DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 10.


__ADS_3

10.


"Pak, hari sudah semakin sore semua karyawan juga sudah pulang, di bawah tinggal ada satpam yang bersiap untuk mengunci semua pintu ruangan."


Untuk yang kesekian kali nya sekertaris Nanda memperingati atasan nya itu.


"Kenapa kamu juga tidak pulang, Nanda?" Tanya Andre tanpa melihat pada sekertaris nya itu, ia terus fokus pada benda lipatnya.


"Pulang lah, mungkin malam ini aku akan menginap di sini sambil menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Andre lagi.


Sekertaris Nanda terperangah, ia menatap atasannya itu dengan tatapan curiga. Mungkin kah Andre sedang bertengkar dengan Nazhwa sehingga ingin menginap di kantor dengan alasan ingin menyesaikan pekerjaan.


"Istri ku tidak ada di rumah, dia menginap di rumah orangtuanya. Aku hanya akan merasa kesepian jika pulang tapi tidak ada Nazhwa di rumah, jadi lebih baik aku menginap di sini sambil menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Andre, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh sekertaris nya itu.


Sekertaris Nanda bernafas lega mendengar penuturan Andre, ia berpikir atasannya ini sedang bertengkar dengan Istriya.


Sekertaris Nanda pun berpamitan pulang, dan sebelum meninggalkan perusahan ia meminta pada satpam untuk membeli makanan untuk atasannya itu.


Setelah sudah berada di perjalanan pulang, sekertaris Nanda terpikir menghubungi Nazhwa untuk menanyakan keadaannya sekaligus memastikan apa benar Nazhwa menginap di rumah orangtuanya.


"Jadi benar, Bu Nazhwa menginap di rumah orangtua Bu Nazhwa?'' setelah beberapa saat berbincang-bincang di sambungan telephone tentang kondisi Nazhwa, akhirnya sekertaris Nanda pun tahu jika apa yang dikatakan Andre benar, Nazhwa memang menginap di rumah orangtuanya.


"Iya, Nanda. Apa suami ku memberi tahu mu?" Tanya balik Nazhwa.

__ADS_1


"Iya, Bu, dan Pak Andre memutuskan malam ini menginap di perusahan sambil lembur katanya." Jawab sekertaris Nanda. "Kata Pak Andre percuma pulang di rumah pasti sepi tidak ada Bu Nazhwa."


Nazhwa terhenyak mendengar penuturan sekertaris Nanda, ia tak menyangka jika suami nya akan menginap di kantor malam ini. Nazhwa jadi merasa tak tenang memikirkan itu, ia tahu betul jika Andre tidak bisa tidur tanpa membersihkan diri dan berganti pakaian dulu sebelum tidur. Dan yang pasti Andre masih mengenakan pakaian yang sama saat dari rumah orangtuanya tadi.


"Baiklah Nanda, aku tutup telephone nya dulu, terima kasih atas informasinya." Setelah mengucap salam, Nazhwa pun memutus sambungan telephone nya dengan sekertaris Nanda.


Tanpa berpikir panjang, Nazhwa langsung saja berpamitan pada ayah dan ibu nya untuk pulang dengan alasan yang membuat orangtuanya itu terkekeh geli. Nazhwa mengatakan tidak bisa tidur tanpa dipeluk oleh suami nya.


Meskipun tubuh nya terasa lemah karena penyakit yang di deritanya, Nazhwa berusaha kuat untuk pergi ke perusahaan Andre, ia tak sampai hati memikirkan suami nya itu yang akan menginap di kantor.


Sesampainya di perusahan Nazhwa langsung saja masuk kedalam bangunan itu, ia berpapasan dengan satpam di lobi dan satpam mengatakan jika atasannya berada di ruangannya sedang tidur. Nazhwa pun bergegas menuju ruangan suami nya itu.


"Mas, kenapa kamu gak pulang ke rumah dan malah memilih untuk tidur di sini." Nazhwa bersimpuh di samping suami nya yang tertidur di sofa. Ia mengusap rambut Andre yang terlihat berantakan dan beberapa kancing kemeja nya dibiarkan terbuka, ia juga memberanikan diri menyentuh wajah suami nya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, hal tidak pernah ia lakukan selama sebulan ini karena Andre terus memberi jarak diantara mereka.


Andre yang belum lama tertidur, ia terbangun merasakan ada sentuhan di wajah nya. Seketika ia terlonjak kaget melihat ada Nazhwa di dekatnya.


"Kenapa Mas tidur di sini, kenapa Mas gak pulang ke rumah?" Nazhwa balik bertanya.


Bukan nya menjawab pertanyaan Istriya, Andre malah beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan masuk ke kamar mandi yang berada didalam ruangan itu.


Nazhwa pun lagi-lagi hanya bisa menghela nafas berat yang seolah tercekat atas sikap suami nya itu.


Di dalam kamar mandi Andre membasuh wajah nya lalu menatap pantulan diri nya di cermin. Ia memikirkan permintaan Nazhwa beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Sentuh aku, Mas, dan kita berikan apa yang orangtua kita mau. Aku janji setelah itu aku tidak akan pernah meminta atau menuntut apa pun lagi dari mu."


Sebenarnya Andre bisa saja melakukan hal itu, menyentuh Istriya walau tidak mencintainya. Namun, dari dalam dasar hati nya ia tak bisa melakukan hal seintim itu terhadap wanita yang tak pernah terbesit akan masuk kedalam hidupannya.


Terlebih ia sudah berencana untuk menceraikan Istriya itu, ia tak ingin menjadi brengsek dengan mengambil kesucian wanita yang tidak dicintainya itu lalu ditinggalkan.


Setelah merasa lebih segar, Andre pun keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di sofa dimana Nazhwa juga sedang duduk.


"Kenapa kamu kesini, bukan nya kamu bilang ingin menginap di rumah orangtua mu?" Tanya Andre dengan datar tak berkspresi.


"Tadi Nanda menelpon ku, dia bilang Mas mau menginap di sini, kenapa Mas? Mas kan bisa membawa pekerjaan Mas pulang dan mengerjakannya di rumah." Ucap Nazhwa.


"Bukan urusanmu." Jawab Andre dengan ketus seperti biasanya


"Sekarang kita pulang ya, Mas aku tidak jadi menginap di rumah Ayah dan Ibu. Aku tidak akan bisa tidur nyenyak di sana sementara Mas akan tidur di sini. Istri macam apa aku kalau sampai membiarkan itu terjadi."


Andre tersenyum miring, ia tahu Nazhwa selalu tulus dengan setiap ucapan nya, namun entah kenapa hati nya sangat sulit menerima fakta itu.


"Mas, kita pulang ya." Bujuk Nazhwa lagi.


Andre menatap Istriya sebentar lalu beranjak dari tempat duduknya. Ia bisa saja menolak untuk pulang, namun ia tahu Nazhwa akan bersikeras dan mungkin saja Nazhwa akan nekat ikut menginap di kantor bersama nya.


"Baiklah, tunggu sebentar." Andre berjalan kearah meja kerjanya lalu membereskan berkas-berkas yang tercecer. Nazhwa pun juga beranjak dan membantu suami nya itu.

__ADS_1


Setelah selesai Nazhwa dan Andre pun meninggalkan perusahan dan pulang ke rumah mereka. Rumah yang sudah satu bulan ini mereka tempati hanya berdua saja. Dan rumah itu adalah rumah yang sudah lama Andre siapkan untuk nya nanti tinggal bersama Shalwa setelah mereka menikah. Namun kenyataan takdir berkata lain, justru wanita yang seharus nya menjadi adik iparnya lah yang ia nikahi dan ia bawa tinggal didalam rumah itu.


Andre tersenyum miris memikirkan itu semua. Ia tahu betul jika apa yang kita ingin kan tak selalu bisa terwujud namun tetap saja ia sangat sulit menerima kenyataan itu.


__ADS_2