
kini hari mulai sore, hadi berjalan keluar dari apartment nya menuju ke apartment milik pricilla, karena sore ini mereka berencana untuk menjenguk presdir soedjoko di rumah sakit.
berapa menit kemudian, kini mereka semua telah siap untuk berangkat ke rumah sakit. tiffany dan juga rere berjalan lebih dulu keluar dari apartment lalu menuju ke arah lift dan di ikuti oleh tuan hadi dan nona pricilla dari belakang
30 menit kemudian, kini mereka telah sampai di lobby rumah sakit tersebut, setelah mereka tiba di ruang rawat presdir soedjoko, nyonya ivan langsung menyapa calon menantunya itu
"haiii pricilla, how are you?" tanya nyonya ivan sumringah sambil berhambur memeluk tubuh calon mantunya itu
"i am fine, aunty" jawab pricilla singkat
sementara di ruang itu semua mata tertuju kepadanya, kecuali sang bunda, bundanya hanya terlihat acuh dengan kedatangan putrinya itu
"bun-da, sepertinya bunda masih marah kepadaku" gumam pricilla dalam hati
disisi lain verrel melihat kearakrapan mama tirinya itu dan pricilla hanya berdecis dalam hati
"oh ya, aku mau menemui presdir dulu aunty" ucap pricilla berlalu meninggalkan nyonya ivan disana
"presdir, apa kabar?" sapa pricilla setelah sampai di di samping ranjang milik presdir, pricilla pun tak menghiraukan verrel yang juga berada di sisi sebelah ranjang tersebut.
"cih apa kabar? sudah jelas jelas kondisi opa semakin memburuk gara gara dia menolak perjodohan itu" decis verrel dalam hati
"seper-ti yang kau liha-t" balas presdir dengan nada rendah hampir tak terdengar
"presdir yang kuat yah, pricilla tau presdir orang yang kuat" ucap pricilla lagi
presdir soedjoko hanya mengangguk lalu tersenyum lirih karena dirinya tak bisa berbicara terlalu banyak
"presdir harus cepat sembuh ya, supaya presdir bisa menyaksikan acara pernikahan pricilla de-nga-n cucu semata wayang presdir," ucap pricilla tersenyum kepada presdir lalu beralih menatap ke arah verrel saat menyebutkan cucu semata wayang.
orang orang yang ada di ruang itu sontak kaget mendengar ucap manis yang keluar dari mulut pricilla
__ADS_1
"apa dia sudah bersedia menerima perjodohan ini ?" gumam verrel dalam hati
"ya tuhan, apa aku sedang mimpi?" gumam nyonya agna dalam hati yang serasa tak percaya akan apa yang ia dengar barusan
"jadi ka-uuu" ucap presdir terhenti karena telah melihat pricilla mengangguk lalu tersenyum kepadanya yang berarti bahwa pricilla telah bersedia menikah dengan cucu semata wayangnya itu
"pricilla, kau benar ii-ngin" sahut tuan ivan yang juga seketika terhenti
"iya om, saya sudah bersedia menikah dengan verrel" balas pricilla dengan cepat dan begitu yakin
"syukurlah kalau kau sudah bersedia nak, itu artinya 2 hari lagi kalian akan segera menjadi suami istri" ucap nyonya ivan disela sela pembicaraan
"terus bagaimana dengan kamu verrel, apa kamu juga sudah bersedia menikahi pricilla?" tanya tuan ivan kepada putranya
"tentu saja pah" jawab verrel dengan yakin
orang orang yang berada di ruang itu merasa sangat lega setelah mendengar ucapan dari pricilla maupun verrel yang telah bersedia untuk menikah.
namun berbeda dengan agna, dirinya masih tetap bungkam mendengar ucapan yang keluar dari mulut putrinya itu
pricilla pun memberanikan diri melangkah kearah sang bunda namun sama sekali bundanya itu tetap terdiam dan sama sekali tak menoleh ke arahnya
"bundaaaa" ucap pricilla pelan setelah tepat berada dihadapan bundanya itu
"bundaaaa" teriak pricilla lagi yang kini telah bersimpuh di hadapan sang bunda
"bunda...aku minta maaf karena udah ngecewain bunda, aku minta maaf bun, karena sudah sangat egois dan ngak mikirin perasaan bunda sama sekali" tambahnya lagi sambil terisak
"aku janji ngak akan ngecewain bunda lagi, aku janji akan menuruti segala permintaan bunda, aku ngak bisa seperti ini bun, aku ngak bisa dicuekin terus sama bunda" ucap pricilla yang kini telah bersimpuh sambil menangis terisak dihadapan bundanya, ia tak peduli akan orang orang yang berada diruangan itu, dirinya benar benar sudah tidak tahan diacuhkan oleh bundanya itu.
namun nyonya agna masih tak bergeming, dirinya masih terdiam membisu sambil mendengar semua ucapan yang terlontar dari mulut putrinya itu
__ADS_1
"please bun, forgive me" tambah pricilla tak berdaya
di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ingin rasanya nyonya agna berhambur memeluk putrinya itu, iya tak tega melihat putrinya itu sedang bersimpuh di kakinya. akan tetapi nyonya agna telah berjanji kepada hadi yang memintanya untuk tetap mengacuhkan pricilla, sebelum pricilla benar benar mengakui kesalahannya dan berjanji untuk ikhlas menerima perjodohannya dengan verrel.
ruangan itu hening seketika, disana hanya terdengar lontaran kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pricilla dengan begitu jelas.
setelah beberapa menit, nyonya agna berbalik menoleh ke arah hadi dan hadi yang juga menatapnya langsung mengangguk dan tersenyum, dimana itu berarti bahwa hadi telah memberikan isyarat agar bundanya itu memaafkan sang adik.
"bangun" ucap nyonya agna, lalu meraih kedua bahu milik putrinya itu untuk membantunya kembali berdiri
pricilla yang kini telah berdiri, langsung menghambur memeluk bundanya, ia benar benar merasa bersalah kepada wanita paruh baya itu.
nyonya agna membalas pelukan putrinya, dan pricilla yang merasakan itu kembali mengeratkan pelukannya.
"bunda maafin aku" ucap pricilla lirih sambil memeluk bunda nya dengan erat
"iya bunda maafin, tapi kamu harus janji" balas nyonya agna pelan sambil mengelus kepala putrinya itu.
"janji" ucap pricilla heran sambil melepas pelukannya lalu menatap manik mata bundanya itu dengan penuh tanda tanya
"yaa kamu harus janji, untuk menerima perjodohan ini dengan ikhlas dan tanpa paksaan apapun" jawab nyonya agna
"kamu juga harus janji, untuk menerima segala kekurangan dan kelebihan calon suamimu dan bersedia menuruti segala perintahnya" tambahnya lagi
pricilla mengangguk lalu tersenyum ke arah bundanya "iya aku janji bun" jawab pricilla
bundanya juga melebarkan senyumannya lalu kembali memeluk pricilla begitu erat.
beberapa saat kemudian, pricilla pun melepaskan pelukannya, ia berjalan ke samping ranjang milik presdir soedjoko
"presdir aku minta maaf karena selama ini aku selalu menolak permintaan presdir dan membuat presdir kecewa"
__ADS_1
"sekarang aku janji untuk menuruti segala perkataan presdir dan berjanji tidak akan mengecewakan presdir lagi" tutur pricilla dengan raut wajah merasa bersalah
presdir soedjoko tersenyum mendengar ucapan itu terlontar dari mulut pricilla, ia meraih tangan pricilla diatas dadanya lalu kembali meraih tangan verrel dan meletakkannya diatas tangan pricilla.