
Hari berganti dan waktu pun terus berlalu, akhirnya Rheina pun sudah bisa diijinkan pulang oleh dokter. Dengan catatan ia harus chek up rutin. Hanya saja Rheina masih belum bisa berjalan dan masih harus menggunakan kursi roda.
Saat akan pulang wajah Rheina terlihat murung, padahal dulu ia sangat bersemangat sekali ingin segera pulang. Rafa yang merasa aneh pun bertanya padanya. Ia membelai lembut rambut Rheina.
"Kenapa kau tidak terlihat bahagia? Bukankah kau sudah tidak betah berada di sini?" tanya Rafa. Mata indah itu pun kini melihat kearah suaminya dengan tatapan sedih.
"Aku sedih karena aku belum bisa berjalan, lalu bagaimana aku akan melakukan aktivitasku di rumah nanti?" tanyanya.
"Aku yang akan membantumu, aku akan menggendong-mu kemana pun kau mau. Kau jangan khawatir, ada aku yang akan selalu bersamamu," ucap Rafa menenangkan, memang terdengar sangat manis akan tetapi apakah seumur hidupnya ia akan terus merepotkan suaminya.
"Tapi kau pasti tidak akan selalu ada untukku, dan aku juga takut jika kau mulai jenuh dan suatu saat nanti kau akan meninggalkanku,"
"Hei, jangan bicara seperti itu. Aku sangat mencintaimu, tidak ada alasan apapun untuk meninggalkanmu. Kau sangat berharga untukku, andai saja kau tahu saat melihatmu tidak berdaya aku merasa jantungku berhenti berdetak. Aku merasa Tuhan telah mengambil hidupku saat itu. Jadi, berhenti berpikiran yang tidak-tidak sayang. Lagi pula aku tidak mau menjadi duda perjaka," ucapan Rafa sukses membuat Rheina tertawa.
Karena sudah berbulan-bulan ia menikah, akan tetapi suaminya ini sama sekali belum bisa membuka pabrik bayi miliknya.
"Maaf," ucapnya.
"Untuk apa?" tanya Rafa.
"Untuk semuanya, maaf karena selalu merepotkanmu dan maaf juga karena sampai saat ini kau masih perjaka," ucap Rheina sambil tertawa.
"Tidak masalah, aku yakin sebentar lagi aku akan kehilangannya saat nanti berada di rumah," ucapnya sambil mengecup bibir Rheina sekilas dan tersenyum. Wajah Rheina mendadak jadi merah, karena ia merasa sangat malu mendengarnya. Apa jika nanti di rumah Rafa akan meminta hak nya, pikir Rheina.
"Kau sudah siap, jika sudah kita pulang sekarang," ajak Rafa, Rheina pun kemudian mengangguk mengiyakan.
*
*
*
__ADS_1
Di tempat lain, seorang wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda itu sedang terlihat sangat gelisah. Ia bahkan tidak bisa tidur semalaman, karena membayangkan hal yang menjadi ketakutannya selama ini menjadi kenyataan.
"Mah ... " panggil seseorang yang sedari tadi ia tunggu. Ia berpaling dan melihat ternyata putranya sudah datang.
"Kau ini kenapa lama sekali!" kesalnya.
"Ada apa Mah?" tanyanya santai.
"Astaga di saat seperti ini kau masih bertanya ada apa? Jangan menguji kesabaran Mamah Venus! Apa kau sadar jika sebentar lagi kita akan kehilangan semuanya, Papa mu akan memberikan perusahaan kepada anak sial4n itu! Dan sialnya lagi, Papa mu juga memintanya untuk tinggal di sini bersama dengan kita," ucap Salma panik, ya dia adalah Salma dan juga Venus. Ibu sambung dari Jupiter dan adik satu ayahnya yaitu Venus.
"Memangnya apa yang harus aku lakukan? Semua itu sudah keputusan Papa yang mutlak," jawabnya.
"Tidak! Perusahaan ini belum sah menjadi milik Jupiter, jika Jupiter belum mempunyai anak sebagai penerusnya. Karena Papa mu menginginkan seorang cucu dari anak itu setelah itu baru ia akan memberikan perusahaan itu untuknya.
"Lalu aku harus bagaimana, menggagalkan pernikahannya yang belum tahu kapan itu?" tanya Venus sambil tertawa mengejek.
"Kau ini terlalu santai menghadapinya, setelah kehilangan semuanya kau baru tahu rasa!" ucap Salma dengan kesal pada putranya ini.
"Setidaknya jika semua ini menjadi milik kita, kita tidak akan pernah kekurangan apapun!"
"Bukankah selama ini juga kita tidak pernah mengalami kekurangan, lalu apa yang Mamah khawatirkan." Venus hanya geleng-geleng kepala melihat Mamahnya dan kemudian setelah itu ia pergi meninggalkan Salma sendirian dengan rasa kesalnya.
"Venus! Kau ini memang sangat susah diatur, kau mau kemana?" Namun, Venus tetap pergi meninggalkan Mamahnya. Lebih baik ia ke kantor daripada mendengarkan ucapan mamahnya yang selalu tak jauh dari harta. Hingga Venus selalu merasa heran dengan apa yang ada dalam pikiran Salma.
*
*
*
Di kediaman Guntara, Zayan sedari tadi disibukan oleh keinginan istrinya yang ingin memakan sesuatu. Dia bilang ingin makan makanan berbentuk bulat dan juga kenyal dengan banyak isian di dalamnya. Apalagi makanan yang Zaira inginkan agak sulit di dapat. Bukan sulit, tapi Zayan tidak ingin istrinya yang sedang hamil itu jajan sembarangan.
__ADS_1
Sedari tadi ia sibuk dengan adonan yang sudah disiapkan oleh para juru masak yang ada di rumah itu. Ia meminta juru masak untuk membuatkan bumbunya seperti yang ia lihat di video tutorialnya. Karena Zayan tidak bisa membuatnya, jadi ia meminta juru masak saja untuk membuat bumbunya. Namun, untuk adonannya ia sendiri yang membuat dan membulat-bulatkannya.
Zaira ingin membantu, tapi anak ayam itu selalu memarahinya. Dan menyuruhnya untuk diam. Dan di sinilah Zaira sedang menatap wajah tampan suaminya yang kini sedang membuat makanan yang Zaira inginkan.
"Aku ingin isiannya banyak, dan kalau bisa pakai potongan cabai biar rasanya enak," ucap Zaira yang hampir saja air liurnya itu menetes.
"Kau ingin meledakan perutmu dengan memakan cabai?" sewotnya.
"Sedikit saja, ayolah Zayan kau tidak kasihan pada anakmu ini," ucap Zaira dengan memelas. Zayan pun menghela napas kasar, ia pun tidak tega dan memberikan sambal sedikit seperti yang Zaira inginkan.
"Terima kasih sayang," ucap Zaira sambil tersenyum manis, hingga hidung anak ayam itu kembang kempis saking senangnya dipanggil sayang oleh Zaira.
"Kalau begitu ayo semangati aku, biar aku tambah semangat membuat makanan ini. Bahkan demi istriku tercinta aku rela menjadi kang cilok hari ini," ucap Zayan sambil terus membulat-bulatkan adonan itu. Zaira yang melihatnya hanya tertawa saja dan kemudian ia mencium pipi dan bibir Zayan. Sungguh ia merasa gemas dengan suaminya ini.
"Ahhh terima kasih, aku jadi semakin semangat membuatnya," ucap Zayan. Para pelayan pun tersenyum melihat ke romantisan Zayan dan juga Zaira.
"Sama-sama sayang," jawab Zaira.
"Ohhh astaga, tubuhku terasa terbang mendengarmu mengucapkan sayang," ucap Zayan. Rayan merasa geli melihat kelakuan putranya itu.
"Astaga dia memang ayam genit, sama seperti ibunya," gumam Rayan.
"Kau membicarakan aku sayaaaaang," ucap Nara penuh penekanan.
"Tidak sayang, aku melihat sikap Zayan yang sangat manis. Sama seperti dirimu yang selalu bersikap manis padaku,"
"Benarkah?"
"Iya,"
"Aku jadi semakin mencintaimu saja," ucap Nara dan kemudian memeluk suami tampannya.
__ADS_1
'Syukurlah jatahku aman,' gumam Rayan dalam hati.