
1 tahun pun berlalu. pricilla dan juga bundanya itu bahkan hampir lupa dengan janjinya ke Presdir Soedjoko, ya mereka sudah jarang bertemu setelah pricilla mulai terjun di dunia entertaiment. jadi ketika ada meeting di perusahaan, hadi lah kakaknya yang turun tangan, namun karena hari ini hadi lagi berada di luar negeri, jadi nyonya agna lah yang turun tangan langsung untuk mengurus bisnis cabangnya itu yang ada di jakarta
"baiklah kalo begitu meeting kali ini saya tutup, semoga proyek kita berjalan lancar, terimah kasih" ucap agna menutup meeting tersebut, sambil bersalam salaman dengan para investor. Setelah itu ia pun berjalan keluar dari ruangan tersebut
"tunggu" teriak seorang pria paruh baya dibelakangnya
nyonya agna pun berbalik badan dan melihat ke arah suara yang memanggilnya itu
"oh presdir soedjoko, apa kabar?" ucap nyonya agna menghampiri presdir soedjoko sambil berjabat tangan
"kabar baik, apa aku boleh meminta waktumu sebentar, ada sesuatu yang mau kukatakan kepadamu" ucap presdir itu
"baiklah, mari ikut denganku" ucap agna sambil berjalan menuju ruangan Presiden Direktur di kantor itu
"masuklah" ucap nyonya agna sambil membuka pintu
kini mereka pun telah duduk di sofa yang ada diruangan itu, dan tanpa banyaka basa basi presdir soedjoko langsung berkata
"aku ingin menagih janjimu" ucapnya
"apa tentang perjodohan putriku maksud anda?" tanya agna sambil menghela nafasnya
"tentu saja, perjanjian apa lagi?"
"apa anda benar benar yakin akan perjodohan ini? apa kita tidak egois dengan mereka? merekakan tak saling mengenal?" tanya nyonya agna kembali memastikan
"lohh kenapa anda sepertinya ragu setelah mengiyakan perjodohan ini?" tanya presdir soedjoko balik
"dia cucu semata wayangku dan saya tidak ingin salah pilih akan hal itu! aku mohon anda tak membatalkan rencana ini" tambahnya lagi seraya memohon
"tapi aku takut, pricilla itu putri ku satu-satunya apa ia akan bahagia bersama cucu anda itu? yang bahkan aku pun tak mengenalnya?" balas nyonya agna dengan raut wajah khawatir
"segeralah bertemu dengan nya agar kau yakin akan hal itu" balas presdir soedjoko
__ADS_1
"kapan aku bisa menemuinya?" tanya nyonya agna
"weekend ini, ajak juga putrimu itu agar mereka bisa saling mengenal, dan untuk tempatnya nanti asistenku yang akan mengabarimu" balas presdir soedjoko
"baiklah" balas agna dengan hati yang sedikit tenang
"hanya itu yang ingin aku sampaikan, terimah kasih atas waktunya" ucap presdir soedjoko sambil berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut
...----------------...
...----------------...
...----------------...
saat ini opa soedjoko atau biasa di panggil presdir soedjoko itu sedang duduk termenung di meja kerjanya. tak beselang lama dirinya pun membuyarkan semua lamunannya dan segera meminta ponsel miliknya kepada ajudan nya yang dari tadi telah berdiri di belakangnya
"berikan ponselku" ucapnya kepada ajudan
"ini tuan" ucap ajudan
📞"hallo assalamu alaikum opa?" ucap verrel
📞"waalaikum mussalam verrel, bagaimana kabarmu?" ucap opa
📞"baik kok opa, kalo opa sendiri" ucap verrel
📞"opa baik baik saja nak, tapi kau sudah lama tak menjenguk opa" ucap opa
📞"kan lagi sibuk syuting opa, ini verrel juga lagi di lokasi nih" ucap verrel
📞"baiklah setelah syutingmu itu selesai, kau datanglah ke rumah opa, ada hal penting yang ingin opa katakan" ucap opanya tanpa basa basi
kini verrel pun telah selesai syuting, laki-laki itu melajukan kuda besinya itu menuju rumah opa nya, 30 menit perjalanan akhirnya verrel telah sampai dihalaman depan rumah opa nya. dirinya pun turun dari mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah
__ADS_1
"opa verrel datang" teriak verrel
"opa opa" teriaknya lagi
"hmm" opanya pun hanya berdehem di ruang tamu miliknya itu
"sinilah kemari, ada yang ingin opa katakan kepadamu" ucap opanya itu
"hm, ada apa" sambil medudukkan dirinya di sofa
"opa to the point aja, kamu tau kan apa permintaan opa ke kamu dari dulu? dan kini opa akan menagihnya!" ucap opa
"mampus opa benar benar masih ingat permintaan itu, aku pikir sudah lupa dia " gumamnya dalam hati
"verrel" ucap opanya yang kini melihat cucunya itu melamun seketika
"iya...iya opa" balas verrel membuyarkan lamunannya
"baiklah kalo kamu masih ingat, weekend ini kita akan temui calon mu itu sekaligus mengadakan acara pertunangan kalian" ucap opa
"tunangan??? secepat itu??" tanya verrel dengan heran
"ngak cepat verrel, kamu aja yang sering ngulur ngulur waktu, ini sudah beberapa tahun sejak opa mengatakannya kepadamu" ucap opanya itu
"hhmm" verrel hanya berdehem menghela nafasnya
sejak beberapa tahun yang lalu verrel memang selalu diberitahukan oleh opa bahwa verrel akan dijodohkan dengan anak partner bisnis nya itu, namun verrel selalu tidak menggubrisnya bahkan tidak mendengarkannya sama sekali
"pokoknya kali ini kamu harus dengarkan dan ikuti apa kata opa, opa telah memberikan mu kebebasan selama ini bahkan opa diam kalau kamu tak mendengarkan apa kata opa, tapi sekarang tidak lagi, pokoknya opa tidak menerima penolakan" ucapnya
"opa ini sudah tua verrel, opa cuma mau melihat kamu menikah dengan wanita pilihan opa sebelum opa menghembuskan nafas terakhir opa" ucapnya lagi dengan nada pelan
verrel yang melihat raut wajah opanya itu pun luluh dan tak bisa berkata kata lagi, lagi pula ia adalah opa yang verrel sangat sayangi walaupun opanya itu terlihat keras apabila menginginkan sesuatu, yang mau tidak mau harus dituruti oleh verrel karna ia tak mau menyesal di kemudian hari apabila tak menyetujui permintaan opanya itu
__ADS_1
"tap-" ucap verrel yang langsung dipotong oleh opanya itu
"pokoknya sabtu sore kamu sudah ada di rumah ini, dan kita bakal ketemu dengan calon istri mu itu. dan satu lagi opa tidak mau mendengar alasan apapun" ucapnya sambil berdiri lalu berjalan menuju lift pribadinya dan meninggalkan verrel sendiri diruangan itu yang masih berusaha mencerna kata kata dari opanya