
Setelah pergulatannya dengan Rafa, tubuh Rheina terasa lelah dan juga terasa sangat remuk. Ternyata suaminya ini sangat ganas jika bercinta, bahkan tubuhnya kini dipenuhi dengan warna akibat perbuatan nakal bibir kuda poni itu.
Rheina ingin membersihkan dirinya, akan tetapi ia tidak bisa bangun bahkan berjalan. Jadi terpaksa ia membangunkan Rafa yang masih asik dengan mimpinya.
"Rafa," panggil Rheina. Namun, yang dipanggil hanya diam saja. Rheina pun berusaha sekali lagi. Ia mencolek pipinya Rafa, dan akhirnya suaminya yang tampan itu membuka matanya.
"Ada apa?"
"Antar aku ke kamar mandi, aku ingin membersihkan tubuhku," jawab Rheina malu-malu. Rafa dibuat gemas dengan sikap istri kecilnya ini. seandainya ia tidak merasa kasihan maka sebenarnya Rafa ingin mengulangi sekali lagi adegan yang sudah mereka lakukan. Akan tetapi, melihat Rheina yang terlihat kelelahan. Dan juga ia yang belum sembuh sepenuhnya membuat berapa mengurungkan niatnya, dan ia ingin membantu Rheina membersihkan diri.
"Baiklah, ayo aku akan membantumu membersihkan diri," jawab Rafa dan kemudian menggendong Rheina, tanpa menggunakan apapun dan membawanya ke kamar mandi.
"Rafa ... Oh ya ampun aku malu melihatmu," Rheina menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Jangan malu sayang, kau kan sudah melihat dan juga merasakannya," jawab Rafa dengan santai.
"Oh ya ampun ..."
*
*
*
Malam ini Jupiter pergi ke rumahnya untuk bertemu dengan ayahnya. Ia memang belum tinggal di sana, karena ia masih ragu. Meskipun ayahnya Bramana sangat menginginkan ia tinggal di sana, akan tetapi Jupiter masih menolaknya. Dengan alasan nanti saja kalau ia menikah maka ia akan tinggal di sana. Padahal Jupiter sendiri tidak tahu kapan ia akan menikah, bahkan calon pengantinnya saja ia belum punya.
"Kapan kau akan membawa calon istrimu kemari, Jupiter?" tanya Bramana tidak sabar.
"Mungkin nanti, kalau aku dan dia sudah siap," jawab Jupiter tenang, pria ini memang selalu mampu bersikap tenang walaupun sebenarnya ia sedang berbohong. Hingga lawan bicaranya tidak mampu untuk menelisik hatinya.
"Jangan bilang jika wanita yang kau cintai itu milik orang lain," ejek Venus.
"Jika memang iya kenapa? Apa ada masalah denganmu?" tanya Jupiter dengan pandangan tajam pada Venus.
"Wooww, jadi tebakanku itu tepat. Kakak ..." ucapnya dengan penuh penekanan saat ia memanggilnya kakak.
__ADS_1
"Kenapa kau mencintai gadis milik orang lain, Jupiter?" tanya Bramana. Namun, Jupiter malah diam saja ia pun bingung harus mengatakan apa. Karena pada saat ia menemui Zaira, ia sama sekali tidak tahu jika Zaira sudah memiliki suami. Jadi saat itu ia tidak menahan perasaannya pada perempuan cantik itu.
"Itu karena Tuan muda, tidak tahu jika gadis itu sudah menjadi milik orang lain. Akan tetapi jika gadis itu memang tidak bahagia dengan pasangannya, maka Tuan muda akan dengan senang hati menerimanya." jawab Alex yang juga ikut-ikutan berbohong, ia memang jujur di awal kalimat karena Jupiter tidak bisa menahan hatinya saat melihat gadis itu. Akan tetapi, tidak mungkin Zaira tidak bahagia bersama Zayan. Mereka bahkan sudah mencetak anak, akan tetapi untuk saat ini biarlah Alex mengatakan apapun yang ia inginkan. Toh Jupiter tidak pandai mengarang cerita.
"Itu artinya, kau sudah mengenal baik gadis itu?" tanya Bramana.
"Iya," jawab Jupiter tenang sambil meminum kopinya yang mulai dingin itu.
"Seperti tidak ada gadis lain saja," ejek Salma dan menatap sini kepada Jupiter.
"Cinta itu tidak bisa dipaksakan, bukankah begitu Pah. Kenapa Papa menikah dengan Tante Salma, seperti tidak ada wanita lain saja," jawab Jupiter, jawaban yang sangat menohok di hati Salma.
"Kau ..."
"Sudahlah Salma, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Begitupun aku yang sangat mencintaimu. Sama hal nya seperti Jupiter yang mencintai gadis pujaannya," jawab Bramana.
"Sayangnya dia bukan gadis dan dia juga istri orang," gumam Jupiter dalam hati.
"Terserah," jawab Salma yang memang selalu memperlihatkan jika ia memang tidak suka pada Jupiter.
*
*
Di perjalanan pulang, Jupiter terlihat melamun sepertinya ia merasa bingung keinginan Papanya yang memintanya untuk menikah.
"Alex, apa kau punya saran dimana aku mencari calon istri?" tanya Jupiter.
"Jika saya tahu, mungkin status saya bukan jomblo sekarang, Tuan." jawab Alex sambil tergelak, kini ia sedang menyetir dan mengantarkan Jupiter pulang ke apartemennya.
"Ternyata kau tidak laku," ucap Jupiter.
"Oh astaga, bukan aku tidak laku Tuan. Tapi aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku belum tenang jika anda saja masih belum tenang, dan aku tidak setega itu pada anda. Aku takut anda cemburu jika aku mempunyai kekasih duluan. Bukankah aku ini asistent paling setia, dan selalu memperhatikan perasaan anda. Kita ini sehati Tuan." jawabnya
"Menggelikan, aku tidak mau sehati denganmu. Cari saja pacar jika kau mau, aku tidak melarangnya." ucap Jupiter sambil memijat pangkal hidungnya, ia benar-benar merasa pusing dengan semua ini. Bukan maksud Jupiter serakah, akan tetapi ia tidak mau jika harta Bramana ada dalam genggaman wanita ular seperti Salma. Jadi ia mencoba menerima tawaran dari Bramana untuk mengelola perusahaan dan juga tinggal di rumah itu.
__ADS_1
"Gadis yang akan menikah denganku, haruslah gadis yang kuat. Karena ada wanita ular yang pasti akan mengusik hidupnya." gumamnya.
*
*
Malam ini Rheina sedang belajar berjalan dengan perlahan, meskipun sebenarnya ia masih merasa sakit tapi ia terus memaksakan diri, karena ia ingin cepat bisa berjalan.
"Rheina jangan memaksakan diri, pelan-pelan saja," ucap Rafa.
"Aku ingin cepat-cepat bisa berjalan, Rafa. Aku sudah bosan menggunakaan kursi roda," jawabnya.
"Tapi jangan terlalu dipaksakan juga, bagaimana kalau nanti kakimu bertambah sakit dan proses berjalanmu akan semakin lama," ucap Rafa.
"Aiih, kau jangan menakutiku!"
"Aku tidak menakutimu," jawab Rafa dan menghampiri Rheina serta langsung menggendong tubuh mungil itu dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Sudahlah, diam dan istirahat. Ini sudah malam," ucap Rafa dan kemudian merebahkan Rheina dan juga mengungkungnya.
"Hei, bukankah kau menyuruhku istirahat," ucap Rheina dan mendorong tubuh kokoh itu agar tidak menghimpitnya.
"Sepertinya aku berubah pikiran, kita bermain dulu," ajak Rafa dan kemudian mencium bibir dan leher Rheina dan memberikan tanda cintanya di sana.
"Rafa ..."
"Apa sayang,"
"Jangan begini," ucap Rheina, karena tangannya mulai tidak bisa dikondisikan.
"Diamlah aku sedang memijatmu, kau pasti sangat kelelahan," Rheina langsung mengerucutkan bibirnya karena suaminya ini bukanlah sedang memijatnya. Akan tetapi sedang bermain dengan buah mangga miliknya.
"Itu bukan memijat dasar kuda poni!"
***
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan juga komentar serta giftnya 🌹😚😚