Dia Suamiku

Dia Suamiku
TERAKHIR KALINYA


__ADS_3

Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan sekaligus menggelisahkan. Hari demi hari Mila menunggu kabar dari Devan. Tapi pria itu tak juga bisa memberi kepastian kapan dia bisa bertemu Elgar. Menurut Devan, Elgar selalu saja beralasan sibuk.


Tak bisa menunggu lagi, hari ini Mila memutuskan menemui Elgar. Dia menunggu dalam taksi online sejak sore didekat rumah Elgar. Hampir jam 10 malam, dia baru melihat mobil Elgar melintas. Dengan segera, Mila turun dari mobil dan berlari menuju gerbang rumah Elgar.


"Sebentar Pak." Teriak Mila saat seorang satpam hendak menutup kembali pintu gerbang.


"Saya ingin bertemu Elgar." Seru Mila pada seorang satpam yang mendekatinya.


"Maaf mbak, apa sudah ada janji sebelumnya? Soalnya Pak Elgar sudah berpesan jika dia tak mau menerima tamu dulu sementara ini."


"Tapi ini penting Pak." Mila memaksa masuk tapi seorang satpam segera menahannya dan seorang lagi buru buru menutup pintu gerbang.


"Elgar!" Teriak Mila. "ELGAR!"


"Tolong jangan bikin keributan disini." Bentak seorang satpam sambil menarik Mila menjauh dari pintu gerbang.


"Lepaskan dia." Teriakan Elgar menginterupsi kedua satpam itu. Merekapun akhirnya melepaskan Mila.


Disinilah mereka sekarang. Disebuah kursi panjang yang ada dihalaman rumah Elgar. Keduanya, baik Mila maupun Elgar, tak ada yang berbicara. Mungkin karena terlalu banyak yang ingin diungkapkan, sampai tak ada sepatah katapun yang keluar. Tak ada adegan saling menatap meski keduanya saling rindu. Keduanya sama sama menatap lurus kedepan dan berperang dengan perasaannya masing masing.


"Aku."


"Aku."


Keduanya mengucapkan kata yang sama berbarengan.


"Kamu dulu." Elgar mempersilakan.


Mila mengeluarkan cincin berlian dari tasnya dan menyodorkannya ke arah Elgar.


"Aku ingin mengembalikannya. Ini bukan hadiah, melainkan cincin lamaran. Disaat kita tak jadi menikah lagi, sudah sepatutnya aku mengembalikan ini."


Elgar menatap cincin yang dipegang Mila. Belum hilang diingatannya, bagaimana malam itu dia melamar Mila.


Elgar mengambil cincin itu lalu sebelah tangannya membuka telapak tangan Mila.


"Simpanlah." Elgar meletakkan cincin tersebut ditelapak tangan Mila lalu menutupnya kembali. "Tidak ada seorangpun yang berhak atas itu selain dirimu."


Mila mengangkat wajahnya menatap Elgar. Setelah 2 minggu tak bersua, akhirnya malam ini, mereka bisa saling menatap dijarak sedekat ini.


Tapi kenapa, rasanya sakit sekali. Dekat, tapi tak bisa diraih.


"Dan aparte_"


"Itu juga milikmu." Potong Elgar.


"Ta_"

__ADS_1


"Aku ikhlas memberikannya."


Untuk beberapa saat, mereka kembali terdiam. Sampai akhirnya, Mila kembali bersuara.


"Apa selama 2 minggu ini, kamu pernah merindukanku El?"


Elgar menggeleng. "Tak pernah, aku tak pernah merindukanmu." Dia memalingkan wajahnya karena tak sanggup membohongi dirinya sendiri dan juga Mila.


Mila mengulurkan tangan menyentuh rahang Elgar. Ditarikknya dagu Elgar agar menghadap kearahnya. Ditatapnya dengan seksama manik mata yang mulai kelihatan berkaca kaca.


"Aku merindukanmu El. Setiap waktu. Setiap menit, setiap detik, aku merindukanmu."


Elgar tak mampu lagi menahan air matanya. Dipeluknya erat erat tubuh Mila dan menangis dibalik punggungnya. Inilah kenapa dia tak mau bertemu Mila. Dia lemah dihadapan wanita itu. Dia takut tak bisa melelaspan Mila.


"Aku sangat merindukanmu Mil, sangat. Rasanya aku hampir gila karena merindukanmu." Gumam Elgar disela sela isakannya. "Maafkan aku Mil, maaf."


Mila melepaskan pelukan Elgar dan menatap wajah pria yang sampai detik ini masih sangat dia cintai. Disekanya air mata yang tak henti henti mengalir itu.


Mila tersenyum. Saat ini, dia mati matian menahan agar tidak menangis.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan El. Aku tidak menyalahkan siapapun disini. Mungkin memang seperti inilah garis takdir yang harus kita jalani.


Elgar mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Mila. Demi Tuhan, dia sangat merindukan wanita yang ada dihadapannya saat ini.


Tanpa Mila tahu, sejak mereka berpisah, Elgar seperti orang gila. Dia kerja mati matian tanpa kenal waktu demi bisa sejenak melupakan Mila. Tapi tetap saja, saat malam tiba, dirinya tersiksa rindu. Bahkan dia akan duduk berjam jam saat malam hari di cafe yang menghadap apartemen mereka. Terus terusan menatap jendela unit mereka dengan harapan bisa melihat Mila dari jauh meski itu mustahil. Unit mereka terlalu tinggi dan kacanya tidak tembus pandang.


Mila mengangguk. "Kau juga. Hiduplah dengan baik. Dan satu lagi."


"Hem.." Elgar menyipitkan matanya.


"Berhentilah menangis. Elgar yang kukenal bukan orang yang cengeng." Cibir Mila sambil tersenyum terpaksa. Memaksakan diri untuk tersenyum itu ternyata tidak mudah, batin Mila.


"Oh iya. Apa yang mau kau katakan tadi?" Tanya Mila.


Elgar terdiam beberapa saat. Kemudian dia menatap kearah lampu taman sambil tersenyum getir.


"Pernikahanku dengan Salsa dimajukan. Dua minggu lagi, kami akan menikah."


Mila mencengkeram erat bangku yang dia duduki. Sekuat apapun dia mencoba untuk tegar, tapi ini terlalu menyakitkan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh. Tapi buru buru dia menghapusnya lalu tersenyum.


"Semoga kau dan Salsa bahagia." Terdengar tulus, tapi sumpah, tak setulus kedengarannya. Karena mendoakan kebahagiaan orang yang kita cintai bersama orang lain, itu sangatlah tidak mudah.


"Aku pergi dulu El." Ujar Mila seraya bangkit dari duduknya.


"Tunggu." Elgar mencekal pergelangan tangan Mila. "Tunggulah sebentar lagi."


Mila mengangguk lalu duduk kembali. Elgar yang melihat Mila kedinginan, melepas jasnya dan memakaikannya dibahu Mila.

__ADS_1


"Bolehkan aku menggenggam tanganmu?" Tanya Elgar.


Mila mengangguk, membuat Elgar langsung menggenggam jemari Mila dan meletakkan dipangkuannya. Masih terasa sama. Genggaman tangan El masih sehangat yang dulu.


"Kau tahu, apa yang paling aku sesali saat ini?" Tanya Elgar sambil mendongak menatap bintang bintang dilangit. Malam ini langit memang begitu cerah, sayangnya berbanding terbalik dengan suasana hatinya.


"Pertemuan kita?" Terka Mila.


"Bukan." Sahut Elgar sambil menoleh kearah Mila. "Aku menyesal karena telah menyia nyiakan waktu hampir 6 bulan kebersamaan kita. Aku menyesal kenapa tak menciptakan kenangan terindah disetiap detik kebersamaan kita. Aku menyesal kenapa tak mengucapkan aku mencintaimu setiap waktu. Kalau saja aku tahu waktu 6 bulan itu adalah masa terindah dalam hidupku, aku pasti tak akan menyia nyiakannya."


Mila menguatkan genggaman tangan mereka sambil tersenyum. Dia memutar kembali kenangannya bersama Elgar. Meski hal hal manis hanya terjadi belakangan ini. Tapi tetap saja, setiap waktu yang pernah mereka lalui bersama, akan menjadi kenangan terindah bagi Mila.


Mereka bertahan dalam posisi itu cukup lama. Saling diam dan menikmati kebersamaan yang mungkin saja terakhir kalinya untuk mereka. Sampai sebuah mobil datang dan menginterupsi mereka.


"Dev." Gumam Mila saat melihat Devan turun dari mobil.


"Aku yang menyuruh Devan menjemputmu. Tak baik wanita malam malam sendirian. Pulanglah." Dengan berat hati, Elgar melepaskan genggaman tangannya.


Mila hendak melepaskan jas yang melingkar dibahunya tapi Elgar menggeleng.


"Untukmu."


Elgar mengantarkan Mila sampai didekat mobil. Disana sudah ada Devan yang membukakan pintu untuk Mila.


"Tolong jaga Mila." Pesan Elgar sambil menepuk bahu Devan. Rasanya seperti mimpi mengatakan ini pada Devan sang rival. Tapi menurutnya, tak ada yang lebih baik dari Devan yang bisa dia percayai untuk menjaga Mila.


Devan mengangguk lalu berjalan menuju kemudi. Elgar menatap mobil Devan yang bergerak meninggalkan halaman rumahnya. Dan saat mobil itu menghilang, dia bisa merasakan, jika separuh jiwanya telah hilang. Mungkin setelah ini, dia tak ada pernah bisa bahagia. Raganya seperti tanpa nyawa.


"Aku akan mencintaimu selamanya Mila. Bahkan saat raga ini sudah menjadi milik orang lain. Hatiku akan tetap menjadi milikmu."


Dengan langkah lunglai, Elgar memasuki rumahnya. Perasaan yang dia rasakan saat ini, lebih menyakitkan dari apapun. Ketidak berdayaannya membuatnya merasa menjadi manusia paling tak berguna dimuka bumi ini. Hanya untuk memperjuangkan cinta saja dia tak mampu. Sangat memalukan. Elgar masuk kedalam kamar dan langsung menuju kamar mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin hampir tengah malam.


...****************...


Didalam mobil Devan, pandangan Mila seketika tertuju pasa sesuatu yang ada diatas dashboard. Devan mendesis menyadari kecerobohannya dengan membiarkan benda itu ada disana.


"Jangan dilihat." Ucap Devan saat Mila hendak meraih undangan yang ada di atas dashboard.


Tapi Mila mengabaikan ucapan Devan. Diambilnya undangan yang bertuliskan nama Elgar dan Salsa. Dibukanya perlahan undangan mewah itu. Bahkan menurut Mila, ini undangan termewah yang pernah dia lihat. Seperti yang dikatakan Elgar tadi, tanggal yang tertera disana, dua minggu lagi setelah hari ini.


"Ada rencana melanjutkan pendidikan?" Devan sengaja mengalihkan topik agar Mila tak terpaku pada undangan itu.


"Kenapa?" Tanya Mila sambil menoleh keaarah Devan.


"Singapura tempat yang tepat untuk melanjutkan pendidikan."


Singapura? Mila bahkan belum pernah memikirkan akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

__ADS_1


"Aku dan Pink, akan pindah ke Singapura. Aku sedang menjalankan bisnis baru dengan seorang sahabat disana. Jika kau mau, ikutlah dengan kami."


__ADS_2