Dia Suamiku

Dia Suamiku
Liburan Singkat


__ADS_3

Dret dret dret, dengan cepat Tristan mengangkat telepon dari sang ayah.


**Telepon Mode On**


"Halo, Yah,"


"Hari ini kamu pulang bareng sama Putri ya,"


"Tapi Yah, aku 'kan harus mengantarkan Dewi, lagi pula motorku 'kan ada di rumahnya," jelas Tristan.


"Pokoknya setelah kamu mengantarkan Dewi, kamu langsung ke rumah Putri, ayah tunggu disini. Nanti ayah kirimkan alamat lengkapnya,"


"Oke, Yah." katanya sambil menutup telepon.


**Telepon Mode Off**


** LAPANGAN **


Tiga wanita cantik berdiri di pinggir lapangan membawa beberapa kantong, sambil menunggu Putri yang masih membersihkan diri.


"Hai, Putri mana?" tanya Rani yang menghampiri mereka.


"Dia masih di toilet, ada apa?" jawab Bela.


"Oh gitu, kalau barang-barang nya mana?"


"Nih," kata Bela menunjukan tas yang dari tadi di pegangnya.


"Dia bawa apa aja sih? berat banget," keluh Bela.


Rani tersenyum, "Sini biar saya bawa,"


"Ga apa-apa kok, gue ga keberatan." kata Bela yang takut Rani tersinggung dengan omongannya.


"Biar sama saya saja Bel, soalnya mau sekalian simpen barang di mobil." Bela menyerahkan tas Putri dan Rani langsung pamit pada ketiganya. Citra dan Sarah binggung melihat sikap Rani, karena mereka belum mengetahui kalo Rani itu adalah asisten Putri.


"Kok, Rani bersikap seolah-olah dia dan Putri tinggal satu rumah sih?" tanya Sarah penasaran.


"Lo tanya aja sama orangnya tuh." Bela menunjuk ke Putri yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Lama amat sih tuan Putri," sindir Bela dan Putri hanya tersenyum tanpa dosa.


"Barang-barang gue mana?" tanya Putri.


"Udah di bawa Rani tadi," jawab Bela.


Sarah dan Citra yang penasaran langsung menanyakan pertanyaan yang tadi mereka tanyakan pada Bela ke Putri dan Putri menceritakan semuanya.


***


Rangga menyuruh semua siswa berkumpul dilapangan untuk memberitahukan MOS tahun ini sudah selesai. Dia mengumumkan bahwa sekolah di liburkan untuk tiga hari kedepan. Semua siswa tampak senang mendengar pengumuman itu.


"Sekali lagi selamat datang di SMA KHARISMA DARMA UTAMA dan happy long weekend . kalimat itu menjadi penutup MOS tahun ini.


** KEDIAMAN AGATHA **


Dua pasang suami istri itu sedang sibuk menyiapkan keperluan mereka untuk berlibur. Mereka merencanakan untuk pergi ke villa Rio yang berada di Bali.


"Semua sudah siap tinggal nunggu anak-anak kita pulang," kata Rio.


"Yah, emang kita mau kemana sih?" tanya Raka yang masih lemas, karena terpaksa bangun lebih awal.


"Nanti juga kamu tau sayang," jawab Arta.


"Sayang, kamu sudah telpon kaka 'kan?" tanya Lesti pada suaminya. Arta menjawabnya dengan anggukan.


Tidak butuh waktu lama mobil camry putih datang dan berhenti tepat di depan pintu rumah. Seperti biasa bang Jojon membukakan pintu buat nona mudanya itu.


"Kalian mau kemana ?" tanya Putri kaget, saat masuk ke dalam rumah dia melihat semua orang berkumpul dengan beberapa koper disampingnya.


"Kita semua akan pergi berlibur ke Bali." kata Rio dengan penuh semangat.


Krik krik krik ....


Suasana hening, tidak ada respon apapun dari anak semata wayangnya itu. Yang biasanya dia sangat ceria ketika mendengar kata liburan.


"Kok ngedadak sih? Putri 'kan cape Dad, lagipula Putri juga belum siap-siap," keluhnya.


"Kita udah siapin semuanya kok sayang, kamu tinggal berangkat aja dan klo masalah cape 'kan kamu bisa istirahat di dalam pesawat." jelas Kirana.

__ADS_1


Tidak lama kemudian terdengar suara motor ninja milik Tristan. Tristan lekas turun dan memasuki rumah. Sama halnya seperti Putri Tristan kaget dengan situasi di rumah itu. Semua orang hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Tristan yang sama seperti yang di tanyakan Putri.


"Udah nanti juga kamu tau. Sekarang kita berangkat keburu telat." kata Arta memaksa anaknya yang baru datang itu memasuki mobil. Semua orang yang ada di rumah itu ikut berlibur bersama mereka.


Selama perjalanan Putri yang duduk di samping tristan tertidur pulas. Orang tuanya sengaja membiarkan Putri dan Tristan berada di mobil yang terpisah dengan mereka. Setelah sampai ke bandara keluarga besar itu langsung menuju pesawat pribadi yang di miliki keluarga Agatha. Butuh waktu kurang lebih dua jam perjalanan untuk tiba di pulau Bali.


Di dalam pesawat para asisten, supir, tukang kebun, dan security berada di kursi paling depan. Keempat orang tua ada di kursi tengah, Putri, Tristan dan Raka berada di kursi paling belakang. Semua menikmati perjalanan dengan berbagi cerita masing-masing.


Raka lebih memilih mendengarkan lagu mengunakan headset sambil memejamkan mata.


"Masih ngantuk?" tanya Tristan, karena selama perjalanan menuju bandara Putri hanya tertidur pulas. Putri menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Oia, sebelumnya kamu sekolah dimana?" tanya tristan lagi. Dia ingin sekali ngobrol dengan Putri tapi tidak tau harus mulai dari mana.


"Aku homeschooling kak, sejak sd sampai smp dan ini pertama kalinya aku sekolah di tempat yang umum,"


"Oh ... keliatannya seru juga ya,"


"Seru dari man? yang ada tiap hari aku bete ga ada temen. Aku harus nunggu Rani dan Maya pulang kalau mau ada temen cerita," keluhnya.


"Aku mau kok jadi teman cerita kamu." ucapnya tiba-tiba. Deg, apa yang di katakan tristan membuat Putri merasa bahagia. Putri hanya tersenyum pada Tristan dan dia membalas senyumannya.


Keempat orang tua yang tepat berada di depan mereka diam-diam mendengarkan obrolan kedua anak mereka.


"Kita berhasil." bisik mereka yang merasa rencana mereka berhasil untuk mendekatkan keduanya.


Selama sudah tiga puluh menit mereka di atas awan. Semua orang tertidur dengan pulas terkecuali Putri dan Tristan yang mulai asik mengobrol menceritakan bagaimana kehidupan mereka.


"Jadi status kalian sekarang apa?" tanya Putri, karena sebelumnya Tristan menceritakan awal mula dia pindah ke Indonesia dan kenal dengan Dewi.


"Maksudnya?" tanya Tristan binggung dengan pertanyaan Putri.


"Ya ... 'kan kalian sudah sejak kecil selalu bersama dan keliatannya hubungan kalian sangat dekat," katanya dengan nada yg sedikit cemburu


"Hahahaahaha, jadi kamu kira aku sama Dewi pacaran?"


"Kok malah ketawa sih? emang iya 'kan? kalau ga, kenapa tiap hari aku liat kakak selalu bareng sama kak Dewi?"


"Aku tuh kerja sama dia, ya bisa di bilang jadi supir pribadi gitu lah. Aku pengen punya penghasilan sendiri dan bokap dia nawarin kerjaan itu, menurut aku ga ada salahnya kalau di coba." jelas Tristan agar Putri tidak salah faham terhadapnya.


Putri yang mendengar jawaban dari Tristan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Tristan dia tersenyum bahagia, karena bisa jadi sedekat ini dengan Putri.


***


Beberapa mobil yang sudah menunggu keluarga besar Agatha sudah terpakir di tempat penjemputan.


"Selamat datang pak Rio, silahkan masuk!" kata salah seorang supir dan membukakan pintu untuknya. Perjalanan berlanjut menuju villa besar yang berada di pinggir pantai.


** VILLA **


Para asisten mulai membereskan barang-barang milik tuan mereka. Satu-persatu dimasukannya koper ke dalam kamar masing-masing. Memang terdapat banyak kamar di villa ini.


"Kalian istirahat aja dulu, saya sudah memesan makanan yang ada di hotel, jadi untuk sementara kalian tidak usah memasak." jelas Rio kepada semua assisten rumah tangganya.


"Baik tuan, terimakasih." serentak semua menjawab. Memang villa itu bersampingan dengan hotel bintang empat punya keluarga Agatha.


"Daddy, aku mau maen ke pantai boleh?" tanya Putri.


"Terserah kalian bertiga mau istirahat atau mau maen kepantai dulu boleh, asal jam empat sudah harus berada di sini kita makan bersama." jelas Rio.


Mereka bertiga memilih untuk menikmati angin laut. Raka meminta izin kepada kakaknya itu berkeliling melihat sekitar.


"Udah lama banget aku ga ke sini." kata Putri sambil duduk di bangku pinggir pantai, diikuti Tristan yang duduk disampingnya.


"... Dulu daddy sering banget ajak aku sama mommy kesini, tapi semenjak daddy menambah anak perusahaannya, dia jarang banget punya waktu untuk kita jangankan ajak liburan. Untuk bertatap muka aja udah jarang." lanjutnya.


"Kita main air yu!" ajak Tristan agar Putri tidak mengingat kisah yang membuatnya sedih. Tristan berjalan sambil menarik tangan Putri. Putri pasrah dan mengikuti langkah Tristan.


"Kak Tristan, nanti aku basah." Tristan yang dari tadi memercikan air laut ke arah Putri.


"Makanya sini maju!" dia menyuruh Putri agar lebih dekat dengan ombak.


"Ga, aku takut Kak,"


"Ga apa-apa 'kan ada aku yang jagain kamu." Tristan menghampiri Putri dan menarik tangannya agar lebih dekat ke ombak. Ternyata tidak seburuk yang dipikirkan Putri, dia menikmati ombak yang menghampiri kakinya.


"Seru 'kan?" tanya Tristan.


"Apa?" teriak Putri karena suara ombak dan angin laut yang besar membuatnya tidak mendengar apa yang dikatakan Tristan.

__ADS_1


"Aku tanya, seru 'kan?" Tristan berbisik di telinga Putri membuat jarak mereka sangat dekat. Keduanya saling menatap satu sama lain. Hati Putri berdetak begitu kencang, kalau saja tidak ada suara ombak mungkin Tristan akan mendengar bunyi detak jantungnya pikir Putri. Tangan Tristan yang masih memegang Putri meneratkan pegangannya membuat Putri sedikit kesakitan, perlahan wajah Tristan mulai mendekat dan ....


"Non Putri ...." panggil Maya membuat Tristan melepaskan tangannya dan mundur selangkah menjauhi Putri.


"Maaf non, dipanggil tuan." Maya yang malu melihat keduanya langsung berbalik kembali masuk ke dalam rumah. Di hatinya dia begitu senang melihat keduanya, karena dia sangat tau betul perasaan nona muda terhadap Tristan.


"Kita masuk yu!" ajak Putri.


Apa yang tadi akan dilakukan Tristan, apa dia akan menciumku? katanya dalam hati.


Semua orang berkumpul di meja makan untuk menikmati beraneka masakan laut yang lezat.


Selesai menyantap makanan, bi Inah dan yang lainnya membereskan semua yang ada di meja makan dan kembali kebelakang bersama asisten yg lainnya. Di meja tersisa dua keluarga kecil itu.


"Ehem ... daddy mau mengumumkan tiga hal penting untuk kalian semua." ucapnya dengan serius. Kirana, Lesti dan Arta mengerenyitkan dahi mereka, karena ini tidak ada dalam rencana yang mereka susun. Semua diam memperhatikan Rio dengan serius.


"Yang pertama, kalian sekeluarga (yang di maksud Rio adalah keluarga Arta) pindah ke rumah yang telah di siapkan olehku,"


"Maksud kamu ...?" Arta kaget apa yang di bicarakan oleh sahabatnya itu.


"Tidak ada yang bisa menolak keputusanku." memang sejak dulu apapun yang Rio putuskan tidak ada yg berani melanggarnya.


"Yang kedua, mulai minggu besok Arta akan memegang salah satu perusahaanku dan aku sudah membuat nama pemilik perusahaan itu menjadi milik Arta." wajah Arta dan istrinya kaget saat Arta hendak berbicara, Rio kembali mengeluarkan suaranya yang membuat Arta terdiam.


"Tapi itu semua tidak gratis, aku tetap akan meminta bagianku 30% setiap bulannya." karena dia tau kalau sahabatnya itu tidak akan menerima apapun secara cuma-cuma.


" dan yang terakhir ( semua masih terdiam serius mendengarkan Rio) besok adalah hari pernikahan kalian berdua " kalimat itu sontak membuat Putri dan Tristan berdiri secara bersamaan.


"Apa ....!!" teriak keduanya


"Maksud daddy apa? aku 'kan masih mau sekolah Dad, memang aku menyukai kak Tristan, tapi aku tidak ingin secepat ini untuk menikah." Putri tanpa sadar mengutarakan perasaannya di depan semua orang. Keempat orang tua itu tersenyum beda dengan Tristan yang kaget dan langsung menatap tajam ke arah Putri.


"Kalian duduk dulu!" titah Kirana dan mereka berdua pun kembali duduk.


"Tapi om ... eh daddy saya masih sekolah dan juga belum mempunyai penghasilan untuk membagun rumah tangga, lagipula kalau pihak sekolah tau ini akan menyebabkan banyak masalah." jelas Tristan.


"Daddy sudah bilang tidak ada yg mengubah keputusan daddy. Untuk masalah usia kalian 'kan bisa pacaran dulu layaknya anak muda pada umumnya. Daddy tidak memaksa kalian agar segera memberikan kami cucu (kata itu membuat kedua anak muda itu tertunduk malu dengan muka yang memerah) kalian nikmati dulu aja masa muda kalian dan untuk penghasilan, Daddy juga sudah menyiapkan anak perusahaan buat kamu untuk di kelola setelah lulus kuliah nanti. Dan mulai dari besok itu sudah menjadi milikmu. Penghasilan dari perusahaannya pun sudah masuk ke rekening kalian nanti. Jadi, kamu sudak tidak perlu bekerja part time lagi. Ini juga tidak gratis, kamu harus memberikan 30% keuntungan perusahaan setiap bulan. Dan yang terakhir kalau takut masalah sama pihak sekolah kalian bisa merahasiakan nya 'kan?" jelas Rio dari setiap keraguan Tristan tadi, yang membuat semua terdiam. Mau tidak mau semua harus setuju dengan keputusannya.


Setelah mengumumkan tiga hal penting tadi. Para orang tua langsung menuju halaman villa untuk melanjutkan obrolan mereka. Raka lebih memilih untuk berkeliling kota Bali yang ditemani oleh bang Jojon.


Putri masih tidak percaya dengan apa yang di alaminya begitupun dengan Tristan. Dia memutuskan untuk kembali ke kamar, karena dia masih malu menginggat pengakuan cintanya di depan semua orang tanpa dia sadari. Putri berdiri dan hendak untuk pergi, tapi langkahnya terhenti, karena Tristan memegang tangannya.


"Put, mau kemana?" Putri dengan refleks menarik tangannya melepaskan dari pegangan Tristan.


"Emmm ... aku mau balik ke kamar," katanya dengan menundukan kepala.


"Kita cari udara segar yu!" ajak Tristan dan Putri menjawab dengan anggukan. Mereka keluar dan memilih berjalan di pinggir pantai.


"Kalau malam laut damai ya," kata Tristan.


"Iya." jawabnya singkat. Putri berjalan dengan kepala menunduk seketika mengangkat wajahnya saat Tristan meraih tangannya dan mengandengnya. Tristan pun menghentikan langkahnya. Putri yang masih tidak menyangka hanya pasrah dengan keadaan.


"Duduk yu!" ajak Tristan sambil menarik tanganya. mereka berduapun duduk dan Tristan masih menggenggam tangan Putri dengan sangat lembut.


"Aku juga cinta kamu." katanya Tristan tiba-tiba dengan niat menjawab pernyataan cinta Putri yang tidak di sengaja itu. Putri semakin malu dan menundukan kepalanya.


"Kok diem aja?" Putri masih tertunduk menggelengkan kepalanya. Tristan langsung mengangkat wajah Putri dan mengarahkan muka Putri berhadapan dengannya.


"Kamu kenapa?" tanya Tristan.


"Aku malu," bisik Putri.


"Kenapa harus malu? aku mau berterimakasih padamu karena sudah menyukaiku. Sejujurnya aku juga sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu di gerbang sekolah." sontak membuat Putri kaget jadi selama ini perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Put, kamu mau 'kan jadi istri aku?" secara tidak langsung Tristan melamar Putri. Putri hanya mengangguk meneteskan air mata bahagianya.


"Terimakasih ya, izinkan aku untuk membahagiakanmu." kata Tristan lalu menyium kening Putri dan memeluknya. Putri tersenyum bahagia dalam pelukan lelaki pujaan hatinya itu. Ini adalah malam terakhir dia menjadi seorang gadis, karena besok dia sudah menjadi nyonya Tristan pikirnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA..


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya... 😇😇


__ADS_2