
Setelah keributan di rumah sakit, Jupiter dan Alex pun memutuskan untuk pulang. Mereka berdua merasa sudah cukup mereka berada di sana, dan menonton adegan yang menyayat hati. Dimana, hatinya yang kosong dan sunyi harus tersakiti oleh adegan - adegan kebahagiaan yang terus diperlihatkan oleh keluarga kuda poni itu.
"Tuan, kita akan pulang atau pergi ke rumah Tuan Brama?" tanya Alex.
"Kita pulang ke apartemenku saja, aku sedang malas berdebat dengan nenek sihir itu," jawab Jupiter.
"Baik, Tuan. Saya juga sedang tidak berselera berdebat dengan anak planet itu," ucap Alex, yang dimaksud Alex adalah Venus. Karena setiap bertemu dengan Venus, mulut Alex selalu mendadak gatal dan ingin menceramahi adik dari Tuannya ini. Aahh, sungguh menyebalkan memang. Di sini Alex jadi benar - benar berpikir, jika ia akan menanam benih, maka haruslah ditanam di lahan yang bagus. Agar bisa tumbuh dengan sempurna, karena jika ditanamkan di lahan yang tidak bagus bahkan gersang, maka hasilnya akan mengecewakan. Seperti adik dari Jupiter ini. Lahan Salma tidak baik untuk ditaburi benih unggul, karena hasilnya akan sangat buruk dan tidak berkualitas. Begitu pikir Alex.
"Hari ini tenagaku sudah habis dipakai berdebat dengan kuda poni menyebalkan itu, jadi hari ini aku ingin beristirahat saja dan tidak ingin menemui siapapun," ucap Jupiter.
"Baik Tuan," jawabnya.
*
*
*
Rafa hari ini sangat bahagia, karena ternyata gagang sapunya itu sangatlah hebat, karena benih yang ia tebar langsung tumbuh di rahim istrinya.
Senyum mengembang terus terpancar di wajahnya, begitu pun dengan Rheina dan juga Nayla. Mereka berdua sangat bahagia karena kehamilan Rheina. "Sayang, apa kita akan membeli dulu susu ibu hamil?" tanya Rafa.
"Kita langsung pulang saja, aku sudah lelah." jawab Rheina.
"Baiklah, kita pulang. Biar nanti membeli susu, aku sendiri saja." ucap Rafa dengan semangat. Nayla pun turut bahagia melihat putranya yang juga sangat bahagia.
"Jadilah ayah yang baik untuk anakmu, sayang." ucap Nayla.
"Pasti Mommy," jawab Rafa. Dengan segera Rafa pun membawa istri dan juga Mommy nya untuk pulang.
Saat sampai di rumah Rheina pun langsung istirahat karena ia masih merasa lelah dan juga merasa pusing. Dokter bilang itu tidak masalah, karena awal-awal kehamilan memang seperti itu. Setelah melihat Rheina tertidur, Rafa pun pergi ke supermarket untuk membeli susu ibu hamil dan membeli buah - buahan, serta membeli makanan yang dianjurkan oleh dokter tadi. Hatinya sangat bahagia, gadis hingga senyumannya tak lepas dari bibirnya.
__ADS_1
' Aku akan jadi ayah ... aku akan jadi ayah. Aku akan jadi ayah yang tampan dan keren,' ia terus saja merapalkan kata - kata itu dalam hatinya seperti sebuah mantra saja.
Setelah selesai membeli susu, ia pergi ke rak kue dan camilan-camilan yang menurutnya aman di konsumsi oleh ibu hamil. Setelah itu ia pergi mencari buah-buahan. Namu, tidak disangka jika ayam jantan juga sedang membeli buah untuk istrinya.
"Hei Zayan, kau juga ada di sini?" tanya Rafa, Zayan yang sedang membeli buah - buahan pun langsung menengok ke arah Rafa.
"Sedang apa kau di sini?" Zayan balik bertanya, dan dengan senyum mengembang tapi terlihat bodoh itu, Rafa memperlihatkan belanjaannya yang di sana banyak susu ibu hamil.
"Hei, kau membeli susu hamil untuk apa?" tanya Zayan.
"Tentu saja untuk istriku," jawab Rafa dengan bangganya.
"Wahhh... kura-kura kecil itu hamil?"
"Yupz..."
"Astaga, aku tidak menyangka jika kecebongmu itu mendarat dengan sempurna dalam waktu dekat ini," ucap Zayan, mengingat ia dulu dan Zaira sering melakukannya akan tetapi Zaira baru hamil setelah beberapa bulan ia bercocok tanam. Mungkin saat itu karena Zaira masih kuliah dan sering kelelahan, hingga kecebong anak ayam itu tidak langsung mendarat.
"Itu karena dulu kecebongku berguru pada Dom Toretto seorang pembalap hebat,"
"Biar saja, yang terpenting dia terlihat sebagai pembalap keren di mataku," sanggahnya.
"Terserah kau sajalah, tapi ngomong - ngomong selamat ya. Kau akan jadi ayah sama sepertiku," ucap Zayan juga dengan bangga.
"Kita akan jadi ayah yang tampan dan keren, seperti Daddy kita." jawab Rafa.
"Kau benar," jawab Zayan sambil tertawa, hingga keduanya tanpa sadar terus berbelanja dan sambil sesekali mengobrol tentang kehamilan. Hingga semua orang menatapnya dengan aneh, karena mereka sangat antusias membicarakannya. Mudah-mudahan saja mereka tidak dianggap kaum adu pedang oleh orang-orang yang ada di sana, karena saking semangatnya membahas tentang hamil dan ngidam.
*
*
__ADS_1
*
Saat sampai di dalam apartemen, Jupiter langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ia merasa sangat lelah, entahlah mungkin karena tadi ia terus berdebat dengan kuda poni dan istrinya, hingga membuat tubuhnya terasa lemas karena sudah mengeluarkan banyak tenaga serta banyak menguras emosinya.
Alex pun kemudian membuatkan coklat panas untuk Jupiter, agar Tuannya ini bisa sedikit rileks setelah meminum coklat panasnya.
"Minumlah Tuan," tawar Alex.
"Terima kasih," jawabnya sambil membolak-balikan jas nya dan kemudian sesekali ia mencium jas yang tadi ia pakai. Baru kali ini Alex melihat Jupiter bertindak seperti orang bodoh, sedang apa pikirnya.
"Apa ada yang salah dengan jas mu Tuan?" tanya Alex.
"Aku tidak tahu, tapi dari tadi aku mencium jas kerjaku sama sekali tidak bau. Hanya tercium aroma parfum ku yang sangat mahal. Bahkan tadi pagi aku memakai parfum yang aku beli dari Paris, tapi kenapa perempuan kecil itu mengatakan kalau aku ini bau," ucapnya. Astaga, jadi Tuannya yang polos dan baik hati ini masih belum paham dengan apa yang diucapkan oleh Alex rupanya.
"Begini Tuan, terkadang seorang perempuan yang sedang hamil itu. Ia tidak bisa bersikap dengan normal seperti biasanya. Itu karena terjadi perubahan hormon dalam tubuhnya.
"Maksudmu?"
"Maksud saya, anda itu tidak bau. Hanya memang penciuman Rheina saja yang salah. Kurang lebih begitu maksudnya." jelas Alex. Jupiter terlihat diam dan berpikir.
"Dari mana kau tahu? Apa kau pernah menghamili seseorang?" pertanyaan menyakitkan lolos begitu saja dari Tuannya yang selalu ia banggakan. Bagaimana ia pernah menghamili seseorang, jika kekasih saja ia belum punya. Bahkan ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya mencium seorang gadis. Jadi bagaimana bisa ia menyumbangkan benihnya jika bercocok tanam saja ia belum pernah.
"Saya tidak pernah menghamili seseorang, Tuan. Bahkan saya tidak tahu rasanya bagaimana menebar benih di sebuah lahan,'" jawabnya sedih
"Lalu, dari mana kau tahu tentang hal itu?" tanya Jupiter.
"Waktu itu sepupu perempuan ku sedang hamil, dan ia mengalami hal itu." jawabnya sedih.
"Oh begitu ya, sudahlah jangan bersedih. Karena aku pun belum pernah merasakan bagaimana rasanya menghamili seseorang," jawab Jupiter lemas.
Akhirnya dua jomblo itu kini bertukar pikiran dan saling mengungkapkan perasaan tentang betapa kesepiannya hidupnya selama ini. Kasihan ...
__ADS_1
****
Tenang aja Jupi-jupi sama Ali nanti Mimin kasih kalian jodoh di rumah kalian ya, karena ini khusus rumahnya Zayan sama Rafa 😚😚😚