
"Iya aku melamar bekerja di sana menjadi cleaning servis." jawab gadis berkacamata itu.
"Semangat sekali, kau!" ucap Rafa sambil tertawa. Namun, gadis itu malah memberenggut kesal melihat ke arah Rafa.
"Kau orang kaya, mana tau urusan orang kismin seperti diriku," jawabnya sambil mencoba menyalakan motornya lagi.
"Kismin? Apa itu, kalau tidak salah kismin itu adalah makanan yang biasa dicampur untuk kue. Iya, kan?" tanya Rafa penasaran. Gadis itu berdecak sebal sambil melihat ke arah Rafa.
"Itu kismis, begitu saja tidak tahu. Orang seperti dirimu itu memang hanya tahu makan saja!"
"Lalu apa itu kismin, beritahu aku. Aku sangat penasaran, kalau perlu aku akan membayarnya," ucap Rafa. Mendengar uang gadis itu mata gadis itu menjadi sangat berbinar.
"Ini ambillah," Rafa menyerahkan uang lima lembar berwarna merah padanya dan langsung ia terima dengan senang hati. Kebetulan dia memang sedang tidak punya uang, sudah coba meminjam pada saudara dan juga teman-temannya tidak ada yang memberinya. Dan pagi ini ia dikejutkan oleh orang kaya yang kurang pintar, yang dengan tiba-tiba memberikannya uang. Karena penasaran dengan arti sebuah kata yang biasa saja menurutnya. Sepertinya nasib baik kali ini memang sedang berpihak padanya.
"Orang Kismin itu artinya orang Miskin," jawabnya sambil tertawa senang karena mendapatkan uang banyak, dari seorang tuan muda kurang pintar. Rafa terdiam sejenak mendengar jawaban dari gadis berkacamata ini.
"Apa! Jadi itu artinya, ahhh ... astaga aku tertipu. Padahal aku sangat penasaran dengan kata itu, tapi artinya hanya orang miskin." Rafa bertolak pinggang sambil geleng-geleng kepala. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Rafa merutuki kebodohannya kini, dan kemudian memijat pangkal hidungnya perlahan. Dan kemudian melihat kearah gadis itu lagi.
Gadis itu dengan buru-buru memasukan uangnya pada saku, takut diambil lagi oleh Rafa. Padahal Rafa sama sekali tidak bermaksud mengambil uang itu kembali darinya. Baginya uang itu tidak apa-apanya.
__ADS_1
"Dasar mata duitan!" ejek Rafa.
"Berarti aku manusia normal, karena aku suka uang. Kalau aku suka rumput berarti aku ini kambing," ucapnya, dan kemudian motornya pun menyala, ia pun bersiap untuk pergi.
"Oh astaga, baru kali ini aku melihat gadis yang tidak ada manis-manisnya!"
"Itu karena aku bukan mata air pegunungan yang ada manis-manisnya, sudah ya aku berangkat dulu. Terimakasih untuk uangnya, semoga harimu menyenangkan," pamitnya pergi meninggalkan Rafa dengan segala kebingungannya.
"Dan semoga harimu hari senin semua!" teriak Rafa.
"Dasar gadis gila!" umpatnya sambil masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi kantor, karena meeting sebentar lagi akan dimulai.
*
*
*
Di ruang meeting, Zayan dan Jupiter saling memandang dengan tajam. Mereka sama-sama saling melempar pandangan tidak suka yang tidak mereka tutup-tutupi. Zayan tidak suka pada Jupiter karena dengan berani, ia menyukai istri yang sangat ia cintai. Dan Jupiter tidak menyukai Zayan karena, ia adalah suami dari seorang wanita yang sangat Jupiter cintai. Benar-benar miris nasib dari makhluk planet ini, karena ia sudah jatuh cinta pada orang yang salah.
__ADS_1
"Lihatlah, makhluk planet itu! Aku ingin sekali mengunyahnya dan menjadikannya cemilan," bisik Zayan pada Rafa. Rafa pun langsung melihat ke arah Jupiter. Mereka berdua dengan sengaja membicarakan Jupiter dengan bisik-bisik, berharap Jupiter tersinggung dengan sikap mereka.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak mau menjadikannya camilan." jawab Rafa dengan berbisik juga.
"Kenapa, lihatlah wajahnya itu sangat menggemaskan untuk dikunyah," jawab Zayan.
"Menggemaskan apanya, dia bahkan tidak punya ekspresi dan wajahnya itu datar saja. Pasti rasanya sangat pahit," ucap Rafa.
"Benar juga ya, dia kan pebinor pasti rasanya pahit dan asam." Zayan bergidik ngeri sambil melihat ke arah Jupiter.
"Benar," mereka berdua pun tertawa perlahan, hingga Rafa mendapatkan tendangan bawah meja dari kudanil barulah mereka berdua diam.
"Jika kalian berdua tidak bisa diam, maka kalian berdua yang akan aku kunyah," ucap Reyhan, hingga anak ayam nakal dan kuda poni kurang pintar pun diam dan menutup mulut mereka.
Alex yang mengerti dengan sikap dari Zayan dan Rafa pun berbisik pada Jupiter. "Tuan, mereka berdua sedang membicarakan anda," bisik Alex.
"Aku tahu, biarkan saja." jawab Jupiter masih dengan ekspresi datarnya.
"Aku gemas pada mereka berdua, bisa-bisanya senang bergosip di saat meeting seperti ini," kesal Alex, ia tidak terima bos nya yang tidak pernah senyum itu digosipkan oleh anak ayam dan kuda poni itu. Tapi Jupiter, ia hanya diam saja dan tidak peduli dengan sikap Zayan dan juga Rafa.
__ADS_1
***