Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 52


__ADS_3

"Memangnya apa yang aku lakukan sampai paru-paru mu itu terkejut?" tanya Rafa.


"Sudah salah dengar, salah bicara juga dasar orang kaya aneh. Sepertinya dia terlalu banyak minum vitamin," gerutunya sambil meneruskan makannya.


"Hei kau ini sedang apa? Sedang membaca mantra?" ejek Rafa.


"Aku sedang makan, apa kau buta?" ketusnya.


"Oh astaga, galak sekali Doraemon ini!" Namun, gadis itu tidak memperdulikannya.


"Ngomong- ngomong makanan yang kau makan itu sepertinya rasanya enak. Boleh kau buatkan?" tanya Rafa.


"Ini hanya nasi dan tempe goreng, tidak akan cocok untuk lidahmu," jawabnya acuh.


"Tapi aku belum makan, dan perutku sangat lapar." ucapnya.


"Lalu?" tanya gadis itu heran, jangan-jangan pria kaya yang ada dihadapannya ini akan meminta jatah makanannya. Sedangkan nasinya saja sudah habis dan hanya tinggal ada sepotong tempe goreng saja.


"Belikan aku makanan sana, aku lapar. Makanan yang enak segar dan juga praktis serta nikmat,"


"Makanan apa itu?" gadis ini malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terserah kau saja, yang penting belikan saja dan definisi makanannya seperti yang aku katakan barusan," ucap Rafa sambil memberikan dua lembar uang berwarna merah pada gadis dihadapannya.


"Banyak sekali," gadis itu menerima uang dari Rafa, ia merasa sama sekali tidak masalah jika ada orang kantor yang memintanya membelikan makanan. Karena itu sudah menjadi salah satu pekerjaannya di sana. Jadi dengan senang hati ia pun mengiyakan permintaan Rafa.


"Baiklah, tunggu ya," ia pun dengan segera membereskan makanan yang barusan ia makan, tapi malah dihentikan oleh Rafa. "Kenapa?"


Tanpa bicara Rafa pun dengan segera mengambil tempe goreng yang tinggal satu potong itu dan langsung memakannya. "Perutku lapar jadi jangan melihatku seperti itu!" bicaranya pada gadis itu, karena sudah menatap Rafa dengan tatapan aneh.


Padahal yang sebenarnya adalah Rafa sangat menginginkan tempe goreng miliknya. "Enak," gumam Rafa dalam hati.


"Ya sudah, aku berangkat dulu,"


"Hei!"


"Apalagi kau ini cerewet sekali!" tanyanya, yang gadis itu tahu adalah Rafa hanya seorang pegawai magang dan sikap Rafa santai membuatnya menjadi tidak sungkan.


"Beli dua porsi, untuk ku dan juga untukmu!" ucap Rafa, gadis itu pun tersenyum karena memang perutnya masih terasa lapar dan Rafa tahu itu.


"Oke Bos ..." gadis itu tertawa dan kemudian pergi meninggalkan Rafa yang sedang duduk sendiri di sana.


"Dasar kura-kura mata duitan," gumam Rafa.


*


*


*

__ADS_1


"Dimana kuda poni itu?" tanya Zayan yang baru saja selesai membicarakan masalah pekerjaan dengan Rayan.


"Mungkin dia sedang makan siang," jawab Rayan.


"Padahal aku mau mengajaknya makan siang," ucap Rayan.


"Mungkin dia sudah lapar dan makan siang duluan, pesankan saja makan siang. Daddy juga lapar," titah Rayan.


Zayan pun mengangguk dan kemudian meminta orang untuk membawa makanan ke ruangannya, karena ia merasa malas untuk pergi keluar ruangan.


*


*


*


Di luar tak lama Rafa menunggu gadis itu kemudian datang dan membawa dua porsi makanan yang ia tunggu. Ia juga menenteng minumannya sekalian. Rafa tersenyum karena akhirnya makanan yang ia tunggu-tunggu pun datang.


"Ini makanannya," ia duduk di samping Rafa dan mengeluarkan makanan yang ia bawa. Dan ternyata itu adalah mie instan berbentuk cup.


"Terima kasih?" Rafa melihat dan membuka tutup cup mie instan itu dan langsung antusias melihatnya.


"Waahh apa ini, apa kau ayam? Kenapa kau bertelur di sini?" tanya Rafa dengan antusias.


"Enak saja! Itu spesial tahu makanya pakai telur," Jawabnya sambil mengaduk-aduk mie nya Rafa pun melihat ke arah mie instan miliknya yang agak berbeda karena ada potongan rawit di sana.


"Aku takut kau tidak suka pedas, makanya aku tidak menambahkan itu,"


"Aku sangat suka pedas, ayo tukar makanannya!" Rafa pun mengambil makanan gadis itu dan menukarnya, serta buru-buru memakannya karena takut direbut lagi.


"Dasar menyebalkan," ia pun terpaksa memakan mie instan yang baru di tukar oleh Rafa.


Rafa pun sangat menikmati makan siangnya kali ini. Definisi yang ia sebutkan ternyata ada dalam makanan yang sedang ia makan sekarang.


"Oh iya, ini kembaliannya." gadis yang namanya belum Rafa ketahui itu.


"Ambil saja untukmu," jawab Rafa dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Hei! Tapi ini terlalu banyak," jawabnya merasa sungkan. Rafa pun sejenak melihat ke arah gadis itu.


"Kalau begitu buatkan aku makan siang besok, aku juga ingin kau menggoreng kacang berdempetan seperti yang barusan,"


"Maksudmu tempe?"


"Iya itu," jawab Rafa masih anteng dengan makanannya.


"Susah sekali cara bicaramu, Apa mau sekalian aku buatkan goreng sari kedelai?" tanyanya.


"Apa itu?" tanya Rafa karena ia baru mendengar nama makanan sari kedelai yang digoreng. Apa bisa pikirnya.

__ADS_1


"Tahu?" jawabnya sambil tertawa.


"Tinggal mengatakan tahu saja kau harus memutar lidah dulu ke Roma!"


"Aku mengikuti cara bicaramu!"


"Jangan menjiplak, itu tidak boleh pakai ide sendiri saja!"


"Dasar pelit,"


"Kau harus kreatif,"


"Iya .. iya, dasar kuda poni cerewet!" mendengar nama kuda poni disebut Rafa pun langsung menatap gadis itu dengan tajam. Dan ia pun karena merasa dipandang langsung melihat ke arah Rafa.


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?' tanya nya merasa heran pada Rafa.


"Darimana kau tahu julukanku, kuda poni?" tanya Rafa penasaran, pasalnya yang memanggil Rafa seperti itu hanya keluarganya saja.


"Oh itu, daru ballpoint yang menempel di jas mu," ucapnya sambil tertawa. Rafa pun kemudian melihat ke arah Ballpointnya yang menempel di jas nya, dan kemudian menganggukan kepalanya mengerti.


"Jangan lupa besok bawa makanan untukku ya,"


"Tapi bagaimana aku menghubungimu?"


"Pakai ponsel! Memangnya kau mau menghubungiku menggunakan api unggun!" kuda poni itu sangat sewot mungkin karena lidahnya terasa panas karena mie nya sangat pedas.


"Berapa nomormu?" tanya Rafa, ia menyimpan mie nya yang sudah habis ia makan tak bersisa. Gadis itu pun mengeluarkan ponselnya yang sudah ada retakan sana sini karena terkena gempa. Raga yang melihatnya langsung tertawa.


"Oh astaga, ponsel jaman penjajahan saja masih kau pakai. Lihatlah bahkan bekas tembak4nnya saja masih sangat jelas." Rafa terus tertawa melihat ponsel antik itu.


"Berhenti tertawa, kau sangat menyebalkan!"


"Oh ya siapa namamu?" tanya Rafa.


"Namaku Rheina," jawabnya dengan wajah yang mengerucut sebal.


"Baiklah, aku akan menambahkan namamu di sini." ucap Rafa sambil mengetikan nama kontak di ponselnya.


Kura-kura mata duitan, itulah nama kontak yang ada di ponsel Rafa.


"Dan siapa namamu?" tanya Rheina.


"Namaku Rafa,"


"Baiklah," Rheina pun mengetikan nama Rafa disana.


Kuda poni menyebalkan itulah nama kontak yang ada di ponsel Rheina. Dan keduanya pun tersenyum memandang ponsel mereka masing-masing.


__ADS_1


__ADS_2