
..._Mendapatkan hatimu seperti filosofi dari kata 'Hayyal'alal falah', bahwa jarak kemenangan itu berkisar antara kening dan sajadah_...
Sudah sebulan berlalu setelah pernikahan Aliya dengan Zefan, namun Aliya masih memperlakukan Zefan seperti orang asing. Aliya memang menjalankan seluruh tugasnya sebagai istri, seperti menyiapkan segala keperluan Zefan, mengambilkan makan untuk Zefan, serta memasangkan dasi dikala Zefan akan pergi bekerja. Hanya saja sikapnya yang masih dingin terhadap Zefan, ia hanya akan berbicara seperlunya saja.
Pagi ini tidak seperti pagi-pagi biasanya. Kiara demam tinggi, sehingga membuat ia benar-benar sangat rewel. Aliya yang sangat kerepotan harus tetap bersabar mendiamkan tangisan Kiara. Aliya sebenarnya bisa saja meminta tolong bantuan kepada Zefan, namun ia merasa kasihan karena Zefan yang tadi malam pulang lembur dari tempat kerjanya.
Lima menit, sepuluh menit tangisan Kiara tidak berhenti juga, membuat Aliya benar-benar terpaksa harus membangunkan Zefan.
"Mas bangun Mas! Kiara demam Mas". Aliya pun mencoba menggoyang-goyangkan kaki Zefan.
" Mas bangun ihh. Kasian Kiara nya Mas, dari tadi sudah menangis terus".
Zefan yang sedikit terganggu dengan panggilan-panggilan dari Aliya, mulai mencoba untuk membuka matanya.
Hoamm.....
'Audzubillahiminassyaithonnirrajim'
"Iya Sayang kenapa?" Tanya Zefan sambil tangannya mengucek kedua matanya.
Aaaa kenapa Zefan pagi-pagi sudah membuat pipi Aliya bersemu merah. Memang setelah menikah, Zefan selalu memanggil Aliya dengan sebutan mesra.
__ADS_1
"Ini Mas. Kiara demam tinggi, dari tadi ia merengek terus. Aku sungguh kasihan dengan nya. Bawa ke Puskesmas yuk Mas buruan". Ajak Aliya.
Zefan pun langsung segere menempelkan telapak tangannya ke kening Kiara. Panas, ini beneran sangat panas. Zefan tidak mau mengambil pusing, ia langsung segera bersiap untuk membawa Kiara ke Puskesmas terdekat.
" Sayang tunggu yah! Mas bersiap sebentar ".
" Liya juga mau menitipkan Keandra sama Mama dulu yah Mas. Liya takut Keandra menangis ketika bangun karena tidak menemukan Liya disamping nya".
***
Mereka pun kini sudah sampai di salah satu Puskesmas.
"Putri Bapak tidak kenapa-napa. Saya sudah memberikan obat penurun panas nya. Silahkan diminum sesuai aturan yang saya cantumkan!" Jelas Dokter setelah memeriksa Kiara.
"Alhamdulillah. Jadi ini bisa langsung pulang kan' Dok?" Kini Aliya yang bertanya, sungguh ia tidak mau sebenarnya untuk mencium aroma rumah sakit atau obat-obatan. Ia trauma dengan namanya kehilangan.
"Iya Bu bisa. Tetapi jika sewaktu-waktu panasnya tidak turun, langsung bawa saja yah Bu ke Rumah Sakit. Karena perawatan disana lebih lengkap". Usul Dokter tersebut menjelaskan.
" Baik Dok. Terimakasih yah Dok".
Karena sudah selesai, mereka pun bergegas untuk kembali kerumah.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Zefan mencoba membuka interaksi kepada Aliya. Ia ingin menjadi semakin dengan kepada istrinya itu.
"Kamu tidak mau membeli sesuatu Sayang? Kebutuhan pribadi kamu misalnya gitu?"
Aliya yang sedari tadi melamun pun langsung tersadar.
"Emmm tidak ada Mas sepertinya. Keperluan Aliya masih lengkap semua kok" Jawab Aliya.
'Alhamdulillah, dia sudah tidak dingin seperti biasanya. Ini peningkatan baik".
"Kamu tidak ada mau cari sarapan gitu? mumpung kita diluar?" Zefan pun terus mencoba menawarkan sesuatu, karena sesungguhnya ia masih ingin berlama-lama dengan istrinya seperti ini.
"Tidak deh Mas, Aliya kepikiran Kean. Aliya takut Kean dirumah sedang menangis".
" Kean tidak akan menangis Sayang. Ia anak baik budi. Kita mampir ke warung nasi lemak di depan situ yah! Kamu harus ngerasain enaknya nasi disitu pokoknya, nanti kita bungkus juga untuk orang rumah".
Aliya pun berfikiran seperti itu, Keandra memang tidak gampang menangis semenjak ia sudah menjadi seorang abang.
"Baik Mas, aku ikut kamu saja".
...****...
__ADS_1