Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 57


__ADS_3

Dengan wajah menunduk Rheina menahan takut pada pemilik kontrakan itu. Rafa pun melihat betapa takutnya Rheina padanya.


"Apa kura-kura kecil ini takut diinjak oleh pohon beringin ini," gumam Rafa.


"Hei Rheina! Kau ini ya, sudah menunggak, da kini kau malah berani membawa pria asing ke kontrakan milikku!" teriaknya.


"Astaga, Nyonya apa kau badak yang sedang menyamar!" tanya Rafa dengan kesal melihat ke arah wanita setengah baya itu.


"Apa maksudmu! Jangan ikut campur urusanku dengannya! Kau hanya orang asing tahu!"


"Kau juga orang asing baginya, kau bukan ibunya dan juga bukan saudaranya. Lalu kenapa dengan seenaknya kau malah memarahi gadis ini," balas Rafa tidak mau kalah.


"Karena aku pemilik tempat yang sedang ia tinggali, dan dia sudah menunggak beberapa bulan padaku. Jadi aku punya hak untuk memarahinya!"


"Apa! Jadi hanya karena dia belum membayar kontrakannya jadi kau merasa punya hak atas dirinya begitu?" tanya Rafa tidak percaya, ia baru kali ini bertemu dengan orang yang sangat sombong. Dirinya dilahirkan di keluarga yang sangat kaya, akan tetapi orang tuanya selalu mengajarkan banyak kebaikan padanya. Dan selalu memberikan nasihat agar tidak memperlakukan orang seenaknya.


Dan kali ini ia melihat seseorang dengan sangat sombongnya, padahal mungkin hartanya tidak seberapa jika dibandingkan dengan keluarga Guntara.


"Pokoknya aku tidak mau tahu! Malam ini kau harus membayarnya, jika tidak maka bereskan barang-barangmu dan pergi dari sini!"


"A-aku ,akan membayarnya sekarang. Jangan usir aku, Bu." Rheina terlihat merogoh sakunya dan mengambil uang hasil dari penggadaian motornya.


"Ini Bu, ambillah. Tapi jangan usir aku," ucap Rheina memelas.


"Kenapa hanya segini? Ini masih kurang!" sentaknya.


"Kurang? Bukankah aku hanya menunggak empat bulan, berarti uang itu cukup,kan?" tanya Rheina.


"Kau belum membayar denda keterlambatanmu itu!" jawaban enteng.


"Apa!" Oh astaga baru saja tadi ia mendengar jika harus membayar pokok dan bunga, jika ia akan menebus motornya. Dan sekarang tempat yang ia tinggali pun harus ia bayar dengan dendanya. Sungguh luar biasa pemikiran orang-orang ini pikir Rheina.


"Hei Nyonya tambun, memangnya berapa yang harus dibayar olehnya?" tanya Rafa.


"Sepuluh juta!"


"Apa!" jawab Rafa dan Rheina bersamaan, tubuh Rheina mendadak lemas mendengar nominal yang ia sebutkan. Darimana ia akan mendapatkan uang sebanyak itu.


"Jika tidak mau membayar dendanya, pergi dari sini sekarang juga!" usirnya.


"Jangan Bu!"


"Dia akan pergi malam ini juga!" ucap Rafa tegas, ia benar-benar kesal pada wanita jahat ini. Kenapa dengan teganya ia senang membuat orang kesusahan, Rafa benar-benar tidak habis pikir jika masih ada orang jahat seperti wanita ini.

__ADS_1


"Kau ini jangan sembarangan bicara, jika aku pergi dari sini. Aku akan tinggal dimana!"


"Diamlah, aku akan membantumu. Aku tidak suka monster jahat ini selalu menindas kura-kura kecil sepertimu. Kau akan habis ditelan olehnya, jika kau terus begini. Sadarlah!"


"Tapi ... "


"Diam!" sentak Rafa pada Rheina, bukan karena marah padanya. Tapi karena kesal pada wanita itu. Rheina pun langsung terdiam, sungguh ia sangat bingung saat ini. Apa yang harus ia lakukan.


"Bagaimana? Kau sudah memutuskan untuk pergi, jika sudah bereskan semua barang-barang rongsokanmu itu!" ucapnya dengan nada merendahkan.


"Rere! Cepat bereskan barang - barangmu. Bawa yang penting saja, dan tinggalkan yang tidak bisa dibawa aku akan menggantinya," ucap Rafa pada Rheina, tidak ada pilihan lain akhirnya Rheina pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh Rafa. Karena ia juga bingung harus berbuat apa.


*


*


*


"Sayang ini sudah malam, kenapa Rafasya belum pulang?" tanya Nayla pada Reyhan. Mereka baru saja berkumpul di ruang keluarga dan baru selesai makan malam.


"Ini baru jam delapan malam," jawab Reyhan, menurut Reyhan tak apa jika anaknya pulang sedikit larut. Karena ia juga dulu pernah muda dan sering bersenang-senang dulu sebelum pulang ke rumah. Selama masih wajar Reyhan membebaskan putranya itu.


"Kau ayah yang tidak perhatian," Nayla merajuk pada suaminya yang terkesan tidak peduli pada putranya.


"Bukan begitu sayang, jangan terlalu mengekangnya dia sudah dewasa," jawab Reyhan.


"Memangnya dia tadi tidak mengatakan apa-apa padamu?" tanya Rayan pada Zayan.


"Tidak Dad, kami padahal tadi dia duluan pulang." jawab Zayan


"Aku jadi semakin khawatir," ucap Nayla.


"Kalau begitu hubungi saja ponselnya," titah Reyhan


"Aku sudah meneleponnya, tapi tidak dijawab!" kesal Nayla.


"Mungkin dia sedang sibuk Aunty, sibuk membuat cucu untuk kalian," jawab Zayan asal dan tergelak.


"Zayan!!!" teriak mereka semua.


"Oh astaga!"


" Ya Tuhan aku tidak minta banyak padaMu, hanya minta berilah kewarasan pada suamiku," gumam Zaira.

__ADS_1


*


*


*


Kini Rafa dan Rheina sudah meninggalkan kontrakan pohon beringin, dan berbuah emas itu. Jika perasaan Rafa biasa saja, lain halnya dengan Rheina yang merasa sangat gelisah. Kini ia tidak punya uang dan ia juga tidak tahu jika Rafa akan membawanya kemana.


"Kuda poni kau akan membawaku kemana?" tanya Rheina gelisah.


"Ke tempat yang nyaman dan pastinya kau akan tidur nyenyak. Dan yang pasti tempat ini sangat cocok untuk gadis mata duitan sepertimu," ucapnya.


"Jangan bicara sembarangan, aku tidak mata duitan!"


"Ya ... Ya... kau memang bukan gadis mata duitan, tapi kau kura-kura matre."


"Kau!"


"Diamlah, dan duduk manis saja. Yang penting kau bisa tidur nyenyak dan besok masih bisa bekerja,"


jawab Rafa. Hingga akhirnya Rheina hanya pasrah saja dengan apa yang diucapkan oleh Rafa. Karena ia juga bingung harus berbuat apa.


Tak lama setelah itu sampailah mereka di kediaman Guntara. Rumah mewah dan sangat besar kini tampak di depan mata Rheina. Sungguh ia sangat takjub dengan apa yang ia lihat saat ini. Baru kali ini ia melihat sebuah rumah yang besar dan juga sangat indah.


"Ini rumah siapa?" tanya Rheina.


"Yang jelas bukan rumahku, karena aku hanya menumpang di sini," jawab Rafa asal. Karena memang rumah ini bukan miliknya. Akan tetapi rumah ini adalah milik Rayan dan juga Reyhan. Mereka adalah cucu pertama dan kedua dari keluarga Guntara. Otomatis rumah itu adalah milik mereka berdua.


Hidup mereka yang selalu rukun, membuat mereka tidak pernah memperebutkan rumah itu dan juga perusahaan. Mereka justru sangat kompak hingga perusahaan Guntara menjadi kerajaan bisnis yang sangat besar dan semakin berkembang.


"Kalau bukan rumahmu, kenapa kau membawaku kesini?" tanya Rheina.


"Yang penting kau bisa tidur, dasar kura-kura cerewet!"


"Bukan begitu, maksudku. Aduh kau ini ..."


Mereka berdua terus berdebat, hingga Nayla yang sedang menunggu kedatangan putranya itu mendengar ada keributan dan menghampirinya. Dan tak lama setelah itu, nampaklah Rafa sedang berdiri menenteng tas milik Rheina dan terlihat sedang menarik Rheina untuk masuk ke dalam rumah.


Nayla yang melihatnya pun terkejut, hingga berbagai pikiran melintas di pikiran induk koda poni ini.


"Rafasya! Apa yang kau lakukan? Oh ya ampun jadi benar kau pulang terlambat karena habis mencetak cucu untuk Mommy mu?" tanya Nayla.


"Apa!!!"

__ADS_1


****


Hadeewww gimana ini 😌😌😌


__ADS_2