Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 43


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, lahan yang kebanjiran pun mulai mengering. Dan ini adalah saat-saat yang selalu ditunggu-tunggu oleh titisan anak ayam ini.


Jujur untuk kali ini, Zaira merasa takut jika lahan bersegelnya akan dibongkar oleh suaminya. Zaira belum siap, ia masih sangat malu. Apalagi setiap hari suaminya itu tidak pernah absen minum susu padanya, baru pembukaan saja sudah membuat tubuhnya sangat lelah, bagaimana jika nanti Zayan mengobrak-abrik pabriknya. Zaira sudah merinding sendiri membayangkannya.


"Zaira sayangku, ayo kita mandi bersama," ajak Zayan pagi itu.


"A-apa, mandi? T-tidak terimakasih, kau saja duluan. " jawab Zaira. Zayan berdecak sebal mendengarnya, kenapa istrinya ini sangatlah susah diajak bermesraan. Dan kenapa ia masih malu - malu kambing padanya. Padahal Zayan sudah melihat bagian atasnya, tapi tetap saja Istrinya ini masih merasa gugup jika berada didekatnya.


"Kau tidak usah malu, ayolah! Anggap saja ini latihan, agar kau tidak merasa sungkan padaku. Aku saja tidak malu padamu, jadi kenapa kau harus malu." ucap Zayan.


"Itu karena kau ayam tidak tahu malu, jangan samakan aku yang masih polos dengan dirimu yang otak mesum!" jawab Zaira kesal, karena suaminya ini selalu saja memaksanya.


"Aku otak mesum?" tanya Zayan sambil menunjuk pada dirinya sendiri.


"Iya, kau otak mesum. Setiap hari yang ada dalam pikiranmu itu hanya minum susu saja, kau sudah seperti bayi saja." ucap Zaira, ya meskipun sebenarnya Zaira juga menikmatinya. Akan tetapi, jika setiap hari tubuhnya terasa sakit dan pegal - pegal.


"Kau salah Zaira, setiap hari yang ada dalam otakku bukan hanya tentang minum susu," jawab Zayan dan kemudian duduk di ranjangnya sambil membelitkan handuk dil lehernya.


"Memangnya ada apa lagi, dalam otakmu yang kecil itu." jawab Zaira sambil mendelik kesal.


"Selain memikirkan tentang minum susu, aku juga sedang berpikir bagaimana caranya nganu-nganu." ucap Zayan sambil terbahak-bahak. Cukup sudah, Zaira merasa sangat malu mempunyai suami yang tidak pernah berpikir dulu jika bicara. Hingga saking kesalnya, Zaira menendang bok0ng Zayan hingga ia jatuh terjungkal,setelah itu Zaira pun dengan cepat pergi ke kamar mandi dan menguncinya. Takut jika anak ayam itu mengejarnya.


"Zaira!" teriaknya, tapi Zaira sama sekali tidak mempedulikannya. Biar saja suaminya itu berteriak di luar sana, Zaira tidak akan membuka pintunya.


Setelah selesai mandi, Zaira pun dengan cepat memakai pakaiannya. Karena kebetulan Zayan ternyata tidak ada di kamar, mungkin ia pergi ke kamar mandi yang lainnya dan mandi di sana.


Selesai menggunakan pakaian, Zaira pun mengambil pakaian Zayan untuk ia siapkan. Namun, ternyata Zayan meminta Zaira untuk menggantinya.

__ADS_1


"Siapkan pakaian kerja saja, pagi ini aku mau ke kantor!" ucap Zayan, yang memang ia baru selesai mandi.


"Kau tidak kuliah?" tanya Zaira.


"Tidak! Hari ini aku dan Rafa akan ke kantor, jadi kau kuliah sendiri dulu saja," jawab Zayan.


"Oh ya sudah,"


Zaira pun kemudian menyiapkan pakaian kerja Zayan, dan perlengkapan lainnya.


"Apa nanti siang aku boleh menemui adikku?" tanya Zaira.


"Pergilah, tapi kau harus diantar oleh supir. Jangan pergi sendiri," Zaira pun mengangguk mengerti, ia juga tidak mau bertemu apalagi di ganggu oleh manusia planet yang pemaksa itu.


Setelah semuanya selesai Zayan mengantarkan dulu Zaira ke kantor, itu pun dengan segala drama yang Zayan buat. Mulai dari minta cium dan peluk yang sangat lama. Membuat Zaira kesal dengan sikap suaminya ini. Sangat aneh menurutnya, tapi jika Zayan tidak ada. Zaira malah selalu senyum-senyum saat membayangkan tingkah manja Zayan. Sekali lagi, Zaira mencoba untuk membentengi dirinya. Untuk tidak menaruh perasaan terhadap Zayan. Meskipun sebenarnya rasa itu sudah ada tanpa Zaira sadari. Ya Zaira mencintai Zayan dengan segala keanehannya.


Selepas pulang dari kampus Zaira membuat janji dengan Zein untuk bertemu, ia sudah sangat merindukan adik satu-satunya itu. Zaira ingin sekali Zein ikut tinggal bersama dengannya, akan tetapi Zein terus menolaknya. Tapi sungguh kini Zein merasa sangat bahagia. Kini kehidupannya tidak seperti dulu yang serba susah, bahkan setiap harinya ia selalu menahan lapar karena ibu sambungnya itu tidak pernah memasak. Dan ayahnya tidak pernah memberikan uang jajan yang cukup untuknya. Hingga rasa lapar selalu menghiasi hari-harinya dulu.


Tapi sekarang semuanya sudah tersedia, atas perintah Zayan semua keperluan Zein disediakan oleh orang suruhan Zayan. Zayan adalah kakak ipar yang bertanggung jawab, ia juga sebenarnya ingin Zein ikut tinggal bersamanya. Akan tetapi Zayan juga tidak memaksa, karena segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir dengan baik.


Zaira dan Zein membuat janji temu di sebuah restoran, Zaira ingin mentraktir adik kesayangannya itu makan enak. Zaira juga ingin mengajaknya pergi jalan-jalan dan membeli barang-barang kebutuhannya. Meskipun semua sudah terpenuhi, tetap saja Zaira ingin memberikan sesuatu untuk adiknya itu.


"Kini mereka berdua tengah, berada di restoran dan hendak memesan makanan. "Pesanlah apapun yang kau mau, hari ini kakak akan mentraktirmu makan enak," ucap Zaira.


"Baiklah, aku akan memesan makanan yang mahal dan juga enak. Eh ... tapi apa Kakak ipar, tidak akan marah jika uangnya dipakai makan - makan oleh kita?" tanya Zein khawatir, jika Kakak iparnya itu marah padanya karena sudah memakai uangnya untuk makan. Apalagi sepertinya ini adalah restoran mahal.


"Tenang saja, kau tidak usah khawatir. Zayan bukanlah orang yang perhitungan. Justru dia selalu marah jika aku tidak memakai uang yang dia berikan," Zaira tersenyum senang saat membayangkan betapa manisnya Zayan.

__ADS_1


'Jangan jatuh cinta padanya Zaira, kau akan merasa sakit jika dia membuangmu begitu saja,' batin Zaira.


"Kak, aku mau pesan ini saja." Zein menunjukkan sebuah menu yang sepertinya terlihat sangat enak.


"Baiklah, aku juga ingin pesan makanan yang sama saja denganmu,"


"Saat sedang menunggu makanan datang, gangguan datang dari orang yang tidak disangka-sangka. Bahkan Zaira baru kali ini melihatnya.


"Wah ... wah, rakyat jelata rela menjual diri demi bisa makan di restoran mewah ya, menjijikkan." ejeknya sambil melihat ke arah Zaira. Zaira mencoba tidak memperdulikannya, karena ia merasa tidak kenal dengan perempuan itu. Mungkin saja jika orang itu bukan membicarakan Zaira.


"Siapa?" tanya rekan perempuan itu.


"Lebih baik kau tidak tahu, perempuan itu sangat jauh kelasnya dengan kita. Kita wanita terhormat sebaiknya jangan mengenal ataupun tahu orangnya."


"Memangnya apa yang dia lakukan, aku jadi penasaran?"


"Yang aku dengar dia menjebak seorang anak pengusaha kaya untuk tidur dengannya dan kemudian mereka menikah dengan cara di grebek warga," bisiknya di akhir kalimat, akan tetapi masih terdengar dengan jelas ucapannya di telinga Zaira.


Jujur saja Zaira mulai tidak nyaman, karena ucapan perempuan itu seolah sedang ditujukan padanya. Tetapi Zaira masih ingin memastikannya dulu.


"Benarkah? Oh astaga, benar-benar murah4n sekali perempuan itu." jawab rekan perempuan itu dengan nada mengejek.


"Iya, dan parahnya lagi. Perempuan gatal itu masih belum puas dengan anak pengusaha kaya itu. Dan sekarang mulai menggaggu pengusaha muda lainnya. Benar-benar murah4n, bukan begitu... Nona Zaira," ejeknya dengan nada menghina.


"Apa!


Like dan komentarnya dong biar semangat up 😌

__ADS_1


__ADS_2