
Setelah acara meeting selesai, Jupiter dan Alex pergi dengan segera dari perusahaan Guntara. Mereka tidak ingin berpapasan dengan Zayan maupun dengan Rafa. Karena hari ini moo Jupiter memang sedang tidak bagus. Meskipun Alex siap membantu Jupiter untuk melawan mulut petasan dan kuda poni, tapi tetap saja Jupiter ingin menghindar dari kedua makhluk aneh itu. Itu Jupiter lakukan demi ketenangan hati dah juga kesehatan jiwanya. Karena jika menghadapi dua makhluk aneh itu maka, siapapun harus siap secara mental dan juga fisik, karena ucapan Zayan dan juga Rafa tidak baik untuk kesehatan jantung.
Zayan dan Rafa yang melihat kepergian Jupiter dan Alex dengan terburu-buru pun, menatap heran pada keduanya. Keduanya berjalan dengan sangat cepat dan tidak mau menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan langkah mereka pun terlihat sangat tergesa-gesa, seolah sedang memburu sesuatu.
"Kenapa mereka buru-buru sekali?" tanya Rafa.
"Mungkin perutnya sedang mulas," jawab Zayan.
"Astaga padahal di sini banyak toilet, tapi mereka tidak menggunakannya. Dasar aneh!" sambung Rafa kembali.
"Mungkin tidak terbiasa," jawab Zayan asal lagi, Reyhan yang mendengar ucapan mereka berdua pun merasa sangat gemas. Bisa-bisanya mereka berpikir jika makhluk planet itu mulas, dan pergi terburu- buru karena sedang menahan buang air. Kenapa tidak berpikir jika mereka sedang ada keperluan lain atau berpikiran positif yang lainnya saja, kenapa harus berpikir hal yang menggelikan .
"Hei kalian berdua! Bisakah kalian bicara dengan normal, atau setidaknya berpikiran positif pada orang. Jangan mengira yang tidak-tidak. Asal kalian tahu saja, pikiran kalian berdua itu sangat menggelikan." Kudanil ini menggeleng - gelengkan kepalanya, melihat kelakuan dari anak dan juga keponakannya yang selalu bersikap aneh seperti ibu mereka.
"Maafkan aku Uncle, justru kami berpikiran positif tentang planet Jupi-jupi itu. Karena jika kami berpikiran negatif tentangnya, maka kami pasti berpikir jika ia pergi karena merasa minder apalagi padaku, planet itu pasti merasa sangat malu karena sudah kalah saing denganku," ucap Zayan dengan sangat percaya diri.
"Memangnya kenapa, dia harus minder dan juga menghindar darimu hei anak ayam durjana!" ucap Reyhan dengan gemas.
"Itu karena dia kalah saing denganku untuk mendapatkan Zaira!" jawab Zayan masih percaya diri.
"Dia kalah saing denganmu bukan karena kau jauh lebih baik darinya, tapi karena istrimu Zaira adalah wanita baik yang mampu menerima mu apa adanya. Dan juga dia adalah istri setia yang tidak mau mengkhianati suaminya," ucap Reyhan dengan sangat jujur.
"Benarkah seperti itu?" Reyhan pun mengangguk.
"Berarti aku adalah suami yang beruntung karena mendapatkan istri yang sangat setia," ucap Zayan.
__ADS_1
"Terserah kau saja! Aku pusing jika bicara denganmu." ucap Reyhan dan kemudian pergi meninggalkan Zayan dan juga Rafa di sana. Tadinya Reyhan pikir jika anak ayam ini akan sadar dengan kelakuannya, nyatanya otak ayamnya malah semakin kusut saja. Entah makan apa dia setiap hari, hingga bicaranya selalu menyebalkan.
"Zayan, ikut Daddy sebentar ada yang ingin Daddy bicarakan. Ini tentang pekerjaan, dan proyek yang akan kita bangun sekarang, " ucap Rayan yang sedari tadi fokus pada pekerjaannya.
"Oke Dad, kuda poni kau mau ikut denganku?" tanya Zayan.
"Tidak, terima kasih. Perutku sudah sangat lapar dan aku ingin mencari makan," jawab Rafa, karena memang perutnya sudah sangat lapar dan ia ingin mencari makan dulu. Dan Rafa memutuskan untuk makan di kantin kantor saja.
Saat hendak ke kantin, tiba - tiba perut Rafa terasa tidak nyaman. Dan ia pun memutuskan untuk pergi ke toilet dulu, "Gara-gara aku mengejek manusia planet mulas, kini malah perut aku yang mulas," gumam Rafa sambil terus berjalan menuju toilet yang ada di kantor itu.
Setelah selesai semuanya, Rafa pun keluar dan menuju kantin. Namun, telinganya mendengar suara yang tidak asing. Ia mendengar suara cempreng seorang perempuan yang Rafa pernah dengar suara itu.
"Aku duluan ya," ucapnya.
Terlihat seorang gadis menggunakan pakaian cleaning servis sedang berjalan sambil membawa sebuah tas. Rasa penasaran kuda poni itu pun tak berhenti sampai di situ, ia masih terus mengikuti gadis itu hingga akhirnya gadis itu duduk di taman kantor yang ada di bagian belakang.
Gadis itu terlihat sedang mengeluarkan sebuah kotak, yang Rafa pikir itu adalah sebuah kotak makanan. Ia pun kemudian menselonjorkan kakinya dan kemudian ia minum, setelah itu ia membuka sebuah kotak nasi dan gadis itu pun langsung memakannya. Ia terlihat sangat menikmati makan siangnya itu.
"Kenapa makanannya terlihat sangat enak, aku jadi mau." Rafa pun kemudian berjalan menghampiri gadis itu. Dan setelah dilihat dari dekat, barulah Rafa ingat jika gadis itu adalah gadis yang ia temui tadi pagi.
"Hei kau, gadis Kismin yang matre kan?" tanya Rafa tiba - tiba. Gadis yang sedang makan itu pun langsung menengadahkan kepalanya melihat ke arah Rafa.
"Bukankah kau adalah pria kaya yang kurang pintar itu," jawabnya sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya tanpa merasa malu dihadapannya ada seorang pria tampan yang sedang melihatnya.
"Ckk, aku bukan kurang pintar. Aku hanya kurang paham dengan bahasa-bahasa yang kau ucapkan itu. Rafa berbicara sambil berdecak sebal dan kemudian duduk di samping gadis itu.
__ADS_1
"Alasan saja, dan sedang apa kau di sini, Tuan?" tanyanya.
"Aku bekerja sampingan di sini, aku ini seorang mahasiswa dan sambil kuliah aku juga bekerja," jawab Rafa tanpa memperkenalkan siapa ia sebenarnya.
"Maksudnya kau magang, begitu?"
"Anggap saja begitu, lumayan kan uangnya bisa aku gunakan untuk..."
"Biaya kuliahmu, kan?" tanyanya sambil terus makan tanpa mempedulikan adanya Rafa di sana. Gadis itu bahkan tidak mau repot-repot untuk bersikap anggun di depan Rafa. Karena baginya, lebih baik bersikap apa adanya saja. Karena itu membuatnya lebih nyaman, dan jika ia bersikap imut pun untuk apa pikirnya. Tidak akan ada laki-laki yang mau dekat dengannya, karena ia merasa tidak akan ada pria yang mau dekat dengan gadis sepertinya yang tidak cantik dan juga tidak kaya.
Sebenarnya Rafa ingin mengatakan jika biaya kuliahnya sudah beres dan itu pun semuanya diurus oleh Reyhan, Daddy nya. Tugasnya di kampus hanyalah untuk duduk manis dan belajar dengan baik, mencari pacar itupun dia tidak pernah melakukannya karena mahasiswi di sana sama sekali tidak ada yang membuatnya tertarik.
"Iya anggap saja begitu," jawab Rafa dan tiba-tiba gadis itu mengeluarkan uang yang tadi di berikan oleh Rafa tadi.
"Ini ambil uangmu, pergunakan dengan baik untuk kuliahmu," tapi tentu saja uang itu langsung ditolak oleh Rafa. Ia sama sekali tidak merasa keberatan telah memberikan uang itu pada gadis yang ada di sampingnya kini.
"Ambil saja uang itu, kau tidak usah khawatir aku masih sangat banyak ngomong segitu hanya sekali untukku makan," jawab berapa dengan santai. Namun, tidak dengan gadis itu yang sangat terkejut mendengar jika uang sebanyak itu hanya untuk satu kali makan saja. ya Bahkan bisa menggunakan uang itu untuk memberi 5 kardus mie instan. Dan itu bisa untuknya beberapa kali makan, dan untuk bekal makanan 2 bulan ke depan, pikirnya.
"Apa! Oh ya ampun kau ternyata orang yang sangat boros. Aku harap orangtuamu baik-baik saja karena mempunyai anak yang boros sepertimu. Apa kau tidak kasihan kepada mereka yang sudah susah payah mencari uang untukmu. Dan kau hanya menghabiskan uang itu untuk satu kali makan saja, aku benar-benar tidak percaya dengan ada orang sepertimu di dunia ini!" sewotnya.
"Apa! kau ini bicara apa, sihh?" tanya Rafa yang memang tidak mengerti dan ucapan gadis ini. Menurutnya pengeluaran yang ia lakukan setiap harinya itu adalah pengeluaran yang biasa-biasa saja. Bahkan Reyhan dan Nayla pun tidak pernah mempermasalah hal itu. Jadi Kenapa gadis ini harus marah-marah pikir Rafa.
"Oh ya ampun, lihatlah pria kurang pintar ini. Ia bahkan masih bisa bersikap tenang setelah membuat ginjalku terkejut!
__ADS_1