Dia Suamiku

Dia Suamiku
TITIPAN


__ADS_3

Tiga hari ini, setiap pagi atau saat mencium aroma sesuatu yang tak sedap, Mila merasakan perutnya mual. Kerena itu juga, dia benar benar kehilangan selera makan. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Kepalanya juga pusing.


Hoek hoek hoek


Bu Rahmi yang kebetulan masuk kekamar Mila, langsung menuju kamar mandi.


"Muntah muntah lagi nduk." Ujar Bu Rahmi sambil memijit punggung Mila. Kasihan sekali dia melihat Mila yang sampai pucat karena terus terusan muntah.


Mila mengangguk sambil membersihkan mulutnya menggunakan air.


"Ayo keruang makan. Ibu bikinin teh anget sekalian sarapan. Biar perut gak kosong."


Bu Rahmi menuntun Mila hingga ruang makan dan menarikkan kursi untuknya.


Sementara Bu Rahmi membuat teh, Mila memijit mijit kepalanya yang terasa pusing.


"Kamu pucet banget. Apa gak sebaiknya periksa ke dokter saja." Kata Pak Wahab yang baru datang.


"Gak perlu Pak. Mila cuma masuk angin atau mungkin asam lambung karena akhir akhir ini jarang makan." Sahut Mila lemah.


Bu Rahmi yang telah selesai membuat teh, meletakkannya diatas meja depan Mila. "Diminum dulu Biar enakan."


Mila meraih cangkir didepannya. Meniup sebentar lalu mulai meneguknya.


"Bapak mau dibuatin kopi?" Tawarnya pada sanh suami.


"Gak usah Buk."Jawab Pak Wahab sambil menggeleng. "Itu Mila makin pucat aja. Bapak kok khawatir. Apa gak sebaiknya dibawa periksa ke dokter."


Bu Rahmi menatap Mila yang duduk disebelahnya dengan perasaan tak karuan.


"Kayaknya kamu hamil nduk."


Huk huk huk


Mila langsung tersedak mendengarnya.


"Hati hati." Ujar Bu Rahmi sambil meraih cangkir dari tangan Mila lalu meletakkannya diatas meja.

__ADS_1


"Ha, hamil bu?" Mila mendongak keatas menatap wajah ibunya. Rasanya seakan tak percaya. Dia sama sekali tak kepikiran kesana.


"Kemungkinan. Untuk lebih pastinya, mending beli test pack saja di apotek."


Mila meraba perutnya. Tangannya sedikit gemetar jika membayangkan ada makhluk lain didalam perutnya. Benarkah dia hamil? Jika benar, kenapa sekarang? Kenapa saat dia sudah bercerai? Apakah ini waktu yang tepat? Air mata Mila mulai menetes.


Bu Rahmi yang melihatnya segera membawa kepala Mila dalam dekapannya.


"Sabar. Skenario Allah, kita tidak pernah tahu. Jika kamu memang harus hamil saat sudah menjanda, ya mau bagaimana lagi. Anak itu anugerah, titipan yang harus dijaga baik baik. Jangan pernah mengeluh atas takdir Allah. Membesarkan anak tanpa suami memang tidak mudah, tapi pasti bisa. Jalani saja dengan ikhlas. Allah tahu apa yang terbaik bagi hambanya." Jelas Bu Rahmi sambil membelai rambut Mila.


"Jangan terburu buru mengambil kesimpulan. Lebih baik dipastikan dulu." Ujar Pak Wahab.


Bu Rahmi mengangguk setuju. Meski dalam hati, dia sangat yakin jika Mila hamil. Sebagai orang yang sudah berpengalaman, dia tahu seperti apa ciri ciri wanita hamil. Nuraninya mengatakan, jika Mila positif hamil.


Seusai sarapan, Mila kembali muntah muntah. Kali ini benar benar parah hingga seluruh isi perutnya habis. Wajah Mila terlihat pucat pasi seperti tak ada darah yang mengalir ditubuhnya.


Bu Rahmi yang cemas, mendatangi apartemen Devan untuk meminta bantuan membawa Mila kerumah sakit. Beruntung hari ini Sabtu. Jadi Devan tidak bekerja, dia bisa membantu membawa Mila kerumah sakit.


...****************...


Setelah dibawa ke UGD, Mila mendapatkan rujukan ke poli kandungan. Dan benar saja apa yang dikatakan Bu Rahmi, Mila hamil.


"Aku ingin kau cepat cepat hamil. Aku tak sabar untuk melihat Elgar junior."


Ucapan Elgar terngiang ngiang dikepala Mila. Jika saja saat ini dia masih bersama Elgar, alangkah bahagianya pria itu.


"Aku hamil El. Aku hamil anak kita." ucap Mila dalam hati.


"Alhamdulilah janinnya sehat. Ukurannya juga sesuai. Saat ini, usianya 7w."


Devan menatap Mila. Dia tak bisa membayangkan perasaan wanita itu saat ini. Sudah diceraikan, tapi sekarang malah hamil.


"Wah....sepertinya debay nya sangat dinantikan ya. Mamanya sampai nangis haru." Ujar Bu Dokter sambil tersenyum. Dia sudah biasa melihat wanita yang menangis saking terharunya karena dinyatakan positif hamil.


Mila tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata. Dia tak tahu air mata apa yang saat ini tengah mengalir, bahagia, ataukan sedih. Karena rasanya, keduanya seperti campur aduk.


"Anak pertama ya?"

__ADS_1


Mila mengangguk.


"Papa harus ekstra jaga mamanya." Ujar Bu dokter sambil menoleh kearah Devan yang dia pikir papa sang janin. "Dibujuk mamanya agar mau makan. Mamanya kurus banget. Asupan nutrisinya kurang. Meski mual muntah, tetap dipaksa makan ya ma. Nanti saya kasih vitamin sama obat untuk mengurangi mual."


Setelah menebus obat, Devan mengajak Mila mampir untuk makan disebuah restoran karena sudah mau jam makan siang.


"Dimakan, kasihan bayinya kalau kamu gak makan." Ucap Devan yang melihat Mila hanya mengaduk aduk makanan didepannya.


Mila mengangguk lalu memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya. Rasanya hambar, tapi dia memaksa makan demi janin dalam kandungannya.


"Ingin sesuatu? biar aku belikan mumpung kita diluar. Dulu Alina suka ngidam yang aneh aneh. Kayak hobi banget ngerjain aku." Devan tertawa ringan saat mengingat bagaimana dulu tersiksanya dia karena ngidamnya Alina. "Kalau kamu mau apapun, jangan ragu buat bilang ke aku. Pasti aku usahakan untuk mendapatkannya."


Wajah Elgar seketika terbayang dibenar Mila. Bahagia sekali jika yang berkata seperti itu adalah Elgar, ayah sang janin. Sayangnya, bukan pria itu, tapi pria lain berhati malaikat yang rela melakukannya.


Seusai makan, mereka langsung pulang. Dalam perjalanan, hati Mila bagai diiris iris melihat pemandangan luar biasa. Jejeran papan bunga bertuliskan happy wedding Elgar dan Salsa memenuhi halaman hotel milik ayah Salsa, dimana acara pernikahan mereka akan dihelat.


Mila sudah berusaha melupakan tanggal yang pernah dia lihat diundangan itu. Nyatanya, takdir berkata lain. Takdir justru membawanya melihat langsung tempat yang akan menjadi saksi pernikahan Elgar dan Salsa hari ini. Bahkan seolah memaksa melihat, karena mobil Devan melaju sangat pelan karena macet. Ya, tepat hari ini Elgar dan Salsa menikah. Bahkan mungkin, mereka telah melaksanakan ijab kabul tadi pagi.


Mila memegangi dadanya yang terasa sakit. Rasanya bagai terhimpit benda besar hingga dia sulit bernafas. Memori Mila kembali pada 6 bulan yang lalu. Rasanya seperti baru kemarin Elgar mengucapkan ijab kabul pernikahan mereka. Tapi kenyataanya, saat ini pria itu tengah bersanding dengan wanita lain. Mengikrarkan ijab kabul dengan menyebutkan nama wanita lain.


"Jangan dilihat jika tidak kuat." Ucap Devan sambil menoleh sebentar kearah Mila.


Mila terisak sambil menundukkan pandangannya. Ditatapnya perut dimana ada Elgar junior didalamnya. Diusapnya perlahan perut itu. Seolah mengatakan, seperti apapun keadaannya, dia akan tetap menjaga dan menyayangi buah cintanya dengan Elgar.


"Apa kau akan mengatakan tantang ini pada Elgar?"


Mila menggeleng. "Aku tak ingin membuat Elgar semakin tersiksa Dev. Hatinya pasti hancur jika dia tahu telah menalakku disaat hamil anaknya. Aku tak mau dia merasa bersalah dan menyesal. Biarlah dia melanjutkan hidupnya dan bahagia bersama Salsa."


Devan bisa mengerti. Dia semakit kagum pada Mila. Disaat seperti ini, dia masih bisa tegar dan memikirkan kebahagiaan Elgar.


"Berbahagialah El. Aku akan menjaga anak kita dengan baik." Gumam Mila dalam hati sambil memejamkan mata dan membayangkan wajah Elgar.


[Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Cintaku tak mungkin beralih

__ADS_1


Sampai mati hanya cinta padamu]


_Kamu dan kenangan_


__ADS_2