
"Tidak usah terkejut seperti itu, dan bertingkah lah malu - malu kambing sedikit agar kau terlihat imut dan menggemaskan," ucap Rafa.
"Jangan harap aku akan malu-malu kambing padamu, karena bersikap malu-malu cicak pun aku tidak mau, tahu. Jadi minggirlah aku mau tidur!" cetusnya pada Rafa, ia pun kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk dan juga nyaman. Ia tidak mau lagi mempedulikan ocehan Rafa yang hanya membuat gendang telinganya gatal.
"Hei asal kau tahu saja, cicak itu memang tidak punya malu!" ucap Rafa.
"Dari mana kau tahu, memangnya kau pernah bertanya padanya?" tanya Rheina, sambil tiduran dan memeluk guling tetapi dengan posisi membelakangi Rafa.
"Aku tidak pernah bertanya, tapi dari gerak-geriknya saja aku sudah tahu kalau cicak itu tidak punya malu," jawab Rafa dan mendekati Rheina.
"Menjauhlah, jangan macam-macam karena aku sangat mengantuk dan ingin tidur,"
"Aku juga mengantuk dan ingin tidur, bergeserlah sedikit!" Rafa dengan sengaja merapatkan tubuhnya dengan agak mendorong tubuh Rheina. Padahal kasur itu masih sangat luas, tapi Rafa dengan sengaja terus menggeser tubuhnya pada Rheina.
"Kasur ini sangat besar bahkan cukup untuk empat orang, kenapa kau terus mendesak ke arahku!" protes Rheina. Tapi Rafa tidak mempedulikan ocehan Rheina, ia masih stay dengan posisi yang mendesak tubuh Rheina.
"Rafasya!"
"Hemm..."
"Geser!"
"Tidak mau!"
"Minggirlah hei kuda poni!
"Tidak mau!"
"Astaga,"
"Diam atau aku cium!" ancam Rafa sambil melihat ke arah Rheina, dan dalam hitungan detik Rheina pun langsung terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata pun pada Rafa.
"Anak pintar, tidurlah kura-kura manis, karena jika kau terus cerewet aku tidak bisa menjamin jika senjata pegasus milikku akan menyerangmu!"
"Baiklah," ucapnya lemah dan mulai menutup matanya. Hingga tak butuh waktu lama, Rheina pun masuk ke alam mimpi. Dengkuran halus pun terdengar dari bibir mungilnya. Itu berarti dia memang sangat kelelahan. Rafa pun tersenyum ke arahnya, dan menyingkirkan rambut - rambut halus yang menghalangi wajah cantiknya.
"Kau tenang saja, aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap. Karena jujur saja aku juga masih malu untuk memperlihatkan gagang sapu premium milikku padamu," gumam Rafa sambil tersenyum, dan mengecup kening dan bibir Rheina sekilas.
__ADS_1
*
*
*
Keesokan harinya, mereka berdua terbangun dalam keadaan berpelukan. Rheina dengan cepat bangkit dari tidurnya dan langsung terduduk, saat wajahnya dan wajah Rafa sangat berdekatan.
Jantungnya mendadak berdegup dengan kencang, ia pun duduk sebentar untuk menetralkan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdetak tidak normal. Setelah itu, Rheina pun pergi ke kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya.
Malam ini ia lewati dengan tenang dan juga damai, Rheina hanya berharap jika Rafasya tidak memaksakan kehendak padanya semoga saja. Akan tetapi, jika Rafa menginginkannya maka ia pun tidak bisa melakukan apa-apa. Karena sudah menjadi kewajiban Rheina jika Rafa meminta hak nya suatu saat nanti.
Setelah Rheina selesai mandi, Rafa pun terbangun. "Kau sudah selesai mandi?" tanya Rafa.
"Iya, kau juga cepatlah mandi aku sudah lapar," ucap Rheina.
"Kau tinggal pesan makanan, kalau kau lapar."
"Aku tidak mengerti cara memesan makanan di sini," ucapnya polos.
"Oh astaga aku lupa, jika kura-kura tidak pernah makan di hotel. "Rafa pun kemudian bangkit dan dengan cepat menghubungi petugas hotel untuk mengirimkan makanan ke kamarnya.
"Baiklah terima kasih," ucap Rheina.
"Hemm..." setelah itu.
*
*
*
Setelah sarapan pagi mereka berdua memutuskan untuk pulang saja, karena mereka juga tidak ingin berlama-lama di hotel. Mereka berdua merasa takut, jika Rafa takut kelepasan dan tidak bisa bertahan maka justru hal sebaliknya dirasakan oleh Rheina karena ia takut diterkam.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Rheina akan sangat takut diterkam kuda poni dan kuda poni itu akan mengajaknya nganu-nganu. Oh tidak tidak boleh terjadi, setidaknya jangan sekarang sampai mentalnya siap. Tapi jika Rafa memaksa juga tidak apa-apa ehh...
"Jadi ini hotel milik keluargamu?" tanya Rheina sambil berjalan di hotel itu untuk menuju pulang dengan Rafa ke rumah utama.
__ADS_1
"Heemm, dulu aku suka bermain - main di sini jika ikut dengan Daddy." jawab Rafa santai.
"Wahhh kau hebat sekali ya, waktu kecil aku main dilapangan dan panas - panasan di sana dan kau malah main kucing-kucingan di hotel, luar biasa," ucap Rheina berdecak kagum.
"Kucing-kucingan? Apa itu kucing-kucingan?" tanya Rafa penasaran karena ia memang tidak pernah main apa itu kucing-kucingan.
"Oh ya ampun, kau itu makhluk dari planet mana sih. Masa kucing-kucingan saja tidak tahu!" Rheina mengerucutkan bibirnya, terlihat menggemaskan apalagi saat ini ia tengah menggunakan rok pendek kotak-kotak di padu padankan dengan cardigan yang sangat pas di tubuhnya. Pada dasarnya Rheina sudah cantik, apa lagi sekarang dibalut dengan pakaian mahal yang dibelikan oleh Rafa semakin cantik saja perempuan sederhana ini.
Entah tarikan dari mana tiba-tiba malam itu Rafa mengatakan jika ia ingin menikah dengan Rheina. Apalagi mereka belum lama saling mengenal. Akan tetapi saat kejadian di kontrakan ia akan diusir dan juga dimarahi oleh orang lain, ada rasa hati ingin melindungi gadis kecil ini. Keinginan yang sangat kuat hingga terucaplah perkataan yang tidak - tidak agar ia dinikahkan dengan Rheina. Sungguh pemikiran yang aneh bukan, tapi sudahlah yang terpenting gadis ini kini menjadi miliknya walaupun belum sepenuhnya dan juga seutuhnya.
"Kau tahu Rere, ada permainan yang sangat menarik jika kita sudah dewasa. Dan asal kau tahu, jika kau mau kita bisa mencobanya," ucap Rafa tersenyum penuh arti.
"Permainan? Permainan apa yang dilakukan oleh orang dewasa, ada-ada saja apa kau lupa kuda poni jika sekarang kau sudah menikah," ucapnya sambil terus berjalan mengimbangi langkah lebar Rafa.
"Mana mungkin aku lupa aku sangat ingat, jika sekarang kura-kura mata duitan ini menjadi istriku," jawab Rafa.
"Lalu, permainan apa yang akan dilakukan oleh orang dewasa?" tanya Rheina penasaran. Rafa pun sejenak menghentikan langkahnya dan melihat kearah wajah cantik Rheina.
"Jika anak kecil akan bermain kucing-kucingan, maka kita orang dewasa akan bermain kuda-kudaan," bisik Rafa di telinga Rheina.
"Apa? Main kuda-kudaan, permainan apa itu?" tanya Rheina.
"Oh astaga, kau benar-benar tidak tahu apa itu main kuda-kudaan?" tanya Rafa, dan Rheina pun menggeleng - gelenngkan kepalanya.
"Baiklah nanti malam kita belajar permainan itu!" ajak Rafa semangat.
*
*
*
Kencengin like sama komentarnya dong 😘😘😘
Bonus visual Rafa 💞
__ADS_1
Rheina ❤️