
Zayan keluar kamar dengan wajah sumringah, bagaimana ia tidak senang. Jika saat di dalam kamar ia sudah mendapatkan nutrisi dari Zaira. Tak apa gagang sapunya tak menyelam tapi ia sudah mendapatkan nutrisi lain, yaitu minum susu murni langsung dari pabriknya.
Rayan melihat kelakuan anaknya yang menebar senyum dari tadi pun berpikir, jika anaknya sudah mencetak cucu dengan menantunya. Terbukti dari wajahnya yang sangat ceria sedari ia keluar dari kamar. Padahal ia tadi tengah konser solo di kamar mandi. Karena lahannya sedang terkena banjir.
Sebenarnya acara buka segel pabrik bayi hanya Rayan dan Zayan lah yang tahu. Rayan pun tidak memberitahu Nara, karena Nara pasti melarang Zayan untuk mengolah lahannya dulu.
Menurut Nara, Zayan dan Zaira masih terlalu muda untuk melakukan ehem - ehem. Nara ingin jika mereka berdua lulus dulu kuliah dan menggapai impian mereka. Akan tetapi, Rayan sebagai pihak yang memiliki cangkul untuk mengolah lahan, paham betul bagaimana rasanya jika gagang sapu sudah mual-mual dan ingin muntah.
Sebagai seorang ayah yang pengertian tentu Rayan tidak melarang anaknya ingin main cilukba dengan istrinya. Lagipula mereka sudah sah menjadi suami istri, tidak masalah jika mereka melakukannya bukan. Jikalau pun Zaira hamil, Zayan sebagai suaminya pasti akan bertanggung jawab. Dan Rayan, ia akan menjadi seorang kakek yang paling tampan.
"Zayan, kenapa Zaira tidak ikut makan malam?" tanya Nara.
"Dia sedang sakit," jawab Zayan.
"Sakit? Kenapa kau tidak bilang kalau istrimu sedang sakit! Astaga ... Zayan kau ini ya!" Nara kesal pada putranya, bisa-bisanya istrinya sedang sakit, tapi ia malah santai dan terlihat ceria. Membuat Nara semakin kesal saja dibuatnya.
"Nara pun kemudian, meminta pelayan untuk mengantar makanan ke kamar Zaira. Rencananya setelah makan malam, Nara akan melihat keadaan menantunya. Nara sangat menyayangi Zaira, seperti menyayangi putrinya sendiri. Dalam diri Zaira, Nara seolah melihat cerminan dari dirinya sendiri. Dimana ia harus bekerja keras untuk bertahan hidup, sama seperti Zaira. Bedanya, Zaira masih memiliki ayah kandung. Tapi sayangnya, ayah kandung Zaira tak menyayanginya dengan sepenuh hati dan lebih peduli terhadap istri barunya. Sungguh miris memang, seorang ayah lebih menyayangi istri barunya dari pada anak - anaknya.
"Ceria sekali," ucap Rafa dengan senyum agak mengejek Zayan.
"Aku sedang bahagia, pokoknya." jawab Zayan masih dengan senyum manisnya.
"Bahagia karena apa? Ayo ceritakan padaku?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Nanti saja ceritanya, di sini banyak orang. Aku takut mereka menguping," bisik Zayan. Namun, dengan menyebalkannya ia sengaja berbisik dengan suara yang dibuat agak kencang.
Rayan memberi kode pada putranya, untuk tidak menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Zaira. Zayan pun paham dengan maksud hari Rayan, Zayan pun tidak bermaksud untuk menceritakan hal itu kepada Rafa. Karena tidak mungkin akan menceritakan apa yang ia lakukan dengan istrinya tadi di dalam kamarnya. Ia hanya ingin mengerjai Rafa saja, begitulah kode yang Zayan berikan kepada Rayan. Rayan yang paham akan maksud dari putranya pun merasa lega. Ia takut jika anaknya itu, akan seperti istrinya yang selalu keceplosan jika bicara.
"Kau tidak ada niatan menceritakan kebahagiaanmu dihadapan kami?" tanya Reyhan, sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Tidak Uncle, ini urusan anak muda. Uncle tidak akan paham," jawab Zayan.
"Hei! Aku ini masih muda! Jangan bilang kalau aku sudah tua, aku tersinggung!" kudanil itu memang selalu sewot jika membicarakan masalah umur. Ia tidak terima jika seseorang dirinya dianggap tua oleh orang lain.
"Iya, Uncle memang masih muda bahkan Uncle masih terlihat seperti anak muda," jawab Zayan, mendengar sebuah pujian terlontar untuk dirinya, hati kudanil mendadak di penuhi oleh bunga-bunga yang indah.
"Benarkan, kalau aku ini memang masih muda dan juga tampan," ucapnya dengan bangga.
"Benar sayang, kau memang masih terlihat masih muda dan juga sangat tampan. Kau terlihat seperti anak muda saja, anak muda jaman dulu maksudnya," ucap Nayla sambil tertawa.
Bunga-bunga yang baru saja bermekaran di hatinya mendadak, menjadi kuncup kembali gara-gara ucapan Nayla yang memang selalu jujur. Mereka semua tertawa mendengar ucapan Nayla yang mengatakan jika Reyhan mirip dengan anak muda jaman dulu.
Padahal sebenarnya Reyhan masih terlihat sangat tampan dan juga gagah di usianya yang sekarang. Mereka semua hanya memang suka bercanda, apalagi menggoda Reyhan yang mudah sekali marah dan juga tersinggung. Itu adalah hiburan tersendiri bagi mereka semua.
Selepas makan malam, Nara pun kemudian menemui menantunya yang berada di dalam kamar. Sejak tadi siang saat pulang dari kuliah, Zaira memang tidak keluar dari kamarnya. Saat itu Nara berpikir jika Zaira memang sedang kelelahan. Namun, mendengar jika Zaira a sedang sakit, Nara pun menjadi khawatir, dan ia ingin mengecek keadaan menantunya itu sekarang.
Sedangkan Zayan kini ia sedang berdua dengan Rafa di taman belakang, tempat kesukaan mereka berdua. "Hei Zayan! Ayolah ceritakan padaku, ada apa sebenarnya. Kau terlihat bahagia sekali dari tadi? Apa kau berhasil mengerjai makhluk planet itu?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Tidak! Ada hal yang lebih menyenangkan daripada mengerjai makhluk planet itu," jawab Zayan.
"Lalu?"
"Lalu apa? Sudahlah kau tidak usah tahu," jawab Zayan tanpa memedulikan Rafa yang sangat penasaran padanya.
"Ahh kau tidak asik, padahal aku hanya ingin tahu saja kenapa sepupuku ini bahagia sekali?" anak kuda poni ini pun merajuk pada anak ayam.
"Aku sengaja tidak menceritakannya padamu, karena aku sangat peduli padamu. Kau kan masih jomblo, tidak baik menceritakan kebahagiaan suami istri pada jomblo sepertimu, aku takut hati dan gagang sapumu bergetar setelah mendengar aku bercerita.
"Sial4n kau!" umpat Rafa. Zayan pun menertawakan Rafa, yang wajahnya terlihat kesal.
"Kau tahu Zayan, melihatmu dengan Zaira aku jadi ingin menikah juga. Sepertinya sangat asik jika kita tidur dan ada gadis yang kita peluk, apa aku buat masalah saja ya sepertimu. Jadi aku dinikahkan.
"Jangan berbuat bodoh! Sudahlah nikmati masa jomblo mu itu!"
"Dasar ayam menyebalkan!"
Nara kini sudah berada di dalam kamar Zayan, ia melihat Zaira tengah meringkuk dan matanya terpejam. Sepertinya ia tertidur pikir Nara. Bahkan makan malam yang di bawa oleh pelayan pun belum tersentuh sedikit pun. Nara memegang kening Nara, dan Nara merasa jika Zaira tidaklah demam.
Sebenarnya Zaira tidak sakit, ia hanya lelah karena tadi siang pabrik susu murni miliknya di obrak - abrik oleh suaminya. Zayan tidak mau berhenti menyentuhnya, membuat Zaira sangat kelelahan. Padahal itu belum sampai inti, akan tetapi anak ayam berubah menjadi anak buaya jika sedang minum susu rupanya. Untuk itu Zaira merasa sangat lelah dan akhirnya ia tertidur, itu pun ia hanya menggunakan kacamata pelindung saja. Karena ia terlalu lelah untuk memakai pakaiannya. Biarlah begitu, lagi pula Zayan sudah melihatnya dan bahkan menyentuhnya.
Saat Zaira bergerak, selimut yang ia pakai pun sedikit melorot dan memperlihatkan banyak tanda cinta ditubuhnya. Dan itu sudah pasti kelakuan Zayan. Nara terkejut saat melihat tubuh putih itu kini menjadi berwarna-warni gara kelakuan putranya. Pantas saja jika Zaira tidak keluar dari kamarnya, karena ia sudah nganu-nganu dengan putranya, pikir Nara.
__ADS_1
"Ooh astaga ... dasar anak ayam mesum!"