
Zayan pergi tanpa menunggu Zaira, ia ingin tahu bagaimana sikap Zaira. Apa Zaira akan menyusulnya atau tidak, ia hanya ingin tahu saja bagaimana sikap Zaira padanya.
"Zayan, kenapa kau meninggalkan Istrimu? Bagaimana kalau istrimu di culik oleh planet jelek itu," ucap Rafa, yang kini sedang berjalan meninggalkan restoran bersama dengan Zayan. Zayan pun menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Rafa.
"Aku meninggalkannya hanya ingin tahu bagaimana perasaannya padaku, atau setidaknya aku ingin tahu siapa yang akan dia pilih. Aku atau manusia Saturnus itu," jawab Zayan.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan sikap Zaira, misalkan dia memilihmu atau dia memilih planet itu?" tanya Rafa penasaran.
"Jika dia memilihku maka aku akan mempertahankannya, dan jika dia memilih Saturnus itu maka aku akan memaksanya!" jawab Zayan mantap.
"Wahhh, kau benar-benar sudah terpikat padanya ya?"
"Hei kuda poni! Apa kau buta? Mickey itu sangat cantik dan juga menggemaskan, aku tidak tahan berada didekatnya tahu!"
"Benar juga, istrimu itu memang cantik, pantas saja manusia planet itu terus-menerus mengejarnya,"
"Jangan memujinya, nanti kau bisa jatuh cinta padanya!" Zayan tidak terima dengan pujian Rafa terhadap istrinya. Cukup manusia planet itu saja yang menjadi saingannya. Ia tidak mau jika sepupunya ikut-ikutan mengejar istrinya.
"Aku ini makhluk waras, mana mungkin aku mengejar istri sepupuku sendiri!" Rafa menoyor kepala Zayan karena kesal.
"Dia datang - dia datang," bisik Zayan dan kemudian ia langsung naik ke dalam mobil dan pura-pura marah dan kecewa pada Zaira.
Zaira langsung berlari mengikuti Zayan naik ke dalam mobil. Rafa yang hendak masuk kedalam mobil untuk duduk di samping Zayan, di dorong oleh Zaira.
"Minggir kuda poni, aku mau duduk disamping suamiku," ucap Zaira. Zayan yang mendengar kata suamiku dari bibir kecil Zaira. Hati Zayan menjadi hangat, ia tersenyum sedikit hanya sedikit bahkan tidak ada yang menyadari senyum Zayan yang hanya sedikit itu.
"Zayan," panggil Zaira, tapi Zayan dengan gaya sok jual mahalnya hanya diam dan tidak menyahut panggilan Zaira.
"Ayo pulang aku lapar!" ajak Rafa. Tanpa menjawab ucapan istri dan sepupunya ini Zayan menjalankan mobilnya. Jika saja saat ini ada yang melihat wajah tengil Zayan mendadak serius dan terlihat marah, sudah dipastikan jika mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak.
Tapi ini demi memikat hati istri tersayang, Zayan rela memasang wajah yang terlihat galak. Padahal yang sedang tidak Zaira tahu adalah jika Zayan kini sedang menahan tawanya.
*
*
*
Di restoran
__ADS_1
Jupiter mengepalkan tangannya, sungguh ia merasa kecewa pada Zaira. Jupiter berpikir bagaimana caranya agar Zaira menjadi miliknya. Untuk pertama kalinya ia merasa bahagia saat bersama dengan wanita dan ingin memilikinya, akan tetapi ternyata ia jatuh dan patah hati secara bersamaan. Dan membuat hatinya hancur berantakan.
Alex bahkan tidak mau mengeluarkan sepatah kata pun, nyalinya menciut melihat wajah Jupiter yang sedang menahan amarahnya. Ia hanya diam membisu menunggu perintah selanjutnya saja.
"Zaira... Kau harus menjadi milikku" gumamnya.
*
*
*
dari perjalanan hingga sampai rumah Yayan tidak mengeluarkan sepatah kata pun ia masih menunjukkan perasaan kesal dan juga kecewa kepada Zaira.
Bahkan saat mandi pun Zayan menyiapkan pakaiannya sendiri dan tidak mau memakai pakaian yang disiapkan oleh Zaira Sungguh hati Zaira sangat sakit melihat Zayan seperti itu.
Jika tahu kejadiannya akan begini, maka Zaira tidak akan pernah mau menerima tawaran Jupiter padahal niatnya sama sekali tidak ada untuk selingkuh bahkan mempunyai perasaan terhadap Jupiter pun tidak. Zaira tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya, bahkan menganggap teman pun tidak. Ia hanya merasa mempunyai hutang Budi saja kepadanya tidak lebih dari itu.
Saat makan malam pun Zayan tidak mengeluarkan suara, padahal biasanya dia selalu berisik, membuat semua orang heran kecuali Rafa dan Zaira yang mengetahui kenapa Zayan seperti itu. Dengan versi pikiran masing-masing tentunya.
"Zayan, apa kau sedang sariawan?" tanya Nara.
"Aneh sekali anak ayam ini tidak mengeluarkan suara," gumam Nara.
"Biar saja, mungkin dia sedang dalam tahap metamorfosis," jawab Reyhan sekenanya. Mendengar ucapan Reyhan tentu saja Nara tidak terima.
"Hei, kudanil kau pikir anakku itu pangeran kodok. Kenapa dia harus metamorfosis segala?" tanya Nara dengan kesal. Reyhan yang sedang mengunyah nasi hampir saja tersedak mendengar ucapan induk ayam yang kesal.
"Oh ya ampun! Yang mengalami metamorfosis itu, kupu-kupu yang cantik bukan pangeran kodok. Aahh anak ayam ini, tidak pernah pintar dari dulu!" jawab Reyhan sewot.
"Jangan memarahi istriku dan mengatakan jika ia bodoh! Istriku tidak bodoh, dia hanya kurang pintar saja!" Rayan membela istri kesayangannya.
"Astaga, kalian memang menyebalkan dari dulu!" Reyhan geleng-geleng kepala melihat pasangan mantan orang depresi ini.
"Sabar sayang jangan marah - marah, aku takut nanti kau terkena darah tinggi lalu stroke dan kemudian meninggal. Aku tidak mau menjadi janda," ucap Nayla sambil mengusap bahu Reyhan. Namun, bukannya tenang kudanil ini malah kesal mendengar ucapan istrinya yang selalu tidak enak didengar ujungnya.
"Apa kau bilang? Aku stroke? Aku tidak akan membiarkanmu menjadi janda, aku tidak rela kau menikah lagi dan Rafa mempunyai Papa tiri!"
"Kalau begitu jangan marah-marah," ucap Nayla.
__ADS_1
"Baiklah sayang, aku akan mengontrol emosiku," ucap Reyhan membelai lembut rambut Nayla.
Melihat pasangan di hadapannya saling mencintai dan menyayangi membuat Zaira semakin ingin memperbaiki hubungannya dengan Zayan. Meskipun rasa cinta itu belum tumbuh, akan tetapi Zaira berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan selalu menjaga pernikahannya bersama dengan Zayan.
Cukuplah hanya satu kali pernikahan yang dia lakukan, ia tidak ingin melakukan pernikahan lagi bersama dengan orang lain. Apalagi melihat keluarga Zayan yang sangat saling menyayangi dan juga mencintai, dan juga begitu peduli terhadapnya. Sungguh sangat jarang sekali ada orang-orang seperti baik seperti mereka, pikir Zaira.
Zaira pun kemudian melihat kearah Zayan, ' baiklah nanti di kamar aku akan membujuknya,' gumam Zaira dalam hati.
Setelah acara makan malam selesai, Zaira dan Zayan kembali ke kamar mereka. Saat di kamar Zayan bahkan masih belum mengeluarkan suaranya pada Zaira.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, serta mencuci tangan dan kakinya Zayan langsung naik ke tempat tidur tanpa mempedulikan Zaira.
Zaira hanya menghela napas kasar, ternyata anak ayam ini sangat lama jika marah. Itu adalah poin penting yang harus Zaira ingat.
"Zayan," panggil Zaira. Sangat aneh rasanya jika setiap malam ia selalu dipeluk oleh Zayan, akan tetapi malam ini Zayan tidur membelakanginya tanpa berniat ingin memeluknya seperti malam-malam sebelumnya.
Zayan yang memang sudah sangat mengantuk langsung tidur. Namun, baru saja Zayan menutup matanya sebuah tangan kecil memeluk pinggangnya. Tubuh kecil itu mendekap punggung kokohnya. Zayan yang menyadari jika Zaira memeluknya langsung tersenyum padanya.
"Zayan, jangan marah padaku. Aku sangat sedih didiamkan olehmu. Lebih baik kau memarahiku seperti biasanya. Jangan begini," ucap Zaira sedih. Zayan merasakan punggungnya basah , mungkin Zaira menangis. Zayan yang tidak tega pun membalikan tubuhnya dan melihat Zaira yang sedang mengusap matanya yang basah.
"Maaf," Zaira mengatakannya sambil menangis karena ia sudah tidak tahan lagi menahan air matanya.
Zayan pun kemudian mengusap air mata di pipi mulus Zaira, dan tanpa mengatakan apapun. Ia langsung mencium bibir Zaira dengan lembut. Tidak ada penolakan dari Zaira, ia pun menikmati dan membalas ciuman Zayan.
Lama mereka berciuman dan kemudian Zayan pun melepaskan pagutannya. Karena ia merasa tubuhnya tiba-tiba terasa panas, dan menginginkan hal yang lebih dari itu.
"Tidurlah, " ucap Zayan dan kemudian ia memeluk Zaira dan mendekapnya seperti biasa. Hati Zaira kini menghangat lagi, karena kini dirinya ada dalam pelukan Zayan. Namun baru saja Zaira memejamkan matanya, terasa ada benda tumpul yang menusuk. Apa mungkin Zayan tidur membawa sebuah tongkat, tapi untuk apa? Pikir Zaira.
"Zayan," panggil Zaira.
"Ada apa?" jawab Zayan, sambil mengatupkan bibirnya karena ia sedang menahan sesuatu yang kini telah bergejolak di sana.
"Apa kau tidur membawa tongkat, karena dibawah sana ada sesuatu yang keras dan terasa menusuk?" tanya Zaira dengan polosnya.
'Itu adalah tongkat sakti ku Zaira. Oh ya ampun kenapa jadi aku yang tersiksa,' gumam Zayan dalam hati.
***
Ini udah seribu kata lebih ya 🤭😆😆, Mimin khilaf ngetiknya banyak banget 😌. Mimin juga berharap kalian khilaf kasih like dan komentar juga gift nya, biar Mimin gak sedih 🙃 dukung dong, dengan like, komentar dan juga gift ya 😘😘😘❤️
__ADS_1