
Elgar dan Tari sedang diskusi tentang materi meeting yang akan mereka bahas dengan klien. Menurut jadwal, mereka akan datang setengah jam lagi. Dan disaat bersamaan, terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Elgar. Pria itu meraih ponsel yang ada diatas meja lalu membukanya. Matanya terbelalak saat membaca sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Wanitamu ada bersamaku. ****Datang jika ingin dia selamat****.
Pesan itu disertai share loc. Elgar tak mau panik lebih dulu. Siapakah wanita yang dimaksud, Mila atau Salsa? Tapi, tak ada yang tahu jika Mila wanitanya. Lalu, apakah Salsa? Tapi ini dari nomor Indonesia?
Untuk memastikannya, Elgar segera menghubungi nomor Mila. Tapi ternyata ponsel Mila tidak aktif. Tentu saja hal itu membuat Elgar panik. Dia beralih menelepon Salsa.
"Hallo beb."
Elgar segera mematikan panggilan disaat terdengar suara Salsa yang tampak baik baik saja.
Mila? Ya, pasti Mila yang dimaksud dalam pesan itu.
Elgar segera mengambil kunci mobilnya dan berlari menuju pintu. Ponselnya kembali berdering, kali ini Salsa yang menelepon. Tapi Elgar tak menggubrisnya sama sekali hingga setelah panggilan kesekian kalinya, Salsa berhenti meneleponnya.
Tari dibuat kebingungan dengan tingkah bos nya. Dengan tergopoh gopoh, dia segera beranjak dan mengejar Elgar.
"Pak, Pak Elgar mau kemana?" Seru Tari sambil berlari menyusul Elgar.
"Saya harus pergi Tar." Teriak Elgar tanpa membalikkan badan.
"Tapi meetingnya setengah jam lagi." Tari masih belum putus asa mengejar Elgar.
"Batalkan." Teriak Elgar yang tubuhnya hilang kedalam lift.
Tari hanya bisa tetengah engah mengatur nafas didepan lift yang sudah tertutup. Sampai sampai beberapa orang memperhatikannya. Kali ini, dia harus siap diomeli Pak Dirga karena meeting ini sangat penting. Selain itu, dia juga harus siap diamuk Klien bersangkutan. Pembatalan secara mendadak jelas merugikan mereka. Mereka pasti sudah dalam perjalanan sekarang.
Elgar melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang dimaksud. Pikirannya sungguh kacau saat ini.
"Mila, Mila, Mila." Dia terus saja menyebut nama Mila. Pikirannya penuh dengan bayangan hal buruk yang menimpa Mila. Siapa si peneror? jelas jelas tak ada yang tahu tentang hubungannya dengan Mila. Apakah papanya? Elgar segera membuang jauh pikiran itu. Tidak, papanya tidak mungkin melakukan hal hal kotor. Papanya orang yang sangat bermartabat. Atau mungkin, orang tua Salsa? Apakah mereka sudah tahu tentang skandalnya dengan Mila.
"Argghhh." Elgar memukul setir saat lampu berubah merah. Rasanya dia tak bisa menunggu barang sedetikpun. Dia tak mau terlambat menyelamatkan Mila. Dia akan merasa bersalah seumur hidup jika terjadi sesuatu yang buruk pada Mila.
...*****...
Mila berteriak saat bos para preman itu maju dan berusaha melepaskan pakaiannya. Beruntung dia memakai celana jins yang lumayan susah dilepas. Tapi rupanya, si bos tak kehilangan akal, dia mengambil gunting lalu menyeringai kearah Mila.
"Jangan...saya mohon jangan lakukan itu." Mila mencoba mengiba. Tapi si bos tampak makin bersemangat melihat Mila yang tak berdaya. Dengan segera, dia menggunting kaos yang dipakai Mila dan membuang potongannya kesembarang arang. Tak sampai disitu saja, dia juga mengguting braa warna hitam yang dipakai Mila.
Mila menangis histeris saat bagian atas tubuhnya terpampang jelas. Dia sungguh merasa malu dan terhina. Seumur umur tidak ada yang pernah melihatnya dalam kondisi seperti ini selain Elgar.
"Jangan...jangan..." Teriak Mila saat orang tersebut mulai memotong celana jeans yang dia pakai.
__ADS_1
"Tolong...."Mila tak pernah berhenti berteriak hingga suaranya serak. Dia tetap berusaha meski mungkin tak ada yang mendengar teriakannya.
"Teruslah teriak sayang, karena aku akan semakin bersemangat mendengar teriakanmu." Sahut orang tersebut sambil terkekeh. Dia manatap penuh naffsu pada Mila yang tinggal memakai cd.
"Sempurna. Tubuhmu benar benar sempurna sesuai apa yang ada dalam imajinasiku." Orang tersebut lalu berusah mencium Mila. Tangannya juga mulai bergerak mere mas dada Mila.
"Emppt." Mila tak bisa lagi teriak saat mulutbya terbungkam ingin mulut pria yang berbau rokok itiu. Rasanya Mila ingin muntah. Ditambah dadanya yang terasa sakit karena kekasaran pria tersebut. Dan yang lebih parah, tangan pria itu menarik cd tipisnya hingga sobek.
Samar samar, Mila mendengar suara keributan diluar. Semoga saja ada yang datang menolongnya. Elgar, ya, dia harap Elgar datang untuk menyelamatkannya.
"Wow....sepertinya pahlawan kesingan sudah datang." Ujar pria itu setelah melepaskan pagutannya di bibir Mila.
Mila terperangah mendengar ucapan pria itu. Apa maksudnya ini? Kenapa pria itu tidak panik, justru tampak senang tatkala mendengar keributan diluar.
"Pria angkuh itu akhirnya datang juga. hahaha." Tawanya menggema diseluruh ruangan.
Elgar! Apakah yang dimaksud Elgar. Ya, Mila ingat, sopir yang mengemudi tadi sempat menyebut nama Elgar. Itu tandanya, mereka mengenal Elgar. Ada apa ini? Ini jelas ada motif. Bukan hanya semata mata ingin memperrkosa.
"Apa maksud kamu?" Mila memberanikan diri bertanya.
"Kau yakin tidak mengenaliku sayang?" Tanya pria itu sambil menyentuh bibir Mila yang bengkak akibat ulahnya. "Hanya karena aku memakai penutup wajah dan merubah sedikit suaraku, kau langsung tak mengenaliku."
Mila makin bertanya tanya. Siapakan pria dibalik penutup wajah itu? Suaranya sedikit dibuat buat, membuat Mila susah mengenali.
Sekarang, Mila tak hanya memikirkan keadaannya. Elgar, pria itu juga sedang dalam bahaya. Entah berapa orang yang sedang dia hadapi diluar. Semoga saja dia dalam keadaan baik baik, doa Mila dalam hati.
"Lihat itu." Pria itu menunjuk sebuah kursi kayu.
"Pria angkuh itu akan diikat dikursi itu dan menyaksikan pertunjukan hebat. Kau tahu apa?"
"Tidak, jangan lakukan itu." Mila terus menggeleng dengan tubuh bergetar hebat. Melihat keadaannya sekarang, Mila bisa memprediksi apa!! yang dimaksud pria itu.
"Wow...sepertinya kau sudah tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Benar sekali cantik. Elgar akan menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat dirimu digangbang anak buahku."
"Biadap!" Teriak Mila sekuat sekuatanya. Matanya memerah dan nafasnya memburu menahan emosi yang membuncah. Jika hal ini benar benar terjadi, Mila tak akan mampu menatap Elgar lagi. Lebih baik dia mati daripada harus mengalami semua hal seperti yang diucapkan pria itu.
"Apa salahku hingga kau lakukan ini padaku?"
"Nanti kau juga akan tahu. Sekarang, lebih baik kita bersenang senang dulu." Pria itu mulai kembali meraba tubuh Mila. Membuat Mila kembali berteriak histeris. Dan ketika dia hendak mencium Mila kembali, saat itulah Mila meludah tepat diwajahnya.
"Bangssat," Pria itu begitu murka.
PLAK
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat diwajah Mila hingga dia tak sadarkan diri.
...*****...
"Jangan...jangan....Tolong....tolong...."
"Mila, sadar Mil. Mila...."
"El.....tolong aku El..tolong." Racau Mila dalam keadaan setengah sadar.
"Mila.....sadar Mil." Devan terus menepuk nepuk pipi Mila yang berada dipangkuannya.
"El..Elgar..tolong aku El."
Mendengar Mila yang terus menyebut nama El, membuat Devan yakin jika memang ada sesuatu diantara mereka. Dia terus menepuk pipi Mila hingga wanita itu membuka matanya.
"Mila."
"Dev." Mila langsung bangun dan memeluk Devan sambil menangis histeris.
"Tenang Mil, tenang. Semua sudah aman."
Mila melepaskan pelukannya. Tapi saat sadar dia sedang tak memakai apapun dan tubuhnya hanya berbalut jas milik Devan, dia kembali histeris.
"Mereka memperkossa ku Dev, mereka sudah memperkossaku." Mila kian histeris.
"Enggak Mil, enggak. Gak ada yang memperkossamu."
"Aku kotor Dev, aku kotor. Mereka sudah memperkossaku." Mila terusa saja berteriak bahkan sambil menjambak rambutnya sendiri.
Devan tentu tak tingal diam. Dia berusaha menghentikan Mila lalu mendekapnya erat.
"Gak ada yang memperkossamu Mil, gak ada." Devan sampai menitikkan air mata melihat Mila yang begitu hancur.
"Mereka jahat Dev, mereka jahat."
"Tenang Mila, tenang. Kamu baik baik saja sekarang." Devan mengeratkan pelukannya pada tubuh Mila. Dia ingin Mila merasa aman. Dia ingin Mila tak lagi ketakutan.
Brakkk
Seseorang membanting pintu hingga terbuka lebar.
"Apa apain ini." Seru Elgar sambil menatap tak percaya kearah dua orang sedang berpelukan itu.
__ADS_1