
"Ada apa ini, kenapa kalian berisik sekali?" tanya Nara, oa mendengar ada keributan di depan kamar Zayan. Maka dari itu, Nara pun menghampirinya.
"Mom ... Zayan katanya,"
"Mickey ini tidak percaya jika Mommy dan Daddy sudah memberi ijin untuk tidur satu kamar, makanya dia ngotot untuk kembali ke kamarnya karena tidak percaya dengan ucapanku," bohong Zayan pada Nara. Tak apa berbohong sedikit, yang penting mereka bisa tidur satu kamar, lagi pula Zaira itu istrinya Zayan. Sudah sepantasnya jika mereka tidur satu kamar, bukankah begitu.
"Oh itu, kau tidak usah malu jika mau tidur satu kamar dengan Zayan. Tidak apa-apa kok, lagi pula kalian kan sudah sah. Jadi wajar saja jika kau ingin satu kamar dengan Zayan." jelas Nara, menjelaskan pada menantunya itu jika dirinya tidak usah malu jika ingin tidur dengan Zayan
'Kenapa jadi aku yang terlihat ingin tidur dengannya,' gumam Zaira dalam hati.
"Benarkan, ucapanku. Ayo cepat masuk, Mickey. Aku sudah lelah," Zayan pun menarik tangan Zaira agar masuk kedalam kamarnya. Zaira yang masih bingung pun hanya pasrah saja, lagipula di sana ada mertuanya. Tidak mungkin Zaira memarahi anak mertuanya itu di hadapannya. Itu sangat tidak sopan, walaupun sebenarnya Zayan memang sering membuatnya kesal. Tapi bagaimana lagi, dia tetap suaminya.
"Ya ampun, mereka romantis sekali. Kak Rayaaaaann, aku jadi merindukanmu," ucap Nara dengan wajah gemas.
"Benarkah?" tanya Rayan yang kini ada si belakang Nara.
"Ahhh suami tampanku, kau membuatku kaget saja," Nara langsung memeluk Rayan dengan erat. Seperti sudah lama tidak bertemu saja. Rayan sangat bahagia dengan perlakuan Nara, yang tidak pernah berubah selana bertahun-tahun ini. Selalu saja menggemaskan di mata Rayan.
"Kau merindukanku?" tanya Zayan tersenyum sambil memeluk Nara. Wanita yang bertahun-tahun menemaninya ini masih terlihat cantik di usianya yang kini sudah dua kali lipat dari saat Rayan bertemu dengannya.
"Sangaaaatt merindukanmu lebih tepatnya," jawab Nara.
__ADS_1
"Baiklah, ayo aku juga sangat merindukanmu." Rayan langsung menggendong tubuh Nara dan membawanya ke kamar. Selanjutnya apa yang terjadi, kalian semua pasti tahu.
*
*
*
Zaira merasa aneh, karena setahu dirinya jika baru kali ini ia diberitahukan jika ia akan satu kamar dengan Zayan. Akan tetapi semua barang-barangnya sudah berpindah semua ke kamar Zayan. Sungguh ajaib pikirnya. Sepertinya ini memang keinginan orangtua Zayan pikirnya. Berarti itu sudah keputusan mutlak dan Zaira sudah tidak bisa menolaknya lagi.
"Hei! Kenapa kau masih berdiri saja ayo sana cepat mandi. Lalu tidur," titah Zayan. Zaira pun hanya mengangguk saja, karena ia bingung harus mengatakan apa. Sedangkan Zayan, dia hanya tersenyum senang melihat istrinya kebingungan.
Zayan tersenyum melihat wajah istrinya, ia tahu jika kini Zaira tengah terkejut diminta satu kamar dengannya. Bagaimana
lagi, ia tidak mau kehilangan Mickey nya itu, apalagi sudah ada pria yang berani menatap istrinya yang cantik ini. Meskipun sebenarnya perasaan Zayan masih gamang. Tetap saja ia akan mempertahankan Zaira di sisinya.
Tak lama setelah itu, Zaira keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya. Ia melihat Zayan tengah sibuk dengan laptopnya. Zaira pun kemudian duduk di meja rias Zayan, karena kebutuhannya dan juga kosmetiknya ada disana.
Setelah menikah dengan Zayan, Zaira rajin menggunakan perawatan tubuh itu karena atas perintah Nara, yang ingin melihat menantunya terlihat cantik. Maka dari itu Nara membelikan semua perawatan kecantikan untuk menantunya ini.
Setelah semuanya selesai, Zaira pun terlihat bingung. Ia juga sudah merasa mengantuk. Tapi tidur disamping Zayan, sangatlah membuatnya tidak nyaman. Zayan yang menyadari jika Zaira tengah bingung pun langsung memanggilnya.
__ADS_1
"Hei Istriku! Ayo kemari, tidurlah disini disampingku." Zayan menepuk-nepuk kasurnya berharap Zaira mendekat.
"Dasar menyebalkan,"
"Ohh ... aku sangat terharu dengan ucapanmu itu. Cepatlah aku kedinginan," goda Zayan.
"Jangan macam-macam, kita hanya tidur saja, kan?"
"Memang kita hanya tidur, kau saja yang genit pikiranmu itu kemana-mana." ejek Zayan. Karena tidak ingin dianggap sebagai gadis mesum, akhirnya Zaira pun naik ke atas kasur dan tiduran dipinggir Zayan.
Zayan pun kemudian menyudahi aktivitasnya dan ia pun tidur disamping Zaira. Yang membuat Zaira terkejut adalah, tiba-tiba Zayan menariknya ke pelukannya dan langsung mendekapnya.
"Hei apa yang kau lakukan!" Zaira terkejut bukan main, ia masih belum siap membuka pabrik bayinya yang masih bersegel itu.
"Diamlah, aku hanya memelukmu saja."
"Tapi ... "
"Diam atau aku cium!" ancam Zayan, sontak saja Zaira langsung diam karena takut pabrik susu dan pabrik bayinya dibuka paksa.
'Hangatnya,' batin Zayan. Ia tersenyum menikmati moment ini.
__ADS_1