Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 74


__ADS_3

Rafa dan Rheina kini mereka berdua sudah sampai di rumah, Rafa langsung membawa Rheina ke kamarnya untuk istirahat. Setelah Rheina tertidur ia pun pergi mandi karena merasa tubuhnya sudah sangat lengket dan sangat tidak nyaman.


Rheina yang tertidur pun terbangun karena ia merasa sangat haus, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia pun berkeliling untuk mencari air minum dan syukurlah air minum sudah tersedia di meja dekat dengan tempat tidurnya. Hanya menggeser tubuhnya sedikit saja Rheina bisa meraih air minum itu.


Dan hal itu ternyata dilihat oleh Rafa yang baru saja selesai mandi. Ia pun dengan segera menghampiri Rheina dan membantunya. "Rheina, kenapa kau tidak memanggilku saja jika ingin minum!" ucap Rafa dengan panik dan langsung mengambilkan air minum untuk Rheina.


"Aku bisa mengambilnya sendiri, lagi pula ini tidak jauh," jawab Rheina tersenyum. Namun, setelah itu ia memalingkan wajahnya karena melihat tubuh suaminya yang hanya dibalut oleh handuk. Dan memperlihatkan roti sobek serta tubuh kekar yang sangat indah untuk dipandang. Akan tetapi Rheina malu untuk melihatnya padahal dalam hatinya, ia sangat suka sekali melihat tubuh suaminya yang rupanya sangat seksi.


Rafa yang menyadari itu semua hanya tersenyum saja, apalagi saat melihat wajah Rhein yang mendadak sangat merah. Ia pasti sangat malu karena melihat keadaan tubuhnya yang memang sangat indah untuk dipandang.


Aroma shampo serta aroma maskulin yang berasal dari tubuh Rafa, memanjakan indra penciumannya. Ingin sekali Rheina melihat pemandangan yang sangat indah itu, apalagi sampai menyentuhnya pasti akan sangat menyenangkan. Akan tetapi Rheina terlalu malu untuk melihat itu semua apalagi sampai menyentuhnya.


Namun, sebagai suami yang pengertian, ia sangat tahu apa yang ada dalam pikiran oleh Rheina. Dengan sengaja, Rafa mendekati Rheina hingga tubuhnya menempel pada wanita mungil itu.


Jantung Rheina semakin berdegup dengan kencang saat, dada bidang Rafa menempel dan saat Rheina berbalik maka wajahnya mengenai dada Rafa yang masih basah dan ada tetesan air dari rambutnya yang memang masih basah saat itu.


Dengan refleks Rheina langsung memundurkan kepalanya, ia merasa malu yang amat sangat pada suaminya ini. "R-Rafa, s-sebaiknya kau memakai pakaian dulu," ucap Rheina dengan tergagap.


"Kenapa memangnya?" tanya Rafa dengan nada menggoda dan semakin mendekatkan wajahnya pada Rheina.

__ADS_1


"Aku malu, malu melihatmu dalam keadaan seperti ini," ucapnya.


"Kenapa harus malu kita ini suami istri, bukan? Tidak masalah jika aku berpenampilan seperti sekarang di hadapanmu. Dan jika kau mau, aku juga tidak keberatan jika kau mau berpenampilan seperti ini di hadapanku." goda Rafa.


"A-apa, hei yang benar saja masa aku harus berpenampilan seperti itu di hadapanmu, memangnya mau apa?" gumamnya di akhir kalimat sambil terus memalingkan wajahnya. Jujur saja Rheina takut tergoda oleh suaminya. Memangnya siapa yang tidak tergoda jika ada pria tampan dan seksi dihadapannya. Apalagi sudah halal untuk disentuh, iman Rheina tidak sekuat itu. Bahkan sedari tadi otak kecilnya sudah berkelana dan membayangkan tentang indahnya surga dunia.


"Kau bertanya aku mau apa? Aku mau meminta hak-ku, tidak masalah bukan?" ucap Rafa.


Mendengar kata meminta hak, jantung Rheina semakin berpacu dengan kencang. Bahkan hampir saja bergeser saking cepatnya detak jantungnya itu.


"K-kau, meminta hak apa?" tanyanya. Rafa semakin mendekatkan tubuhnya, dan kini bahkan hidung mereka sudah bersentuhan hingga deru napas Rafa menerpa wajahnya.


Napas Rheina sampai tersengal, karena ia tidak mampu mengimbangi Rafa. Merasa istrinya sudah tersengal, Rafa pun kemudian melepaskannya sejenak dan kemudian memagutnya kembali.


Tangannya pun mulai berbuat nakal, dan memainkan squishi yang hanya sebesar kepalan tangannya. Namun, meskipun begitu rasanya sungguh luar biasa untuk keduanya. Tubuh mereka bagai tersengat arus listrik, Rafa mulai merebahkan tubuh Rheina perlahan dan menarik dress mini yang ia pakai. Dengan satu tarikan saja, kini semua yang ada dalam diri Rheina terpampang jelas di hadapan Rafa.


Rheina yang merasa malu pun langsung menutupinya dengan kedua tangannya.


"Rafa jangan ... aku malu," ucap Rheina. Namun, kedua tangan mungil itu bisa dengan mudah ia lepaskan. Dan kini kedua tangan Rheina ia angkat dan ia pegang. Hingga Rheina tidak bisa menutupi pemandangan indah yang sangat Rafa sukai itu.

__ADS_1


"Rafa ... "


Rafa langsung menyentuh benda squishi itu dengan mulutnya dan memainkannya secara perlahan dan juga bergantian. Tubuh Rheina terasa semakin panas saja, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya pasrah dengan apa yang Rafa lakukan. Hingga napasnya naik turun karena ia merasakan sensasi baru yang terjadi pada dirinya begitu pun dengan Rafa.


Puas dengan apa yang ia lakukan Rafa mulai mencoba untuk membuka pabrik yang selama ini masih tertutup rapat dengan segelnya.


Rafa mencobanya dengan perlahan, akan tetapi terllihat Rheina meringis kesakitan. Tapi itu benar-benar sangat sulit untuk ditembus, hingga Rafa mencobanya beberapa kali dan masih tetap saja susah.


Hingga untuk yang kesekian kalinya, Rafa menerobosnya dengan cara agak dipaksa hingga Rheina memekik kesakitan.


"Aaaarrrrkkkhhhhh...."


"Maaf," ucap Rafa sambil mencium bibir Rheina dan berharap mengurangi rasa sakitnya. Terlihat air mata mengalir di pipinya, itu artinya Rheina memang sedang menahan rasa sakit. Membuat Rafa semakin merasa bersalah, akan tetapi ia tidak bisa berhenti begitu saja sudah terlanjur masuk tidak mungkin dikeluarkan lagi.


"Aku akan melakukannya dengan perlahan," bisik Rafa dan kemudian mulai menggerakkan tubuhnya. Sungguh luar biasa, sebuah rasa baru yang akan membuatnya menginginkannya lagi dan lagi.


Rheina pun mulai tenang dan akhirnya bisa menikmati, walaupun masih terasa perih dibagian sana. Akhirnya hari ini mereka berdua melakukan tugas malam pertama mereka yang sudah sekian lama tertunda.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan komentarnya 😘😘😘


__ADS_2