
"apa kamu ngak kasihan dengan presdir? presdir soedjoko sekarang lagi terbaring lemah di rumah sakit? dan permintaannya masih tetap sama mau melihat cucu semata wayangnya itu menikah dengan kamu" ucap nyonya agna lagi
pricilla pun hanya diam mematung mendengar kata demi kata yang terlontar dari mulut bundanya, jujur saja penjelasan bundanya itu semuanya benar! tapi apa daya? sekarang dirinya masih dikuasai oleh amarahnya yang begitu menggebu gebu. dan tak lama berselang pricilla kembali membuka suara untuk permisi ke toilet
"maaf semuanya saya permisi ke toilet dulu" ucap pricilla sambil bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah toilet
pricilla pun berlalu meninggalkan meja tersebut dan berjalan menuju toilet yang masih diiringi dengan air mata yang tak henti hentinya bercucuran dipipi mulusnya
nyonya agna melihat kepergian putrinya itu, seakan akan ingin menahannya tetapi keinginannya itu langsung dihentikan oleh nyonya ivan
"biarkan ia tenangkan dirinya dulu, dia butuh waktu untuk berfikir" ucap nyonya ivan kepada nyonya agna dan hanya dibalas anggukan oleh nyonya agna.
sedangkan verrel hanya diam membisu melihat keegoisan wanita didepannya tadi, ia merasa sangat kesal karena melihat wanita itu menolaknya didepan mata kepala nya sendiri
"gue ngak habis pikir opa memilih wanita ini untuk dijodohkan dengan gue, bahkan wanita ini sama sekali tak memikirkan kondisi opa saat ini, gue yakin pasti opa sangat kecewa kalau tau wanita pilihannya ini sama sekali tak mengkhawatirkan keadaannya" gumam verrel dalam hati
"wanita ini sangat egois opaaa....opa harus tahu itu" tambah verrel yang semakin bergumam dalam hatinya
sementara itu pricilla yang berada di toilet sedang menangis terisak, duduk bersimpuh memeluk lututnya sambil manatap cermin didepannya dengan tatapan kosong.
"lebih baik gue pergi dari tempat ini, semua orang jahat kepadaku, mereka semua tidak pernah memikirkan perasaanku sama sekali" ucap pricilla sambil terisak dan mengingat bagaimana orang orang yang selalu menyudutkannya termasuk bundanya itu
__ADS_1
"maaf bunda! pricilla harus pergi, pricilla tidak sanggup menjalani hari hari pricilla bersama orang yang pricilla tidak cintai" ucap pricilla lagi sambil terisak, kini ia sudah tak bisa membendung sakit hatinya sehingga suara tangisannya semakin keras sampai pengguna toilet lain mendengar suara tangisannya itu. setelah beberapa menit dirinya menangisi nasibnya didalam toilet, kini ia pun kembali bangkit dan sesegera mungking meninggalkan restaurant tersebut
saat ini pricilla benar benar nekat dengan apa yang dilakukannya itu, ia berjalan menyusuri kota paris tanpa tujuan yang jelas di tambah lagi dengan kondisinya yang sangat memperhatikan dimana dirinya sudah seperti gembel karna semua pakaiannya sudah terlihat lusuh dan berantakan. semua orang yang melewatinya sesekali melirik ke arahnya tetapi ia tak pernah memperdulikan hal itu, ia tetep berjalan langkah demi langkah walau tak tau arah yang akan ia tuju, dirinya benar benar merasa asing apalagi sekarang ini dia berada di negera orang bukan di negaranya, dan ditambah lagi dia tidak terlalu fasih berbahasa prancis yang semakin mempersulit dirinya berkomunikasi dengan orang lain
setelah dirinya menempuh jarak beberapa kilo tiba tiba terbesit dipikirannya untuk menghubungi sang kekasih, ia pun menepi di sebuah pinggiran toko untuk meraih ponselnya
"gue harus kabarin fero " hanya itu yang ada dalam pikirannya saat ini
ting...ting...ting...
📞 nomor yang anda tuju sedang tidak aktif....
"fer angkat dong ini pentingg" kalimat itulah yang selalu keluar dari mulutnya saat ini
"kok di reject sih" ucap pricilla kesal,
disaat saat seperti ini ia benar benar sangat membutuhkan dukungan dan semangat hidup dari orang orang terdekatnya, namun semua orang malah menghilang begitu saja dari sisinya
ia duduk di pinggiran toko sambil memeluk tas jinjing branded nya, dirinya benar benar kehilangan arah saat ini, otak nya seakan tak bisa berpikir lagi, ia hanya duduk menatap orang orang yang sedang berlalu lalang dihadapannya. setelah beberapa menit ia berdiam diri di tempat itu, ia kembali tersadar kalo dirinya harus kabur secepatnya sebelum orang orang mencari keberadaannya. ia pun melihat beberapa taxi yang sedang terparkir rapi di pinggiran kota, seketika ia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah taxi tersebut.
"hi excuse me can you take me to the airport"
__ADS_1
"hai permisi, bisakah anda mengantarku ke bandara" ucap pricilla kepada sopir taxi itu
sopir itupun tampak kebingungan dan pricilla yang melihat raut wajah tersebut langsung mengerti maksud dari sopir taxi itu, ia pun mengambil ponselnya dari dalam tas dan mengetik sebuah kalimat lalu di translate kedalam bahasa france
"salut excusez-moi pouvez-vous m'emmener à l'aéroport "hai permisi, bisakah anda mengantarku ke bandara"
tanya pricilla
"bien sûr que je pourrais". "tentu saja saya bisa" ucap sopir itu
"oui, emmène-moi là -bas maintenant" "ya, bawa aku ke sana sekarang" jawab pricilla
"veuillez entrer madame" "silakan masuk bu" ucap sopir taxi itu
"d'accord" "baik" balas pricilla
ditengah perjalan pricilla hanya sibuk berkutik dengan ponsel miliknya untuk mencari tiket penerbangan paris-jakarta di jam itu juga, tak lama ia mengscrol scrol ponsel miliknya itu ia pun akhirnya menemukan ticket yang ia cari dan memesannya detik itu juga.
setelah sampai di airport pricilla pun kembali kesulitan saat ingin membayar sopir taxi karna dirinya tak memiliki mata uang euro untuk membayar taxi nya, karna biasanya yang memegang tunai hanya rere (asisten bundanya) sedangkan pricilla hanya melalukan transaksi debit apabila sedang membeli sesuatu di luar negeri.
"désolé je n'ai pas de monnaie euro" "maaf saya tidak punya mata uang euro, pak" ucapnya ke sopir taxi saat sudah menghentikan laju mobilnya itu
__ADS_1
sopir taxi itu kembali kebingungan dan terlihat sedang berpikir bagaimana caranya agar penumpangnya ini bisa membayarnya. pricilla yang melihat sopir itu sedang berpikir kembali menawarkan untuk membayarkannya lewat debit dan untungnya ternyata sopir taxi tersebut menerima pembayaran melalui debit
setelah itu pricilla pun melanjutkan langkah nya ke bagian imigrasi untuk cek paspor dan beruntungnya ia membawa semua perlengkapan penerbangannya (seperti passport dan juga visa serta yang lainnya) karena pagi tadi memang ia dan bundanya itu habis berburu beberapa tas branded impiannya, dan tentu saja sebelum membeli barang barang tersebut ia wajib memperlihatkan paspor, visa dan lainnya terlebih dahulu, jadi saat pricilla menuju airport tadi dirinya tak perlu khawatir untuk melakukan penerbangan ke indonesia karna syarat penerbangan semuanya terpenuhi.