
"kerja sama??" tanya pricilla dengan penasaran
"yah gue mau mengajak lo bekerja sama dan hidup damai tanpa saling mengusik ketentraman satu sama lain" ucap verrel terjeda
"lo ngak perlu mencampuri urusan pribadi gue dan begitupun sebaliknya gue gak akan mencampuri urusan pribadi lo, lo hanya perlu berpura-pura bersikap layaknya seorang istri jika sedang didepan keluarga gue maupun dikeluarga lo" lanjut verrel menjelaskan dengan panjang lebar
"oh yah dan satu lagi, lo jangan sampai jatuh cinta sama gue, karena satu-satunya wanita yang ada dihati gue itu cuma tasya !!! dan gak akan pernah tergantikan oleh wanita manapun, apalagi itu elo" ucap verrel menekankan dengan serius kepada pricilla, ia sengaja berkata seperti itu agar pricilla tak menyimpan rasa terhadapnya apalagi sampai berharap lebih dari laki-laki itu
"no problem, gue setuju dengan syarat yang lo ajukan" ucap pricilla terjeda
"tapi gue juga mau mengajukan satu syarat tambahan" tambah pricilla dengan serius
"apa??" tanya verrel dengan cepat
"syarat gue simpel aja sih, gue cuma ngak mau" ucapnya dengan ragu ragu
"gue gak mau kalau lo sampai meminta jatah ke gue, gue gak mau ituuu" ucap pricilla menyebutkan satu persyaratannya namun saat menyebutkan kata jatah nadanya sedikit lebih pelan dan hampir tak terdengarkan, dirinya merasa malu mengatakan hal seperti itu, namun mau tidak mau dirinya harus mengatakan itu agar verrel memahami maksudnya, karena barang berharganya itu hanya akan ia berikan kepada seseorang yang dicintainya
"okayy.....cuma itu?" tanya verrel lagi
"gu-gue juga gak mau kalau lo main nyosor-nyonsor seperti kemarin-kemarin" tambah pricilla mengingatkan
"hmmm...okay gue minta maaf, gue gak maksu-" balas verrel berdehem dan berniat untuk meminta maaf karna dirinya pada saat itu memang sedang kelepasan, dan mulai saat ini ia akan berusaha untuk membuang jauh jauh pikiran kotornya itu terhadap wanita yang ada dihadapannya itu
"stop gak usah dibahas lagi" potong pricilla dengsn cepat karna tak ingin mengingat kejadian-kejadian itu disaat mereka masih diparis
"hmmm ada lagi" tanya verrel kembali kepada topik pembicaraan
__ADS_1
"i-itu aja sih" jawab pricilla yang masih ragu-ragu
"okay kalau gitu, besok pagi gue akan berikan ke elo surat perjanjiannnya biar lo tanda tangani" tambah verrel menjelaskan
"hah?? pake surat perjanjian segala?" sahut pricilla heran
"ya iyalah, ini ngak main-main yah" balas verrel memutar bola matanya kasar
"hmmm baiklah" balas pricilla sambil beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kasur untuk segera merebahkan tubuhnya, dan sama sekali tak menghiraukan verrel yang masih terduduk di sofa itu
dan kini malam pun berganti pagi, terlihat verrel sedang duduk santai disebuah sofa yang berada didalam kamarnya sambil menikmati secangkir kopi yang diantarkan oleh bibinya barusan, sedangkan pricilla masih berada didalam kamar mandi untuk menyelesaikan segala ritual mandinya, dan tak membutuhkan waktu lama pricilla pun keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang melilit di tubuhnya, jelas saja ia tak berlama-lama menyelesaikan ritual mandinya dikarenakan guyuran air hujan masih terus menerus menghiasi kota bogor yang memang sudah dijuluki dengan kota hujan
pricilla pun berjalan kearah lemari pakaian untuk segera berganti pakaian, dan setelah beberapa saat ia pun keluar menggunakan setelan baju rumahan yaitu kaos oblon oversize yang dipadukan dengan shortpants levis kesukaannya. verrel pun yang melihat wanita itu telah selesai dengan segala aktifitasnya langsung memanggilnya
"sini dulu" teriak verrel mengarah kearah pricilla
"ya siapa lagi? emang ada orang lain ditempat ini?" balas verrel dengan kesal
"hmm" dehem pricilla malas sambil berjalan kearah sofa menghampiri laki-laki itu
"lo duduk dulu sini" ucap verrel dengan dingin
"apaan sih hah?" jawab pricilla malas
"kalo gue bilang duduk ya duduk" ucap verrel dengan penuh emosi sambil melotot kearah pricilla
"loh kok maksa sih, gue gak mau" balas pricilla tak terima
__ADS_1
"nih lo tanda tangani" ucap verrel sambil meraih map kuning diatas meja lalu menyodorkan kearah pricilla dengan jutek. dan pricilla pun langsung meraih map itu dan membaca isi dari surat tersebut
"surat perjanjian" ucapnya. lalu pricilla pun mendudukkan dirinya disofa tepat disamping verrel, ia menyimak baik-baik kalimat demi kalimat yang tertulis disurat tersebut dan setelah membaca dengan baik-baik dan teliti, pricilla sama sekali tak merasa keberatan, karena apa yang tertera dilembar surat perjanjian itu semuanya sudah sesuai dengan perjanjian dia dengan verrel semalam
"kalau gak ada yang ingin ditambah lagi, lo tanda tannganin tuh cepet" ucap verrel sambil menyodorkan pulpen ke pricilla. pricilla pun meraih pulpen itu dari tangan verrel untuk segera menanda tangani surat perjanjian tersebut. namun sebelum pricilla membubuhi surat tersebut tiba-tiba suara ketukan dari luar terdengar
...tok......tok......tok......
bunyi ketukan yang terdengar jelas ditelinga mereka, dan pricilla pun langsung menghentikan aktifitasnya, dan meletakkan kembali pulpen itu diatas meja.
"bentar, gue cek dulu" ucap pricilla beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu. verrel pun memutar bola matanya kasar, dirinya sangat kesal karena seharusnya pricilla telah menandatangani surat perjanjian itu namun karena ketukan sialan itu membuatnya harus menunggu lebih lama lagi agar bisa mendapatkan tanda tangan dari wanita itu. sementara pricilla membuka yang pintu kamar, jelas saja ia tersontak kaget melihat siapa gerangan yang datang
"bunda....mami...." ucap pricilla sambil membelalak kaget. tak hanya pricilla, verrel juga tak kalah kagetnya melihat mertuanya dan maminya itu tiba tiba datang ke kamarnya disaat yang kurang tepat seperti sekarang ini, ia pun dengan secepat mungking meraih map kuning barusan dan segera menyembunyikannya ditempat yang aman, namun gerakannya tak kalah cepat oleh nyonya ivan yang langsung masuk begitu saja kedalam kamar tanpa menghiraukan pricilla yang masih mematung di depan pintu
"rel....." panggil nyonya ivan
"eh-eh iya mii" balas verrel gelagapan
"apa itu?" tanya nyonya ivan
"oh iin-ii, in-i bukan apa-apa mi" jawab verrel tambah gelagapan
"coba mami liat" ucapnya lagi
"duh gimana ni, mati gueee" guman verrel dalam hati
"waduhh, mami pake acara mau liat lagi" guman pricilla dalam hati yang tak kalah kagetnya dengan verrel
__ADS_1