
"Ya Tuhan, aku sangat kaget. Aku belum siap menghadap sang Illahi dosaku masih sangat banyak dan kasihan adikku. Adikku
... astaga adikku!" Zaira mencoba berdiri.
"Nona kau mau kemana?" tanya pria itu. Zaira pun kemudian melihat ke arah pria itu dengan tatapan bingung dan juga cemas.
"Aku ... adik ku, di kantor polisi dia di fitnah orang jahat, hiks," ucapnya sambil menangis. Karena takut dianggap orang jahat akhirnya pria itu membawa Zaira kedalam mobilnya.
Pria itu memberikannya minum, agar Zaira merasa tenang dan juga merasa baikan. Mungkin ia masih Shock pikir pria itu.
"Bisa kau ceritakan padaku, apa yang terjadi?" tanya pria itu.
Zaira pun tadi menceritakan apa yang terjadi, mulai dari ia pulang kuliah dan sampai ia menunggu adiknya selama 1 jam lebih. Hingga akhirnya ia mendapat kabar jika adiknya berada di kantor polisi karena dituduh mencuri sebuah berkas penting dari pemilik sebuah perusahaan besar. Dan dianggap sebagai mata-mata yang akan menghancurkan perusahaan itu.
"Adikku itu masih kecil, dia tahu apa tentang pekerjaan, bahkan dia saja belum bisa mencari uang sendiri dan masih minta uang jajan padaku. Dasar orang jahat itu saja yang menuduh adikku sembarangan, jika aku bertemu dengan orang itu akan aku patahkan lidahnya karena sudah berani menuduh orang sembarangan!" Zaira bercerita sambil menangis, tapi pria itu malah menanggapinya dengan tersenyum. Entah ia merasa kasihan atau merasa lucu saat melihat Zaira.
"Hei Tuan!" panggil Zaira.
"Bisa minta tolong antarkan aku ke kantor polisi, aku mau menjemput adikku. Kau tenang saja nanti aku akan membayar ongkos dan mengganti uang bensinnya," ucap Zaira dengan wajah yang terlihat sangat polos, Zaira mampu menarik perhatian pria yang masih belum diketahui siapa orangnya itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana," jawabnya dan kemudian ia pun pergi ke kantor polisi untuk mengantarkan Zaira.
Mereka berdua pun langsung menuju ke kantor polisi, Zaira sudah tidak sabar untuk segera menemui adiknya. Ia sangat khawatir jika adiknya itu akan terus ditekan bahkan mungkin disakiti. Sungguh Zaira tidak bisa tenang saat ini.
Tak butuh waktu lama akhirnya, Zaira pun sampai disana. Ia melihat adiknya tengah terus ditanyai oleh seseorang yang memakai jas dan juga pakaian yang rapi. Yang Zaira pikir jika orang itulah yang menuduh adiknya.
"Hei Tuan, jadi kau yang menuduh adikku mencuri!" sentak Zaira tanpa mempedulikan ada siapa disana. Yang terpenting baginya sekarang adalah menyelamatkan adiknya dulu.
Orang itu pun kemudian melihat ke arah Zaira, dengan tatapan menyelidik dan meremehkan. "Aku tidak menuduh tapi itu kenyataan, aku melihatnya sendiri dengan mataku jika bocah ini mengambil tas ku," ucapnya dengan mimik wajah yang menyebalkan. Hingga tangan Zaira terasa gatal karena ia ingin sekali menggunakan tangannya untuk memberi tanda di wajah orang itu,tidak usah banyak-banyak. Cukup beberapa tanda berwarna ungu saja diwajahnya itu sudah cukup untuk Zaira.
"Tidak begitu, Kak. Tadi ada seseorang yang meminta tolong padaku untuk mengambil tas nya yang ketinggalan di mobilnya. Karena katanya kakinya sakit karena terkilir saat berjalan. Karena aku kasihan akhirnya aku pun mengambilnya. Tapi saat aku mengambil tas nya, orang ini berteriak dan meneriaki ku pencuri, Kak"
"Aku tidak percaya," Jawabnya sambil memalingkan wajahnya, membuat Zaira semakin kesal padanya.
"Aihhh, berhenti memperlihatkan mimik wajahmu yang tidak enak dipandang itu. Kau tahu, tingkahmu itu.sangat menyebalkan!"
"Biar saja, tunggu Bos ku datang kemari. Dan aku pastikan kalian berdua akan dihukum seberat-beratnya!"
" Aku tidak takut," jawab Zaira, jika nanti Bos pria ini datang dan memarahinya maka Zaira akan memanggil ayam jantannya agar pria menyebalkan ini dipatuk oleh mulut beracun Zayan.
__ADS_1
"Lepaskan bocah itu," ucap seorang pria muda tampan dan juga sangat gagah.
"Tuan," panggil pria menyebalkan itu dan menghampiri orang yang ia Panggil Tuan itu.
"Lepaskan dia, bocah itu tidak bersalah. Aku sudah menemukan orang yang sudah menjebak bocah itu dan orangnya sudah aku amankan, jadi lepaskan dia," titahnya lagi.
Dan tanpa banyak bertanya lagi akhirnya Zein pun dilepaskan, betapa bahagianya hati Zaira dan juga Zein karena akhirnya Zein tidak jadi ditahan polisi.
Zaira pun berbalik untuk melihat orang yang suara orang yang sepertinya Zaira sudah pernah mendengarnya. Tapi Di mana otaknya masih belum bisa berpikir dengan jelas.
Namun, saat Zaira berbalik Ia pun merasa terkejut karena ternyata pria itu adalah pria yang tadi hampir menabraknya dan juga mengantarnya datang ke kantor polisi. Ada sedikit rasa malu di hati Zaira karena tadi ia sudah merutuki orang yang sudah menuduh adiknya itu.
Dengan tersenyum pria itu pun mendekati Zaira, dia menunduk dan berbisik di telinga Zaira.
"Nona, sekarang aku ada dihadapan mu. Kau boleh memarahiku habis-habisan atau kau ... juga ingin memberikan tanda di wajahku," ucapnya pada Zaira. Hingga Zaira merasa malu dan kesal dengan bersamaan.
***
"Apa! jadi Mickey ku belum pulang! Astaga ... Cepat cari istriku, aku takut dia lupa jalan pulang dan malah pulang ke rumah orang lain apalagi salah mengenali suami!" ucap Zayan khawatir karena mendapat kabar dari rumah, jika istrinya itu belum pulang sampai sore, bahkan hari sudah mau gelap.
__ADS_1
"Dia pikir istrinya itu anak ayam, sampai salah mengenali suami. Astaga putraku sangat mirip dengan ibunya," gumam Rayan.