Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 92


__ADS_3

Akhirnya Zein dan juga Aliana tetap menjadi pasangan suami istri. Namun, mereka berdua menjalani kehidupan masing-masing di rumah masing-masing. Akan tetapi komunikasi tak pernah putus dari mereka berdua. Meskipun cinta belum hadir pada diri keduanya, mereka berdua kini bersahabat dengan baik, apalagi sikap Aliana yang mudah bergaul menjadikan Zein bisa bersahabat dengan baik.


Dan untuk Tama, ayah dari Zaira dan juga Zein ini mendapatkan hukuman dari Rayan dan juga Lian. Ia dibuat tidak berdaya begitu pun dengan Mirna. Setelah itu mereka berdua diasingkan ke tempat yang jauh agar kedua makhluk durjana ini tidak menggangu kehidupan anak-anaknya lagi.


Dengan tubuh yang penuh luka, mereka seolah dibuang begitu saja ke tempat yang jauh dan juga asing. Hingga kini mereka berdua merasa seperti seorang manusia buangan saja, mereka benar-benar menyesal telah berbuat seperti ini. Karena kehidupan yang dijalani oleh mereka berdua sekarang itu, menjadi sangatlah parah dari sebelum-sebelumnya. Hidup di tempat baru tanpa pekerjaan baru. Mereka masih beruntung Rayan masih memberikan sebuah tempat tinggal walaupun tempat itu sangat kecil dan juga pengap. Namun, setidaknya mereka tak perlu menyewa tempat tinggal untuk tidur.


*


*


*


Kehamilan Zaira kini sudah menginjak usia sembilan bulan, perkiraan melahirkannya pun tinggal beberapa hari lagi. Zayan sebagai calon ayah siaga, selalu berada di samping Zaira. Ia khawatir jika Zaira tiba-tiba melahirkan dan ia tidak ada disampingnya. Untuk itulah semua pekerjaannya di kantor ia kerjakan di rumah.


Perutnya yang semakin membesar membuat Zaira semakin kesusahan untuk bergerak, bahkan untuk berjalan- jalan saja ia tidak bisa bertahan lama. Karena tubuhnya mudah sekali lelah, dan jika ia kelelahan maka ia akan merasakan pusing dan juga mual-mual.


Saat ini Zayan sedang menunggui Zaira berjalan-jalan kecil di taman rumah yang sangat luas itu. Zaira berjalan sambil memegangi pinggangnya karena ia merasa pegal dan juga merasa tidak nyaman dibagian sana. Zayan sudah meminta Zaira untuk duduk saja, akan tetapi Zaira menolak karena menurutnya ia baru saja berjalan sebentar dan ia tidak boleh lemah dan manja hanya karena hal kecil, begitu pikirnya.


"Sayang, istirahatlah dulu." ucap Zayan dan menepuk bangku yanga da di sampingnya.


"Nanti saja sebentar lagi," jawab Zaira.


"Kau sudah lelah sayang, ayo aku khawatir melihatmu bolak-balik membawa perut yang besar," ucap Zayan, dari pada mendengar suami cerewetnya terus bicara, ia pun kemudian menuruti keinginan suaminya dan duduk disamping Zayan.

__ADS_1


"Baiklah Tuan Muda, aku sudah duduk dan istirahat. Sekarang kau mau apa?" tanya Zaira. Zayan tersenyum gemas pada istrinya yang sangat menggemaskan ini. Ia pun kemudian memeluk Zaira dan mengusap perutnya yang terasa kencang itu.


"Aku hanya khawatir padamu sayang, lihatlah anakku sudah kelelahan di dalam sana," ucap Zayan, Zaira pun tertawa.


"Dari mana kau tahu, dia kelelahan atau tidak?" tanyanya.


"Aku ini ayahnya, apa kau lupa? Jika kau tidak percaya, ayo aku akan memeriksanya jika kau tidak keberatan," goda Zayan. Zairamengerti apa yang dimaksud suaminya ini adalah tentang ehem-ehem berkedok pemeriksaan, dasar ayam mesum memang.


"Perutku sudah sebesar ini, apa kau tidak melihatnya. Untuk berdiri saja susah dan sekarang kau mengajakku untuk itu dasar menyebalkan," Zaira mencebikkan bibirnya, tapi bibir kecil itu langsung disambar oleh Zayan. Ia tidak tahan melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan itu.


*


*


*


"Aaaarrrrkkkhhhhh ... " Zaira mencengkram tangan Zayan dengan kuat, hingga Zayan pun langsung terbangun.


"Zaira kau kenapa?" tanya Zayan panik karena melihat wajah Zaira yang pucat dan terlihat menahan sakit.


"Zayan, perutku sakit." jawabnya sambil meringis. Zayan pun langsung terbangun dan mempersiapkan semuanya. Tak lupa ia membangunkan supir untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Zayan yang panik tidak sadar sudah membuat keributan hingga hampir membangunkan seluruh penghuni rumah. Rayan dan Nara yang melihat putranya panik pun, langsung pergi ke arah kamar Zaira. Nara dan Rayan melihat Zaira tengah meringis kesakitan.


"Zaira," panggil Nara.

__ADS_1


"Mommy ... " jawab Zaira sambil meringis dan memegangi perutnya.


"Kau akan melahirkan sayang," ucap Nara dan Zaira pun hanya mengangguk saja. Zayan sudah tiba di kamarnya dan dengan segera menggendong Zaira untuk dibawa ke rumah sakit.


"Ayo sayang," ucap Zayan.


"Biar Daddy saja yang menyetir," ucap Rayan, Zayan pun menyetujuinya ia ingin segera sampai di rumah sakit berharap istrinya ini tidak merasa kesakitan lagi.


Nara dan yang lainnya hanya melihat kepergian Zayan dan juga Zaira yang diantar oleh Rayan.


"Aku sudah menelepon rumah sakit, semua sudah dipersiapkan." ucap Reyhan.


"Terima kasih," ucap Nara.


"Iya, tidak masalah." jawab Reyhan. Nayla pun kemudian melihat menantunya juga yang sedang hamil besar.


"Tidak lama lagi, cucuku juga akan lahir." ucap Nayla dan mengusap perut Rheina yang membuncit.


"Iya Mommy, tapi aku jadi takut." ucap Rheina yang melihat Zaira kesakitan karena akan melahirkan.


"Kau tidak usah takut, suamimu yang tampan akan selalu menjagamu. Jika dokter tidak bisa menghilangkan rasa sakitmu nanti, maka aku sendiri yang akan memarahinya." ucap kuda poni itu. Hingga Reyhan pun berdecak sebal mendengarnya.


"Kau pikir melahirkan itu mudah, proses mengeluarkan bayi itu tak semudah saat kau mencetaknya!" ucap Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2