Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 67


__ADS_3

"Jadi Istriku sedang hamil?" tanya Zayan.


"Benar Tuan, istri anda sedang hamil. Usia kandungannya sekitar 6 minggu. Usia kandungannya masih sangat rentan, untung saja janinnya sangat kuat hingga calon anak anda baik-baik saja. Semua orang lega mendengarnya, setidaknya kandungan Zaira baik-baik saja.


"Apa aku bisa menemuinya, Dokter?" tanya Zayan. Dokter pun mengangguk.


"Anda bisa melihatnya, jika nanti Nona sudah dipindahkan ke ruang rawat," jawab Dokter, Zayan pun paham. Dan kini pandangannya mengarah pada Rafa.


"Lalu bagaimana dengan Istriku?" tanya Rafa dengan raut wajah yang sangat sedih. Reyhan langsung memeluk putranya yang masih penuh dengan darah Rheina.


"Bersabarlah, Nak. Berdoalah untuk kesembuhannya, Daddy yakin jika Rheina gadis yang kuat. Kau sendiri yang bilang jika Rheina itu bagaikan rumput liar. Yang walaupun banyak yang menginjaknya, dan juga banyak tersakiti dia tetap bisa tumbuh dengan kuat. Daddy yakin jika Rheina tidak akan apa-apa," Tangis Rafa semakin pecah saja mendengar ucapan Daddy nya. Sedangkan Nayla, dia sudah menangis sesenggukan dari tadi. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terlukanya Rheina, saat ia melihat pakaian Rafa yang penuh dengan noda darah dari Rheina. Nara pun memeluk sahabatnya itu, ia berusaha menguatkannya. Meskipun sebenarnya ia pun merasakan kekhawatiran yang sama.


"Cari tahu siapa dalangnya!" Rayan bicara dengan geram, giginya bahkan gemerutuk saat mengucapkannya. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya pun ikut memutih.


"Aku sudah menangkapnya, terserah mau kalian apakan wanita sialan itu!" jawan Jupiter.


"Apa maksudmu?" tanya Rayan. Zayan pun kemudian menceritakan perihal tentang Selena pada Rayan. Rayan benar-benar merasa geram. Ia sendiri yang akan turun tangan untuk memberikan hukuman pada Selena. Ia tidak akan memandang jika ia adalah seorang wanita. Jika wanita itu memang tidak punya hati. Maka ia tidak pantas diperlakukan dengan menggunakan hati.


"Jangan lupa hancurkan perusahaan ayahnya! Agar dia tahu bagaimana rasanya kesusahan, dan agar ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan uangnya itu!" geram Rayan.


Reyhan pun langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk menyelesaikan masalah tentang perusahaan keluarga Selena. Dan untuk Selena, ia meminta pada Jupiter untuk mengurungnya dulu sementara. Ia masih belum tenang jika belum ada kabar tentang bagaimana kondisi dari Rheina. Jupiter pun mengerti, ia merasa punya andil besar dalam masalah ini. Jadi ia akan berusaha untuk membantu sebisanya.


*


*

__ADS_1


*


Hampir 3 jam Rheina berada di ruang operasi tapi masih belum ada kabar apa-apa. Hanya ada suster yang keluar masuk tanpa memberitahu kan apa-apa. Mereka terlihat sedang panik dan juga terburu-buru. Bahkan beberapa kantong darah juga mereka bawa masuk. Dan pasti itu untuk Rheina, Rafa hanya duduk pasrah menunggu di luar tanpa mengganggu kinerja dari dokter dan suster yang ada di sana.


Setelah mengganti pakaiannya, ia pun kembali ke sana untuk menunggu kabar dari Rheina. Berharap kabar baik akan segera datang, Reyhan dan yang lainnya sedang menunggu di ruangan yang lain untuk istirahat. Dan Zayan ia sedang menemani Zaira yang belum sadar.


Hampir saja Rafa tertidur di sana. Namun, suara pintu terbuka membuat Rafa kembali terjaga. Ia melihat dokter yang menangani Rheina keluar dari ruang operasi, dan segera menghampirinya.


"Dokter bagaimana keadaan istriku?" tanya Rafa, Dokter itu pun kemudian membuka maskernya dan menepuk bahu Rafa. "Anda harus banyak bersabar, Tuan. Perbanyaklah doa, kami sudah melakukan yang terbaik dan semampu kami untuk menyelamatkan istri anda. Istri anda kini dalam keadaan kritis, istri anda mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Dan juga kehilangan banyak darah, detak jantungnya sangat lemah. Berdoalah, semoga istri anda bisa melewati masa kritisnya ini," ucap dokter itu dengan hati-hati.


"Ya Tuhan," ucap Rafa lemas.


"Apa aku bisa melihatnya, Dokter?" mohon Rafa.


"Baiklah,"


*


*


*


Di ruangan yang lainnya, Zayan sedang menemani Zaira yang masih betah memejamkan matanya. Zayan melihat tubuh kecil itu kini sedang terbaring lemah. Ada beberapa luka memar di wajahnya dan ujung bibirnya terlihat robek. Dan yang paling membuat Zayan geram adalah, jari mungil itu kini tengah dibalut oleh perban. Terlihat jelas ada luka di sana, ia membayangkan bagaimana orang-orang jahat itu menginjak jari mungil miliknya. Sungguh saat ini Zayan ingin mematahkan tangan orang yang sudah melukai Zaira.


"Sayang bangunlah, kau sudah sangat lama tidur. Apa kau tidak ingin melihatku?" tanya Zayan, sambil membelai lembut rambut Zaira dengan sangat lembut. Wajah cantik itu ternyata masih betah menutup matanya.

__ADS_1


"Mickey, dokter bilang kau sedang hamil. Apa kau tidak senang mendengar kabar itu. Ayo bangunlah, bukankah kau juga tidak suka dipanggil Mickey olehku. Jadi ayo cepat bangun dan marahi aku seperti biasanya." ucap Zayan.


Namun, Zaira masih tidak bergeming dan masih betah dengan posisinya. Membuat Zayan semakin sedih dibuatnya.


"Zaira, dokter bilang kau sedang hamil. Memangnya kau tidak bahagia mendengarnya. Aku saja sangat bahagia, tapi kenapa kau malah diam saja,"


"Zaira apa kau tidak merindukan suami tampanmu ini?" tanya Zayan. Zayan pun kemudian mengecup kening Zaira dan juga bibirnya yang terlihat pucat itu.


"Aku mencintaimu sayang,"


*


*


*


Di ruangan yang berbeda, tampak Rafa melihat Rheina dengan hati yang tersayat - sayat. Ia melihat banyak alat yang dipasang di tubuh mungil itu. Rafa tidak tega, ia membayangkan betapa sakitnya tubuh yang penuh luka dan dan penuh dengan alat yang Rafa pun tidak tahu apa itu.


Rafa sudah memakai pakaian yang disediakan oleh dokter, dan kini ia sudah duduk di samping Rheina. Saat pertama melihat wajah Rheina, ia jadi terbayang bagaimana pertama kali saat ia bertemu dengan Rheina. Rafa juga membayangkan bagaimana hari-hari yang ia lewati bersamanya di belakang gedung tinggi itu.


Mereka berdua duduk bersama dan memakan makanan yang sederhana. Entah kenapa ia selalu merasa bahagia saat melewati hari - hari bersama dengan Rheina. Ia ingin kembali bersama dengan istrinya ini. Andaikan bisa, ingin Rafa peluk dan dekap tubuh yang sedang tidak berdaya ini.


"Rheina, bangunlah ... bukankah hari ini kita ada janji bertemu di restoran. Lalu kenapa kau malah mengajakku bertemu di sini. Tempat ini sangat mengerikan, aku tidak suka," ucap Rafa dengan sedih.


"Rheina, bangunlah aku ingin memelukmu sayang. Bagian mana yang sakit, ayo katakan padaku! Aku akan memberitahu dokter agar mereka mengobatimu. Rheina bangunlah, apa kau tahu... kau adalah orang yang jahat. Kau adalah orang pertama yang membuatku mengeluarkan air mata. Kau harus bangun agar air mataku berhenti mengalir," setelah itu Rafa pun tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi. Ia hanya terduduk dan menangis sendiri di ruangan yang sepi itu.

__ADS_1


__ADS_2