
Sore ini sebelum pulang ke kontrakannya Rheina, ingin pergi ke sebuah tempat. Ia ingin menggadaikan sepeda motor miliknya. Dari semalam ia sudah memikirkan ini semua, tidak ada jalan lain selain mengorbankan sementara benda kesayangannya ini. Benda yang selalu mengantarnya kemana pun ia pergi.
Karena tidak sanggup untuk menjualnya, maka Rheina dengan berat hati menggadaikan sepeda motornya. Dari semalam ia sudah menghubungi salah satu temannya, dan ia menyanggupi untuk jadi penggadainya. Tadinya Rheina hanya meminjam uang pada temannya itu dan ia berjanji akan melunasinya, tapi ternyata temannya itu tidak mau meminjamkan dengan cuma-cuma dan meminta sebuah jaminan. Dan barang berharga yang Rheina punya hanyalah motor matic miliknya.
Benda yang sangat berharga dan juga penuh perjuangan saat ingin memilikinya. Tapi apa boleh buat, ia sangat membutuhkan uang untuk membayar tunggakan kontrakannya. Meskipun pasti kedepannya, ia pasti akan merasa kesulitan untuk bepergian. Tapi mungkin itu lebih baik dari pada ia harus tinggal di jalanan.
Lagipula sebulan kemudian, ia akan kembali mengambil motor ini dan menebusnya. Jadi berkorban untuk satu bulan ini tak masalah baginya, dan ia juga sudah mempunyai pekerjaan jadi ia pasti akan bisa membayarnya pikir Rheina.
"Ini uangnya," ucap temannya itu.
"Terima kasih," jawab Rheina dan mengambil uang itu.
"Motormu masih bagus ternyata," ucapnya.
"Tentu saja, makanya kau harus menjaganya dengan baik. Karena aku akan mengambilnya kembali nanti,"
"Baiklah, jangan lupa bunganya lima belas persen,"
"Apa! Hei semalam kau tidak bilang begitu, kita tidak membicarakan masalah bunga, kan?" tanya Rheina terkejut karena tidak sesuai perjanjian.
"Kau ini bagaimana, dimana-mana yang namanya menggadaikan barang itu ada bunganya. Meminjam uang juga ada bunganya. Jangan pura-pura tidak tahu!"
"Aku memang tidak tahu, aku pikir ..."
"Sudahlah, seharusnya kau bersyukur sudah aku tolong. Jika tidak malam ini kau pasti akan tidur di jalanan," cibirnya dan kemudian ia pun pergi meninggalkan Rheina tanpa mempedulikan perasaannya.
"Siska tidak tunggu!" Namun Siska sama sekali tidak mau mendengarkan teriakan dari Rheina.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa jadi begini." Rheina menghela napas kasar, tapi setidaknya benar kata Siska jika seharusnya ia bersyukur karena tidak tidur di jalan malam ini. Hari ini ia mempunyai uang untuk membayar tunggakan kontrakannya.
Rheina pun kemudian pulang dan memutuskan untuk jalan kaki saja, karena jarak ke rumahnya tidak terlalu jauh. Untuk saat ini ia harus sangat menghemat untuk kebutuhan hidupnya. Jadi ia tidak boleh manja, ia harus menggunakan sisa tenaganya dengan benar agar perbekalannya cukup sampai nanti akhir bulan.
"Bersabarlah Rheina, ayo semangat!" ucapnya pada diri sendiri, meskipun sebenarnya hatinya merasa sangat sakit. Di saat terpuruk seperti ini, ia hanya sendiri. Ia bahkan tidak bisa berbagi dengan siapapun untuk mencurahkan isi hatinya.
Tak terasa cairan hangat itu meleleh begitu saja di pipi mulusnya, ia berjalan sambil menangis dan sesekali mengusap cairan hangat yang terus lolos dari matanya yang indah itu. Hanya saja keindahannya itu selalu Rheina tutupi, dengan kacamata yang ia pakai. Tubuhnya memang sedang berjalan tapi pikirannya pergi entah kemana, ia berjalan dengan tatapan kosong dengan air mata terus menetes di pipinya. Hingga ada suara seseorang yang memecah lamunannya.
"Hei sedang apa kura-kura berjalan sendirian di malam hari?" tanya Rafa yang sedang berada di dalam mobilnya. Tadi ia sedang menuju pulang ke rumah, akan tetapi saat di jalan ia melihat Rheina sedang berjalan sendirian. Rafa pikir mungkin motornya sedang berada di bengkel, jadi gadis itu pulang dengan berjalan kaki.
Mendengar ada suara yang sangat familiar dengannya akhir-akhir ini, Rheina pun menoleh ke arah sumber suara itu. Dan benar saja, jika Rafa lah yang berada di sana.
"Ckk, aku bukan kura-kura!" cetusnya.
"Tapi hanya kura-kura yang jalannya lambat, dan kau berjalan sangat lambat seperti kura-kura." Rafa tertawa sambil melihat ke arah Rheina, tapi ia melihat jika gadis itu sedang bersedih dan melihat ada jejak air mata di sana. Jadi Rafa pun menghentikan tawanya, karena merasa tidak enak sudah bahagia di atas penderitaan orang lain
"Tidak mau!"
"Aku tidak akan menculikmu jadi kau tenang saja, aku pria baik, dan kau tidak cantik," ejek Rafa sambil tertawa mencoba mencairkan suasana.
"Benar juga ya, aku kan tidak cantik untuk apa aku takut," gumamnya.
"Cepat masuk, pria tampan dan baik hati ini akan mengantarmu pulang," ucapnya. Karena merasa lelah akhirnya Rheina pun mau diantar pulang oleh Rafa. Lagipula selama ini Rafa selalu baik padanya. Jadi tidak apa-apa pikirnya jika Rafa mengantarkannya pulang.
Rheina pun kemudian masuk ke dalam mobilnya Rafa, dan duduk di sebelahnya. "Ayo duduk anak manis, dan pakai seatbeltnya," titah Rafa.
"Tapi aku tidak bisa menggunakannya," jawab Rheina sambil tertawa sumbang, ia merasa malu karena baru pertama kali ia naik mobil mewah seperti ini.
__ADS_1
"Oh astaga, memakai seatbelt saja kau tidak bisa." Rafa pun kemudian membantu Rheina untuk memakaikannya, hingga jarak keduanya sangat dekat. Wangi maskulin dari Rafa memanjakan indra penciumannya dan juga aroma manis dan lembut dari Rheina membuat Rafa sangat menyukainya, seperti aroma therapy untuknya.
"Sudah," ucap Rafa dan kemudian menjalankan mobilnya untuk mengantar Rheina pulang. Rheina pun kemudian menunjukkan jalan pulang menuju kontrakannya.
"Kau tinggal dengan siapa di rumahmu?" tanya Rafa, ia bertanya untuk memecah kesunyian di mobilnya.
"Aku tinggal sendiri di kontrakan karena orang tuaku sudah meninggal" jawabnya.
"Oh maaf," Rafa menjadi tidak enak karena sudah menyinggung perasaannya.
"Tidak apa-apa, santai saja. Kontrakan ku ada di ujung jalan sana." tunjuk Rheina, Rafa pun mengangguk.
"Baiklah," tak lama setelah itu mereka berdua pun sampai di sana. Dan turun lah Rheina dari mobil mewah milik Rafa, tanpa mereka tidak tahu jika ada sepasang mata yang tajam sedang menatap ke arah mereka.
"Terima kasih ya," ucap Rheina.
"Sama-sama," jawab Rafa, ia pun ikut keluar dari mobilnya dan melihat ke arah sekitar dari kontrakan Rheina ini. Baru saja Rheina hendak melangkahkan kakinya. Terdengar suara teriakan dari seseorang.
"Rheina!!!" teriaknya, Rheina sampai terkejut mendengar suara dari sang pemilik kontrakannya.
Rafa pun kemudian melihat ke arah wanita bertubuh gempal yang terlihat sangat menyeramkan itu.
"Astaga aku baru tahu kalau pohon beringin bisa berjalan dan berbuah emas," gumam Rafa pada perempuan gempal yang banyak menggunakan perhiasan di sana-sini.
"sssssstttt diam," ucapnya Rheina, meletakan telunjuk di bibirnya. Namun bukan Rafasya namanya kalau ia peduli, ia sama sekali tidak takut pada perempuan tambun itu.
"Tidak mau, dia sangat lucu. Apa kau tidak melihatnya, saat berjalan saja lemaknya ikut menari-nari dan bergoyang sana sini, itu sangat lucu!" ucap Rafa masih dengan senyumnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan selamatkan aku,"