sayang aku pulang." di dalam kamar juga tampak sepi, dia membuka pintu kamar mandi juga tidak ada. Tristan menuruni anak tangga berniat untuk menanyakan Putri pada mertuanya.


"Tristan, kamu sudah pulang." sapa Kirana di ruang makan itu juga ada sepasang suami istri yang tidak pernah dilihatnya.

__ADS_1


"Iya momy."


"Kirana, ini menantumu, wah dia sangat tampan sekali," kata Irma ibunda Raffa.


"Iya Ma, oia sayang ini tetangga dekat momy di komplek yang dulu, tante Irma dan om Harry." Tristan tersenyum dan memberi salam kepada keduanya.


"Waah ... bisa juga kamu cari menantu," goda Harry dan mereka tertawa.


"Momy apa Putri sudah pulang?" tanya Tristan.


"Belum, emang kalian tidak bareng pulang sekolah?"


"Mungkin dia langsung bertemu Raffa, tadi 'kan Raffa langsung pamit mau ketemu Putri," jelas Irma.


Raffa?? Siapa dia? ucap Tristan dalam hati.


"Oh iya aku lupa, kayanya dia ketemu Raffa, dia anaknya tante Irma dan om Harry," jelas Kirana.


"Oh gitu, kalau gitu saya pamit ke atas dulu mom. om, tante saya tinggal dulu."


"Iya, nak Tristan," jawab keduanya.


" Sayang, kamu ga makan dulu?" tanya Kirana, sebelum Tristan melangkahkan kakinya.


"Tristan masih kenyang mom, nanti saja pas Putri pulang." Kirana hanya tersenyum dan Tristan kembali masuk ke kamarnya.


Siapa Raffa?sampai kamu lupa ngabarin aku, gumamnya.


Tristan merebahkan tubuhnya mengambil ponsel yang ada di saku celananya mencoba untuk menghubungi Putri tapi tak kunjung ada jawaban. Kamu kemana sih? katanya sambil melempar ponselnya ke kasur.


**♥️♥️**


"Hah ... serius lo udah nikah?" Raffa kaget mendengar cerita Putri dan dia hanya mengangguk.


"Kok lo tega sih ga kabarin gue."


"Ya gimana mau ngabarin, gue 'kan ga punya kontak lo."


"Put, lo masih inget sama janji kita dulu ga?" Raffa meraih tangan Putri dan menggenggamnya. Putri mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan sahabatnya.


"Kalau kita akan menikah saat dewasa nanti."


"Itu 'kan kita masih kecil, Raffa," jawab Putri salah tingkah.


"Tapi gue selalu menganggap nya serius Put, lo tau gimana senangnya gue saat papa bilang kita akan kembali ke Indonesia? Yang langsung ada di pikiran gue tuh lo." Putri menarik tangan yang ada di genggaman Raffa dan langsung mencubit kedua pipi Raffa.


"Aaw ... sakit kok gue di cubit sih?"


"Lo pinter banget sekarang dramanya."


"Gue serius Put." Putri diam menatap Raffa.


"Maafin gue, gue lupa sama janji itu." Raffa langsung mengacak-acak rambut Putri.


"Tapi, gue seneng kok kalo lo bahagia sama suami lo, lo harus bilang sama gue kalo dia macem-macem sama lo." mereka berduapun tertawa.


"Fa, pulang yuk!" ajak Putri dan mereka berdua pun berjalan ke mobil yang ada di pinggir taman.


"Put, sampe sekarang lo masih di kawal?"


"Iya, hehe."


"Waaaaaah paraaaaaaah." keduanya pun tertawa.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH YA ATAS DUKUNGAN SEMUANYA

__ADS_1


KLIK TOMBOL ❤️ DAN LIKE NYA YA


JANGAN LUPA UNTUK SELALU TERSENYUM 😇😇😇


__ADS_2