
Di dalam mobil Zayan memberi siraman rohani pada Zaira, tentang Kenapa ia tidak memberitahu tentang keadaan adiknya dan juga kenapa ia tidak meminta tolong kepada Zayan. Zayan protes karena ia jadi merasa menjadi suami yang tidak berguna. Gaya bicaranya yang sok bijak sangat tidak cocok dengan pribadi Zayan yang jauh dari kata bijak dan kalem.
"Aku tadi panik, makanya aku tidak ingat padamu," jujur Zaira.
"Apa! Oh astaga... kau membuatku tersinggung Mickey. Aku ini suamimu ... istrikuuuuuu!" ucap Zayan menggebu-gebu dan penuh penekanan, seolah mengingatkan jika Zaira adalah seorang wanita bersuami.
Entah kenapa sejak melihat pria tadi pikirannya menjadi kacau, dan dadanya terasa panas serta otaknya pun terasa tegang. Ia tidak suka Mickey nya dipandang oleh pria lain..
"Kau tahu, untung saja Aku adalah orang yang mempunyai kesabaran seluas samudra dan setinggi langit di angkasa. Hingga tadi saat aku ingin mencongkel matanya, aku hanya diam dan menahan hatiku," ucapnya lagi sok bijak. Zein yang mendengar ceramah dari kakak iparnya hanya menahan senyum saja, ia merasa jika kakak iparnya itu sangat lucu jika sedang memarahi kakaknya.
Zayan terlihat sangat cerewet dan juga sangat mengkhawatirkan kakaknya, dan itu yang membuat hati Zein menjadi sangat senang. Dia bahagia jika kakaknya dicintai dan juga disayangi. Karena itulah yang Zein lihat dari cara Zayan memarahi kakaknya, sedangkan Rafa dia hanya duduk diam sambil menutup telinganya dengan headset karena ia tidak mau mendengar omelan dari sepupunya yang menyebalkan itu.
"Iya aku tahu aku sudah menikah, dan aku tidak lupa jika aku sudah menikah dengan orang yang aneh sepertimu! Apa kau puas Tuan Muda yang tampan!" ucap Zaira yang kesal dan kemudian mencubit pipi Zayan karena gemas.
"Lepaskan! jangan coba-coba melukai wajah suamimu yang tampan ini, aku takut karena cubitanmu merusak struktur wajah tampanku yang sudah sempurna," Zayan langsung mengambil cermin kecil yang selalu ia bawa kemana-mana untuk melihat wajahnya, ia sangat takut terluka oleh cubitan yang dilakukan oleh istrinya.
"Haahh, kau memang benar-benar makhluk aneh!"
__ADS_1
"Yang penting aku tampan, dan oh ya... terima kasih pujiannya karena tadi kau sudah mengatakan jika aku ini tampan."
'Dasar gila,' batin ketiga orang itu yang mendengar ucapan Zayan.
*
*
*
"Cari tahu kebenarannya. Aku ingin berita yang jelas dan juga pasti, siapa sebenarnya gadis itu dan juga pria yang membawanya pergi. Apa benar mereka sudah menikah atau hanya bualan pria saja!" ucap pria itu, yang memang ternyata ia penasaran dengan siapa itu Zaira dan juga Zayan, sepertinya pria itu mulai tertarik kepada Zaira. Dan dia tidak suka jika sesuatu yang ia sukai dia klaim milik oleh orang lain.
"Zaira ... Nama yang sangat cantik," gumamnya.
*
*
__ADS_1
*
Tak lama mereka berempat pun sampai di kediaman Guntara, dan khusus untuk Zein malam ini Zein pun akan menginap di sana. Dan itu atas permintaan Zayan dan Zayan tidak ingin ada penolakan dari Zein. Dan Zein pun menurut saja karena ia juga sangat merindukan kakaknya.
Zayan minta pelayan untuk menyiapkan kamar untuk Zein, dan memintanya untuk memastikan jika kamar yang akan ditinggali oleh Zein adalah kamar yang sangat nyaman. Agar adik iparnya itu bisa tidur dengan nyenyak. Dan yang utama adalah tidak mengganggu kakaknya yang mulai malam ini akan tidur dengannya.
Saat Zaira, melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba tangannya ditarik oleh Zayan. Dan Zayan pun langsung membawa Zaira ke kamarnya.
"Hei apa yang kau lakukan? Kenapa aku dibawa kesini?" tanya Zaira.
"Dengarkan aku Mickey, mulai malam ini kita akan tidur satu kamar denganku."
"Apa! Oh tidak, maafkan aku tapi aku lebih suka tidur di kamarku sendiri dan aku tidak mau tidur denganmu," tolak Zaira.
"Oh tidak bisa, keputusanku sudah bulat. Mulai malam ini kita akan tidur satu kamar, bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Bahwa kita akan memulai semuanya dari awal dengan yang sederhana. Yaitu kita akan tidur satu kamar yang sama dan tempat tidur yang sama dan di selimut yang sama," ucap Zayan tersenyum jahil.
"Apa! Oh tidak ..."
__ADS_1
"Ayo istriku, kita tidur aku sudah mengantuk," ajak Zayan sambil tersenyum jahil.