Dia Suamiku

Dia Suamiku
Heboh


__ADS_3

Pagi itu Putri bangun lebih awal dia berniat untuk menyiapkan sendiri keperluan sekolahnya dan juga ingin membuat sendiri sarapan untuk suaminya. Dia terdiam di depan meja belajar menatap jadwal pelajaran yang dia tidak mengerti harus bagaimana.


"Sayang, kamu ngapain?" Tristan yang baru saja bangun menghampiri Putri.


"Aku binggung," keluhnya.


"Kenapa?"


"Ini bagaimana cara bacanya." dia menunjuk pada jadwal mata pelajaran. Selama ini yang menyiapkan jadwal itu Rani dan maya setelah menikah Tristan yang menyiapkannya.


"Hahahahahahahaha." Tristan tertawa puas melihat sang istri kebingunggan.


"Kok ketawa sih sayang, aku serius nanya looh malah diketawain," keluhnya.


"Kamu kaya gini aja nanya bikin gemes tau ga?" Tristan mengacak acak rambut Putri, dan dia menjelaskannya.


"Semudah ini kah?" kata Putri yang sudah mengerti bagaimana caranya.


"Tadi aja bilang susah, ya udah aku mandi dulu." Setelah merapihkan jadwal mata pelajaran Putri yang sudah siap dengan seragamnya langsung turun menuju ke dapur.


"Sayang, tumben hari ini kamu sudah siap?" tanya Kirana heran melihat anaknya


"Mom, ajari aku bikin nasi goreng untuk kak Tristan donk." tiga asisten yang ada di situ kaget begitu pun dengan Kirana.


"Kamu yakin, sayang?"


"Iya momy, aku 'kan sudah jadi seorang istri jadi aku harus bisa melayani suamiku dengan baik,"


"Anak momy sekarang sudah dewasa, ya udah bi siapkan bahan-bahan untuk nasi goreng," titah Kirana.


"Baik nyonya." bi Inah sambil tersenyum bangga menyiapkan bahan-bahannya.


Putri mulai memasak dibantu oleh Kirana, selesai memasak dia langsung menyiapkan sarapannya di atas meja.


"Waaah ... anak daddy tumben pagi-pagi udah rapih, kok kamu pake celemek." Rio heran melihat anaknya memakai celemek yang tidak pernah dia bayangkan.


"Sarapan pagi ini yang masak Putri loh, Dad," ucap Kirana.


"Daddy langsung laper mendengarnya, daddy coba yaa." Rio langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh istrinya di dalam piring.


"Gimana dad, enak ga?" tanya Putri penasaran.


"Emmm ... oke." Rio mengacungkan kedua jempolnya, Putri langsung tersenyum bahagia mendengarnya.


Tristan baru saja bergabung di meja makan.


"Sayang, sini duduk!" ajak Putri untuk duduk di sebelahnya, Tristan pun langsung duduk dan menyantap nasi goreng yang di depannya. Putri terus melihat bagaimana reaksi suaminya, karena dia belum tau nasi goreng yang di makannya itu buat istrinya.


"Kamu ga makan sayang?" tanyanya heran.


"Enak ga?" putri penasaran apa jawaban dari suaminya.


"Enak kok seperti biasa, emang kenapa?"


"Ini tuh dia yang masak loh Tristan," kata Rio pada menantunya.


"Serius kamu masak?" Tristan kaget tidak menyangka kalau istrinya masuk ke dapur untuk memasak sarapan untuknya.


"Iya, kok kamu kaya yg ga percaya gitu sih?" kesalnya.


"Bukan gitu, aku senang aja kamu buatkan aku sarapan."


"Ehem, udah deh lebay-lebayannya cepat habiskan makan kalian," kata Kirana dan mereka semua menyantap habis nasi gorengnya.


"Oia Tristan ini buat kamu, upah kamu selama dua bulan bekerja mengantikan daddy di kantor," Rio memberikan kunci mobil yang mereka belum tau mobil apa yang diberikan Rio pada Tristan.


"Terimakasih, Dad." mereka semua bersiap-siap untuk berangkat. Tristan kaget dengan mobil yang terpakir di depan pintu. Mobil sport Ferrari warna merah keluaran terbaru.


"Dad, apa ini tidak berlebihan?" tanya Tristan yang menurutnya ini terlalu mewah untuk ukuran upah dia selama bekerja.


"Udah yank, terima aja, daddy membelikan ini karna dia sudah terlalu sayang padamu, iya 'kan dad?"


"Iya sayang, lagi pula itu ga seberapa dibanding kerja keras kamu. Ya udah sana kalian berangkat keburu kesiangan." Keduanya pun pamit untuk pergi ke sekolah.

__ADS_1


Hari ini Putri memilih berangkat dengan suaminya, karena Tristan menagih janji istrinya untuk tidak menyembunyikan lagi hubungan mereka. Bang Jojon tetap mengikuti dan mengawasi nona mudanya sambil mengantarkan Maya dan Rani kesekolah. Mobil sport itu memasuki sekolah membuat semua heboh melihatnya. Tristan langsung memakirkan mobil barunya itu. Yang membuat heboh lagi saat keduanya turun dari mobil itu.


β€œItu Putri anak kelas satu IPS 'kan? Kok bisa ya dia sama ka Tristan?” bisik orang-orang melihat keduanya. Putri malu tertunduk, karena semua mata tertuju padanya dan Tristan.


"Sayang, ayo!" Tristan dengan terang-terangan mengandeng tangan istrinya memasuki gerbang sekolah. Semua yang ada di situ kaget melihatnya.


"Ini cuma awal aja nanti juga mereka terbiasa," kata Tristan menenangkan hati Putri. Tristan mengantarkan Putri sampai ke depan kelasnya, selama jalan mereka terus ditatap oleh siswa yang ada di sana.


"Aku masuk kekelas dulu ya!" pamit Tristan yang sudah mengantarkan Putri sampai depan pintu. Putri tersenyum padanya dan langsung memasuki kelas.


"Cieeeeeeeee ... ehm ehm, ada yang baru jadian nih?" teriak anak-anak dikelas, muka Putri memerah dia tertunduk dan lari ke bangkunya.


"Put, kapan jadiannya? Tahu-tahu udah gandengan tangan aja," teriak salah satu teman kelasnya.


"Kaliaan kepooo deh!" teriak Bela, dia tau kalau saat ini Putri sangat malu, karena dari tadi dia hanya diam tertunduk.


"Put kok bisa lo jalan ma kak Tristan? gandengan tangan lagi," bisik Bela.


"Sttt ... nanti aja gue ceritain." jawab Putri singkat.


"Anak-anak, minggu depan kalian akan ujian semester, siapkan diri kalian untuk menghadapi ujian. Bapak tidak mau salah satu dari kalian ada yang tidak lulus dalam mata pelajaran bapak," teriak pak Darto.


"Iya, Pak," semua menjawab.


Tiga jam pak Darto menjelaskan mata pelajaran ekonomi dan membuat Putri juga bela pusing.


"Jangan lupa pesan bapak persiapkan diri kalian," kata pak Darto meninggalkan kelas.


"Huuuuft ... gue nyerah," keluh Putri menjatuhkan kepalanya di atas meja.


"Lo enak ada kak Tristan yang bisa ajarin lo, walaupun dia anak IPA, tapi dia pinter di berbagai hal," ucap Bela yang juga menjatuhkan kepalanya


"Kalian berdua kenapa?" tanya Citra mereka berdua hanya diam tidak bersemangat.


"Oia gimana kalo kita belajar bareng aja?" Putri dengan semangat mengangkat kepalanya.


Krik ... krik ... krik, mereka berlima hanya memandang Putri. Mereka tau kalo Putri dari dulu tiap belajar bareng, dirinya selalu saja tertidur.


"Kok kalian diem aja? Setuju ga nih?"


"Put, kak Tristan." sarah menoel tangan Putri. Tristan dari tadi sudah berdiri di depan kelas menunggunya keluar dari kelas.


"Kak Tristan, kok di sini?" tanya Putri heran.


"Ya nungguin kamu lah , kita ke kantin yuk!" Tristan menarik tangan Putri berjalan menuju kantin kelima temannya mengikuti mereka dari belakang sambil tersenyum.


Saat tiba di kantin orang yang belum melihat Tristan dan Putri tadi pagi kaget termasuk Dewi yang sudah lebih dulu berada di kantin. Mereka semua duduk dan masing-masing memesan makanan mereka.


"Sayang, mau makan apa?" tanya Tristan, Putri dari tadi menundukan kepalanya malu, karena semua orang masih menatap mereka terlebih lagi perempuan mereka menatap Putri dengan sinis.


"Samain aja sama kak Tristan."


"Ya udah aku pesan ya." Tristan berdiri dan langsung memesan dua mangkok baso.


"Nih yank." Tristan menyodorkan mangkok baso.


"Makasih yank."


"Triiiiiissstaaaaaaan," teriak Tasya yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Katanya lo sakit yaaa, geseer dikit." katanya pada Putri, dia pun menggeserkan badannya, kelima temannya langsung melihat ke arah Putri.


"Bukan gue yang sakit, tapi pacar gue," kata Tristan dan dia membawa mangkok basonya dan pindah di samping Putri. Kelima temannya yang duduk di seberang Tristan tertawa pelan.


"Tristan, maksudnya pacar lo siapa?" memang Tasya belum melihat Tristan dan Putri dari tadi pagi jadi dia tidak tau apa yang terjadi.


"Kenalin pacar gue, Putri." Tristan menunjuk ke arah Putri, Putri terpaksa tersenyum, Tasya dengan kesal berdiri dan pergi dari situ tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Waaaaaah siap-siap nih bakal ada perang dunia ketiga" kata Citra.


"Kalian tenang aja, dia ga akan berani cari masalah dengan gue," kata Tristan sambil menyantap basonya.


"Waaaaah ... sekolah hari ini hebooh sama lo berdua." Rangga yang baru saja datang dan duduk di samping Sarah.

__ADS_1


"Tristan, lo diam-diam menghanyutkan ya. Tahu-tahu udah jadian aja nih l," sindir Rangga.


"Aw ... sakit yank." sarah mencubit perut Rangga.


"Sorry kak, lo kalah star, tapi 'kan lo dapet juga,"canda Tristan.


"Iya nih hati gue dicuri ma dia." sambil menunjuk ke arah Sarah, muka sarah memerah karena malu.


"Duuuh ... apes gueee yang jomblo." sindir Citra.


"Makanya gue bilang, lo jadi pacar gue aja Cit, biar nanti klo nge-date kita bisa barengan dari pada jadi nyamuk." goda Romi.


"Diiih ... ogaaah mending jadi nyamuuk deh gue,"


"Ya udah deh, kalo lo nyamuk gue rela ngasih darah gue buat lo,"


"Langsung keracunan gue." mereka yang melihat Citra dan Romi tertawa.


"Oia kak, ajarin kita ekonomi donk." kata Sarah sama pacarnya.


"Iyaaa kak, aku nyeraaah deh," keluh Citra.


"Ya udah kita belajar di rumah gue aja," kata Putri membuat semuanya melihat kearahnya sambil memainkan mata. Dia lupa kalau Rangga belum tau hubungan dia dan Tristan sebenarnya.


"Okeee, kita belajar di rumah Putri tiap pulang sekolah." kata Rangga yang memang tidak tahu apa-apa. Tristan menarik nafas panjangnya melirik Putri dengan sinis, Putri yang sadar suaminya itu kesal hanya melemparkan senyum tanpa dosa.


Bel berbunyi dan mereka semua memasuki kelas.


"Put, kak Tristan di kemanain kalo kita kerumah?" tanya Sarah.


"Ga tau gue, paling ke rumah bunda. Tapi nanti gue ngomong lagi deh sama dia."


****


Dewi masih terbayang-bayang Tristan mengandeng tangan Putri. Dia menhampiri Tristan yang sedang menulis pelajaran yang tertinggal kemaren.


"Thir, boleh pindah bentar ga?" Fathir teman sebangku Tristan.


"Oke." kelas saat itu sedang kosong karena guru mata pelajaran kimia sedang sakit.


"Thanks yaa. Tan, lo nyatet apa dari tadi." tanya Dewi yang melihat Tristan dari tadi sibuk mencatat.


"Fisika. Gue 'kan kemaren ga masuk."


"Oh gitu. Tan, sejak kapan lo jadian sama Putri? Perasaan gue ga pernah liat kalian deket atau jalan bareng tau-tau udah jadian aja." Tristan menutup bukunya yang selesai dia tulis.


"Sejak kemaren." memang benar sejak kemaren Putri mengizinkannya untuk bisa memperlihatkan hubungan mereka walau dengan status pacaran.


"Oh gitu, kok lo ga pernah cerita-cerita lagi sama gue sih, gue jadi merasa kehilangan sahabat gue deh," keluh Dewi.


"Maafin gue Wi, akhir-akhir ini gue sibuk ngebantu bokap di kantor barunya, lo jangan merasa gitu donk, lo tetap sahabat gue kok."


"Gue seneng kalo lo berpikiran seperti itu, oia nyokap udah pergi, Tan." dia menunduk sedih.


"Lo yang sabar ya, mungkin ini yang terbaik buat kedua orang tua lo." dia menepuk bahu sahabat kecilnya itu dan Dewi hanya mengangguk.


"Makasih ya lo selalu dengerin curhatan gue. Oia kali-kali ajak gue jalan sama Putri donk, gue juga 'kan mau kenal deket sama pacar sahabat gue,"


"Nanti gue bicarakan sama Putri, dia pasti mau kok. Oia Wi, gue duluan ya mau jemput Putri kekelasnya." bel pulang sudah berbunyi Tristan mengambil tas dan segera ke kelas istrinya.


Dewi terus menatap punggung Tristan, rasa sakit dalam dadanya, bukan karena perceraian kedua orang tuanya, tapi karena cintanya selama ini hanya bertepuk sebelah tangan.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN SEMUANYA

__ADS_1


TEKAN ❀️ DAN LIKE NYA


JANGAN LUPA UNTUK SELALU TERSENYUM DAN BAHAGIA πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2