
9.
"Bagaimana kabar kalian, Nak?" tanya lelaki paruh baya yang merupakan ayah Nazhwa, pak Hendra. "Ayah sangat senang akhirnya kalian datang berkunjung kemari, dan Ayah harap kedatangan kalian ini membawa kabar gembira." sambungnya sambil menatap Nazhwa dan Andre bergantian.
Andre menanggapi nya dengan mengulum senyum, sementara Nazhwa tersenyum lebar yang membuat ayah dan ibu nya berharap jika kedatangan anak dan menantunya ini memang membawa kabar gembira.
"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?" tanya Andre mengalihkan pembicaraan agar ayah mertuanya itu tak meneruskan pertanyaannya.
"Alhamdulilah, kabar kami baik, Nak." jawab bu Dina, ibu nya Nazhwa.
Nazhwa tahu Andre mulai merasa tak nyaman karena pertanyaan ayah nya itu, begitu pun ia tak sampai hati jika harus mengecewakan kedua orangtuanya sama seperti ia mengecewakan mama mertuanya beberapa hari lalu, dengan memberikan jawaban yang sama.
Nazhwa pun berpamitan pada ayah dan ibu untuk pergi ke kamar sang kakak yang sudah berpulang ke pangkuan illahi. Andre juga mengikuti Nazhwa ke kamar kakaknya itu.
Nazhwa menitihkan air mata saat sudah berada didalam kamar kakaknya. Kamar itu tampak bersih meskipun sudah lama kosong, dan ia tahu pasti ibu nya lah yang selalu membersihkannya.
Nazhwa melangkah ke arah nakas yang terdapat sebuah pigura kecil, ia mengusap air mata nya dan mengukir senyum diwajahnya meski nampak terpaksa. Di tatapnya pigura yang terdapat foton ya bersama sang kakak, dengan mata berkaca-kaca. Nazhwa tak dapat menahan air mata nya, cairan bening itu lagi-lagi lolos begitu saja.
"Aku sangat merindukan mu, Kak." Ucapnya dengan tersedu, ia memeluk pigura kecil itu dengan erat seolah ia memeluk kakaknya.
"Jangan menangis, doakan Kakak mu tenang di alam sana." Andre mengusap punggung istrinya yang bergetar. Sungguh ia juga ingin menangis, ia pun sangat merindukan almarhumah kekasihnya. Namun, ia tak mungkin memperlihatkan kesedihannya pada Nazhwa.
"Apa kau tau, Mas? Kak Shalwa bukan hanya Kakak ku, tapi dia juga adalah sahabat dan guru ku. Hanya Kak Shalwa tempat ku berbagi cerita, dia juga selalu mengajari aku banyak hal." Ucap Nazhwa tersedu-sedu.
__ADS_1
Andre duduk di samping istrinya, ia mengambil pigura itu dari dalam pelukan Nazhwa, ia menatapnya sebentar lalu mengembalikannya ke atas nakas.
Andre mengusap air mata Nazhwa lalu menarik tubuh istrinya itu kedalam pelukannya. "Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan, tapi kamu jangan sampai terus berlarut-larut seperti ini. Kakak ku tidak akan suka melihatmu menangis seperti ini." Ucapnya sambil mengusap-usap punggung istrinya itu.
Ini adalah pertama kali nya Andre sedekat itu dengan Nazhwa, padahal setiap hari nya jangan kan berpelukan seperti ini, tidur pun ada guling yang menjadi pembatas di antara mereka. Namun, entah mengapa kali ini ia benar-benar tak kuasa melihat Nazhwa menangis seperti itu, mungkin karena mereka sama-sama meratapi orang yang sama.
"Mas, apa aku boleh minta sesuatu?" Nazhwa mengurai pelukannya, ia menatap Andre dengan lekat.
"Apa, kamu minta apa?" Tanya Andre dengan pelan, dan ini juga adalah pertama kalinya ia berbicara lembut pada istrinya itu yang biasanya selalu ketus.
"Sentuh aku, Mas, dan kita berikan apa yang orangtua kita mau. Aku janji setelah itu aku tidak akan pernah meminta atau menuntut apa pun lagi dari mu." Ucap Nazhwa dengan penuh kesungguhan, ia menatap Andre dengan penuh harap.
Andre mengalihkan tatapannya dari Nazhwa, permintaan istrinya ini adalah hal yang lumrah dalam hubungan suami dan juga seharusnya tanpa Nazhwa meminta pun ia harus nya melakukan itu. Namun, sungguh ia tidak sampai hati meniduri wanita yang tidak ia cintai.
"Tapi kenapa, Mas, coba katakan padaku apa alasan Mas tidak mau menyentuhku." Nazhwa menangkup wajah Andre menghadapnya.
"Jangan begini, Nazhwa. Jangan memaksa ku melakukan nya, dan nanti malah akan menyakiti dirimu sendiri.
"Aku sudah tersakiti dengan sikap mu selama satu bulan ini, Mas. Jadi aku mohon lakukan lah demi orangtua kita, mereka sangat menginginkan cucu dari kita. Jangan perdulikan aku atau pun perasaanku."
"Itu tidak mungkin ku lakukan, Nazhwa. Cukup sudah aku menjadi laki-laki brengsek selama satu bulan ini. Aku tidak mau menjadi bajingan yang meniduri mu lalu akan meninggalkan mu. Yah, aku sudah bertekad akan menceraikan mu setelah pernikahan kita sudah enam bulan."
Nazhwa terperangah, perlahan ia menarik kedua tangannya dari wajah Andre, "Apa yang kau katakan, Mas?" Ucapnya lirih.
__ADS_1
"Setelah enam bulan aku akan membebaskan mu dari pernikahan ini, Nazhwa. Maaf karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk mu." Dalam hati Andre merutuki diri nya sendiri karena lagi-lagi ia melontarkan kalimat menyakitkan itu pada Nazhwa.
Air mata Nazhwa kembali luruh, namun dengan cepat ia menghapus nya. Percuma menangis, suami nya ini tak akan iba sedikitpun pada nya."Pulang lah, Mas. Malam ini aku ingin menginap di sini." Ucapnya lalu beranjak.
Andre ikut berdiri, ia dengan cepat menarik tangan Nazhwa yang hendak pergi. "Kau harus pulang bersama ku, kalau pun kau ingin menginap di sini aku pun juga akan menginap di sini." Ucapnya.
"Untuk apa, Mas? Untuk memperlihatkan pada Ayah dan Ibu jika kita adalah pasangan Suami Istri yang harmonis? Tidak, Mas. Pulang lah, aku akan mengatakan pada Ayah dan Ibu jika aku ingin menginap di sini sementara Mas tidak bisa karena ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggal." Ujar Nazhwa lalu melepas tangan Andre yang menggenggam tangan nya.
"Tapi Nazhwa,
"Aku hanya ingin menenangkan diriku satu hari saja, Mas. Mungkin saja besok aku merasa lebih baik dan bisa belajar menerima kenyataan ini, jika aku adalah seorang istri yang tidak diinginkan oleh suami nya sendiri." Ucap Nazhwa menyela ucapan suami nya sambil terkekeh. Ia tersenyum mengejek diri nya sendiri yang malang.
Nazhwa pun mengayun langkah keluar dari kamar almarhumah kakaknya itu.
___________
"Maaf kan aku, Nazhwa." Gumam Andre yang saat ini sudah di perjalanan menuju kantor nya kembali.
Sebenarnya ia tak ingin pulang, namun apa yang dikatakan Nazhwa benar. Ia harus memberi waktu satu hari saja agar istrinya itu bisa menenangkan diri dari belenggu rumah yang begitu memilukan.
Jika saja itu wanita lain, mungkin saat ini ia sudah di permalukan karena sudah memperlakukan istrinya seperti itu. Namun ia beruntung karena wanita itu adalah adik almarhumah kekasihnya, yang ia tatah Nazhwa tidak mungkin akan membeberkan prahara rumah tangga nya sendiri.
Dan malam ini Andre sudah memutuskan untuk lembur di kantor dan mungkin tidak akan pulang. Meskipun selalu bersikap cuek dan ketus, namun ia mengakui akan terasa kesepian di rumah sendirian tidak ada istrinya itu.
__ADS_1