DINIKAHI KARENA AMANAH

DINIKAHI KARENA AMANAH
BAB 64.


__ADS_3

Melihat menantu nya sudah berada di ambang pintu, ibu pun beranjak dari sisi ranjang yang menjadi tempat duduk nya sembari mengusap air mata yang tak henti mengalir setelah mengetahui jika putri bungsu nya selama ini sedang sakit parah tanpa ia ketahui.


"Ibu keluar dulu." Ucap ibu sambil mengusap pundak Nazhwa yang masih duduk di kursi roda dengan posisi membelakangi pintu.


Nazhwa mengangguk, dan ibu pun mengayun langkah keluar dari kamar Nazhwa tanpa memberi tahu pada putri nya itu keberadaan menantu nya.


Tepat di samping Andre, ibu menghentikan langkah dan menatap menantu nya itu dengan sayu. Ia juga sangat kecewa atas ketidakjujuran menantu nya selama ini. Namun, ia juga tidak ingin rumah tangga putri nya hancur begitu saja.


"Ibu minta tolong, jangan sakiti putri Ibu lagi. Ibu yakin Shalwa akan menyesal telah menitipkan amanah pada mu tapi kamu tidak menjalankan amanah itu dengan baik." Ujar ibu.


Andre menatap ibu mertua dengan nanar, sesama wanita ibu pasti tahu bagaimana perasaan Nazhwa.


"Aku minta maaf, Bu. Aku akan memperbaiki semua nya. Aku akan memulai semua dari awal bersama Nazhwa. Tidak akan ada lagi kata amanah di dalam pernikahan ku dan Nazhwa."


Ibu mengulas senyum lalu menepuk pundak menantu nya, "Ibu percayakan pada mu." ucap ibu sambil menoleh ke arah Nazhwa yang seperti nya tidak mendengar percakapan mereka. Ibu pun kembali mengayun langkah meninggal kan kamar Nazhwa, memberi ruang pada anak dan menantu nya.

__ADS_1


Andre pun masuk ke kamar setelah ibu beranjak pergi. Sejenak ia berdiri di belakang Nazhwa yang seperti nya sama sekali tidak menyadari keberadaan nya.


Nazhwa yang masih duduk di kursi roda, tersentak saat merasakan sebuah tangan bertengger di pundak nya. Menyadari keterkejutan istri nya Andre lalu melangkah berputar ke depan Nazhwa dan merendahkan tubuh nya bersimpuh di hadapan istri nya itu.


"Nazhwa, aku sudah berbicara pada Ayah. Kata Ayah semua keputusan ada pada mu." Ujar Andre sembari menggenggam tangan istrinya.


Nazhwa masih diam dengan pandangan lurus menatap ke depan.


"Nazhwa, aku mohon tolong beri aku kesempatan." ujar Andre lagi karena Nazhwa hanya diam saja.


Nazhwa menghela nafas lalu mengarahkan tatapannya pada Andre, "Mas Andre bukan melakukan kejahatan sehingga terus memohon pada ku seperti ini. Jangan terus memohon, tapi buktikan lah apa yang ingin Mas buktikan." ucap Nazhwa dengan tenang serta raut wajah yang datar.


"Aku tidak mau membuat Kak Shalwa kecewa dengan mengakhiri pernikahan kita begitu saja. Aku tahu Kak Shalwa menitipkan aku pada Mas Andre, karena Kak Shalwa yakin jika Mas Andre bisa menjaga ku. Dan hanya saja saat itu Mas Andre belum bisa menerima kepergian Kak Shalwa, maka dari itu Mas Andre memperlakukan aku dengan...


"Jangan di terus kan, Nazhwa." Dengan cepat Andre memotong ucapan istrinya. Rasanya ia tidak sanggup mendengar kejahatan nya sendiri. "Aku benar-benar minta maaf atas semua sikap dan perlakuan ku pada mu selama ini." Andre mencium dengan dalam kedua tangan istrinya. Sementara Nazhwa masih membeku di kursi roda nya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pulang dan aku akan kembali kemari bersama Mama dan Papa. Tunggu aku." Andre beranjak setelah sebelumnya berkali mencium kedua tangan Nazhwa.


"Terima kasih karena sudah memberikan aku kesempatan, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini." ucap nya lalu mengayun langkah keluar dari kamar Nazhwa.


Setelah berpamitan pada ayah dan ibu mertua nya, Andre pun bergegas pergi menuju kediaman orang tuanya.


.


.


.


Jika Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di rumah orangtuanya. Berbeda dengan Alex yang mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan. Di sampingnya Nanda tertidur pulas setelah beberapa saat lalu kelelahan menjelajahi taman bermain dengannya.


Sesekali tangan Alex terulur mengusap pipi Nanda dengan ibu jarinya sambil terus tersenyum menatap wajah lelap calon istrinya yang sangat menggemaskan saat tertidur. Ia jadi tak sabar menantikan hari dimana saat ia terbangun di pagi hari akan melihat wajah menggemaskan Nanda yang tertidur di sampingnya. Membayangkan hal itu Alex jadi terkekeh sendiri.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian, mobil Alex pun telah terparkir di pelataran rumah Nanda.


Melihat calon menantunya turun dari mobil, ayah dan ibunya Nanda langsung menghampiri. Alex mengembangkan senyum saat tatapannya tertuju pada calon ayah mertuanya, berjalan sedikit tertatih mungkin karena belum terbiasa dengan kaki palsu nya. Alex masih ingat betul saat pertama kali datang menemui orang tuanya Nanda, ayah mertuanya itu tidak bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat yang hanya terbuat dari kayu.


__ADS_2