Dia Suamiku

Dia Suamiku
Dia Suamiku


__ADS_3

** KANTIN **


"Kalian tega banget sih ninggalin gue!" kesal Bela. mereka berempat terus berjalan tanpa menggubris Bela.


"Put, jatah makan lo buat gue lagi ya," Citra. Putri hanya mengangguk.


"Lo kaya orang miskin aja minta jatah makan orang, emang uang jajan lo di kemanain?" tanya Romi.


"Gue habis beli make up hehehe."


Mereka berenam mengambil tepat duduk yang masih kosong. Tristan dan teman-teman berada disebrang Putri, mereka saling menatap dan tersenyum.


"Haiiiii everybody." sapa seorang gadis yang baru di lihat Putri dan yang lainnya, kecuali Sarah dan Citra yang sudah mengenal gadis cantik itu.


"Emmm ... dateng deh mak lampir," kata Citra yang tidak suka dengannya.


"Itu siapa?" tanya Bela.


" Dia Tasya, anak ketua yayasan disini, pokoknya jangan sampe deh berurusan sama dia,"


"Emang kenapa? " tanya Putri.


"Dia tuh orangnya pecicilan banget, terus ga mau kalah pokoknya jangan sampe deh,"


"Huuus, jangan ngomongin orang," tegur Sarah.


"Gue ngomongin fakta kok,"


"Tapi, kok dia baru keliatan sekarang?" tanya Romi.


"Katanya sih, dia habis pulang liburan dari luar negeri, tapi ga tau juga." jelas Citra. Mereka pun melanjutkan menyatap makanan mereka.


"Haai Tristan sayang, gue kangen banget sama lo."dia langsung duduk didekat Tristan, Putri yang sedang menyantap soto mbayun tersedak mendengar suara tasya. Dia langsung melihat ke arah Tristan.


uhuk uhuk..


"Put, lo ga apa-apa? nih minum dulu." Bela memberikan segelas air putih padanya. Putri yang terus menatap Tristan membuat suaminya menjadi salah tingkah. Dia tau kalau istrinya sedang marah. Kelima temannya tau bahwa Putri sedang cemburu.


"Sabar Put, dia emang dari dulu tergila-gila sama kak Tristan. Tapi, lo tenang aja, setahu gue kak Tristan ga pernah nerima cintanya dia," jelas Citra.


"Tristan, katanya lo pindah rumah ya? kok lo ga ngasih tau gue sih?" ucap Tasya dengan manja membuat Putri semakin geram melihat kelakuan Tasya. Ingin rasanya dia berteriak, kalo Tristan itu suaminya. Putri tidak tahan melihat mereka langsung berdiri dan pergi dari kantin. Kelima temannya yang masih sibuk memakan makanan mereka, akhirnya mengikuti sahabatnya itu.


"Tristan, lo mau kemana?" teriak Tasya.


"Gue balik ke kelas dulu." Tristan langsung


berlari untuk mengejar istrinya.


"Udah donk Put, jangan cemberut aja, makanya lo cepet-cepet deh nembak kak Tristan." Putri melihat sinis ke arah Bela dan mempercepat langkahnya.


"... emang gue salah ngomong ya?" kata Bela mengaruk kepalanya yg tidak gatal.


"Lo sih becanda mulu," sarah berlari kecil menyusul Putri.


"Siapa yang becanda sih?" bisiknya.


" Putriiiiiiii ...." teriak Tristan yang membuat semua sahabatnya berbalik badan kecuali dia. Tristan langsung menarik Putri naik ke atas atap sekolah. Dia sudah tidak peduli apa yang di pikirkan teman-temanya, toh kita berdua sudah nikah ini, pikirnya.


"Sayang, jangan marah dong!" Putri trus diam, dan selalu memalingkan mukanya tiap tristan berusaha melihatnya.


"Yank, dia emang kaya gitu orangnya please donk jangan marah gini." Tristan berusaha memegang tangan Putri tp dia selalu menepisnya.


"Ya ... lo kenapa diem aja dipegang-pegang sama cewe itu?" Putri membuka suaranya dengan sedikit emosi.


"Dengerin aku dulu ...."


"Gue belum beres ngomong, terus kenapa juga dia tau lo pindah? berarti dia sering maen ke rumah lo dong? terus kenapa lo g pernah cerita tentang dia?" saking emosinya Putri tidak sadar memangil suaminya dengan sebutan itu.


"Udah bicaranya?" kata Tristan.


"... aku diem aja, karena aku males berurusan dengan dia, dan juga aku ga tau kalau dia tau rumahku, trus kenapa aku g pernah cerita kan dia bukan orang yang penting yang harus aku ceritain ke kamu." jelas Tristan dengan hati-hati, karena dia sudah tau sifat istrinya itu dari ibu mertuanya.


"Udah jangan cemberut aja, nanti cantiknya ilang lo," godanya.


"Biarin ilang juga udah ada yg punya ini,"


"Kamuu ngegemisin deeeeh." Tristan mendekatkan wajahnya dan ....


" Eheeeeeeem ... ini sekolah looooh." kata Sarah yang berjalan menghampiri mereka disusul emoat sahabatnya. Mereka dari tadi melihat dan mendengar apa yang Putri juga Tristan bicarakan dan membuat mereka sedikit kaget.

__ADS_1


"Jadi maksudnya ini apa?" tunjuk Bela pada tangan Tristan yang masih memegang Putri. Putri hendak melepaskan genggamannya, tapi Tristan menahannya.


"Put, kok lo ga jawab? jadi kalian pacaran?" tanya Citra. Ketiga gadis itu berdiri berjajar sambil melipat tangan di dada meminta penjelasan, sedangkan kedua pria berdiri di belakang mereka.


"Bukan," jawab Putri pelan.


"Kalo bukan terus ini apa pake pegangan tangan segala?" Sarah.


Saat Tristan hendak menjelaskan hubungan mereka, Putri langsung bicara "DIA SUAMI GUE!" membuat Tristan kaget dan tersenyum lega, karena selama ini Putri yang menginginkan hubungan mereka disembunyikan.


"Waaaah paaaraaaaah looo." ucap kelima sahabatnya yang kaget dengan apa yang di katakan Putri.


"Sejak kapan?" tanya Bela.


"Sejak libur kemaren, gue nikah di Bali."bisiknya, Tristan hanya diam sambil tersenyum.


"Tega yah, lo ga cerita sama kita, panteees aja lo selalu ngamuk ga jelas kalau liat kak Tristan sama cewe lain." Putri langsung menghampiri Bela dan menutup mulutnya.


"Emang benerkan?" katanya tidak jelas karna Putri masih menutup mulutnya. Semua orang disana tertawa melihat Putri yang malu rahasianya terbongkar di depan Tristan.


"Tapi gue harap ini jadi rahasia kita, gue masih pengen sekolah," kata Putri memelas.


"Jadi lo ga percaya sama kita?" Sarah.


"Bukannya gitu, gue percaya kalian kok,"


" Lo tenang aja, rahasia lo aman, tapi lo harus bilang ke kita kalo kak Tristan bikin lo nangis kita akan bikin perhitungan ke dia." Sarah.


"Perhitungan apa?" tanya Putri penasaran.


"Perhitungan traktir kita makan di kantin sepuasnya." celetuk Romi mengundang tawa semuanya. Putri langsung memeluk ketiga gadis itu, saat Romi dan Satya melangkah dengan niat ingin bergabung.


"Eheeeeeem." Tristan dengan sigap melarangnya.


"Yaaah ... sekarang kita ada bodyguard baru nih," canda Satya.


Suara bel membuat mereka bubar dan kembali ke kelas mereka


"Yank, aku masuk kelas dulu," pamit Putri.


"Iya, nanti pulangnya aku langsung pulang, ga akan pergi ke kantor dulu."


"Eheeeem ... tadi aja marah-marah sekarang udah co cweet lagi, jadi bikin iri yang jomblo tau." sidir Citra. Keduanya tertunduk malu, sedangkan yang lainnya menertawakan keduanya.


**♥️♥️**


"Iiih ... kalian kepooooo."


"Berarti udah gol donk?" Sarah ikut bicara.


"Yaaaa kagaaalah, gue belum siap kali,"


"Kalian ngomongin pertandingan bola apa?" tanya Satya yang ada di samping mereka dengan sekilas mendengar kata gol.


"Kepooooooo." jawab keempat gadis itu bersamaan dan mereka pun tertawa.


**♥️♥️**


"Pak, kita mengalami penurunan saham semenjak pihak dari Singapura menarik investasi mereka." kata Chandra pada Rio.


"Kamu siapkan rapat segera!" titah Rio sambil melihat berkas-berkas yang ada ditangannya.


"Siap Pak."


Akhir-akhir ini Rio sangat sibuk dengan perusahaanya. Dia berpikir pasti ada orang dalam yang membocorkan arsip penting perusahaan.


"Halo Arta, aku butuh bantuanmu. Oke aku tunggu!"


Tidak lama akhirnya sahabatnya itupun datang. Rio menceritakan kondisi perusahaan padanya.


Setelah selesai rapat, mereka langsung pulang ke kediaman Agatha untuk membicarakan rencana mereka. Lesti sudah berada di sana setelah mendapatkan telpon dari suaminya. Kedua wanita itu menyiapkan aneka cemilan dan teh manis.


"Kalian kok tumben jam segini udah pulang?" kata Kirana sambil menyimpan teh manis yang di bawanya.


"Sayang, besok kita akan berangkat ke Singapura." Rio menjelaskan semua permasalahan yang ada di kantor pada kedua wanita itu.


"Kalau gitu kita ikut aja," ucap Lesti.


"Iya, kita sebisa mungkin akan membantu kalian di sana." lanjut Kirana. Walaupun mereka hanya seorang ibu rumah tangga, tapi kedua dulu kuliah di bidang yang sama dengan suami mereka dan sedikit tahu bagaimana tentang dunia bisnis.

__ADS_1


"Putri gimana?" cemas Rio.


"Putri sudah ada suaminya kita tidak perlu mengkhawatirkan itu, dan Raka untuk sementara tinggal di sini dulu sampi semua masalah selesai," jelas Kirana dan semua menyetujuinya.


"Ya udah kalau gitu, kita perlu siap-siap." kata Arta dan mereka pun pamit pulang untuk menyiapkan kebutuhan mereka selama disana


"Mommy ... aku pulang." teriak Putri yang baru saja tiba.


"Bi, mommy mana?"


"Dikamar Non, sama tuan."


"Ooh ... daddy udah pulang. Tumbeen, ya udah aku masuk dulu ya Bi."


"Eheem ... jadi yang dicari mommy aja nih? suaminya dicuekin." kata Tristan yang sudah menganti baju seragamnya menuruni tangga. Memang dia sudah lebih dulu tiba, karena tidak terjebak macet.


"Kamu udah pulang," kata Putri menghampirinya.


" 'Kan aku bilang langsung pulang ga ke kantor dulu,"


"Oh iya ... aku lupa. Aku mau ganti baju dulu gerah banget." katanya dan berjalan menaiki anak tangga.


**Kamar**


"Sayang ...." kata Tristan yang dari tadi memeluk putri dari belakang.


"Apa sih yank? lepasin donk aku mau mandi,"


"Dimandiin mau ga?" godanya.


"Kagaaaak, udah lepasin!" Putri berusaha melepaskan tangan Tristan, tapi dia mengencangkan pelukannya membuat Putri menyerah.


"Yank, lepas donk!"


"Cium dulu!" kata Tristan, Putri membalikan badannya, dan mengecup bibir Tristan, tapi dia tidak juga melepaskannya.


"Udaaah, sekarang lepasin!" Tristan tidak menggubris perintah Putri. Tristan kembali mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir putri. Dia terus ******* bibirnya dan Putri menikmati setiap gerakan mulut Tristan. Tristan terus menciumnya dan menggiring tubuh Putri sampai mereka terbaring di kasur.


"Kak ...." kata Putri yang menyudahi ciuman mereka, karena menurutnya ini akan berlanjut kalau dia tidak menghentikannya.


"Aku belum siap." katanya dengan pelan membuat Tristan langsung beranjak dari tidurnya.


"Kamu marah?" Putri memeluknya dari belakang.


"Ga kok, ya udah kamu ganti baju sana." Putri melepaskan pelukannya dan langsung memasuki kamar mandi.


Tuhan apa yang aku lakukan? katanya malu dengan muka yang merah. Dia tidak sadar apa yang dia lakukan tadi. Karena akhir-akhir ini dia tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Keduanya turun kebawah untuk makan malam bersama. Putri kaget melihat beberapa koper yang ada di ruangan tengah.


"Mommy sama daddy mau kemana? kenapa kalian membawa begitu banyak koper?" kata Putri yang langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sudah berada di meja makan.


"Kalian makan dulu, nanti kita lanjut bicaranya." kata Rio dan mereka pun menikmati makanan mereka.


"Jadi, daddy sama mommy mau kemana?" tanya Putri yang dari tadi menganggu pikirannya dan Rio menjelaskan semuanya.


"Berapa lama disana?"


"Kita ga tau sayang, tapi secepetnya Mommy dan daddy akan pulang,"


"Jaaahaat, mommy sama daddy ninggalin Putri sendiri." keluhnya


" 'kan ada Tristan," jawab Kirana.


"Kamu ga usah khawatir sayang, 'kan ada aku yang jagain, terus nanti ditambah Raka dia akan tinggal sementara di sini." jelas Tristan. Putri diam mengangguk.


"Tristan, daddy ingin membicarakan sesuatu padamu,"


"Iya, Dad." mereka berdua pun pergi ke halaman belakang.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN SEMUANYA

__ADS_1


JANGAN LUPA KLIK TANDA ❤️ DAN 👍 NYA YA 😇😇


Vote Author sebanyak-banyaknya yaa.....


__ADS_2