
"Lalu kenapa Istriku hanya diam saja?" tanya Rafa.
"Nona baru sadar, Tuan. Jadi masih lemah dan belum bisa berkomunikasi seperti biasanya." tutur dokter itu memberi penjelasan kepada Rafa.
"Oh begitu ya," Dokter pun kembali memeriksa Rheina, Rafa pun tidak menggangu dan membiarkan dokter itu memeriksa istrinya dengan benar. Setelah selesai memeriksa Rheina dokter itu pun kembali bicara pada Rafa dan juga Nayla, ia ingin memberikan kejelasan lebih lanjut tentang keadaan dari Rheina.
"Maafkan saya sebelumnya, nona Rheina mengalami keretakan di tulang kakinya. Jadi mungkin untuk sementara nona belum bisa berjalan dan harus dibantu oleh kursi roda." jelas dokter itu.
"Tapi apakah nanti Rheina bisa sembuh, dokter?" tanya Nayla. Dokter pun tersenyum pada Nayla.
"Nona Rheina akan sembuh, hanya membutuhkan waktu untuk kembali seperti sediakala Nyonya," jawab dokter.
"Oh syukurlah, aku khawatir sekali. Bersabarlah Rheina kau akan sembuh sayang," ucap Nayla dan membelai lembut rambut Rheina. Rheina hanya menanggapinya dengan sedikit tersenyum. Ingin sekali ia bicara banyak dan menceritakan semuanya pada Rafa tentang rasa sakit yang ia rasakan. Namun, ia belum mampu mengatakannya. Bahkan untuk bernapas saja ia masih merasakan rasa sakit akibat benturan yang terjadi saat kecelakaan itu.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan muda , Nyonya." pamit dokter itu pada Nayla dan juga Rafa.
"Rafasya sayang, temani Istrimu ya. Mommy mau menemui dulu Daddy dan mengatakan kabar baik ini," ucap Nayla. Rafa pun mengangguk.
"Iya Mom," jawab Rafa, dan setelah itu Nayla pun meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan kepada Rafa dan juga Rheina.
Pandangan Rafa kini mengarah pada Rheina, ia melihat wanita yang sangat ia cintai itu, kini terbaring dengan lemah. Wajahnya pucat dan masih ada beberapa luka di wajahnya. Membuat Rafa menjadi tidak tega saat melihatnya. Rafa pun kemudian menghampiri Rheina dan duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sakit sekali," jawabnya lemah.
"Kenapa kau melakukan semua itu?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan orang-orang yang aku sayangi terluka," jawabnya perlahan.
"Tapi kau membuat hatiku terluka," ucap Rafa dengan sangat sedih. Ia masih terbayang bagaimana saat Rheina tertabrak dengan banyak darah dimana-mana. Dimana saat itu, ia merasakan tubuhnya sangat lemas detak jantungnya bahkan terasa berhenti saat melihat Rheina terkapar tidak berdaya.
"Maaf,"
"Tidak! Seharusnya aku yang meminta maaf karena tidak mampu menjagamu. Maafkan aku karena kelalaianku kini kau terluka." ucap Rafa. Rheina hanya tersenyum, sungguh ia merasa sangat terharu karena sudah disayangi banyak orang khususnya Rafa. Ia tidak menyangka jika suaminya yang belum lama ia kenal ini ternyata memiliki kepedulian yang sangat tinggi padanya.
'Terima kasih Tuhan, terima kasih karena telah mengirim orang-orang baik ini kepadaku. Terima kasih karena Engkau juga telah memberikanku seorang suami yang sangat baik. Aku sangat bersyukur dengan semua ini, terima kasih karena sudah memberikanku kesempatan untuk menjalani kehidupan ini." gumam Rheina dalam hati.
"Rafa," panggilnya lemah.
"Ada apa?"
"Terima kasih,"
"Untuk apa?"
"Kau memang harus serakah dalam mencintaiku, sayang. Karena cintaku padamu terlalu banyak dan juga terlalu besar."
"Benarkah?" tanya Rheina dengan wajah senang, karena ternyata suaminya juga mencintainya. Rafa menganngguk dan kini tangannya meraih tangan mungil Rheina untuk ia cium dan ia tempelkan di pipinya.
"Aku sangat mencintaimu, Rheina."
"Aku juga sangat mencintaimu, Rafasya." jawab Rheina, Rafa pun kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Rheina dan langsung mencium bibir pucat Rheina. Rafa mengecapnya dengan dalam dan lembut. Beberapa hari melihat Rheina tidak sadar membuat Rafa sangat merindukan istrinya.
***
__ADS_1
Di luar
"Benarkah Rheina sudah sadar?" tanya Reyhan pada Nayla.
"Iya sayang, dia sudah sadar aku sangat senang. Akhirnya Rheina sadar dan semoga Rafasya juga tidak bersedih lagi," jawab Nayla sambil menggandeng lengan kekar suaminya.
"Oh syukurlah, kalau begitu aku juga ingin melihatnya." ucap Reyhan, Nayla pun mengangguk dan tersenyum.
"Ayo, aku temani." mereka berdua pun kemudian masuk kedalam ruangan dimana Rheina dirawat. Namun mereka berdua dikejutkan oleh pemandangan yang membuat paru-paru mereka menjadi sesak. Karena ternyata anak dan menantunya itu sedang saling berciuman. Hingga Reyhan dan Nayla pun saling pandang.
"Sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat," ucap Reyhan.
"Sayang aku takut Rafa akan mengajak Rheina untuk mencetak anak sekarang, kasihan dia sedang sakit." ucap Nayla. Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Nayla, bagaimana pun jadi juga Reyhan adalah laki-laki. Yang dimana jika sudah mencium istrinya maka akan berakhir dengan ehem -ehem karena sudah pasti jika gagang sapunya akan berdiri tegak dan siap untuk meluncur.
Reyhan jadi takut, jika Rafa akan mengajak Rheina untuk ritual aye-aye. Jadi untuk itu Reyhan akan menghentikannya sekarang, sebelum semua itu terjadi.
"Rafasya!" panggil Reyhan, dengan cepat Rafa dan Rheina melepaskan pagutannya. Mereka berdua merasa malu karena sudah terpergok sedang berciuman.
"Dad ... "
"Astaga kau ini, istri baru saja sadar kau sudah mengajaknya main ayam-ayaman, apa jika kami tidak datang kau akan langsung mengajaknya kuda-kudaan! kudanil itu datang dan langsung memberikan ceramah pada kuda poni yang sedang terkejut itu.
"Aiihh tidak seperti itu, Dad!"
"Tutup rapat dulu gagang sapumu itu Rafa, kau jangan langsung mengajak Rheina main tembak-tembakan," tambah Nayla.
"Astaga Mom!"
__ADS_1
***
Jangan lupa besok senin waktunya kasih vote ya 😚😚😚