Dia Suamiku

Dia Suamiku
TANDA TANYA


__ADS_3

Rumah mewah yang beberapa hari ini ramai pelayat, hari ini mulai sepi. Tampak Elgar berdiri dibalkon kamarnya sambil sesekali menghisap rokok yang terselip diantara kedua jarinya. Sebelah tangannya memegang amplop biru pemberian terakhir sang papa yang belum dia buka. Pikirannya berkecamuk menebak nebak isi yang ada didalamnya.


"Yakin kau tak tahu isinya?" Tanya Elgar pada seseorang yang berdiri disampingnya.


"Jangankan isinya, kapan dan dimana beliau membuat, aku tidak tahu." Jawab Jordi yang juga sedang menghisap rokok. Jordi membalikkan tubuhnya, dia menyandarkan punggungnya di teralis balkon agar bisa saling berhadapan dengan Elgar.


"Dua hari sebelum beliau meninggal, beliau sempat mengubah isi surat wasiat. Dan perihal amplop itu. Sepertinya saat itu juga dia memberikannya pada Pak Kusno."


"Menurutmu, apa isinya?"


Jordi mengedikkan bahu.


"Payah." ledek Elgar sambil menghembuskan asap rokok ke udara.


"Yang aku tahu, beberapa hari sebelum meninggal, baliau tampak gelisah. Seperti ada beban yang begitu berat yang dia tanggung. Aku sempat bertanya apa masalahnya. Kau tahu apa jawabannya?"


Elgar menyeringai. Sungguh pertanyaan konyol, batinnya. Mana mungkin dia tahu, sedang dia tak ada disana.


Jordi menceritakan percakapannya waktu itu dengan alm Pak Dirga.


"Aku mengkhawatirkan keluargaku. Siapa yang akan menjaga mereka jika aku tidak ada."


"Memangnya Bapak mau kemana?" tanya Jordi


"Ke tempat yang jauh."


"Ke luar negeri?"


Pak Dirga menggeleng.


Sekarang, Jordi baru tahu apa yang dimaksud Pak Dirga. Entah orang itu sadar atau tidak dengan ucapannya. Satu hal yang pasti, kadang sebelum meninggal seseorang akan melantur dan mengatakan hal hal yang mungkin setelah mereka tiada kita baru sadar.


"Aku pikir, beliau memikirkan perusahaan karena kamu yang tiba tiba memutuskan untuk resign. Tapi lebih dari itu, ternyata dia memikirkan keluarganya. Bahkan dia memberikan semua saham padamu meski kamu telah terang terangan mengatakan keluar dari perusahaan. Dan untuk Mila...." Jordi menjeda ucapannya.


"Mila, ada apa dengan Mila?"


"Selain Pak Dirga menyuruhku mengusut tuntas kasus yang menimpa Mila. Pak Dirga juga memberikan sebuah amplop teruntuk Mila."


Elgar begitu terkejut mendengarnya. Ternyata selain dia, Pink dan mamanya, Mila juga mendapatkan amplop dari alm papanya.


"Mana amplop itu?" Tanya Elgar.


"Pak Kusno masih menyimpannya."


"Kenapa tidak segera diberikan pada Mila?"


"Alm perpesan, jika nanti, seseorang akan datang untuk mengambil amplop itu dan menyerahkannya langsung pada Mila."

__ADS_1


"Siapa?"


Jordi menggeleng. "Aku tak tahu."


Sebuah tanda tanya besar muncul di benar Elgar.


...****************...


Istilah bukan kita yang menoton tv, melainlan tv yang menonton kita nyata adanya. Meski tv menyala dan menayangkan spongebob dan kawan kawan, tapi mata Mila sama sekali tak melihatnya. Bahkan suara si tua crab yang tangah mengamuk karena uang koinnya hilang, tak masuk sama sekali di telinga Mila. Pikirannya terlalu kacau memikirkan Elgar yang sudah berhari hari tidak pulang.


Dan seperti hujan di bulan juli, siang ini Elgar tiba tiba muncul dihadapannya. Sebuah senyum manis seketika terukir di bibir Mila. Dia segera bangkit dari rebahannya dan langsung menyongsong Elgar dan berlabuh dipelukannya.


"Aku sangat merindukanmu El." Ujar Mila sambil menyandarkan kepalanya di dada Elgar. Hari ini, tepat 10 hari setelah kematian Pak Dirga. Mila pikir, Elgar akan pulang setiap hari setelah 7 hari, nyatanya, hari ini pria itu baru pulang.


"Aku juga." Jawab Elgar sambil mencium kening Mila dan membelai rambut panjangnya.


Mila menatap Elgar. Wajah itu tampak lelah. Dan sorot matanya, seperti sedang menunjukkan luka yang teramat dalam. Tapi luka apakah itu? Apa karena kematian papanya?


Mila menarik tangan Elgar. Membawa suaminya itu menuju sofa depan tv. Mila merebahkan kepala Elgar dipangkuannya. Diberikannya pijatan pijatan lembut di kening dan kepala sang suami.


"Aku sangat lelah Mil." Ucap Elgar sambil memejamkan mata menikmati pijatan Mila.


"Ya, aku tahu."


Untuk beberapa saat mereka saling terdiam. Mila tahu Elgar seperti sedang ada masalah. Tapi dia masih menunggu, menunggu pria itu mencurahkan apa yang dia rasakan tanpa diminta. Bukankah sudah seharusnya jika suami istri itu harus saling terbuka.


Elgar menggeleng. "Tidak perlu. Kita bisa pesan makanan nanti. Aku ingin seperti ini saja. Aku ingin bisa lebih lama menikmati tidur dipangkuanmu dan merasakan sentuhan lembut jari jarimu."


"Lakukan selama yang kau mau El. Pangkuanku selalu siap menampungmu. Dan jari jariku." Mila menggerakkan kesepuluh jarinya. "Siap untuk selalu memijatmu. Kapanpun yang kamu mau." Lanjutnya sambil kembali memijat.


Elgar menggeleng. "Tidak akan lagi."


"Kenapa?" Mila menghentikan pijatannya sambil mengerutkan kening.


"Aku tak mau tangannya lelah karena memijatku. Selain itu, aku juga tak mau membebani pahamu karena kepalaku yang berat ini."


"Astaga." Mila menepuk dahinya. "Aku sama sekali tak keberatan. Aku justru senang jika suamiku mau bermanja manja seperti ini." Lanjutnya sambil tersenyum manis lalu menunduk untuk mengecup bibir Elgar.


"Kau sangat cantik saat tersenyum." Puji Elgar sambil mengulurkan tangannya keatas untuk membelai wajah Mila. "Berjanjilah kau akan terus tersenyum seperti ini. Entah itu bersamaku, ataupun tidak."


"Maksudmu?" Mila kembali mengerutkan keningnya.


Elgar tertawa melihat ekspresi penuh tanda tanya diwajah Mila.


"Aku tidak akan selalu bisa bersamamu sayang. Ada kalanya aku harus bekerja."


Mila menghela nafas lega. Sepertinya dia terlalu baper. Rasanya, sejak tadi, setiap kata kata Elgar mengandung makna ganda yang membuatnya perlu mengulang bertanya.

__ADS_1


"Kamu kembali bekerja lagi?"


Elgar mengangguk. "Kau tidak suka aku bekerja disana lagi?"


"Tentu saja tidak. Aku justru senang kamu kembali bekerja. Karena alm Pak Dirga pasti menginginkan putra satu satunya untuk menjadi penerusnya. Aku selalu mendukungmu El. Bahkan saat seluruh dunia tak ada yang mendukungmu, ingatlah, masih ada seorang wanita bernama Mila yang akan selalu ada dibelakangmu dan mendukungmu."


Elgar buru buru menghapus cairan bening yang meleleh dari sudut matanya. Tapi sayangnya, Mila lebih dulu melihatnya.


"Kamu menangis El?"


Elgar tersenyum dan bangkit dari pangkuan Mila. Dia meraih pundak Mila lalu menyandarkan kepala Mila didadanya.


"Aku menangis karena terharu. Ternyata didunia ini masih ada spesies langka sepertimu." Ledek Elgar sambil tertawa.


"Spesies langka kata kamu!" Geram Mila sambil mengangkat wajahnya dan memelototi Elgar.


"Hahaha....sangat langka. Jaman sekarang mudah mencari wanita cantik. Tapi wanita yang cantik luar dalam sepertimu, susah ditemukan." Elgar mengecup bibir Mila yang mengerucut berkali kali hingga wanita itu tersenyum.


"Kau tahu, beruntung sekali pria yang bisa memilikimu." Ucap Elgar sambil membelai wajah Mila dengan punggung tangannya.


"Kamu El. Kamu pria beruntung itu."


Mata Elgar berkaca kaca. Dia segera mendekap wajah Mila didadanya agar tak bisa melihat saat air matanya menetes.


"Apa kau ingin kesuatu tempat?" Tanya Elgar.


"Kemana?" Mila malah balik bertanya.


"Kemanapun yang kamu mau."


"Em...." Mila tampak berfikir. Dulu rasanya banyak sekali tempat yang ingin dia datangi bersama Elgar. Tapi saat ini, dia sama sekali tak terfikirkan tampat apapun.


"Harus malam ini ya? tidak bisa besok?" Tanya Mila.


"Harus malam ini. Besok aku harus pergi kesuatu tempat."


"Tapi kamu pulangkan?"


"Hem, tapi mungkin agak malam."


"Tak masalah, yang penting pulang."


"Terus, jadinya mau kemana malam ini?"


Mila benar benar tak ada ide mau kemana.


"Emm...bioskop saja. Kita nonton film horor. Aku lihat ada film horor terbaru."

__ADS_1


"Baiklah. Kita nonton malam ini."


__ADS_2