
Seorang pria tampan kini tengah merenung sendirian, ia sedang meratapi nasibnya yang tidak beruntung dalam kisah percintaannya. Ia hidup dalam bergelimang harta, tak ada hal sulit yang ia inginkan selama ini. Akan tetapi ia tidak beruntung dalam percintaannya, baru saja ia menyukai seorang perempuan dan baru saja ia membuat impian dengan orang itu. Namun, dalam sekejap mimpi dan harapannya itu langsung hancur begitu saja karena ternyata gadis yang ia cintai adalah milik orang lain, dan tidak mungkin untuk ia miliki.
Jupiter ingin mencoba untuk berbesar hati dan melupakan Zaira, dan menjadikannya sebagai kenangan terindah dalam hidupnya. Namanya kini akan dihapus dari dalam hatinya dan ia akan menutup hati untuk gadis manapun. Cukup satu Kali ia merasakan kecewa dan sakit hati karena wanita. Dan ia tidak ingin mengalami hal itu untuk kedua kali, jadi untuk saat ini Jupiter ingin menutup hatinya untuk gadis manapun.
Dan hal itu membuat kemarahan di hati Selena, ia merasa sangat geram karena pria yang sangat ia cintai tidak bisa menjadi miliknya. Terlebih lagi, Jupiter mengatakan jika ia tidak akan membuka hatinya untuk perempuan manapun.
Semakin kecewa saja Selena mendengarnya karena impian untuk hidup bahagia dengan Jupiter lenyap begitu saja. Dan orang yang bertanggung jawab untuk sakit hatinya itu adalah Zaira. Selena menyalahkan Zaira untuk nasib percintaannya yang gagal, karena sebelum kehadiran Zaira dalam hidupnya Jupiter, ia masih bisa ia dekati walaupun sikapnya masih sangat dingin padanya. Tidak seperti sekarang yang menolaknya dengan mentah-mentah, untuk itu Selena merencanakan sesuatu untuk berbuat jahat kepada Zaira. Dan Selena meyakinkan dirinya agar rencananya itu tidak boleh gagal dan Zaira harus mendapatkan balasan karena sudah menyakiti hatinya.
"Lihat saja Zaira, kau akan mendapatkan balasannya. Kau yang sudah menghancurkan hidupku. Dan kau harus mendapatkan balasannya!" geram Selena.
*
*
*
Di lain tempat, sepasang suami istri baru saja selesai dengan kegiatan panasnya malam ini. Siapa lagi kalau bukan Zayan dan Zaira.
Meskipun mereka sudah selesai melakukan pertempuran, hingga mengeluarkan tembakan beberapa kali tetap saja tidak membuat Zayan ingin menghentikan aksinya pada Zaira. Tangannya masih saja terus berbuat nakal dan menjelajah sana sini, hingga Zaira yang baru saja hendak memejamkan matanya karena kelelahan pun tidak jadi tertidur karena Zayan yang terus mengganggunya.
"Zayan hentikan, aku sangat mengantuk!" ucap Zaira.
"Kau tidur saja, aku hanya ingin menyentuh Istriku masa tidak boleh," jawab Zayan santai dan tersenyum nakal ke arah Zaira.
"Bukan tidak boleh, barusan kan sudah," rengek Zaira, tapi justru rengekan malah membuat gagang sapunya berdiri lagi dan menunjuk-nunjuk ingin bermain di lembah milik Zaira.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah puas denganmu, sayang." Zayan kemudian mengungkung Zaira dan memberikan kecupan kecil di bibir kecilnya yang menggemaskan. Dan juga menggigit leher Zaira hingga menimbulkan jejak berwarna merah yang sangat jelas di kulit putih mulus Zaira.
Wajah Zaira kembali memerah, entah kenapa meskipun sudah beberapa kali melakukannya dengan Zayan. Zaira masih saja merasa malu pada suaminya ini. Dan hal itu malah membuat Zayan menjadi tidak ingin berhenti untuk menyentuhnya.
"Zayan ... " lirih Zaira saat bibir Zayan mendarat lagi di benda kesukaannya. Dan tidak dipungkiri, Zaira pun menikmati setiap sentuhan suaminya yang selalu membuatnya terus melayang. Dan akhirnya acara aye-aye pun kembali terjadi antara Zayan dan juga Zaira. Mereka terus melakukannya lagi dan lagi sampai keduanya merasa sangat puas.
*
*
*
Pagi pun datang menjelang, dimana mentari pagi mulai menyinarkan cahaya nya yang hangat pada seluruh penduduk bumi. Burung-burung pun terdengar berkicau dengan sangat riang. Tetesan air embun mulai menguap dari dedaunan, terlihat seorang gadis cantik bermata indah, yang wajah cantik dan mata indahnya selalu ia tutupi dengan kacamatanya, keluar dari kontrakan sempitnya dan bersiap menuju tempat kerjanya.
Tapi kemudian senyumnya langsung surut saat tatapannya melihat ke arah motor miliknya. Akankah ia korbankan benda yang selalu membantunya kemana pun ia pergi ini, untuk ia tukar dengan pembayaran uang kontrakannya. Ada hati tidak rela saat berpikir ke arah sana. Akan tetapi ia tidak mempunyai jalan lain lagi, hanya motor ini saja barang berharga yang bisa ia jual. Jika saja ponselnya bisa ia jual, sudah pasti ia akan lebih memilih ponselnya yang akan ia jual.
Namun, ponselnya ini terlihat sangat mengenaskan. Benar yang di ucapkan oleh Rafa. Jika ponselnya lebih mirip barang antik saat jaman penjajahan. Retakannya sudah sana sini, bahkan speakernya juga sudah rusak. Masih untung ponselnya tidak perlu diikat oleh karet gelas sebagai ciri hp nya pedas atau tidak, seperti siomay saja pikirnya.
"Baiklah Rheina, kau harus semangat!" ucapnya pada diri sendiri, kemudian ia pun meninggalkan kontrakannya dengan hati penuh semangat. Tak lupa semua doa ia panjatkan berharap bantuan Tuhan datang padanya.
Setelah menghabiskan waktu sekitar lima belas menit, akhirnya ia sampai di perusahaan Guntara. Dengan cepat ia berganti pakaian dan menjalankan tugasnya pagi ini, sebagai petugas kebersihan. Ia bekerja dengan tekun, dan berharap jika pekerjaannya ini bisa berjalan dengan lancar dan ia tidak akan kesusahan lagi seperti apa yang ia rasakan sekarang.
*
*
__ADS_1
*
Di kantor, kini Rayan dan Reyhan serta anak-anak mereka sudah sampai. Penampilan mereka yang sangat mengesankan selalu membuat semua orang berdecak kagum saat melihatnya. Mereka semua sudah tahu Zayan sudah menikah, jadi mereka merasa tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendekatinya.
Satu-satunya harapan mereka adalah Rafa, ia juga tidak kalah tampan dari Zayan. Putra dari kudanil ini terkenal dengan keramahtamahannya. Ia dikenal dengan pria tampan dan murah senyum, dan selalu bersikap baik pada siapa pun.
Rheina yang sedang bekerja pun mendengar bisik-bisik dari rekan kerjanya yang lain, jika mereka sedang membicarakan putra-putra tampan dari pemilik perusahaan.
"Kau tahu, aku semakin betah saja bekerja di sini. Karena setiap pagi mataku akan di manjakan dengan pemandangan yang indah dan menyegarkan mata. Apalagi kalau bukan melihat tuan muda Zayan dan juga tuan muda Rafasya yang sangat tampan," ucap seorang rekan kerja Rheina. Rheina yang tidak tahu pun bertanya pada mereka.
"Memangnya siapa mereka?" tanya Rheina yang sibuk bekerja membersihkan ruangan meeting pagi itu.
"Mereka adalah anak-anak dari pemilik perusahaan ini, tuan Rayan dan juga tuan Reyhan. Mereka sangat tampan sekali, memangnya kau tidak pernah melihatnya?" Rheina pun menggelengkan kepalanya, karena ia memang tidak pernah melihat mereka berdua.
"Aku masih baru di sini, jadi belum tahu siapa mereka." jawab Rheina.
"Besok- besok datanglah lebih pagi, agar kau bisa melihat wajah mereka."
"Aku tidak mau, aku malas. Lagipula mereka tidak akan menyukaiku kalaupun aku melihatnya aku kan hanya upik abu," jawab Rheina sambil tertawa.
"Benar juga, kita ini hanya butiran debu di mata mereka." sambung rekan kerja Rheina, mereka semua pun tertawa di sana
****
Rajin banget Mimin, udah 2 bab aja 😌, kalian juga harus rajin kasih dukungan biar Mimin juga semangat up nya 😚😚😚💃
__ADS_1