
Dengan langkah gontai, sore ini Rheina pulang kembali ke kontrakan sempitnya yang menjadi tempat ia berlindung dan berteduh setiap hari, dimana ia selalu membaringkan tubuh lelahnya di sana. Tempat itu hanya memiliki satu kamar dapur dan juga kamar mandi, itu pun ruangannya yang sempit hingga ia tidak bisa leluasa untuk bergerak di sana. Tapi tak apa, kontrakan itu cukup membuatnya untuk tidur nyenyak. Hanya saja beberapa bulan ini tidurnya menjadi tidak tenang lantaran ia sudah menunggak pembayaran kontrakannya itu, karena ia tidak bekerja dan baru hari ini ia mendapatkan pekerjaan.
Baru saja hendak masuk kedalam kontrakan kecilnya, tiba-tiba seorang perempuan bertubuh gempal menghampiri Rheina dengan wajah yang sangat tidak bersahabat. Dan Rheina tahu apa maksud kedatangan dari perempuan tambun itu. Apalagi kalau bukan untuk menagih uang kontrakan dan juga memarahinya, karena ia belum sanggup untuk membayarnya.
Astaga, hari-hari buruk kini selalu ia lalui setiap hari karena ketidakmampuannya.
"Rheina!" teriaknya, Rheina sampai berjingkat kaget mendengar suara teriakan yang lebih terdengar seperti suara petasan gantung yang meledak.
"I-iya, Bu." Rheina terlihat gugup karena takut oleh perempuan itu. Ia takut jika ia akan diusir dan ia sama sekali tidak punya tempat tinggal lagi. Dan jika ia meminta tolong pada paman dan bibinya sudah pasti ia akan mendapatkan penolakan.
Jangankan meminta untuk tinggal, meminta pertolongan untuk sesuap nasi saja mereka tidak akan pernah membantu Rheina. Karena mereka sama sekali tidak pernah peduli padanya. Bahkan saat orang tua Rheina meninggal pun mereka sama sekali tidak mau mengayomi Rheina.
"Jangan cuma bilang iya ... iya saja! Saya ini butuh jawaban yang pasti bukannya jawaban yang hanya itu-itu saja! Jika kamu tidak melunasi semua tunggakannya minggu ini, maka bereskan semua barang-barang mu dan pergi dari sini!" Setelah mengucapkan hal itu barulah ia pergi meninggalkan Rheina dengan keterkejutannya, tanpa mempedulikan wajah Rheina yang pucat karena takut di usir dari sana.
"Apa! Bagaimana ini? Kenapa dia kejam sekali, tidak bisakah dia mengaggap ku sebagai anaknya saja, dan membiarkanku tinggal di sini. Eh tidak-tidak aku tidak mau menjadi anaknya, aku tidak mau mempunyai yang ibu yang sangat kejam seperti itu," gumamnya lagi dan kemudian masuk ke dalam kontrakannya untuk segera beristirahat. Setidaknya ia harus menenangkan dulu pikiran dan mencari jalan keluar untuk masalahnya. Tubuh dan pikirannya terlalu lelah untuk saat ini.
Rheina bisa saja menggunakan uang pemberian dari Rafa untuk menutupi tunggakannya sebagian, akan tetapi ia tidak mempunyai bekal untuk perjalanan hidupnya selama satu bulan ke depan. Untuk itu ia menyimpan uang dari pemberian dari Rafa untuk bekalnya sampai ia mendapatkan gaji pertamanya. Dan dia akan mencoba mencari pinjaman untuk melunasi tunggakan untuk tempat tinggal yang ia tinggali.
"Baiklah Rheina, untuk saat ini sebaiknya kau beristirahat saja. Tubuh dan pikiranmu terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal ini, semoga saja Tuhan berbaik hati kembali padamu. Dan memberikan pertolongan yang tidak pernah kau sangka - sangka seperti hari ini, ia bahkan memberikan rezeki yang banyak untukmu, bukan?" ucapnya pada diri sendiri sambil tersenyum. dia mencoba menyemangati dirinya sendiri dan tidak boleh bersedih, ia harus menjadi orang yang kuat karena ia hanya seorang yatim piatu biasa yang harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Rheina pun jadi teringat teringat oleh keinginan Rafa yang memintanya untuk membawakan makanan besok ke kantor. Ia pun kemudian mulai mempersiapkan bahan-bahannya, dan kebetulan sekali bahan makanan untuk besok masih ada dan bisa ia olah. Hanya saja untuk besok ya sengaja menambahkan ayam yang ia beli barusan saat pulang dari tempatnya bekerja.
Sesaat kemudian ia pun kembali tersenyum, " terima kasih kuda poni, karena kebaikanmu aku bisa makan ayam hari ini," gumamnya.
*
__ADS_1
*
*
Di kediaman rumah Guntara, kini semua orang telah berkumpul untuk makan malam. Sajian makan malam mewah setiap hari selalu tersaji di sana, akan tetapi Rafa jadi ingin memakan sesuatu yang tadi siang ia makan walaupun hanya satu potong. Yaitu satu potong tempe goreng yang sudah dingin, melihat anaknya yang celingukan seperti mencari sesuatu, Nayla pun bertanya pada putranya.
"Rafa sayang, kau sedang mencari apa? Apa kau tidak suka dengan menu makanan ini?" tanya Nayla.
"Eheemm..." kudanil itu cemburu karena istri tercintanya memanggil putranya dengan sebutan sayang. Dan juga sangat perhatian sekali pada Rafa membuat kudanil yang sudah berumur ini menjadi mendadak manjah, fiuuuhhhh.
"Ada apa sayang?" tanya Nayla pada Reyhan, Nayla tahu jika suaminya ini tengah cemburu kepada putranya. Jadi ia pun dengan cepat merespon, karena tidak mau suami tersayangnya itu menjadi marah dan berakhir merajuk dan meminta kikuk-kikuk dengannya.
"Ambilkan aku nasi dan juga lauknya, aku ingin dilayani olehmu sayangku," ucap Reyhan, mendengar suara kudanil yang mendadak manja membuat semua orang menjadi mual saat melihatnya.
"Oh astaga, lihatlah kulitku sampai merinding karena mendengar ucapanmu," ejek Nara. Namun, Reyhan memandang Nara dengan tatapan sebal.
"Sayang, jangan menggoda kudanil yang sudah tua. Itu tidak baik untuk kesehatan jantungmu," ucap Rayan pada Nara.
"Baiklah, maafkan aku. Entah kenapa mulutku selalu gatal saat melihat kelakuannya yang menggelikan itu," ucap Nara sambil tertawa.
"Mickey sayang, makan yang banyak agar kau kuat." Zayan sengaja menambahkan lauk yang banyak pada Zaira.
"Sudah jangan banyak-banyak, kau ini. Aku tidak serakus itu tahu!" ucap Zaira.
"Tapi kau harus kuat sayang, kuat di atas ranjang,' bisik Zayan di akhir kalimat. Hingga pipi Zaira mendadak memerah karena malu mendengar ucapan anak ayam mesum ini. Nara yang sangat mengerti dengan apa yang diucapkan Zayan, walaupun ia tidak mendengarnya pun langsung menegur putranya. Ia tidak mau jika ia terus-menerus memforsir tenaga Zaira. Dimana burung yang baru tahu tempat bermain yang menyenangkan itu, selalu menginginkan lagi dan lagi.
__ADS_1
"Kau itu jangan macam-macam Zayan!"
.
"Hanya satu macam, Mom!" jawab Zayan.
"Satu macam kepalamu!" balas Zaira, karena sekarang ia sangat tahu bagaimana mesumnya Zayan padanya. Ia bahkan tidak cukup satu kali melakukannya, dan membuat Zaira menjadi sangat lemas saat bangun tidur. Dan bahkan ia jadi jarang kuliah gara-gara perbuatan Zayan yang selalu membuatnya lemas. Dan anehnya stamina Zayan sangatlah kuat seolah ia tidak pernah merasa lelah, dengan aktivitasnya. Justru putra dari Rayan Guntara itu malah semakin bersemangat, melewati hari-harinya.
"Dad, besok aku aku mau ke kantor lagi. Dan aku akan mengambil kuliah sama seperti Zayan saja, satu minggu sekali," ucap Rafa.
Reyhan yang mendengar ucapan dari putranya ini merasa sangat heran, karena tidak biasanya ia menjadi rajin bekerja. Justru sebelum-sebelumnya ia sangat malas jika diajak pergi ke kantor untuk membantunya membereskan pekerjaan Reyhan.
"Tumben sekali kau rajin?" tanya Reyhan.
"Pasti ada yang kau inginkan?" ejek Zayan.
"Memang," jawab Rafa santai sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Apa?" tanya Nayla.
"Aku ingin memakan makanan yang terbuat dari kacang kedelai yang bersatu!"
"Apa!"
****
__ADS_1
Vote dan Gift nya sumbangin dong 😘😘😘