
Waktu sudah memasuki jam makan siang, Rafa pun menghubungi Rheina untuk menagih makanannya. Dan Rheina pun sudah siap dengan makanan yang ia janjikan untuk Rafa. Zayan yang melihat sepupunya meninggalkan dirinya pun bertanya pada Rafa, jika ia akan pergi kemana.
"Kuda poni, kau mau kemana?" tanya Zayan, padahal tadinya ia akan mengajaknya makan siang di restoran bersama dengan Reyhan dan juga Rayan.
"Aku mau makan siang," jawab Rafa.
"Kita akan makan siang di restoran X dengan Daddy dan juga Uncle." ucap Zayan, tapi Rafa menggelengkan kepalanya.
"Kalian saja aku malas yang pergi," jawabnya. Tanpa merasa curiga apa pun kepada sepupunya, Zayan pun menyetujuinya. Mungkin Zayan berpikir jika ia memang sedang malas dan lebih memilih makan di tempat yang dekat saja.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi." pamit Zayan.
"Oke," Rafa pun kemudian melangkahkan kakinya ke taman yang terletak di belakang kantor untuk menemui Rheina. Di sana Rafa melihat Rheina tengah duduk dan terlihat seperti sedang melamun dan memikirkan sesuatu. Namun, Rafa tidak terlalu memikirkannya, karena memang jika seseorang sedang sendirian pastilah mereka akan terlihat melamun. Karena tidak mungkin akan bicara sendiri bukan, karena hal seperti itu hanya akan dilakukan oleh makhluk setengah ons saja.
"Hei! Rere," panggil Rafa, Rheina pun langsung menengok ke arah Rafa yang tengah tersenyum kearahnya.
"Kenapa kau lama sekali sih?" protes Rheina, bukan apa-apa di sana Rheina adalah seorang karyawan biasa. Jadi jam istirahat nya itu terbatas.
"Maaf, tadi pekerjaanku banyak," ucap Rafa, dengan tidak sabar ia mengambil sebuah kotak makan yang ia pikir adalah makanan untuknya.
"Ini untukku kan?" tanya Rafa, Rheina pun menganggukan kepalanya.
"Wah aku sudah tidak sabar untuk memakannya, apa kau sudah makan?"
"Aku sudah makan dari tadi, aku kasihan pada cacing- cacing di perutku, mereka akan kelaparan jika aku menunggumu."
"Tidak masalah, yang penting aku bisa makan," Jawabnya sambil menyuapkan nasi dan persatuan kacang kedelai yang ia inginkan dari kemarin. Dan seperti dugaannya, makanan yang dibuatkan oleh Rheina itu sangatlah nikmat dan pas di lidahnya. Meskipun makanannya sudah dingin, tapi itu tidak mengurangi rasa dari makanan itu. Hingga tanpa sadar Rafa makan dengan lahapnya, entah ia lapar atau ia suka. Yang jelas tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menghabiskan makanannya.
"Terima kasih, makanannya sangat enak," ucap Rafa.
"Sama-sama, aku juga terima kasih karena berkat uang darimu aku juga bisa makan enak," jawab Rheina sambil tertawa. Ia bahkan tidak malu mengatakan hal itu pada Rafa.
__ADS_1
"Apa besok kau mau membawakan makanan untukku lagi?" tanya Rafa.
"Lagi?" tanya Rheina penasaran, ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena pemuda tampan di hadapannya menginginkan makanan buatannya lagi.
"Iya, kau tenang saja aku akan membayarmu," Rafa mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah untuk Rheina.
"Ini ambillah,"
"Hei tunggu dulu, ini terlalu banyak," protes Rheina.
"Hei kura-kura mata duitan, aku memintamu untuk membawakan makanan untukku setiap hari. Kau bebas mengganti menu nya apa saja. Aku bukan orang pemilih, dan anggap saja kau mendapatkan pekerjaan sampingan. Lumayan uangnya bisa kau kumpulkan untuk membeli ponsel baru. Dan ponselmu yang lama itu, masukan saja ke museum barang antik. Astaga aku geli melihatnya," ejek Rafa, sebenarnya Rafa bisa saja membelikan Rheina ponsel, tapi ia takut jika Rheina salah paham. Dan mengira jika Rafa adalah pria hidung belang yang suka menggoda wanita.
"Oh baiklah, kalau begitu. Aku jadi bisa makan enak setiap hari, kau tahu berkat kau aku bisa makan ayam. Padahal biasanya aku selalu makan dengan bubuk ayam," ucap Rheina sambil tergelak. Ia jadi membayangkan dimana ia sering makan dengan bubuk ayam atau bubuk sapi yang ia beli dengan harga murah, dan ia membeli dalam bentuk sachet saja di warung dekat kontrakannya.
Nasi hangat yang ia campur dengan bubuk ayam itu terasa gurih dan nikmat di lidahnya. Setidaknya ia selalu bersyukur masih bisa makan nasi, walaupun hanya dengan lauk taburan bumbu dapur yang memiliki rasa asin gurih itu.
"Bubuk ayam, apa itu?" tanya Rafa penasaran.
"Kau anak orang kaya tidak akan tahu, jadi diamlah!"
Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Rafa, meskipun Rafa adalah anak orang kaya tetapi ia bukan orang yang suka membeda - bedakan orang Bahkan ia terlihat mau berteman dengan Rheina dan memakan makanan yang Rheina buat. Bahkan ia selalu memberi Rheina uang dengan alasan untuk membayar makanan yang ia makan, padahal yang sebenarnya adalah Rafa memberikan uang itu karena merasa kasihan kepadanya, walaupun sebenarnya Ia juga sangat menyukai makanan yang dibuat oleh Rheina.
"Iya-iya kau orang yang sangat baik, terima kasih," ucap Rheina
"Oh ya boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rheina.
"Apa?"
"Apa benar di perusahaan ini ada dua pria tampan, dan dia adalah anak dari pemilik dari perusahaan ini?" tanya Rheina.
Mendengar kata tampan yang ditujukan padanya, hidung Rafa mendadak kembang kempis seperti cicak yang tengah push up, apa ia setampan itu pikirnya.
__ADS_1
"Darimana kau tahu?" tanya Rafa.
"Seluruh karyawan di sini sangat terpesona dengan mereka, aku hanya penasaran saja seperti apa mereka. Tapi katanya tuan muda Zayan sudah menikah ya?"
"Ya, anak ayam itu sudah menikah," jawab Rafa.
"Apa! Anak ayam, anak ayam apa?" tanya Rheina kaget.
"Julukannya itu anak ayam, masa kau tidak tahu," jawab Rafa. Titisan kuda poni ini memang sangat aneh tentu saja Rheina tidak tahu, karena Rheina tidak pernah bergaul dengan mereka yang saling menyebut anak ayam dan juga kuda poni. Pikiran titisan kuda poni ini memang sangat aneh rupanya.
"Aku tidak tahu, dan kau jangan bicara sembarangan!"
"Kenapa?
"Nanti ada yang mendengarnya tahu!" ucap Rheina penuh penekanan.
"Memangnya kenapa kalau ada yang mendengarnya?" tanya Rafa dengan kencang.
"Kau bisa dipecat, kau dan aku end ..." ucapnya seperti sedang mengungkapkan kata putus pada kekasih. Tapi bukannya diam, titisan kuda poni ini malah terbahak.
"Oh astaga, kuda poni ini boros sekali mengeluarkan suara!" Rheina jadi gemas sendiri dengan sikap Rafa, ia kini malah takut ada yang mendengarnya jika pria yang bersamanya ini sudah memberi julukan yang tidak pantas untuk anak pemilik perusahaan, yaitu anak ayam.
"Kau tidak usah takut, kau tenang saja." Rafa berusaha menenangkan Rheina.
"Bagaimana mana aku bisa tenang jika, kau terus berkata seperti itu. Aku takut dipecat jika ada yang mendengarnya.
"Kau tidak usah takut, tidak akan ada yang marah kalau aku mengatakan jika Zayan adalah a .... eemmmptt!!!"
Rheina langsung membekap mulut Rafa yang berisik terus dari tadi, "diam jangan berisik atau kau akan aku telan!"
"Oh ya ampun," gumam Rafa, gadis dihadapannya ini belum tahu saja jika ia adalah sepupunya dari orang yang ia sebut anak ayam itu.
__ADS_1
***
Ya ampun aku khilaf, aku up tiga bab 😌 semoga kalian juga khilaf kasih dukungan sama novel aku dengan sebanyak-banyaknya 😚😚😚