
Meskipun torpedonya gagal meluncur, akan tetapi Zayan tidak meninggalkan Zaira yang sedang sakit begitu saja. Justru Zayan dengan sangat telaten merawat Zaira. Ia tidak tega melihat istrinya yang kesakitan, karena Zaira terus terlihat meringis sedari tadi.
Dan untuk Zaira, ia merasa bahagia karena ada orang lain selain adiknya yang ternyata sangat peduli padanya, yaitu Zayan suaminya. Ia merasa senang karena Zayan dari tadi membantunya untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasakan, mulai dari memberi minuman hangat dan juga mengompresnya dengan handuk hangat. Belum lagi pelukan hangat dan juga ciuman sayang di keningnya, membuat Zaira merasa disayangi oleh Zayan.
Namun, Zaira masih belum ingin membuka hatinya untuk Zayan. Karena ia tidak mau sakit hati, Zaira cukup sadar diri siapa dirinya. Yang jika dibandingkan dengan Zayan, ia hanyalah sebuah butiran debu yang tidak berarti apa-apa. Ia tidak mau jika suatu saat nanti hatinya sudah tertambat pada Zayan, Zayan meninggalkannya begitu saja. Zaira tidak mau itu terjadi, untuk saat ini cukup ia membuat benteng yang kuat saja untuk dirinya agar ia tidak jatuh cinta kepada Zayan.
Padahal kenyataannya Zayan memang sangat menyayangi istrinya maka dari itu Zayan terus mendampinginya. Ia terus merawat Zaira dengan sepenuh hatinya, segenap jiwa ia ingin menjaga Zaira nya. Zayan terus berada disampingnya huingga kini mereka berdua tertidur sambil berpelukan. Hanya berpelukan tidak lebih dari itu, peluncuran bibit pertama terpaksa harus ditunda dulu karena lahannya sedang terkena banjir bandang.
Setelah beberapa jam mereka tertidur, Zayan terbangun duluan dan melihat Zaira masih tidur dalam dekapannya. Zayan tersenyum meskipun sebenarnya ia kecewa karena tidak jadi membuka pabriknya. Tapi tidak apa, bukankah itu tidak akan berlangsung lama, hanya dalam kurun waktu seminggu atau paling lambat sepuluh hari. Maka Zaira akan menjadi miliknya yang seutuhnya, dan torpedonya akan meluncur dan mendarat pada tempatnya.
Terlihat Zaira mulai membuka matanya, dan saat matanya terbuka wajah suaminya lah yang pertama ia lihat. Zaira melihat Zayan sedang tersenyum padanya, Zayan terlihat sangat tampan dengan senyumnya. Membuat jantung Zaira terasa menari-nari di dalam sana. Hingga tanpa sadar ia memegang jantungnya yang seperti sedang bertalu-talu itu.
Zayan yang takut istrinya terkena serangan ginjal, langsung menangkup wajah cantiknya yang justru membuat jantungnya semakin bersalto ria.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Zayan.
"Tidak! Eh m-maksudku aku baik- baik saja. Aku tidak apa-apa. Zaira pun memalingkan wajah karena ia takut Zayan salah paham karena debaran yang ia rasakan semakin tidak menentu saja.
__ADS_1
"Lalu Kenapa kau memegang dadamu, apa ginjalmu baik-baik saja? tanya Zayan. Oh astaga kenapa selalu pertanyaan aneh yang meluncur dari bibir manis Zayan. Eh tunggu dulu bibir manis sejak kapan Zaira memiliki pikiran seperti itu. Sepertinya pikiran Zaira mulai terkontaminasi oleh virus anak ayam mesum. Atau memang ia memang mulai menikmati setiap sentuhan bibir suaminya ini.
Padahal bibir Zayan hanya baru menempel di bibirnya belum di tempat yang lainnya. Tapi Zaira sudah membayangkan yang lain-lainnya. Astaga istri anak ayam rupanya sudah belajar mesum. Tak apa Zaira anak ayammu yang tampan pasti akan sangat bahagia jika istrinya mesum padanya.
Karena tidak tahan melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan, Zayan pun langsung mencium bibir Zaira dan memagutnya dalam. Seolah ia mengeluarkan keinginan yang ia tahan sejak pagi. Zaira pun merasakan hal yang berbeda dari ciuman yang Zayan lakukan padanya. Ciuman yang Zayan lakukan terasa seperti orang yang sangat berhasrat padanya. Namun, anehnya Zaira pun sangat menikmatinya. Akan tetapi ciuman itu kini malah turun ke leher jenjang Zaira hingga tubuh Zaira menegang karena ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Zayan terus menciumi leher jenjang Zaira, dan memberinya gigitan-gigitan kecil hingga meninggalkan beberapa jejak di sana. Aliran darah Zaira terasa berdesir hebat begitu pun dengan Zayan, karena gagang sapunya kini telah berdiri sempurna dan siap meluncur. Sayangnya, Zayan harus menahan semua itu karena tidak mungkin ia meluncurkannya di saat lahannya sedang dalam keadaan banjir bisa - bisa miliknya nanti tenggelam.
Tubuh Zaira semakin membeku saat tangan Zayan tiba pada gunung Himalaya miliknya dan sedang mencoba untuk mendaki. Astaga Zaira semakin dibuat terpaku oleh Zayan, entah apa yang harus ia lakukan. Melarangnya atau diam dan menikmatinya.
"Zayan," panggil Zaira pelan, Zayan pun langsung menghentikan sejenak aktivitasnya pada tubuh Zaira. "Ada apa?" tanya Zayan.
"Jangan begini," ucapnya pelan dan sedikit memalingkan wajahnya karena malu dengan apa yang mereka lakukan barusan.
"Bukankah kau istriku? Tidak ada yang salah jika aku menyentuhmu, bukan?" ucap Zayan, gairahnya kini sudah memuncak di ubun-ubun meskipun ia tahu jika akhirnya nanti ia harus konser di kamar mandi. Akan tetapi ia ingin menjelajah dulu, bukankah itu tidak salah pikir Zayan.
Benar apa yang dikatakan oleh Zayan, jika ia memang Istrinya. Seluruh yang ada dalam dirinya adalah hak Zayan. Zayan tidak salah, Zaira lah yang belum siap dengan semuanya. Tetapi siap tidak siap Zayan pasti akan meminta hak nya pikir Zaira.
__ADS_1
Sayangnya Zayan, tidak menerima penolakan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika Zaira menolaknya maka ia akan memaksanya.
Melihat Zaira hanya diam dan terlihat melamun, Zayan melancarkan aksinya untuk membuka kancing kemeja yang dipakai oleh Zaira. Sepertinya karena lamunannya yang begitu dalam, Zaira tidak menyadari jika Zayan kini sedang melihat balon helium indah miliknya. Yang membuat Zayan harus menelan air liurnya karena melihat benda yang sangat indah milik istrinya.
Zayan kembali mencium bibir Zaira dan tangannya mencoba menarik pakaian yang dipakai oleh Zaira. Zaira yang baru sadar pun merasa sangat malu. Ia mendorong lagi tubuh Zayan dengan napas terengah.
"Zayan, a-aku malu," Zaira menutupi buah mangga yang masih terbungkus itu dengan tangannya. "Kenapa harus malu, jangan ditutup aku ingin melihatnya," bisik Zayan, hingga bulu kuduk Zaira meremang karena hembusan napas Zayan terasa di bagian tengkuknya.
"T-tapi, " Tangan Zayan mulai menelusup ke belakang punggung mulus milik Zaira dan klik. Kaca mata pelindung pun terbuka dan dengan satu tarikan Zayan melemparkannya. Tidak masalah jika Zayan gagal mendarat, tapi ia tidak mau gagal minum susu dan pada akhirnya Zayan menyingkirkan tangan Zaira dan mengangkat kedua tangannya ke atas. Hingga kini terpampanglah, buah mangga indah itu dihadapannya.
Tanpa membuang waktu dan bertanya lagi, Zayan langsung melahapnya saat itu juga.
"Zayan!"
****
Mereka lagi ngapain sihhh 🙄 Mimin masih polos gak tahu apa- apa 🥱
__ADS_1