
Sebenarnya apa yang dibicarakan kuda poni itu, hingga Reyhan mengatakan hal yang tidak Rheina mengerti. Jujur saja ia merasa bingung, bukan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Reyhan. Sebagai perempuan dewasa, tentu Rheina mengerti tentang burung pipit yang berbuat nakal. Apalagi kalau bukan gagang sapu milik pria yang ia kenal beberapa waktu terakhir ini.Tapi kenapa Rafasya mengatakan hal itu pada orang tuanya, ini sungguh gila. Jangankan nganu-nganu, bersentuhan tangan saja ia belum pernah.
"Tapi kamu tenang saja, kami sudah meminta Rafa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." sambung Nayla.
"M-maksudnya?" tanya Rheina.
"Maksudnya dia akan menikahimu, jadi kamu tenang saja aku tidak akan membiarkan burung pipitnya mencari sarang yang lain. Enak saja, sudah main celap-celup mau celup ke tempat yang lain!" kesal Reyhan.
"Oh ya ampun, aku tidak menyangka jika aku juga akan mempunyai menantu. Aku pikir, anak itu asal bicara saat ia mengatakan ingin menikah," ucap Nayla.
"Dan dengan nakalnya ia malah mencobanya sebelum menikah, ahhh dasar anak itu! Aku saja dulu mampu bertahan, tapi sekarang kuda poni itu imannya sangat lemah!" Reyhan rupanya masih kesal dengan kenakalan putranya, yang sebenarnya hanyalah pura-pura saja.
"Iya sayang kau memang pria sejati," puji Nayla.
"Terimakasih cintaku,"
"Sama-sama sayangku,"
__ADS_1
"Oh ya ampun, kenapa di saat seperti ini mereka masih saja bermain drama," gumam Rheina, ia merasa sangat aneh dengan keluarga kaya yang ada di depannya ini. Baru kali ini ia melihat ada sebuah keluarga yang menurutnya sangat unik.
"Oh iya aku lupa, selamat datang di keluarga Guntara ya. Aku harap kau akan menjadi istri yang baik dan juga mencintai suamimu nanti," ucap Nayla tersenyum.
"A-pa, keluarga Guntara!" belum hilang rasa terkejutnya karena ia harus menikah dengan orang yang baru ia kenal dan kini ia juga baru tahu jika mereka semua adalah keluarga Guntara. Yang berarti mereka adalah pemilik perusahaan tempat dimana ia bekerja.
"Iya, memangnya Rafa tidak memberitahumu masalah ini?" tanyanya. Rheina hanya mampu menggelengkan kepalanya saja, ia masih sangat shock dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Entah ini musibah ataukah anugerah, ia pun masih bingung dan juga merasa takut pada mereka semua, mengingat jika dirinya adalah seorang yatim piatu miskin yang tidak punya apa-apa.
Tapi sepertinya mereka orang baik, pikir Rheina. Jadi ia agak sedikit tenang dan mudah - mudahan kebaikan mereka akan terus berlanjut tidak cukup sampai di sini saja.
"Ya sudah kalau begitu, beristirahatlah. Untuk pernikahanmu biar kami saja yang mengaturnya," ucap Reyhan dan kemudian mereka pun pergi meninggalkan Rheina dan juga Rafasya yang sedari tadi hanya duduk manis dan diam, mendengarkan gagang sapunya yang gagah berani sedang difitnah, akan tetapi ia tidak marah. Justru ia bahagia karena ia akan menikah seperti apa yang ia inginkan selama ini.
"Jangan tersenyum! Sekarang jelaskan padaku, apa maksud dari semua ini?" tanya Rheina dengan ketus. Rafa pun kemudian berjalan mendekati Rheina, dan kemudian duduk disampingnya.
"Maksudnya adalah kita akan menikah, aku hebat kan?" ucapnya dengan wajah yang sangat riang.
"Hebat apa, hebat kepalamu! Apa sih sebenarnya yang ada dalam otakmu itu?"
__ADS_1
"Yang jelas isinya adalah ide-ide brilian yang hebat," Rafa masih berbicara dengan sangat santai.
"Hebat apanya, kau membuat hidupku kacau, apa kau tidak sadar?" Rheina berucap dengan sangat sedih, entahlah ia masih merasa bingung dengan semua ini.
"Kacau bagaimana? Justru aku adalah super Heromu, aku ini sudah menyelamatkan hidupmu dari amukan banteng itu. Kau akan menjadi istriku dan kau akan memiliki uang yang banyak tanpa harus lelah bekerja!"
"Aku terkesan seperti perempuan mata duitan saja di matamu"
"Memang kau mata duitan!
"Oh astaga, mimpi apa aku semalam hingga aku harus mengalami semua ini,"
"Yang jelas mimpi indah, karena kau akan menikah dengan pangeran tampan sepertiku!"
"Dasar kuda poni aneh!"
"Dasar kura-kura mata duitan!
__ADS_1
"Ya Tuhan kepalaku," gumam Rheina sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut.