Dikejar Cinta Tuan Muda Gila

Dikejar Cinta Tuan Muda Gila
Bab 58


__ADS_3

"Mom, apa maksudmu?" tanya Rafa merasa heran, sedangkan Rheina ia bersembunyi dibalik punggung lebar Rafasya. Ia takut diusir oleh Nayla, bahkan mungkin penghinaan yang akan ia dapatkan dari orang yang Rafa panggil Mommy itu. Hingga bayangan-bayangan sinetron ikan ngesod muncul dalam bayangan Rheina.


Dimana ia adalah perempuan miskin yang akan diusir dan juga dihina oleh ibu ai pria yang ia cintai, eh tunggu dulu dia kan tidak mencintai Rafa. Sudahlah lupakan bayangan itu, karena kini Rheina sedang ada dalam masalah yang sesungguhnya. Yaitu berhadapan dengan sang pemilik rumah.


"Maksud Mommy adalah, apa aku sudah kikuk-kikuk dengannya? tanya Nayla.


"Kikuk-kikuk apa aku tidak mengerti?" tanya Rafa lagi.


"Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin anakku. Aahhhh tidak, sayaaaaang!!!" teriak Nayla sambil berlari menuju rumah diikuti oleh Rafa yang menarik gadis itu masuk kedalam rumah besar itu.


Mendengar teriakkan istrinya, kudanil itu langsung siap siaga karena takut terjadi sesuatu pada istri kesayangannya.


"Ada apa ... ada apa, kenapa kau berteriak? Di sini tidak ada hantu!" jawab Reyhan panik dan langsung memeluk istrinya. Zayan dan Rayan pun langsung menghampiri Nayla takut terjadi sesuatu, begitu pun dengan Zaira dan juga Nara mereka mengikuti suami mereka di belakang.


"Ada apa?" tanya Rayan.


"Mom!" teriak Rafa yang tidak mau melepaskan tangan Rheina, entah itu takut Rheina kabur atau bagaimana. Yang jelas tangan Rafa sangat erat memegang tangan Rheina.


"Hei kuda poni, kau menculik anak orang darimana?" tanya Zayan, karena ia melihat sepupunya ini tengah menggandeng seorang gadis.


"Menculik siapa, kau dasar kau anak ayam! Cuci sana otakmu!" sentak Rafa.


"Sayang putra kita, itu burungnya, burung pipitnya sudah belajar terbang. Huwaaaaa ... " Nayla malah menangis diperlukan Reyhan, ia tidak pernah menyangka jika putranya yang sangat ia sayangi itu kini telah bermain aye-aye dengan anak perempuan orang lain. Nayla tidak menyangka jika anaknya akan setega itu pada seorang gadis lugu. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran induk kuda poni ini. Pikiran yang sangat salah tentunya.


"Oh astaga, jadi gagang sapumu berbuat nakal?" tanya Reyhan, Zayan yang mendengarnya langsung pura-pura shock dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seolah dia sedang terpukul dengan kenyataan yang menyakitkan. Sungguh menggelikan kelakuan anak ayam ini.


"Ya Tuhan," gumam Zayan.


"Berhenti bersikap seperti itu, mengegelikan!"


"Jadi?" tanya Rayan.

__ADS_1


"Jadi maksudnya begini aku ingin memberitahu kalian kalau gadis ini ... "


"Jangan bilang kau sudah menebar benih dan cucuku sudah tumbuh dan berada di sana. Oh ya ampun, Nayla kita akan punya cucu!" ucap kudanil itu histeris.


"Apa!" semua orang malah jadi terkejut oleh ucapan kudanil panik ini.


"Astaga! Cekik saja aku sekarang juga!" teriak Rafa ikut frustasi.


Brugh ...


Tiba - tiba, Rheina pingsan dan terjatuh di sana. Mungkin karena lelah dan juga banyak masalah yang ia hadapi hari ini. Belum lagi, kedatangannya di keluarga Guntara membuatnya semakin shock saja.


"Oh ya ampun!" ucap Rafa.


Rafa pun kemudian menggendong Rheina dan membawanya ke kamar, dan Reyhan langsung memanggil dokter untuk memeriksa Rheina.


*


*


*


Rheina mulai membuka matanya perlahan, ia mengedarkan pandangannya. Ia melihat jika kini ia sedang berada di sebuah kamar yang sangat bagus dan juga sangat wangi tentunya. Ia pun kemudian, melihat ke arah dirinya yang ternyata sudah berganti pakaian dengan yang lebih bersih.


"Kau sudah bangun?" tanya Rafa dengan membawa nampan yang berisi makanan. Aroma lezat dari makanan itu membuat perut Rheina langsung berbunyi. Rheina yang merasa malu pun langsung memegangi perutnya.


"Ya ampun perutmu itu jujur sekali, melihat makanan dia langsung memanggil - manggil," cetus Rafa tanpa memedulikan wajah Rheina yang sudah merah karena menahan malu.


"Dasar menyebalkan," gumamnya.


Rheina terlihat cantik tanpa kacamatanya, rambutnya sebahu tergerai indah dan lihatlah bibir tipisnya yang sedang mengerucut sebal padanya. Membuat Rafa tersenyum kearahnya, gemas mungkin itu yang ada dalam pikiran Rafa saat ini.

__ADS_1


"Makanlah dulu, nanti kita bicara," ucap Rafa.


"Tapi ... "


"Sudahlah makan dulu, aku akan menungguimu di sini." Rheina pun kemudian makan dengan lahap karena ia memang sangat lapar. Tanpa sungkan Rheina makan dengan banyak bahkan sampai habis. Ia pikir jika sebentar lagi akan ada masalah yang akan ia hadapi. Jadi ia memerlukan tenaga yang banyak untuk menghadapinya.


Setelah makanan itu habis tak bersisa, Rafa pun kemudian mengambil nampan itu dan menyimpannya dulu. Kemudian ia duduk berhadapan dengan Rheina.


"Apa sekarang perutmu, sudah terasa kenyang?" tanyanya.


"Iya, aku sudah kenyang. Dan aku sudah punya tenaga untuk menghadapi masalah, apa pun itu!" ucapnya dengan semangat, sampai Rafa tertawa melihatnya.


"Baiklah, sebentar lagi orang tuaku akan masuk. Aku minta jika mereka bertanya padamu. Maka kau jawab dengan jawaban iya saja, kau mengerti." ucap Rafa, meskipun Rheina tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh kuda poni itu. Tapi gadis bermata indah itu tetap menganggukan kepalanya. Karena untuk saat ini tidak ada orang yang ia percaya apalagi jadikan ia sandaran. Jadi ia hanya menggantungkan semuanya hanya kepada Rafa saja.


"Good girls," ucap Rafa tersenyum dan tak lama setelah itu, Reyhan dan Nayla pun masuk ke dalam kamar itu. Mereka sengaja menunggu Rheina selesai makan, karena mereka akan membicarakan hal yang penting kepada Rheina.


Melihat kedatangan Reyhan dan juga Nayla, rasa gugup itu muncul lagi. Tapi apa pun yang akan terjadi Rheina harus siap menerima konsekuensinya. Meskipun mungkin ia akan di usir malam ini juga oleh mereka semua. Memangnya apa yang Rheina harapkan, ia hanya seorang gadis yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa. Jadi sudah sewajarnya jika ia akan di lempar begitu saja oleh orang-orang kaya seperti mereka, pikirnya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Nayla dengan lembut dan tersenyum ke arah Rheina.


"Aku baik Nyonya, terima kasih." jawab Rheina merasa sungkan.


"Jadi kita bicara pada poin pentingnya saja," tiba-tiba Reyhan buka suara. Rasa yang baru saja tenang kini malah menjadi tegang gara-gara kudanil buka suara.


"I-ya Tuan," jawab Rheina.


"Sebelumnya aku mau minta maaf atas perlakuan putraku kepadamu, sungguh aku tidak menyangka jika dia benar-benar berani melakukan hal yang tidak baik. Aku tidak pernah tahu jika ternyata burung pipitnya sudah berbuat nakal sampai sejauh itu, dan aku sebagai ayah yang baik akan meminta putraku untuk bertanggung jawab atas kenakalan gagang sapunya yang sudah dengan tidak sopan membuka pabrik bayi milikmu," ucap Reyhan.


"Apa!"


***

__ADS_1


Isshhh... kuda poni ngadu apa sih sama Papa kudanil 🙄🙄🙄


__ADS_2