Dia Suamiku

Dia Suamiku
BERDUKA 2


__ADS_3

Pagi ini, alm Pak Dirga dimakamkan. Banyak sekali pelayat yang ikut serta ke kepemakaman. Mulai dari saudara, tetangga, kolega serta sebagian karyawan Dirgantara grup.


Didekat pusara, tampak Elgar yang memakai baju serba putih. Disebelahnya, ada sang mama yang didampingi oleh Salsa. Tunangannya itu ternyata langsung pulang ke Indonesia saat mendapatkan kabar jika calon mertuanya kritis.


Mila, wanita itu juga hadir. Tapi dia tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa berdiri dibarisan paling belakang. Dari jauh, dia bisa melihat bagaimana Salsa menggenggam tangan Bu Dirga. Wanita itu juga berkali kali tampak melingkarkan lengannya di bahu calon mertua.


Cemburu sudah pasti. Tapi dia tak bisa berbuat apapun selain bersabar dan berdoa. Semoga suatu saat nanti, dia ada diposisi itu. Alangkah senangnya jika dia bisa sedekat itu dengan Bu Dirga.


Setelah acara pemakaman selesai, satu persatu orang mulai meninggalkan pemakaman. Devan, pria itu datang menghampiri Mila.


"Ayo aku antar pulang." Tawarnya pada Mila.


Mila menggeleng. "Aku bisa pulang sendiri."


"Elgar yang memintaku mengantarmu pulang."


Mila seketika menatap Elgar. Ternyata pria itu tahu jika dia datang. Tak mau membuat Elgar mencemaskan keamanannya, Mila mengangguk dan mengikuti langkah Devan meninggalkan pemakaman.


Setelah hampir semua meninggalkan pemakaman, tinggallah Elgar yang masih bersimpuh sambil menatap nisan yang bertuliskan nama papanya. Rasanya seperti mimpi, ini terlalu tiba tiba. Kalau boleh jujur, dia belum siap ditinggalkan papanya. Dan satu hal yang membuatnya menyesal, dia belum sempat meminta maaf pada alm papanya.


Sepanjang perjalanan pulang, Mila tak mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan Elgar. Melihat Salsa ada di Indonesia, ketakutannya mulai mencuat. Bagaimanapun, pernah ada rasa diantara mereka berdua. Jika Salsa terus ada disampingnya dan memberi dukungan disaat seperti ini, tidak menutup kemungkinan rasa yang pudar itu muncul kembali.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Devan yang melihat wajah keruh Mila.


Mila hanya menanggapi dengan gelengan. Takut dianggap terlalu ikut campur, Devan memilih diam hingga mobil yang dikemudikannya sampai di apartemen.


"Terimakasih." Ucap Mila sebelum turun.


"Aku antar sampai kedalam."


"Tidak perlu."


"Aku hanya ingin memastikan kau baik baik saja sampai di dalam apartemen."


Tak ingin berdebat, Mila akhirnya setuju. Devan mengantarkannya hingga depan pintu unitnya.


"Terimaksih Dev."

__ADS_1


"Jaga diri baik baik. Jangan sembarangan membuka pintu."


"Ya, aku mengerti."


Devan tak bisa berlama lama disana karena harus kembali ke rumah duka. Bagaimanapun, dia masih bagian keluarga Dirgantara.


...*****...


Terhitung sudah 4 hari Elgar tak pulang ke apartemen. Meski beberapa kali mereka saling berkirim pesan, tapi tetap saja tak bisa menghilangkan kegundahan serta kerinduan di hati Mila. Akhir akhir ini, dia semakin dihantui perasaan takut kehilangan.


Dan malam ini, sebuah tangan kekar tiba tiba melingkar diperut Mila. Dia yang terbangun, seketika tersenyum saat mencium aroma parfum yang sangat familiar.


Mila membalikkan tubuhnya. Ditatapnya lekat lekat wajah yang dia rindukan siang dan malam. Mata Elgar terpejam, lingkaran hitam disekitar matanya tampak jelas. Sudah pasti suaminya itu kurang tidur dan kurang istirahat beberapa hari ini.


Mila menaikan sedikit posisi tubuhnya lalu mendekap Elgar didadanya.


"I miss u." Gumam Elgar sambil menyorokkan kepalanya didada Mila dan mencari posisi tidur ternyamannya.


"I miss u too El." Sahut Mila sambil mengusap kepala Elgar dan mencium puncak kepalanya. Rasa rindu selama 4 hari ini, akhirnya terbayar lunas malam ini.


...****************...


"Aku membuatkan kopi dan roti bakar untukmu." Ucap Mila yang duduk ditepi ranjang sambil menatap Elgar.


"Terimakasih sayang." Sahut Elgar sambil menarik tangan Mila hingga tersungkur diatas tubuhnya. Dia lalu menggulingkan tubuh Mila kesamping lalu memeluknya dari belakang. "Aku merindukanmu. Biarkan aku memelukmu beberapa saat lagi." Ucap Elgar sambil mendekap erat tubuh Mila.


"Seharianpun tak masalah buatku El."


"Sepertinya ada yang benar benar merindukanku."Cibir Elgar sambil terkekeh. Dia lalu mulai menciumi leher dan tengkuk Mila dari belakang.


"Wangi sekali. Kamu baru mandi?"


"Hem..." Jawab Mila sambil mengangguk.


"Kenapa tak mengajakku. Sudah lama kita tidak mandi bersama."


"Aku akan mandi lagi jika kau mau."

__ADS_1


"Baiklah, tapi setelah ini." Elgar tiba tiba membalikkan tubuh Mila. Mencium bibirnya tanpa aba aba hingga Mila langsung melotot. Tapi setelah itu, dia membalas dengan suka cita.


Kerinduan yang membuncah membuat keduanya benar benar menginginkan satu sama lain. Keduanya seolah berlomba untuk memmuas kan pasangan. Memberikan sentuhan sentuhan mesra sebagai ungkapan rasa cinta sekaligus rindu.


Kamar yang semula dingin mendadak panas dan penuh dengan suara suara merdu yang membangkitkan gairahh. Ungakapan cinta terus menerus keluar dari bibir mereka. Saking bersemangatnya, Elgar hampir membuat tanda merah disekujur tubuh Mila. Dia mencium setiap inci tubuh yang dia kagumi itu.


Elgar memacu gerakannya semakin cepat seperti kemauan Mila. Membuat Mila tak bisa berhenti berteriak dan menyebut nama Elgar. Tubuhnya terasa melayang seiring dengan hentakan Elgar. Hingga keduanya melenguhh bersama saat mendapatkan pelepas an yang luar biasa hebat.


Kegiatan panas itu diakhiri dengan ciuman lembut dan senyum kepua san di wajah keduanya. Kemudian dilanjutkan dengan mandi bersama dan sarapan.


"Apa nanti malam kau akan pulang?" Tanya Mila saat Elgar bersiap siap kembali kerumahnya. Saat ini, masih ada saja pelayat yang datang. Jadi dia masih harus ada dirumah duka.


"Aku usahakan." Jawab Elgar sambil mengenakan jam tangannya. Mila tampak kecewa, membuat Elgar seketika mendekatinya dan mengecup pipinya.


"Maaf jika akhir akhir ini aku jarang pulang."


Mila meraih tangan Elgar dan menggenggamnya. "Tak masalah asal dihatimu tetap ada aku seorang. Dan tempatmu pulang hanyalah aku El." Mila menyandarkan kepalanya didada bidang El. Rasanya rindunya belum sepenuhnya terobati. Tapi El sudah harus pergi lagi dan tak tahu kapan akan pulang.


"Jaga diri baik baik." Ujar Elgar sambil mengecup kening Mila lama.


"Kau juga. Jaga diri dan hatimu." Sahut Mila sambil melelakkan telapak tangangannya didada Elgar.


"Kau cemburu pada Salsa?"


Mila mengangguk.


"Aku tidak bersamanya. Dia sudah kembali ke US kemarin. Dia sangat sibuk karena sebentar lagi akan wisuda."


Rasanya sedikit lega mendengar jika Salsa sudah kembali ke US.


...****************...


Setelah 7 hari kematian Pak Dirga, mereka sekeluarga berkumpul untuk mendengar pembacaan surat wasiat almarhum. Devan juga ada disana karena dianggap sebagai wali sah dari Pink. Selain keluarga, tentu saja Jordi sang asisten kepercayaan juga hadir.


Pak Kusno selaku pengacara segera membacakan surat wasiat saat semua sudah berkumpul. Yang membuat Jordi dan Pak Kusno senang, tak ada wajah wajah haus harta disana. Entah Elgar, Bu Dirga maupun Devan, tak ada yang terlihat terlalu bersemangat. Bahkan Bu Dirga tampak masih lemas dan tak tertarik untuk mendengarkan isi wasiat suaminya.


Seperti yang tempo hari dikatakan Jordi. Seluruh saham Dirgantara grup, jatuh ke tangan Elgar. Rumah beserta isi dan sejumlah uang tunai, menjadi milik Bu Dirga. Sedangkan Pink, dia mendapatkan tanah, perkebunan dan tabungan pendidikan sampai S2.

__ADS_1


Tidak ada protes dari satu orangpun. Semua menerima dengan legowo apa yang ditinggalkan oleh Pak Dirga. Tapi selain surah wasiat itu, Pak Kusno juga mengeluarkan 3 buah amplop. Sesuai yang tertera disana, Pak Kusno memberikan masing masing amplop pada yang bersangkutan. Amplop warna Pink spesial buat Pink. Biru untuk Elgar, dan putih untuk Bu Dirga. Selain warna yang membedakan, amplop milik Bu Dirga tampak lebih besar dari milik yang lainnya.


__ADS_2