Dia Suamiku

Dia Suamiku
BUKAN PILIHAN YANG MUDAH


__ADS_3

Kenapa harus ada pertemuan jika pada akhirnya berpisah. Kalau bisa waktu diputar kembali, mungkin pilihannya adalah tak usah bertemu sama sekali. Karena luka yang ditimbulkan karena perpisahan sungguh luar biasa sakit. Tak ada obat manapun yang bisa menyembuhkan selain waktu. Pada akhirnya, semua pasti akan baik baik saja, tapi masalahnya, butuh waktu berapa lama untuk membuat hati yang hancur kembali baik baik saja.


Mila tercengang. Rasanya tak ada angin tak ada hujan, tapi kenapa ada petir yang tiba tiba menyambar.


"Tidak lucu." Ujar Mila sambil berusaha tersenyum. "Candaanmu keterlaluan. Ini tidak lucu El. Kata talak bukan untuk dibuat becanda seperti ini." Mila menggeleng tak percaya.


"Ini bukan becanda." Sahut Elgar sambil menggelang. Dia membuang pandangan kearah lain karena tak sanggup menatap Mila. Bahkan saat ini, dia merasakan matanya mulai panas.


"Aku pasti mimpi. Ya, ini pasti mimpi. Aku masih tidurkan? Aku masih tidurkan El?" Mila menangkup kedua sisi pipi Elgar agar menghadap kearahnya. "Ya, aku pasti masih tidur saat ini. Lagipula ini konyol, Elgar tak mungkin mengajakku sholat berjamaah."


Elgar menggeleng sambil menurunkan tangan Mila dari pipinya. Dadanya sesak karena mati matian menahan air mata yang memaksa keluar.


"Bagunkan aku El. Mimpi ini terlalu menyakitkan." Lanjut Mila sambil mencengkeram kedua lengan Elgar. "Bangunkan aku El, bangunkan." Nada bicara Mila mulai meninggi.


Lagi lagi Elgar hanya bisa menggeleng sambil menunduk.


PLAKK


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Elgar.


"Ini bukan mimpi." Gumam Mila sambil menatap telapak tangannya yang panas dan memerah. Tubuhnya mulai gemetar menyadari kenyataan yang mengejutkan ini.


"Maafkan aku Mil, maaf." Air mata Elgar tak bisa lagi ditahan. Cairan bening itu luruh tanpa bisa dikendalikan.


Mila merasakan tubuhnya lemas. Tubuhnya terasa tanpa tulang dan perlahan, setetes demi setetes air mata mulai merembes dari sudut matanya. Dipeganginya dadanya yang terasa sakit. Masih basah diingatannya bagaimana semalam Elgar memeluknya dan mengatakan cinta. Tapi pagi ini, bibir yang selalu mengucapkan cinta itu, mengucapkan ikrar talak.


"Apa salahku El?" Gumam Mila dengan suara bergetar karena tangis.


Elgar mengangkat dagu Mila dan menatap wajah yang basah karena air mata itu.


"Aku yang salah. Aku pecundang Mila. Aku lemah. Aku tak bisa memperjuangkan cinta kita. Aku bodoh, aku....aku." Elgar tak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Dia menjatuhkan kepalanya dipangkuan Mila dan menangis sejadi jadinya disana.


Tak ada yang berkata kata. Hanya terdengar suara tangis saling bersahutan antara Mila dan Elgar yang begitu menyayat.


Elgar mengangkat kepalanya lalu menatap Mila. Disekanya air mata Mila yang turun tiada henti.


"Berjanjilah akan selalu bahagia meski tanpa aku. Dimanapun dan bersama siapapun dirimu, aku akan selalu mendoakan kebahagianmu." Sebuah kecupan dikening diberikan Elgar untuk yang terakhir kalinya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Mila." Elgar lalu bangkit dan mengambil ponsel beserta kunci mobil.


Melihat itu, buru buru Mila berdiri dan menghampiri Elgar.


"Kau mau kemana?" Mila mencekal pergelangan tangan Elgar.


"Aku harus pergi Mil."


"Enggak." Mila segera memeluk Elgar kuat kuat. "Kamu gak boleh kemana mana. Kamu gak boleh ninggalin aku."


Ini memang berat. Dan kalau ada pilihan, Elgar juga ingin membalas pelukan Mila dan berkata, aku tak akan kemana mana. Aku tak akan pergi, aku tak akan meninggalkanmu, tak akan pernah. Sayangnya, tak pilihan. Seberat apapun langkahnya saat ini. Dia harus pergi.


"Maafkan aku Mil." Elgar mengurai paksa pelukan Mila lalu pergi.


Mila seperti tak percaya jika Elgar meninggalkannya. Tapi ini bukan mimpi. Bahkan punggung Elgar sudah menghilang dibalik pintu kamar.


Mila mengangkat bawahan mukenanya untuk mengejar Elgar. Dia bahkan sampai jatuh terjungkal karena tak sengaja menginjak mukena.


Elgar memejamkan matanya mendengar suara bug dari tubuh Mila yang terhantam lantai. Ingin sekali dia berbalik dan menolongnya. Tapi tidak, dia tak bisa mundur lagi.


Langkah Elgar terhenti mendengar teriakan itu. Oh Tuhan, bolehkan sekali ini saja dia diberi pilihan yang mudah. Kenapa susulit ini pilihannya.


Ting tong ting tong.


Suara bel memantapkan langkah Elgar untuk segera pergi. Dia membuka pintu dan langsung keluar.


"Elgar!" Teriak Mila yang masih terduduk dilantai.


Bersamaan dengan keluarnya Elgar. Mila melihat kedua orang tuanya masuk.


"Ibuk, Bapak." Gumam Mila ditengah tengah isakannya.


Bu Rahmi segera menghampiri Mila dan memeluknya. Dia ikut menangis seakan akan juga merasakan apa yang dirasakan Mila. Pak Wahab, pria paruh baya yang duduk dikursi roda itupun ikut menangis. Perasaannya hancur lebur melihat tangis pilu anaknya.


"Elgar Buk, Elgar. Elgar pergi. Dia ninggalin Mila. Apa salah Mila buk, apa? Kenapa Elgar tega ninggalin Mila?"


Ibu mana yang kuat melihat ratapan putrinya. Bu Rahmi hanya bisa menangis sambil memeluk Mila.

__ADS_1


...****************...


Elgar menghentikan mobilnya ditempat yang sepi. Dipukulnya kemudi berkali kali dan berteriak sekencang mungkin. Ini terlalu menyakitkan baginya. Bayangan Mila yang menangis tersedu sedu sungguh membuatnya tak bisa bernafas. Dadanya sesak seperti terhimpit sesuatu yang besar.


Kenapa harus seperti ini kisah hidupnya. Kenapa dia tak bisa bersama wanita yang dia cintai.


"Kamu pecundang El, kamu pecundang sejati." Teriak Elgar memaki dirinya sendiri. Dia juga memukul dadanya yang terasa sakit.


Kemarin, dia kerumah Mila. Menemui orang tuanya dan mengembalikan Mila secara baik baik pada mereka. Elgar juga mengajak mereka ikut ke Jakarta agar ada yang menemani Mila disaat seperti ini.


Hidup kadang tak selalu seperti yang kita inginkan. Kadang kita terpaksa melakukan sesuatu meski tak sesuai dengan kemauan kita.


Bukan mudah bagi Elgar untuk mengambil keputusan ini. Tapi setelah dia pikirkan baik baik, inilah yang terbaik. Bukan untuk dirinya, tapi untuk orang orang disekelilingnya terutama Mila.


Kata kata papanya dalam surat itu tak bisa Elgar abaikan. Pak Rendra jelas bukan lawannya. Dia hanya anak kemarin sore, sedangkan ayah Salsa sudah malang melintang didunia bisnis bahkan bisnis hitam puluhan tahun.


"Saat kau membaca surat ini, itu artinya papa sudah tiada didunia ini.


Papa titip mama. Jaga mama dengan baik. Mamamu tak punya siapa siapa lagi dunia ini selain kamu. Papa, Alina, satu persatu sudah meninggalkannya. Saat ini, tanggang jawab menjaga mama dan Dirgantara grup, ada dipundakmu.


Pikirkan ulang rencana membatalkan pernikahanmu dengan Salsa.


Papa sangat mengenal Rendra. Dia bukan sembarangan orang. Dia bisa berbuat apapun terutama jika itu bersangkutan dengan putri semata wayangnya. Selain menyakiti putrinya, kau juga akan menghancurkan harga diri dan nama baik keluarga mereka jika pernikahan itu gagal. Mempermalukan mereka seperti ini jelas bukan pilihan yang tepat.


Selain uang, Rendra juga banyak mengenal orang didunia hitam. Dan akibatnya akan sangat fatal jika membangunkan seorang singa yang tidur.


Kalau seorang Baskara yang bukan apa apa saja bisa berbuat seperti itu pada Mila. Bayangkan jika seorang Rendra. Dia pasti melakukan yang lebih mengerikan dari pada itu. Kerena dia akan menganggap jika Mila yang telah menghancurkan kebahagiaan putrinya


Tak hanya Mila. Perusahaan juga pasti akan dia hancurkan. Bahkan mamamu, Pink dan mungkin orang terdekat Mila, bisa juga terancam.


Pikirkan semua itu El. Pikirkan nasib mamamu, Mila dan seluruh karyawan Dirgantara grup. Jangan demi egomu, mereka jadi korban.


Maafkan papa. Maaf karena telah menempatkanmu diposisinya paling menyulitkan. Andai saja kau tahu, tak pernah terpikirkan oleh papa jika endingnya akan seperti ini. Papa tidak menyalahkan kau yang jatuh cinta pada Mila. Tapi jika sampai terjadi sesuatu pada Mila atau mamamu, kamu pasti akan menyesal seumur hidup.


Papa sudah tidak ada, tak yang bisa membantumu selain dirimu sendiri.


Sekali lagi, maafkan papa. Karena ego papa, kamu harus berada diposisi ini."

__ADS_1


__ADS_2