
Sementara disisi lain, verrel terlihat sibuk dilokasi syuting seperti pada biasanya, namun atensinya tiba-tiba teralihkan setelah ponselnya berdering dan verrel pun langsung membuka pesan tersebut dari si pengirim yang tak asing lagi baginya bahkan pesan tersebut pun selalu ia tunggu-tunggu kehadirannya.
sepesekian detik kemudian verrel pun benar-benar dibuat terkejut setelah melihat apa yang dikirim oleh di pengirim pesan
...gambar test pack dengan dua garis merah...
walaupun verrel adalah seorang laki-laki, namun ia masih tahu betul arti dari dua garis merah tersebut
"hah?? HAMIL??" ucapnya sambil bergumam dalam hati.
mendadak verrel pun kehilangan konsentrasinya, entah apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di pikirannya setelah ia mengetahui bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, nampak tidak ada raut wajah senang yang ditunjukkan oleh laki-laki itu, bahkan pesan singkat tersebut pun hanya dibaca olehnya dan tak berniat untuk dibalasnya sama sekali. sepertinya verrel tidak mengharapkan berita kehamilan ini, akan benar-benar dibuat syok oleh berita dadakan tersebut.
waktu pun semakin berputar dan tak terasa siang pun telah berganti malam, seharian ini verrel dibuat benar-benar kehilangan konsentrasinya, dan itu semua pun berdampak pada proses syutingnya hari ini yang harus di take berkali-kali karena verrel terlihat sering salah dalam melafalkan skip
dan saat ini verrel pun terlihat sedang bersandar lemas dikursi kemudi mobil mewahnya itu yang berlogo kuda jingkrak tersebut, rasanya verrel sangat malas melangkahkan kakinya untuk turun dari dalam mobil tersebut, bahkan laki-laki itu pun telah berdiam diri beberapa saat didalam mobilnya itu yang saat ini sedang terparkir rapi disebuah garasi yang berada kediamannya.
rasanya verrel tidak sanggup bertemu dengan wanita yang sekarang ini pasti sedang menunggunya didalam rumah, dan seperti pada biasanya wanita akan selalu menyambut kedatangan suaminya itu dengan sebuah senyuman
"apa aku harus menghindar dulu??" gumamnya dalam hati
"ah tidak, sepertinya aku harus menghadapinya sekarang....apapun yang terjadi" lanjutnya lagi sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri
__ADS_1
verrel pun akhirnya turun dari dalam mobil dan melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam rumah dan menghampiri istrinya yang berada didalam kamar, dan benar saja setelah verrel berhasil membuka pintu kamarnya terlihat istrinya itu meneriakkan namanya dan bersemangat menghampiri verrel
"rel....rel....kamu tau enggak a-aku--- " ucap pricilla dengan semangat namun terpotong
"sil aku mau ngomong penting" ucapnya sambil mendudukkan dirinya disebuah sofa panjang yang berada didalam kamar tersebut. dan pricilla pun yang mendengar itu ikut berjalan kearah sofa dan mendudukkan dirinya disebelah suaminya itu
"a-aku mau kita bercerai" ucap verrel gugup dengan nafas yang sangat memburu
"hhah??" tanya pricilla dengan lirih yang hampir tak terdengar saking syoknya mendengar ucapan suaminya itu
"tasya sedang mengandung anakku, dan aku tidak ingin membiarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah" ucapnya dengan nafas yang masih memburu dan terlihat sekujur tubuh laki-laki itu bergetar
"aku mau ki-kita bercerai" ucapnya melanjutkan dengan sekuat tenaga
"apa?? terus bagaimana denganku?? dengan janin yang ada didalam perutku?" ucap pricilla dalam hati
mendadak suasana pun menjadi hening, benar-benar sangat hening.
sekarang ini pricilla hanya berharap kalau ia sedang salah dengar dengan apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya itu. raut wajah wanita itu pun kini sudah berubah total, nampak sekali raut kesedihan diwajahnya saat ini, mulutnya pun terlihat bergetar namun sangat terasa berat untuk mengeluarkan sepatah kata pun. dadanya pun tiba-tiba terasa sesak dan semakin ia berusaha menahannya malah semakin terasa sesak yang ia rasakan
(boleh tidak wanita itu menampar suaminya saat ini?? sebagai pelampiasan dari situasi menyesakkan yang sangat menyiksanya saat ini)
__ADS_1
"aku tahu ini tidak sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya, tapi aku benar-benar minta maaf, a-aku tidak bisa membiarka--" ucap verrel terjeda seakan tak sanggup meneruskan ucapannya itu. diotaknya telah tersusun rapi kalimat yang seharusnya dia lontarkan saat ini, namun bibirnya seakan tidak sanggup melanjutkan ucapan tersebut
"rell...apakah kamu sudah mempertimbangkan ucapanmu itu?? apakah kamu sudah benar-benar yakin untuk bercerai denganku??" tanya pricilla bertanya dengan mulut yang bergetar sambil menatap lekat ke arah verrel dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca
butuh waktu beberapa saat sebelum verrel bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya itu
"iya aku yakin" sahutnya dengan lantang namun terdengar sedikit bergetar
pricilla pun yang mendengar jawaban dari verrel membuat hati wanita itu terasa sangat perih, seakan hatinya sedang tertusuk-tusuk oleh puluhan pedang diwaktu yang bersamaan, namun sebisa mungkin ia berusaha menahan air matanya yang semakin terasa perih itu karena terus ditahan.
pricilla pun tanpa ragu meraih telapak tangan verrel dengan tangan gemetar, lalu dia tempelkan telapak tangan suaminya itu tepat diatas perut ratanya yang kini sudah terdapat janin didalam sana. ia masih berusaha menahan air matanya sendiri agar tidak sampai menetes dihadapan verrel yang saat ini sedang memasang raut wajah bingung dengan penuh tanda tanya.
"rell, seandainya...." ucapnya pricilla terhenti sejenak sambil menahan air matanya
"seandainya saat ini aku juga sedang mengandung anak kamu, apakah kamu akan tetap memilih untuk menceraikanku??" tanya pricilla dengan suara yang saat ini terdengar gemetar
"hhah?? ma-maksud kamu...??" tanya verrel dengan gelagapan, ia tak tahu harus berkata apa saat ini, jawaban seperti apa yang harus verrel sampaikan?? ini adalah pertanyaan yang benar-benar sangat sulit untuk dijawab.
"hhaha...lupakan rell" ucap pricilla sambil melepas tangan verrel yang masih menempel diatas perutnya
"a-akuu hanya bercanda.....tidak perlu di jawab" lanjut pricilla lagi lalu kembali merubah raut wajahnya dengan cepat dari yang sebelumnya menatap verrel dengan tatapan lekat seakan menunggu jawaban dari laki-laki itu, langsung ia ubah dengan tersenyum cengir dihadapan verrel untuk menyembunyikan perasaannya kini telah hancur berkeping-keping, sungguh sulit untuk diungkapkan hanya dengan kata-kata
__ADS_1