
PRANK.....
"Zana sayang, kamu ga apa-apa?" teriak Putri pada anaknya yang sudah berusia tiga setengah tahun.
Waktu tidak terasa berjalan begitu cepat. Putri sudah mendapatkan ijazah kelulusan SMA-nya, lebih memilih tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Dia memilih untuk menjadi seorang ibu dan istri yang baik untuk anak dan suaminya.
Tristan pun sudah pun sudah mendapatkan gelar S.M.B (sarjana manajemen bisnis), dan sekarang dia sudah benar-benar terjun di perusahaan yang sudah menjadi miliknya itu sambil melanjutkan pendidikannya di S2.
"Mama, maafkan Zana!" kata malaikat cantik Putri.
"Iya sayang, ga apa-apa. kamu diam di situ ya, takut kamu menginjak beling yang ada di lantai,” Zana mengangguk.
"Bi Siti, tolong bereskan semuanya ya!" bi Siti langsung membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai.
"Sini, sama mama digendong." Putri mengendong anaknya dan berjalan menuju halaman belakang rumah.
"Sayang, kamu main disini dulu sama kitti (kucing peliharaan anaknya) ya, mama mau ke kamar dulu ambil ponsel mau nelpon papa,"
"Zana juga mau nelpon papa mah,"
"Iya sayang, nanti kalau sudah tersambung akan mama berikan padamu." Putri pun pergi ke kamarnya mengambil ponsel yang ada di meja, dan memencet kontak suaminya.
**Telepon Mode On**
Tristan : "Halo mama sayang,"
Putri : "Halo yank, jadi 'kan kamu pulang cepat? kita 'kan mau beli kado buat pernikahan Satya dan Bela." kata Putri berjalan keluar kamar menghampiri anak semata wayang mereka.
Tristan : "Iya Ma, ini juga papa lagi siap-siap mau pulang,"
Zana : "Ma, itu papa ya? Zana mau bicara Ma." Putri pun langsung memberikan ponselnya pada Zana.
Zana : "Papa kapan pulang?"
Tristan : "Ini papa baru naik mobil, Zana sedang apa?"
Zana : "Zana sedang main sama kitti. Pa, tadi Zana memecahkan piring mama." katanya dengan menyesal, Putri hanya tersenyum dan meninggalkan anaknya pergi ke dapur.
Tristan : "Kamu baik-baik aja 'kan?" cemas Tristan
Zana : "Zana baik, tapi kasian piring mama Pa. Pa, kita beliin mama piring yang baru ya,"
Tristan : "Hahaha, iya sayang hari ini kita pergi nyari piring mama yang baru, Zana anak baik papa sayang sama Zana,"
Zana : "Zana juga sayang sama papa."
Tristan : "Ya udah, papa menyetir dulu ya, tunggu papa dua puluh menit lagi, kamu siap-siap kita akan pergi,"
Zana : "Baik papa, love u."
Tristan : "Love u too, Baby."
**Telepon Mode Off**
__ADS_1
Zana berlari ke arah mamanya dan memohon ingin segera mengganti pakaiannya. Putri tersenyum melihat anaknya yang tampak bahagia. Outri oun menuruti sang anak untuk mengganti pakaiannya.
"Aku pulang" teriak Tristan memasuki rumahnya.
"Papa." Zana berlari dan langsung memeluk Tristan.
"Wah ... anak papa cantik banget kaya siapa sih?" Tristan menyambut pelukan anaknya dan langsung menggendongnya.
"Mirip mama dong. Pa jadi 'kan kita pergi?"
"Iya sayang jadi donk, anak papa udah cantik gini masa ga pergi."Tristan terus mencium anaknya.
Sebelum mereka pergi, terlebih dahulu Putri melayani suaminya, dengan memberikan segelas minuman untuknya. Setelah itu Tristan mengganti pakaiannya untuk bersiap mengantarkan anak dan istrinya. Tristan mengendong Zana masuk ke dalam mobil.
"Anak baik, duduk manis ya." Tristan memasangkan seatbelt.
"Iya papa, Zana janji jadi anak yang baik." Tristan tersenyum dan mencium kening anaknya.
Mereka pun langsung menuju mall yang tidak jauh dari rumah. Tristan memarkirkan mobil mereka, membuka pintu dan mengendong anaknya.
"Yank, bagusnya kita beli apa ya?" tanya Putri yang bingung apa yang harus dibelinya.
"Kamu pasti lebih tau apa yang dibutuhkan saat berumah tangga."
"Gimana kita beli perhiasan aja? aku ingin memberikan kado yang selalu dikenang sama Bela,"
"Itu juga boleh."Putri pun berjalan ke toko perhiasan diikuti Tristan.
"Zana haus ga?"tanya Tristan yang masih mengendong anaknya.
"Kamu mau apa, sayang?" Zana menunjuk ke arah stan es krim yang ada di depan mereka, Tristan tersenyum dan langsung menuju ke sana.
"Zana mau rasa apa?"
"Strawberry Pa, sama vanila terus toppingnya mau marshmellow aja." orang-orang yang ada di sana melihat kagum pada gadis kecil yang sudah sangat pintar berbicara menata kata-kata.
"Anak pinter. Adiknya ya?" tanya seorang pengunjung.
"Bukan Bu, ini anak saya." kata Tristan tersenyum. Memang banyak yang menyangka Zana adalah adik Putri dan Tristan, karena mereka memang masih terlihat sangat muda.
"Waah hebat, masih muda sudah punya anak. Berapa tahun anaknya?"
"Tiga setengah tahun, Bu." jawabnya singkat dan Tristan pun pamit pada ibu-ibu yang mengajaknya mengobrol, setelah mendapatkan pesanan anaknya.
"Pa, Zana mau punya adik." Tristan tertawa mendengar anaknya yang tiba-tiba meminta seorang adik.
"Kamu serius?" Zana hanya mengangguk sambil menikmati es krimnya.
"Kalau gitu, kamu minta sama mama ya." bisik Tristan menurunkan anaknya. Zana pun menghampiri Putri yang sedang berada di dalam toko perhiasan.
"Hai sayang, kamu beli es krim? papa mana?" Zana mengangguk dan menunjuk ke belakang, Tristan sedang berjalan menuju Putri.
"Yank, ini bagus ga?" Putri menunjukkan satu set perhiasan mewah.
__ADS_1
"Itu bagus,"
"Ya udah, mba bungkus ini ya." pegawai toko itu pun langsung membungkus apa yang dipesan oleh Putri.
"Mama."Zana menarik baju Putri.
"Iya sayang, ada apa?" Putri turun jongkok sejajar dengan anaknya.
"Zana mau punya adik!" katanya polos. Putri menatap sinis ke arah Tristan yang sudah tertawa dari tadi melihat anaknya.
"Zana mau punya adik ya, nanti ya sayang kita beli," Putri masih trauma saat melahirkan Zana. Sudah berapa kali Tristan meminta anak kedua, tapi Putri tidak pernah menggubrisnya.
"Asiiik ... bener ya, Ma."
"Kamu jangan membohongi Zana dong." Tristan mengendong anaknya.
"Zana sayang, nanti adik Zana bakal lahir kalau Zana udah sekolah ya,"
"Bener ya Pa, asiiiik."
"Ma, Zana besok mau sekolah!" Tristan tertawa puas melihat kelakuan anaknya, Putri hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
Setelah mereka membeli kado untuk sahabatnya, mereka pun mencari restoran untuk makan malam. Putri pun memesan aneka makanan pada waiters.
"Baik kak, mohon ditunggu sebentar ya!" ucap waiters itu.
"Mama kok dipanggil kakak? emang om-om tadi adiknya mama ya?" keduanya tersenyum
mendengar ocehan anak mereka.
"Bukan sayang, itu cuma panggilan sopan aja."jelas Putri. Memang Putri belum terlihat seorang yang sudah memiliki anak, maka dari itu tidak ada yang memangilnya dengan sebutan ibu atau semacamnya.
"Oh ... kalau gitu Zana mau panggil mama kakak juga,"
"Sayang, panggilan mama lebih sopan dibanding kakak. Itu 'kan panggilan orang lain buat mama, sedangkan Zana 'kan anak mama sama papa." Tristan menjelaskan kepada anaknya.
"Oh gitu ya. Ma, tapi jadi 'kan Zana besok sekolah?" Tristan kembali tertawa, sedangkan Putri hanya menatap sinis ke arah suaminya.
"Tunggu satu tahun lagi ya, sayang,"
"Bener ya sayang, satu tahun! aku akan tagih omonganmu!!" Tristan menantang ucapan istrinya dan Putri menaikkan bahunya dan tersenyum.
.
.
.
.
~Bersambung~
Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya yaa...
__ADS_1
KEEP SMILE 😁😁