DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 40.


__ADS_3

Sesampai nya di rumah, Andre bergegas menuju kamar nya dan langsung merebahkan tubuh nya dengan asal di atas tempat tidur.


Beberapa saat kemudian, ia memiringkan tubuh nya lalu mengusap kasur tempat Nazhwa tidur saat ia masih memberi pembatas di antara mereka.


Padahal baru kemarin mereka tidur saling berpelukan, dan sekarang ia tidak tahu di mana istri nya itu berada saat ini.


Andre merogoh saku jas mengambil ponsel nya, ia tersenyum melihat centang dua berwarna biru pada pesan yang ia kirim pada Nazhwa, dan itu arti nya Nazhwa sudah membaca pesan nya.


"Aku yakin kau hanya menghindar, Nazhwa. Kau tidak akan bisa lama-lama jauh dari ku." gumam Andre sambil mengukir senyum di bibir nya.


Andre masih ingat saat Nazhwa ingin menginap di rumah orang tua nya, dan istri nya itu menyuruh nya pulang. Namun, saat sekertaris Nanda memberi tahu istri nya itu jika ia ingin menginap di kantor, Nazhwa langsung datang dan mengajak nya untuk pulang.


"Apa aku harus menginap di kantor lagi, agar kau datang dan mengajak ku untuk pulang? Ah tidak, keadaan nya berbeda saat ini karena kau sedang marah pada ku jadi kau pasti tidak akan datang." ucap Andre berbicara sendiri.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Andre memejamkan mata setelah memikirkan banyak hal.


Keesokan harinya...


Andre telah siap dengan setelan kantor nya, ia melirik jam yang tergantung di dinding kamar, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Ia tersenyum mengejek dirinya sendiri, baru satu hari tanpa Nazhwa ia sudah telat berangkat ke kantor dan tanpa bekal makan siang seperti biasanya. Bahkan sejak ia bangun perutnya belum terisi apa pun, meski hanya air putih. Sungguh memprihatinkan.


Padahal biasanya, saat ia bangun secangkir kopi dan sarapan untuknya sudah tersedia. Bekal ke kantor dan pakaian juga sudah siap.


Jika saja ia mempunyai asisten rumah tangga, setidaknya pagi ini ia masih bisa sarapan sebelum pergi ke kantor. Namun sayangnya ia tidak mempunyai asisten rumah tangga karena dulu Nazhwa melarangnya mempekerjakan asisten rumah tangga, semua pekerjaan rumah Nazhwa yang mengerjakan.


Setelah merasa beres, Andre pun mengayun langka laki nya keluar dari kamar dan akan segera berangkat ke kantor dengan perut kosong.


Sementara itu di rumah yang di tempati Nazhwa saat ini, sejak pagi Nazhwa sudah berdebat dengan suster yang menemaninya.

__ADS_1


Nazhwa ingin memasak namun suster itu melarangnya dan suster tersebut yang akan memasak. Namun Nazhwa tetap kekeuh ingin memasak.


"Bu Nazhwa duduk manis saja dan biar saya yang memasak, saya tidak mau di marahi sama Dokter Adam kalau sampai terjadi sesuatu sama Bu Nazhwa." ucap suster itu yang langsung membuat Nazhwa terdiam dengan kening mengkerut.


"Di marahi dokter Adam? Apa dia bilang begitu?" tanya Nazhwa.


"Iya, Bu. Dokter Adam sudah memperingati saya jika saya harus memastikan Bu Nazhwa baik-baik saja di sini." jawab suster itu.


"Dokter Adam juga bilang, saya harus melaporkan pada nya setiap apa pun yang Bu Nazhwa lakukan di sini, saya juga harus mengawasi Bu Nazhwa tidak boleh sampai menghubungi siapapun selama berada di sini. Pokoknya kata Dokter Adam dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Bu Nazhwa." ucap suster itu tanpa sadar mengatakan yang seharusnya tidak ia katakan karena masih merasa kesal tadi berdebat dengan Nazhwa soal memasak.


Nazhwa terhenyak mendengar penuturan suster itu, ia akhirnya berbalik dan melangkah menuju meja makan lalu menarik kursi kemudian ia duduk. Sementara suster itu yang sepertinya tidak menyadari dengan apa yang baru saja ia katakan, langsung saja memulai proses memasak nya.


Di meja makan, Nazhwa duduk tampak melamun mengingat perkataan suster itu. Ia tahu apa yang di perintahkan Adam pada suster yang menjaga nya ini bukanlah atas simpati antara dokter dan pasien, melainkan sesuatu yang lain.

__ADS_1


"Ya Allah, sepertinya aku sudah salah meminta bantuan pada Adam."


__ADS_2