
Setelah membeli bunga untuk Nara, Zayan pun pulang dengan sangat riang. Ia sudah membayangkan jika Mommy nya akan sangat senang melihatnya membawa bunga pesanannya.
Tak membutuhkan waktu lama, kini ia sudah sampai di rumahnya. Sakit ikat bunga mawar putih kini sudah ia bawa untuk Nara dan beberapa tangkai bunga mawar merah pun akan ia berikan untuk Mommy nya sebagai bonus.
"Mom ... !" teriak Zayan, tidak ada sahutan akhirnya ia berteriak lagi.
"Mom ... !"
Nara yang mendengar suara anaknya berteriak pun langsung menghampiri Zayan. "Ada apa! kenapa kau berteriak?" tanya Zayan.
"Lihatlah ini bunga untukmu, Mom. Sangat cantik, bukan?" sama seperti Mommy ku." puji Zayan.
"Terima kasih sayangku," ucap Nara sambil mencium bunga pemberian dari Zayan.
"Oh ya, dan ini bonus untuk Mommy bunga mawar merah tanda cinta," ucap Zayan sambil tergelak.
"Ungkapan cinta dari siapa?" tanya Zayan.
"Dari gadis penjual bunga," jawab Zayan masih dengan tawanya.
"Woooww gadis penjual bunga?" tanya Nara, dan Zayan pun mengangguk.
"Pasti cantik, ahh kau ini seperti Louis Fernando saja mencintai gadis penjual bunga,"
"Louis Fernando? Siapa itu, aku baru mendengarnya." jawab Zayan.
"Dia itu ada di film dulu. Mommy masih ingat saat Mommy menonton dengan nenekmu dulu,"
__ADS_1
"Film apa itu?"
"Kau tidak akan tahu, itu film jaman Mommy mu ini masih anak-anak," jawab Nara. Kini ibu dan anak itu sedang duduk berdua di ruang keluarga.
"Ahhh Mommy ini, aku saja belum dicetak waktu itu, jangan menceritakan hal yang aku tidak tahu," ucap Zayan.
"Mommy mu ini sedang nostalgila tahu,"
"Nostalgia, astaga..."
"Lidah Mommy terpeleset sedikit, begitu saja protes,"
"Setahuku yang menikah dengan gadis penjual bunga itu Sergio bukan Louis Fernando." ucap Nayla dan kini bergabung dengan mereka.
"Benarkah?" tanya Nara.
"Sudah tidak apa-apa, jangan merepotkan orang tua untuk pertanyaan seperti itu. Kasihan ibumu, dia harus mengingat film-film jaman dulu. Lagipula belum tentu ia mengingatnya," ucap Nara, sedetik kemudian Nayla pun tertawa mengingat bagaimana ibunya.
"Kau benar, kasihan ibuku jika dia harus mengingat film masa lalu. Otaknya pasti akan memanas, jangankan mengingat nama pemain film. Nama cucunya saja ibuku sering lupa," jawab Nayla sambil terbahak-bahak. Nara yang mendengarnya pun ikut tertawa. Sedangkan Zayan dia hanya menghela napas kasar mendengarnya.
"Astaga aku terjebak diantara makhluk-makhluk aneh masa lalu," gumam Zayan.
*
*
*
__ADS_1
Setelah agak sore, Zaira pun kemudian pulang ke rumahnya. Berat rasanya jika mengingat harus pulang ke rumah yang didalamnya ada perusak keluarganya. Namun, apa boleh buat ia tidak punya tempat lain lagi. Tabungannya belum cukup untuk Zaira hidup berpisah dengan papanya. Karena ia belum sanggup secara finansial untuk memenuhi kebutuhannya maupun adiknya. Jadi dengan terpaksa ia pun harus tinggal bersama dengan papanya dan juga ibu sambungnya yang otaknya kurang satu ons itu.
"Aku pulang," ucap Zaira, terdengar suara langkah kaki yang sedang terburu-buru. Zaira pun tahu siapa itu, siapa lagi kalau bukan Mirna ibu sambungnya yang durjana.
"Hei kau! Kenapa kau baru pulang, apa kau tahu perutku sudah sangat lapar dari tadi!" hardik Mirna pada Zaira.
"Mana aku tahu kau lapar atau tidak, memangnya itu urusanku. Dan jika kau lapar kenapa kau tidak membuatnya saja sendiri," jawab Zaira.
"Aku ini sedang hamil dan mengandung adikmu, harusnya kau melayaniku!" hardiknya lagi.
"Aku tidak mau dan jangan memaksaku. Lagi pula jangan manja kau ini hanya sedang hamil bukan sedang sakit, menyebalkan," kesal Zaira, sudah ia lelah kini ia harus berhadapan dengan ibunya grandong. Sungguh sial pikirnya.
"Berani kau melawanku! akan aku adukan kau pada Papamu, anak nakal!"
"Coba saja kau adukan pada Papa, aku juga akan mengadukanmu kalau kau ini sebenarnya sedang berbohong," jawab Zaira.
"Berbohong apa maksudmu?"
"Berbohong jika kau sedang pura-pura hamil!"
"Apa! Jangan mengarang cerita !' jawab Mirna, terlihat dari wajahnya ia sedang ketakutan.
"Aku tidak mengarang cerita, kau memang sedang tidak hamil. Lihat saja perutmu itu. Mengaku hamil dari empat bulan yang lalu, tapi perutmu itu tetap saja kempes tidak ada isinya." jawaban Zaira membuat Mirna panik.
"Apa kau bilang ..." lirih Mirna.
***
__ADS_1
Like dan komennya mana nihh, biar semangat buat up 🥰