
"Aku tahu kamu tidak tidur, kamu hanya mencoba menenangkan diri di sini."
Suara laki-laki yang begitu familiar terdengar di telinga Nazhwa, namun ia sangat enggan untuk membuka mata. Hingga ia merasakan usapan di punggung tangan nya, dan perlahan ia pun membuka mata nya.
Tatapan Nazhwa langsung tertuju pada laki-laki berseragam dokter itu yang tak lain adalah teman nya.
"Adam," ucap Nazhwa dengan lirih, dengan gerakan pelan ia manarik tangan nya yang di genggam oleh Adam.
Adam pun hanya bisa menatap dengan nanar punggung tangan Nazhwa yang sudah terlepas dari genggam nya. Ia tahu apa yang di lakukan nya itu tidak seharusnya, ia telah lancang menyentuh tangan Nazhwa padahal ia tahu sendiri sejak dulu wanita yang di cintai nya ini selalu menjaga jarak dengan lawan jenis, terlebih saat ini Nazhwa telah berstatus seorang istri.
"Aku tahu kamu sedang ada masalah, karena tidak mungkin kamu berada di sini hari ini dan meminta untuk di rawat. Aku sudah tahu semua nya dari dokter Heni, dia adalah teman ku." ucap Adam.
Namun, Nazhwa tak merasa terkejut lagi saat ini karena Adam telah tahu tentang penyakit nya. Ia sudah tidak perduli apa pun saat ini. Bahkan jika nyawa nya di ambil hari ini pun ia akan pasrah karena tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan dan perjuangkan. Mengharap cinta sang suami yang selama ini ia dambakan menguap begitu saja setelah mengetahui jika suami nya itu adalah laki-laki yang bersama kakak nya dulu saat kecelakaan itu terjadi.
__ADS_1
Namun, satu pertanyaan di benak nya masih belum terpecahkan hingga saat ini, yaitu apa alasan Andre menikahi nya lalu memperlaku kan nya dengan dingin..
"Aku adalah teman mu, Nazhwa. Jadi kau bisa cerita apa pun pada ku. Apa kau sedang bertengkar dengan suami mu?" Tanya Adam dengan tiba-tiba yang membuat kedua mata Nazhwa membulat menatap nya.
"Maaf Adam, kau sudah tahu apa alasan ku berada di sini. Jadi aku rasa kau pun paham jika saat ini aku ingin sendiri." ucap Nazhwa lalu memutus kontak mata nya dari Adam. Ia tidak membutuhkan siapa pun saat ini, ia hanya ingin sendiri untuk menenangkan diri nya.
Adam menghembus kan nafas lesu mendengar ucapan Nazhwa, kenapa sulit sekali menyentuh hati wanita yang di cintai nya ini. Memang ia sudah berjanji untuk melupakan Nazhwa setelah tahu Nazhwa telah memiliki suami, namun ia pun berucap akan merebut Nazhwa dari suami nya jika ia mendapati cela dan mengetahui jika Nazhwa tak bahagia dengan suami nya.
Nazhwa tak menjawab, ia kembali memejam kan mata dan kali ini ia ingin tidur. Dengan tidur mungkin perasaan nya akan terasa lebih baik saat bangun nanti. Dan mengalihkan fikiran nya dari kenyataan yang baru ia ketahui hari ini.
Namun, baru beberapa saat Nazhwa kembali membuka mata nya saat ia terpikirkan sesuatu. Ia dengan cepat menoleh ke arah pintu yang sudah di buka oleh Adam.
"Adam, tunggu." panggil nya.
__ADS_1
Adam yang hendak keluar menghentikan langakah nya lalu menoleh ke arah Nazhwa yang memanggil nya.
"Iya, ada apa Nazhwa?" tanya Adam.
Nazhwa tak langsung menjawab, ia mencoba menimang lagi apakah yang akan di lakukan nya ini adalah salah atau tidak.
"Nazhwa, ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Adam lagi yang masih berdiri di ambang pintu ruang rawat Nazhwa.
Nazhwa kembali menatap Adam setelah meyakinkan jika apa yang akan di lakukan nya hanya lah semata-mata untuk menenangkan diri.
"Adam, aku butuh bantuan mu." ucap Nazhwa dengan yakin. Yah, mungkin memang ia harus melakukan ini.
Mendengar ucapan Nazhwa, Adam menutup kembali pintu ruang rawat yang baru saja ia buka lalu dengan cepat melangkah ke arah ranjang di mana Nazhwa sedang terbaring.
__ADS_1