Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 72


__ADS_3

"Bagaimana Jupiter, kau setuju kan?" tanya Bramana memastikan. Namun, Jupiter masih terlihat diam. Mungkin ia masih berpikir, sesaat kemudian pandangannya mengarah pada Alex, dan dia pun mengangguk setuju. Lalu pandangan Jupiter kembali mengarah pada ayahnya Bramana.


Jupiter pun berpikir jika ia akan mempertahankan hak nya, ia tidak mau jika hasil jerih payah ayahnya digunakan untuk Salma dan Venus bersenang - senang. Jadi ia pun memutuskan untuk menyetujui keinginan Papahnya.


"Baiklah, Pah. Namun, untuk menikah apa bisa ditunda dulu. Aku belum ingin menikah," ucapnya. Terlihat gurat sedih di wajah Brama.


"Papa ingin segera menimang cucu Nak," ucapnya.


Deg


Jupiter menjadi takut saat ayahnya mengatakan jika ia ingin mempunyai cucu. Ia menjadi bingung, karena ada satu hal rahasia tentang dirinya yang Jupiter tutup rapat. Sesuatu hal yang bersifat pribadi, hingga tak ada seorang pun yang tahu.


"Tapi saat ini aku belum mempunyai kekasih, Pah." jawab Jupiter, mungkin dengan mengatakan hal itu Papanya akan bisa mengerti. Akan tetapi ternyata di luar dugaan, jika Papa nya sangat senang jika ia belum mempunyai seorang kekasih.


"Jika kau belum mempunyai kekasih, maka Papa sudah punya calonnya Nak."


"Tidak!" jawab Jupiter langsung menolaknya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Itu karena ... "


"Itu karena Tuan muda Jupiter sedang menyukai seorang gadis, Tuan. Itu sebabnya Tuan muda tidak mau dijodohkan," jawab Alex cepat. Pandangan Jupiter langsung mengarah pada Alex, kenapa asistentnya ini mengucapkan jika ia sedang menyukai seorang gadis. Jangan bilang jika Alex akan mengatakan jika ia menyukai Zaira. Karena Zaira sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi miliknya. Karena perempuan yang masih menghiasi hatinya itu, sudah menjadi milik orang lain. Bahkan kini benih cinta mereka sudah tumbuh. Semakin sedih saja hati Jupiter. Dan raut wajah sedih itu tak luput dari pandangan Brama.


"Baiklah, tak apa Papa mengerti. Kau kejarlah gadis yang kau cintai itu,"


'Dia bukan gadis,'


"Semoga dia akan menjadi milikmu,"


'Sayangnya itu tidak mungkin,'


"Yang terpenting kau bahagia, Papa akan selalu mendukungmu,"


'Aku sedang bersedih, Pah.' Jupiter terus membatin.


*


*


*

__ADS_1


Setelah Beberapa hari dirawat, akhirnya Zaira sudah bisa diijinkan pulang oleh dokter. Itu karena luka yang dialami Zaira memang tidak terlalu parah. Sedangkan Rheina, ia masih berada di rumah sakit dan melakukan pengobatan setiap harinya.


Zaira memang sudah berada di rumah, akan tetapi Zayan masih belum pergi ke kantor dan masih setia menemaninya. Padahal Zaira sama sekali tidak keberatan jika Zayan akan pergi ke kantor, karena ia memang sudah tidak apa-apa. Hanya luka di tangannya saja yang belum sembuh dan masih terasa sakit. Tapi Zayan sangat memanjakan Zaira, dan itu membuat Zaira bahagia sekaligus malu. Karena menurutnya Zayan terlalu menjaganya, padahal Zaira bisa melakukannya sendiri akan tetapi Zayan selalu membantunya, bahkan untuk makan dan ke kamar mandi pun Zayan selalu menggendongnya. Padahal Zaira bisa berjalan sendiri. Dan ia hanya hamil, tapi Zayan selalu menganggapnya seperti orang sakit.


"Ayo makanlah." Zayan menyuapi Zaira, akan tetapi Zaira menolak dengan mengatakan jika ia tidak suka dengan aroma nasinya. Padahal menurut Zayan aroma nasinya itu biasa - biasa saja. Tercium normal dan tidak ada yang aneh baginya.


"Aku sudah bilang, baunya tidak enak tapi kau terus memaksaku!" kesal Zaira.


"Itu karena aku sangat menyayangimu, aku tidak mau kau dan juga bayi kita kelaparan," ucap Zayan.


"Tapi aku sedang tidak ingin makan nasi," jawabnya


"Lalu kau ingin makan apa? Atau kau ingin aku makan?" tanya Zayan dengan mata genitnya.


"Dasar ayam genit, apa kau lupa dengan apa yang diucapkan oleh dokter. Katanya kita jangan dulu itu ..." ucapan Zaira terpotong karena ia merasa malu mengatakannya.


"Itu apa?" goda Zayan.


"Jangan pura -pura tidak tahu! Aku tahu kau sudah mengerti!" ketus Zaira


"Aku sungguh-sungguh tidak mengerti, ayo ajari aku. Aku ingin tahu itu yanga kau maksud itu apa," godanya lagi.


"Apa! Oh tidak, demi kerang ajaib yang sangat tidak disukai oleh Squidward. Aku tidak suka kau mengikuti ucapan menyebalkan dari asistent itu." ucap Zayan.


"Tapi kau memang begitu kan?" ejek Zaira yang menahan senyumnya.


"Kau harus dihukum," ucap Zayan dan menyimpan piring yang sedari tadi ia pegang.


"Aku tidak mau!"


"Sayangnya, kau tidak bisa menawar nyonya." ucap Zayan dan kemudian ia pun langsung memeluk Zaira serta merebahkan tubuh mungil itu dan mengungkungnya.


"Kau mau apa?" tanya Zaira.


"Aku mau mencium-mu sampai puas," ucap Zayan dan langsung mencium Zaira sampai ia puas dan tidak mau melepaskan istrinya cantik ini.


*


*


*

__ADS_1


Di rumah sakit, Rafa juga masih setia menjaga Rheina. Agar ia tidak merasa jenuh, maka Rafa sambil mengerjakan pekerjaan kantornya. Seperti hari ini, jari - jarinya sedang menari lincah di atas keyboard. Namun, gerakannya terhenti saat mendengar Rheina memanggilnya.


"Rafa," panggilnya.


"Kenapa?" jawab Rafa dan kemudian menghampirinya.


"Aku mau ke kamar mandi," ucapnya malu-malu, membuat Rafa menjadi gemas saja.


"Baiklah, aku akan menggendong-mu," jawab Rafa dan ia perlahan mengangkat tubuh mungil itu.


"Aku pasti sangat merepotkanmu," ucapnya sambil melingkarkan tangan mungilnya di leher Rafa.


"Sama sekali tidak, aku bahagia bisa merawat dan juga menjagamu," jujur Rafa karena ia memang tidak merasa terbebani merawat Rheina yang sakit. Justru saat melihat istrinya kesakitan, rasa bersalah kembali datang menyerangnya.


"Kau bohong! pasti dalam hatimu kau mengatakan jika aku ini sangat merepotkan. Iya kau pasti bilang, kau ini sangat menyusahkan Rheina," ucapnya lagi hingga Rafa dibuat tertawa olehnya.


"Kau ini ada-ada saja," ucap Rafa sambil mendudukkan Rheina di atas closed dan kemudian membantunya sebisa Rafa.


"Sudah kau keluar saja, aku bisa sendiri. Nanti aku akan memanggilmu."


"Kau pasti akan kerepotan, aku akan membantumu di sini saja."


"Tidak! aku malu jangan menungguiku kau keluarlah dan jangan mengintip," ucap Rheina.


"Tapi ... "


"Aku tidak bisa jika kau ada di sini," rengeknya.


"Baiklah, aku keluar. Panggil aku jika sudah selesai,"


"Iya," jawab Rheina malu-malu. Rafa pun kemudian keluar dan meninggalkan Rheina sendiri di sana.


"Ya ampun, Rheina itu sangat menggemaskan. Aku jadi tidak sabar ingin kikuk-kikuk dengannya." gumam Rafa.


"Bersabarlah, Jhoni kau akan berkunjung dan bermain bersama Rheina jika Rheina sudah sembuh," ucapnya sambil mengelus- elus gagang sapunya yang sedang menunduk dan bersedih. Hingga tanpa ia sadari di sana ada Reyhan yang sedang melihat kelakuan putranya yang menggelikan.


"Oh ya ampun, kasihan sekali kuda poni yang merana ini," gumam Reyhan.


***


Yang votenya belum disumbangin Mimin tunggu ya ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿงก

__ADS_1


__ADS_2